
Selepas kembali dari Manchester, Radit dan Khaira memutuskan untuk pulang ke rumah Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Mereka akan tinggal di sana sementara, sebelum akhirnya mereka mencari sebuah rumah yang sesuai dengan selera mereka.
Bersyukurlah Khaira karena Ayah Wibi dan Bunda Ranti adalah mertua yang baik bagi Khaira, di rumah itu Khaira diperlakukan seperti anaknya sendiri dan disayangi dengan tulus. Khaira pun juga berusaha terlibat dalam pekerjaan rumah tangga membantu Bunda Ranti.
Selang tiga hari setelah kepulangannya dari Manchester, Radit akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja. Alan tetapi, dia melepaskan mimpinya sebagai Auditor, kini Radit lebih memilih bekerja di perusahaan Ayah Wibi. Menjadi staf divisi finansial. Radit tidak menginginkan jabatan tinggi, jauh lebih baik apabila ia merintis karier dari bawah, walau pun ia adalah anak dari si Pemilik Perusahaan.
Ayahnya telah memintanya untuk menjadi wakil direktur di WNS Finance, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembiayaan dan memberikan kredit bagi masyarakat.
Pagi hari, ketika bangun Khaira bergulat terlebih dahulu di dapur kemudian ia kembali naik ke kamarnya untuk membantu suaminya bekerja di hari pertamanya kembali bekerja setelah liburan panjang di Manchester, Inggris.
"Udah siap Mas? Bekerjanya hanya mengenakan kemeja dan celana bahan aja kan Mas?" tanya Khaira yang tengah menyiapkan baju kerja untuk suaminya.
"Iya, kemeja dan celana bahan aja cukup. Kata Ayah sih pakai celana jeans juga gak papa, tetapi karena ini adalah hari pertamaku bekerja jadi biar rapi." jawab Radit. "Kenapa enggak keren ya kalau cuma pakai kemeja dan celana bahan aja? Pasti enggak kayak CEO yang berdasi dan mengenakan jas kan?"
Khaira tersenyum, sembari tangannya memilih satu kemeja yang akan dipakai Radit hari ini. Akhirnya pilihannya jatuh pada kemeja bermotif kotak-kotak. "Kamu mau pakai apa pun, tetep keren kok Mas. Yang menjadikan kita keren bukan busana yang kita pakai, tetapi hati kita. Karena dari dalam hatilah terpancar bagaimana diri kita yang sebenarnya. Jadi, karena sekarang sudah kembali bekerja dan yang akan kamu temuin di kantor banyak, jadi jagalah hatimu ya Mas. Awas jangan macem-macem." ucap Khaira sambil memincingkan matanya kepada Radit.
Radit mengacak gemas puncak kepala Khaira. "Iya, hati ini telah memilihmu, hatiku sepenuhnya diisi hanya oleh satu nama dan itu namamu. Jadi, jangan khawatir ya. Percayai aku."
"Iya Mas, aku percaya. Ya sudah, turun sarapan. Kelamaan nanti Ayah dan Bunda nungguin." ucap Khaira kepada suaminya.
Selesai sudah persiapan di kamar, akhirnya mereka berdua turun ke bawah untuk bersarapan bersama Ayah Wibi dan Bunda Ranti.
__ADS_1
"Sudah siap kembali bekerja, Dit?" Ayah Wibi menyapa anaknya dengan pertanyaan ketika Radit baru saja mendudukkan dirinya di kursi.
"Siap Ayah. Kata Istri, Radit harus kembali bekerja, apa pun pekerjaannya seorang pria terlihat keren kalau dia bekerja. Ya kan Sayang?" ucap Sayang sembari menoleh dan tersenyum kepada Khaira yang duduk di sampingnya.
Khaira tersipu malu di hadapan mertuanya. Sehingga ia enggan menanggapi celotehan suaminya itu.
"Bunda setuju sama Khaira, apa pun pekerjaannya seorang pria memang terlihat keren jika ia bekerja, karena pria adalah tulang punggung, dan kita adalah tulang rusuk. Kamu pinter, Khai ...." Bunda Ranti mengacungkan satu jempolnya kepada Khaira.
"Maaf Bunda, mungkin pandangan Khaira ini subjektif sih. Tetapi, Khaira seneng Mas Radit kembali bekerja setelah cuti besar. Karena Mas sudah bekerja, jadi semangat bekerjanya ya Mas. Aku menunggu awal semesteran baru akan mengajar di kampusku, Mas."
"Kalau kamu tidak perlu tergesa-gesa, Khai. Istirahat di rumah dulu gak papa. Main ke Mall sama Bunda juga gak papa. Masih dua bulan sebelum semester baru dibuka kan?" tanya ayah Wibi kepada Khaira.
"Kamu kalau main-main ke kantor Ayah boleh, Khai. Sapa tau kangen sama suamimu." Ayah Wibi tiba-tiba berkata sesuatu yang membuat Khaira malu seketika.
"Eh, enggak Ayah. Mas Radit biar fokus bekerja. Khaira takut ganggu." jawabnya sembari menundukkan kepalanya lantaran malu.
"Sekali-kali nyamperin aku juga gak papa kok Sayang. Aku biar makin semangat kerjanya, tambah asupan vitamin karena ketemu sama Istriku." Radit tambah menggoda Khaira di depan kedua orang tuanya.
"Ya sudah, karena sudah sarapan. Lebih baik kalian segera berangkat bekerja, jangan sampai terlambat." Bunda Ranti memotong pembicaraan mereka dan menyuruh suami dan anaknya untuk segera berangkat bekerja. Akhirnya Radit pun beranjak dari tempat duduknya, Khaira pun mengikuti suaminya. Ia mengantar Radit yang bekerja sampai ke depan pintu. Tidak lupa Khaira mencium punggung tangan suaminya. Yang dibalas kecupan sayang di keningnya oleh Radit.
"Lancar kerjanya ya Mas, semoga hari pertama bekerja ini berjalan lancar. Aku selalu doain Mas di rumah," ucap Khaira dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Amin. Doa seorang Istri pasti akan didengarkan Allah. Tunggu aku pulang ya Sayang, hati-hati juga di rumah. Jangan kecapean selama menghuni Pondok Mertua Indah ini." ucapnya seraya merengkuh tubuh Khaira ke dalam pelukannya.
"Bunda, nitip Khaira ya ... Radit berangkat bekerja dulu ya Bunda ...." Tidak lupa Radit juga salim mencium punggung tangan Bundanya.
"Tenang Dit, seperti katanya Khaira aman bersama Bunda di Pondok Mertua Indah ini. Bunda menyayangi Khaira, gak mungkin kejam sama anak perempuan Bunda sendiri. Ya kan Khai?" Bunda Dyah mengedikkan bahunya dan tertawa kepada Khaira.
"Ya sudah hati-hati di jalan ya Mas, lancar dan semangat bekerjanya." ucap Khaira seraya melambaikan tangannya.
"Iya. Mas kerja dulu ya buat masa depan kamu dan anak-anak kita. I Love U...."
Pria itu pun segera berangkat bersama dengan Ayahnya.
Sementara Khaira dan Bunda Dyah masih berdiri di depan pintu menunggu hingga mobil yang dikendarai oleh Ayah Wibi dan Radit perlahan mulai hilang.
"Kalau mau istirahat, lanjut ke kamar aja, Khai. Enggak usah sungkan sama Bunda, anggap rumah sendiri. Seperti kata Radit tadi, ini Pondok Mertua Indah buat kamu. Jadi bebas kamu mau beraktivitas apa pun." ucap Bunda Ranti yang kini tengah berjalan memasuki rumah bersama dengan Khaira.
Khaira pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bun ... Makasih banyak ya. Bunda mau ngapain, mau dibantuin apa sekarang ada Khaira yang bisa bantu-bantu Bunda."
Bunda Ranti justru tertawa. "Bunda enggak ada kegiatan kok Khai, palingan nyantai aja di depan televisi. Santai aja sama Bunda, nanti kalau Bunda perlu sesuatu Bunda panggil. Aman sama Bunda."
Bersyukur ketika memiliki mertua yang memperlakukan menantunya layaknya anak sendiri, bahkan terkadang terjalin layaknya hubungan persahabatan antara mertua dan menantu. Untuk hal ini, lagi-lagi Khaira bersyukur karena ia berada di Pondok Mertua Indah yang membuatnya nyaman dan dilimpahi kasih sayang tulus dari kedua mertuanya.
__ADS_1