Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Hari Berselimut Mendung


__ADS_3

Beberapa hari setelah pulang dari liburan, Khaira merasa kesehatannya menurun. Dia mengeluh kepada suaminya, saat suaminya sudah berada di rumah usai bekerja.


"Mas, aku kali ini menstruasi tapi kok nyeri banget ya. Daerah panggul, perut, dan punggung belakangku nyeri. Sakit banget. Beberapa hari lalu, badanku juga terasa demam." Ucapnya sembari memangku Arsyila di pahanya.


Mendengar keluhan dari istrinya, Radit pun merasa panik. Biasanya saat palang merah, istrinya termasuk tipe wanita yang sehat. Tidak pernah merasakan keluhan akibat sakit bulanan yang dideritanya.


"Sakit banget Sayang? Mau periksa ke Dokter?" tanyanya sembari tangannya mengusap-usap punggung belakang istrinya.


Khaira pun menggeleng. "Masak nyeri menstruasi aja ke Dokter, Mas. Ditahan dulu aja Mas. Semoga cepat sembuh." jawabnya sembari menghela napasnya perlahan.


"Mana lagi yang sakit Sayang?" tanya Radit dengan wajah yang terlihat cemas. "Lebih baik malam ini kita ke Dokter yuk Sayang? Berhubungan dengan alat reproduksi kewanitaan, aku takut." jawabnya yang hanya bisa mengusap punggung Khaira saat ini.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Aku telepon Bunda Dyah dulu Mas, nitip Syila. Akan tetapi, ini udah sore. Apa besok aja ya Mas?" tanyanya yang meminta pertimbangan dari suaminya.


"Kamu bisa bertahan? Sakit banget ya?" tanyanya.


Khaira menganggukkan kepalanya. "Sakit, Mas ... Sakitnya itu kayak ada intervalnya kadang terus-menerus, kadang hilang." jawab Khaira.


Mendengar jawaban Istrinya, agaknya Radit tidak bisa menunda-nunda lagi. Dengan segera dia menghubungi Bunda Dyah dan berniat menitipkan Arsyila. Dan meminta Khaira bersiap terlebih dahulu sembari menunggu Bunda Dyah datang.


Setelah Bunda Dyah dan Ayah Ammar datang, Radit dan Khaira pun bergegas menuju Rumah Sakit. Mereka kembali mengunjungi Dokter Indri, sebagai Obgyn yang sudah terbiasa menangani Khaira.


"Halo Bu Khaira ... Bertemu lagi, kali ini ada apa? Apakah akan memasang alat kontrasepsi?" tanya Dokter Indri dengan ramah. Dokter Indri mengira bahwa Khaira akan kembali memasang alat kontrasepsi.

__ADS_1


Khaira terlebih dahulu tersenyum dan mulai mencerita apa yang terjadi pada Dokter Indri. "Bukan, Dokter ... sebenarnya begini, kali ini saya mengalami menstruasi, tetapi sakit sekali di area perut, pinggang, dan punggung bagian belakang. Rasanya sakit sekali, padahal biasanya saya tidak pernah merasakan nyeri menstruasi." cerita Khaira kepada Dokter Indri.


Dokter itu nampak mendengarkan cerita dari Khaira. "Sudah berapa lama menstruasinya Bu?"


Khaira segera mengeluarkan handphone, guna melihat masa menstruasinya. Namun, tiba-tiba matanya membola melihat deretan kalender dalam aplikasi handphonenya.


Dua minggu?


Masak selama ini sih?


Khaira berkata sendiri dalam hatinya, sebelum menjawab pertanyaan Dokter Indri.


"Sesuai di kalender saya, kok sudah dua minggu ya, Dok." jawab Khaira dengan cukup panik, biasanya periode tanggal merahnya hanya lima hari, betapa kagetnya Khaira periode kali ini hingga dua minggu lamanya.


"Kita akan cek terlebih dahulu ya, Bu."


Belum sampai Khaira melakukan pengecekan lebih lanjut, dia merasakan badannya mengeluarkan keringat dingin, kakinya pun bergetar seolah kehilangan tenaganya, rasa sakit di area punggung belakang juga semakin hebat. Khaira menggigit bibirnya bagian dalam dan satu tangannya menggenggam tangan suaminya.


"Mataku kok berkunang-kunang ya Mas...." keluhnya kepada suaminya.


Panik dengan tangan Khaira yang terasa dingin dan buliran keringat di keningnya, Radit pun menyampaikan keluhan istrinya kepada Dokter Indri. "Dok, ini kok Istri saya bilang matanya berkunang-kunang, dan tangannya dingin."


Dengan bantuan perawat, Khaira telah terbaring di atas brankar dan dibawa ke ruang perawat. Radit diminta menunggu terlebih dahulu di luar saat Dokter melakukan pemeriksaan kepada Khaira.

__ADS_1


Kurang lebih dua puluh menit, Dokter Indri memeriksa keadaan Khaira setelah itu, dia menemui Radit.


"Pak, jadi begini. Yang dialami Ibu Khaira adalah keguguran atau abortus insipiens. Jika diperiksa usia kandung baru 6 minggu, sehingga memang masih sangat lemah. Kemungkinan karena kecapean dan terlalu banyak pikiran, membuat pendarahan. Selanjutnya akan dilakukan kuretase untuk membersihkan jaringan yang tersisa dalam rahim untuk mencegah perdarahan berat atau setelah terjadi keguguran."


Radit pun kebingungan, pasalnya Khaira sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Selain itu, Khaira juga masih menyusui Arsyila. Beberapa orang mengatakan menyusui termasuk salah satu jenis KB. "Istri saya masih menyusui Arsyila, bagaimana bisa hamil ya Dok?"


"Benar Pak, menyusui memang sering kali disebut KB alami, tetapi para Ibu tetap bisa hamil saat menyusui karena memang berhubungan di periode masa subur. Jadi peluang kehamilan pun, tetap ada." jawab Dokter Indri.


Mendengar bahwa istrinya keguguran tentu saja, Radit sangat cemas. "Berapa lama kuretase-nya Dok? Apakah ada dampak yang ditimbulkan setelah itu?"


"Prosedur kuret atau kuretase umumnya memakan waktu sekitar 10–15 menit, dan pasien akan mendapatkan pembiusan saat menjalani prosedur ini. Efek samping ringan yang bisa terjadi adalah pendarahan ringan, kram atau nyeri perut, pusing, mual, dan muntah yang merupakan efek dari pembiusan total." penjelasan dari Dokter Indri.


Radit mendengar prosedur dan efek samping yang mungkin saja terjadi. "Jika ke depan kami ingin memiliki anak lagi, tidak ada pengaruhnya kan Dok?" Radit bertanya dengan cemas, terlebih pengaruh terhadap Khaira apabila mereka ingin memiliki satu lagi buah hati.


Dokter Indri pun menggelengkan kepala. "Tidak ada, Pak. Banyak pasien yang setelah melakukan kuretase juga masih bisa memiliki keturunan. Justru jika tidak dilakukan kuretase dikhawatirkan masih ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim, sehingga harus dikeluarkan dan dibersihkan."


Sedikit penjelasan dari Dokter Indri sedikit memenangkan Radit bahwa di lain waktu mereka masih bisa memiliki keturunan. Akhirnya Radit menyetujui prosedur kuretase dilakukan pada istrinya.


Lantaran Khaira harus dirawat dan observasi setelah kuretase kurang lebih 6 hingga 8 jam, maka Radit memberitahukan kabar tersebut kepada keluarganya. Supaya keluarganya tidak knawatir dan tetap ada yang mengasuh Arsyila terlebih dahulu.


Prosedur kuretase pun berakhir, kini hingga menunggu Khaira sadar dari obat bius. Radit pun sudah boleh menemani istrinya yang masih belum sadarkan diri. Pria itu terduduk di tepi brankar dan menggenggam erat tangan Khaira.


"Cepat sembuh Sayang ... cepat sehat. Semoga kamu tidak bersedih atas kejadian ini. Tentu saja aku sedih Sayang. Sebagai Papa aku mengalami bakal anak kita harus tiada, sebelum dia dilahirkan. Akan tetapi, dia akan menjadi malaikat di surga sana. Kamu segera sehat ya. Kamu pernah bilang bukan, saat harimu berselimut mendung, aku akan selalu ada untukmu. Kita jalani semua bersama. Kamu selalu kuat ya Sayang. I Love U So Much." ucapnya lirih sembari terus menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2