Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Di Akhir Bahagia


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Radit dan Khaira semakin semarak dengan adanya Arsyila. Tidak terasa bayi kecil yang sepertinya baru kemarin dilahirkan sekarang sudah berusia tiga tahun.


Arsyila tumbuh dalam kasih sayang yang dilimpahkan oleh kedua orang tuanya yaitu Radit dan Khaira. Bahkan putri kecil yang sudah banyak berbicara dan memiliki pertanyaan tak terhingga itu sering membuat Papa dan Mamanya untuk mencari jawaban yang mudah diterima oleh anak seusianya.


"Mama ... Adik itu apa Ma?" Tanya Arsyila dengan polosnya dan dua bola matanya yang bergerak-gerak sarat dengan rasa ingin tahu yang begitu tinggi.


"Adik itu saudara kandung kita Sayang ... Kenapa Sayang?" tanya Khaira yang kini duduk di samping anaknya itu.


"Aku mau adik Ma ... Buat bermain di rumah." jawab Arsyila dengan spontan.


Radit yang mendengarkan pertanyaan putri kecilnya itu langsung bergabung dengan Khaira dan juga Arsyila. "Arsyila mau adik? Emangnya Arsyila bisa menjadi kakak yang baik buat adik nanti?"


Anak kecil itu menganggukkan kepalanya. "Iya ... Bisa ... Arsyila kan sudah jadi anak yang baik kan Ma? Arsyila juga akan menjadi kakak yang baik."


Khaira mengelus rambut hitam milik putrinya itu. "Coba Arsyila ceritakan sama Mama, kakak yang baik itu seperti apa?"


Arsyila nampak berpikir. Akan tetapi dalam ingatannya sebagai anak kecil, figur kakak yang dia ingat hanyalah ada satu orang dan itu pun tidak dia temui setiap saat. "Kakak yang baik seperti Kak Aksara, Ma ... Kak Aksara baik. Kalau ketemu, Kakak sering bacakan buku buat aku. Gendong aku. Arsyila akan jadi kakak seperti itu."


Radit dan Khaira pun tertawa bersama. Kepolosan seorang anak kecil itu yang membuat mereka bahagia. "Jadi Kakak Aksara baik ya?" Kali ini Radit lah yang bertanya kepada putrinya itu.


Arsyila menganggukkan kepalanya. "Ya. Kakak Aksara baik."


"Sama Papa baik mana?" Lagi tanya Radit kepada putrinya itu.


"Kakak Aksara baik, Pa ... Tapi, Papa paling baik."


Gemas dengan jawaban anaknya, Radit lantas memangku Arsyila dan menghujani wajahnya dengan ciuman yang membuat Arsyila tertawa geli.


"Sudah Pa ... Jangan digodain terus nanti, Arsyila lama-lama nangis." Ucap Khaira yang mengingatkan suaminya untuk tidak menggodain Arsyila. Terlalu bercanda dan menggoda anak kecil justru bisa membuat seorang anak kecil menangis.


Mendengar ucapan dari istrinya, Radit pun berhenti untuk menggodai putrinya itu.


"Jadi gimana Ma? Besok adiknya apa sudah ada?" Lagi Arsyila bertanya kepada Khaira.


Khaira tersenyum dan tangannya membelai lembut rambut anaknya. "Sayang, kalau mau adik ... Mama harus mengandung dulu, nanti di perut Mama ini akan membuncit karena adik akan berada di sini dulu selama 9 bulan. Setelah itu, barulah Mama akan melahirkan adik bayi. Syila berdoa kepada Tuhan ya, biar Tuhan kasih adik buat Arsyila ... tanya Papa juga, Papa mau enggak kasih adik buat kamu."


Mendengar jawaban Mamanya, Arsyila kini lantas menatap wajah Papanya. "Papa ... mau enggak kasih adik buat Syila. Buat teman bermain, Pa."


Radit pun hanya tersenyum. "Iya ... tetapi, janji Arsyila harus menjadi anak yang baik dan kakak yang baik ya."


Arsyila pun menganggukkan kepalanya. "Oke. Yeay, Arsyila akan punya adik." teriaknya dengan bersemangat.


Radit pun bangkit dan menggendong putrinya ini. "Karena sudah malam, Arsyila bobok ya. Ayo, gosok gigi dulu sama Papa. Usai itu mau dibacakan dongeng sama Mama atau sama Papa?"

__ADS_1


"Dibacakan dongeng sama Papa, tetapi Mama ikutan ya. Mau dipeluk Mama." Sahut Arsyila.


Akhirnya mereka bertiga sama-sama memasuki kamar mandi untuk menggosok gigi dan kemudian mereka memasuki kamar Arsyila yang terkoneksi dengan kamar mereka.


Ketiganya telah berada di tempat tidur Arsyila. "Papa ... Bacakan dongeng Putri dan Pangeran ya. Ini buku cerita Putri Aurora yang dikasih Kak Aksara. Baca ini ya Pa." ucap Arsyila sembari membawa sebuah buku berwarna pink berjudul "Aurora - Sleeping Beauty".


Radit menerima buku itu, lalu membacakan buku cerita itu untuk putri kesayangannya.


“Bayi ini aku beri nama Putri Aurora,” lanjut raja sambil menggendong putrinya itu.


Semua rakyat sangat gembira menyambut kelahiran Putri Aurora.


Rakyat pun mendoakan kebaikan untuk Putri Aurora, begitu pula dengan para peri yang diundang ke istana."


Baru beberapa lembar halaman yang dia bacakan, rupanya Arsyila telah terlelap dalam pelukan Mamanya.


Pelan-pelan, Radit menutup buku cerita yang dia bacakan kemudian mencium pipi Arsyila. Dia mengamati wajah cantik putrinya di mana wajahnya melihatkan perpaduan antara dirinya dan Khaira.


Menunggu sejenak hingga Arsyila terlelap, kemudian Radit akan menggandeng tangan Khaira untuk menuju kamar mereka.


"Tumben malam ini Arsyila lebih cepet boboknya?" tanya Radit sembari duduk bersandar di head board tempat tidurnya.


"Iya, tadi kan main sama Kakeknya, Mas ... kecapean mungkin. Jadi baru beberapa halaman baca buku ceritanya sudah tidur." Jawab Khaira sembari tersenyum.


Khaira hanya tersenyum. "Muji-muji cantik pasti ujung-ujungnya modus. Aku udah tahu jurus andalanmu, Mas." sahut Khaira sembari memukul dada suaminya itu.


Radit begitu gemas. "Kan aku pernah bilang, modusin kamu itu candu Sayang ... Nagih ... Gak ada obatnya."


Tawa mereka menghiasi kamar peraduan mereka. Setiap malam selalu saja ada yang mereka obrolkan dan mereka tawakan bersama.


"Sayang ... jadi beneran mau kasih adik buat Arsyila." tanya Radit sembari menatap wajah istrinya.


Khaira justru mengedikkan bahunya. "Hamilnya sih mau, Mas ... tetapi, melahirkannya aku yang takut. Gimana ya Mas?"


"Atau mau Caesar aja? Biar enggak terlalu sakit. Menurutku memang lebih baik memiliki anak satu lagi Sayang. Biar Arsyila ada teman bermain di rumah, kompetensi sosialnya juga jauh lebih berkembang jika dia punya adik di rumah. Kalau aku sebagai anak satu-satunya, dulu aku sering ingin punya adik jadi aku bisa bermain bersama bahkan berantem bersama. Aku hanya bermain dengan Bunda di rumah." ucap Radit.


Khaira pun tentu tahu perasaan suaminya, karena dia pun adalah anak tunggal di rumah. Masa tumbuh kembangnya memang hanya ditemani oleh Ayah dan Bunda nya saja.


"Ya aku pikirkan dulu ya Mas ... Aku juga memikirkan dan mempersiapkan diri untuk hamil dan melahirkan lagi."


Radit pun menganggukkan kepala tanda setuju. "Take your time Sayang... Ya sudah, bobok yuk. Kamu pasti kecapean juga tadi ngajar dan ngurus Arsyila."


Peraduan malam membuai sepasang suami istri untuk terlelap dan mengistirahatkan diri mereka. Saling berpelukan hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Keesokan harinya, Khaira terlebih dahulu bangun dan menyiapkan sarapan untuk buah hati dan suaminya.


"Pagi Mama..." ucap Arsyila ketika turun dari menuju dapur.


"Hei, pagi putrinya Mama..." ucap Khaira yang kemudian memeluk dan mencium pipi putri kecilnya itu.


"Papa mana Ma? Hari ini Syila boleh main di taman belakang sama Papa?" tanya Arsyila sembari duduk di meja makan.


Khaira menganggukkan kepalanya. "Boleh ... tetapi, Arsyila sarapan dulu ya. Tuh, Papa kamu sudah datang." Khaira kemudian mengisi mangkok kecil di hadapan Arsyila dengan crunch dan susu. "Mau Mama suapin?"


Arsyila menggelengkan kepalanya. "No Ma ... I can do it."


"Oke, good. Dihabiskan ya." Sahut Khaira.


Radit mendekati meja makan kemudian mencium pipi putrinya. "Pagi sayangnya Papa...."


Lalu, dia menghampiri istrinya yang masih berdiri di sebelah putrinya. "Pagi Sayang...." dengan mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.


"Papa ... Arsyila mau main sama Papa di taman belakang boleh?" tanya Arsyila kepada Papanya itu.


"Boleh ... Habiskan sarapan kamu dulu ya." ucap Radit sembari mengacak gemas puncak kepala putrinya.


Setelah sarapan selesai. Radit lantas mengajak Arsyila bermain di taman belakang. Mereka membuat tenda dan memasukkan beberapa boneka di sana.


"Kita berkemah ya Pa..." ucap Arsyila dengan wajahnya yang nampak bahagia.


"Arsyila main dulu di sini, Papa nemenin Mama di situ dulu ya."


Kemudian Radit keluar dari tenda berwarna pink itu dan menghampiri Khaira yang duduk tidak jauh dari sana. "Kenapa kamu diem aja Sayang?" tanya Radit yang langsung merangkul bahu istrinya.


"Enggak ... aku bahagia aja Mas. Bahagia memiliki kamu sebagai suamiku, dan bahagia memiliki Arsyila. Memiliki kalian berdua di hidupku membuatku bahagia dan tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan." ucap Khaira dengan sungguh-sungguh.


Radit pun mengeratkan pelukannya. "Aku juga bersyukur kepada Tuhan memiliki kalian berdua dalam hidupku. Kebahagiaan ini membuatku penuh haru dan syukur tentunya Sayang. Aku selalu ingat bagaimana sikapku dulu menyakitimu, aku mengucapkan jika aku meminangmu tanpa cinta, aku jadi pria yang sangat menyakitimu. Namun, sekarang kamu justru memberi kebahagiaan yang begitu besar untuk pria ini. Terima kasih Sayang untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan. Aku yakin tidak ada rumah tangga yang sempurna, tetapi bersamamu aku bisa mewujudkan rumah tangga yang bahagia dan sempurna di mataku. Temani aku selamanya, Sayang. Aku mencintaimu." ucapnya dengan penuh ketulusan.


Khaira pun menatap dengan lekat wajah suaminya. Dengan satu tangan yang memegang wajah suaminya itu. "Terima kasih juga selalu mendampingiku, mewarnai hari-hariku. Rasanya aku benar-benar memasrahkan hatiku, hidupku padamu, Mas ... aku sangat mencintaimu."


Kini Radit, Khaira, dan Arsyila telah tiba di akhir bahagia mereka. Mengisi tangki air cinta mereka dengan kasih sayang yang tulus. Menerima satu sama lain sebagai pribadi yang unik. Saling menyayangi di bawah satu payung yang bernama keluarga.


...-TAMAT-...


Terima kasih untuk para pembaca yang selalu mengikuti cerita Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta.


Kiranya kisah ini memberikan nilai positif bahwa memang tidak ada keluarga yang sempurna, cara Tuhan mempersatukan kita dengan pasangan kita pun begitu unik, tetapi dalam semua tawa, suka, duka, bahkan lembah air mata sekalipun, pasangan kita lah yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menggenggam tangan kita.

__ADS_1


Cerita belum berakhir, kita lanjut di Seasons 2 tetap di Meminang Tanpa Cinta. 😘😘😘


__ADS_2