Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Pisang Karamel


__ADS_3

Hari ini menjelang petang, Bunda Ranti mengundang Khaira, Radit, dan Arsyila untuk berkunjung ke rumahnya. Bunda Ranti mengabarkan bahwa sahabatnya dari Jogja datang ke Jakarta, karena itu Bunda Ranti pun meminta keluarga Radit untuk turut bergabung.


Arsyila selalu senang setiap kali hendak diajak ke rumah Eyangnya. Gadis itu sejak sore sudah mandi dan sudah membawa sebuah tas kecil berwarna merah yang berisi bukunya dan beberapa mainan.


Khaira yang juga telah bersiap pun, mendatangi putrinya itu. "Syila, sudah siap? Kita tunggu Papa dulu ya Sayang." ucapnya sembari mengecek kembali barang apa saja yang dimasukkan Arsyilla ke dalam tasnya.


Arsyilla pun nampak menganggukkan kepalanya. "Oke, Ma ... Papa baru ngapain sih Ma?"


"Papa baru di kamar mandi. Kita tunggu sebentar ya." ucapnya yang meminta anaknya untuk menunggu hingga suaminya turun dari kamar dan menghampiri keduanya.


Radit kemudian tersenyum kepada Khaira dan juga Arsyilla. "Mama dan Syilla sudah siap? Yuk, kita berangkat sekarang," ajaknya kepada Istri dan anaknya untuk berangkat sekarang ke kediaman Bunda Ranti.


Perjalanan di sore hari menuju kediaman Bunda Ranti dan Ayah Wibi membuat Khaira mengedarkan pandangannya melihat beberapa bangunan menjelang tinggi di Ibukota dan juga beberapa pedagang yang menjual berbagai makanan yang nampak menggoda bagi wanita yang tengah berbadan dua tersebut.


"Mas, nanti kalau pulang dari rumah Bunda, mampir beli Pisang Karamel ya," ucapnya sembari menunjuk seorang penjual Pisang Karamel di pinggir jalan.


Menyadari bahwa mungkin saja Istrinya sedang mengidam, Radit segera menepikan mobilnya. Pria itu melepaskan sitbealt-nya. "Tunggu sebentar ya...," ucapnya sembari melemparkan senyuman kepada Istrinya.


Sementara Khaira pun menganggukkan kepala melihat suaminya yang tengah keluar dari mobil.


Tidak berselang lama, Radit kembali memasuki mobil dengan membawa sebuah kantung plastik berwarna putih yang di dalamnya ada beberapa Pisang Karamel. "Ini buat Bumil ...," ucapnya seraya memberikan Pisang Karamel itu kepada Khaira.


Wanita itu pun tersenyum dan terharu tentunya, dia tidak menyangka niatnya yang ingin membeli Pisang Karamel usai pulang dari rumah Bunda Ranti justru sudah dibelikan sekarang. Suaminya benar-benar suami siaga. "Makasih Papa sudah beliin ini." ucapnya sembari mengangkat kantung plastik itu.

__ADS_1


"Ma, itu apa Ma?" tanya Arsyilla yang duduk di belakang kursi kemudi Papanya dengan menggunakan car seat.


Khaira pun menoleh ke belakang untuk melihat Arsyilla. "Ini Pisang Karamel, Sayang ... kamu mau?" tawarnya sembari menyodorkan satu Pisang Karamel.


Arsyilla pun menerimanya dengan senang hati. "Makasih Mama ...." ucapnya saat menerima Pisang Karamel itu dengan tangan kanannya.


Khaira pun tersenyum, kemudian dia mengambil satu Pisang Karamel. Sebelum dia menggigitnya, dia menawarkannya terlebih dahulu kepada suaminya. "Papa mau?" tawarnya kepada sang suami.


Radit nampak menggeleng. "Udah buat Mama aja ... Kan Mama baru pengen. Biar adik bayinya suka." ucap pria itu sembari terkekeh dan satu tangannya mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.


"Yang pengen makanan ini adik baby nya ya Pa?" tanya Arsyilla yang menyahut dari tempat duduknya. Rupanya diam-diam sembari mengunyah Pisang Karamel itu, Arsyilla mendengarkan pembicaraan Mama dan Papanya.


Radit pun tertawa sembari menoleh menatap Arsyilla. "Mungkin saja Sayang ... kan saat ini Mama mengandung adik bayi, mungkin di dalam perutnya Mama, bayinya menginginkan sesuatu jadi Mama yang kerasa dan bilang pengen." jawaban Radit yang menerka-nerka sebenarnya. Berharap jawabannya bisa diterima oleh Arsyilla.


Sebelum menjawab, Khaira justru tertawa dan melirik pada suaminya. Sejujurnya, Khaira masih sangat ingat apa yang selalu dia inginkan saat mengandung Arsyilla dulu. Akan tetapi, saat putrinya itu menanyainya langsung, seolah Khaira malu untuk menjawab.


"Dulu ... waktu hamil kamu, Mama sukanya nempel terus sama Papa, Sayang. Lihat saja, setelah kamu lahir, kamu juga melakukan hal yang sama kan. Kamu juga suka nempelin Papa kemana-mana kan." jawab Radit dengan sponstan.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya. "Aku nempelin Papa karena aku sayang sama Papa. Love U, Pa...." ungkapan cinta itu kemudian meluncur begitu saja dari bibir mungil Arsyilla.


Pengakuan cinta dari Malaikat kecil yang membuat hati Radit menghangat seketika. Selain pengakuan cinta dari Istrinya, sudah tentu Radit sangat menyukai saat Arsyilla mengatakan cinta kepadanya. "Love U Too, Kakak Syilla...." jawab Radit sembari tersenyum menoleh pada Arsyilla yang duduk di belakangnya.


"Kenapa Kakak Syilla, Pa? Syilla saja ... namaku kan Arsyilla."

__ADS_1


Rupanya Arsyilla masih belum nyaman untuk dipanggil 'Kakak', sekalipun sudah beberapa kali Arsyilla meminta seorang adik, rupanya dia belum terbiasa dengan panggilan Kakak.


Khaira pun tersenyum, "karena ... tidak lama lagi Syilla akan menjadi Kakak untuk baby ini. Nanti baby nya kalau lahir mau memanggil Syilla apa?" tanyanya kepada Arsyilla.


"Kakak ... kan dia adik aku." jawab Arsyilla dengan cepat.


"Nah, benar kan. Baby ini kan adiknya Arsyilla ... Jadi, nanti dia akan memanggil Kakak Syilla. Oke?" ucap Khaira kepada putrinya yang memang kritis itu.


Nampak Arsyilla menganggukkan kepalanya sembari menggigit Pisang Karamelnya yang tinggal separuh. "Oke Ma ...." sahut Arsyilla pada akhirnya.


Sembari terus melanjutkan perjalanan, Khaira nampak berbicara dengan suaminya dan juga Arsyilla sembari menikmati Pisang Karamel yang sudah dibelikan oleh suaminya itu di pinggir jalan. Sekalipun beli di pinggir jalan, tetapi rasanya sangat enak di lidah Khaira. Hingga tanpa sadar, Pisang Karamel yang semula ada empat buah, kini tinggal tersisa satu buah.


"Yahh, ternyata Pisang Karamelnya abis loh Pa ini ... Tinggal satu buah. Papa mau enggak?" Tanya Khaira menawarkan Pisang Karamel itu kepada suaminya yang memang belum mencicipi sama sekali.


Pria itu menggelengkan kepalanya sembari satu tangannya mengusap lembut perut Khaira yang masih rata. "Buat Mama aja ... Papa malahan seneng, kalau ngidam, mau sesuatu dan dihabiskan. Nanti di sepanjang jalan, jika pengen sesuatu lagi, bilang aja Sayang ... pasti akan aku belikan." ucapnya dengan lembut.


Khaira pun lantas tersenyum, dia mengingat kembali masa di mana dia hamil Arsyilla tiga tahun yang lalu, saat suaminya pun tetap menuruti apa yang dia mau. Sontak saja Khaira teringat dengan ngidamnya waktu itu yang pengen ke Kota Tua dengan menaiki Sepeda Motor.


"Kalau aku pengen sesuatu lagi, dikabulin enggak Pa?" tanyanya sembari menatap wajah suaminya sembari mengedipkan matanya.


Radit pun menoleh guna melihat pada Istrinya itu. "Mau pengen apa lagi Mama Sayang? Bilang aja Mama dan adik bayi pengen apa?" tanyanya kepada Khaira.


"Pengen ke Monas naik Sepeda Motor boleh Mas?" tanyanya terlebih dahulu kepada suaminya itu.

__ADS_1


Sebelum menjawab, Radit fokus mengendalikan stir di tangannya. Jika dia menolak, hormon kehamilan bisa membuat Istrinya menangis. Sebab Khaira memang lebih cengeng saat menangis. Untuk menghindari mood istrinya yang berubah, Radit pun tersenyum. "Udah sampai rumah Bunda, Sayang ... yuk, kita segera turun dan masuk ke dalam." ucapnya mengalihkan pembicaraan guna menghindari mood istrinya yang tengah hamil itu tiba-tiba berubah.


__ADS_2