
Seperti yang sudah direncanakan Radit dalam hatinya sendiri, tanpa ada seorang pun yang tahu. Akhir pekan ini, pagi-pagi Radit telah bergegas dari rumahnya. Ia akan mengunjungi Khaira hari ini. Sementara Felly tengah melakukan perjalanan luar kota bersama rekan kerjanya. Wanita itu beralasan tidak akan pulang ke rumah selama 3 hari untuk melakukan pekerjaan di luar kota. Maka Radit memutuskan untuk menemui Khaira di hari Sabtu ini.
Pagi-pagi Radit telah bersiap dengan sepeda motornya, tak lupa ia membawa bubur ayam yang akan ia makan untuk sarapan begitu sampai di rumahnya Khaira. Entah apa yang terjadi, hari ini Radit begitu senang akan kembali bertemu dengan Khaira.
Perjalanan jauh yang harus ditempuhnya bukan masalah berarti untuk Radit. Setelah berkendara hampir satu jam, akhirnya ia telah tiba di rumah Khaira.
Pria itu segera turun dari sepeda motornya dan mengetuk pintu rumah Khaira. Dengan membawa kantung plastik berisi bubur ayam di tangan kirinya.
Tookk.... Tookk.... Tookkkk....
Khaira di dalam rumah, tentu saja cukup kaget siapa yang datang ke rumah sepagi ini.
Pelan-pelan ia menuruni anak tangga dan bergegas membuka pintu. Hanya suara ketukan saja yang terdengar.
Begitu pintu terbuka, betapa terkejutnya Khaira melihat Radit yang berdiri di hadapannya.
"Mas Radit...," sapanya dengan wajah kaget. Ia sungguh tak mengira sepagi ini Radit sudah berdiri di hadapannya.
"Iya. Aku masuk ya...," balasnya dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Silakan masuk." Khaira mempersilakan suaminya itu untuk masuk.
"Hei, kamu sudah sarapan belum? aku bawa sarapan nih." ucapnya sambil mengangkat kantung plastik yang berisi dua kotak Styrofoam.
Khaira semakin terkejut dengan Radit. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba pria itu datang, dan kali ini dia membawa makanan. Tindakan yang aneh.
"Biar aku siapkan. Mas tunggu saja dulu di meja makan." ucapnya sembari menerima bungkusan kantung plastik dari tangan Radit.
Dengan cekatan, Khaira mengambil Styrofoam dari dalam kantung plastik, lalu bubur ayam ia pindahkan perlahan-lahan ke dalam mangkok dalam mengubah tampilannya.
Khaira membawa dua mangkok bubur ayam ke meja makan, tak lupa ia menyajikan kerupuk dan seduhan teh hangat.
"Silakan dimakan, Mas...," ucapnya sembari menyajikan semangkok bubur ayam ke hadapan Radit.
"Hm, makasih ya...," ucapnya sembari menerima mangkok berisi bubur ayam.
Keduanya duduk saling berhadapan sambil menikmati bubur ayam dan secangkir teh hangat.
__ADS_1
"Hari ini sibuk enggak?" tanya Radit tiba-tiba.
Khaira mendongakkan wajahnya, menatap Radit.
"Tidak. Kenapa?" jawabnya singkat.
"Muter-muter Jakarta yuk. Mau?" Radit menawarkan kepada Khaira untuk berkeliling Ibu Kota. "Tapi naik sepeda motor, mau enggak?"
Khaira sebenarnya ragu, terlebih ia mengingat bagaimana sepekan yang lalu ia menerima terror usai ke rumah orang tuanya bersama Radit.
"Tapi nanti ada yang marah enggak? Aku sudah diperingatkan seseorang tidak boleh dekat-dekat sama kamu." Khaira berkata jujur kali ini. Bukan untuk mengadu, tetapi menerima terror dan dalam keadaan tinggal sendirian di dalam rumah itu sangat menakutkan.
"Siapa?" tanya Radit dengan raut wajah yang nampak curiga. Ia pun tidak tahu siapa yang sudah memperingatkan Khaira. "Bilang sama aku."
"Aku juga tidak tahu siapa, aku tidak kenal orangnya. Tetapi orang itu tahu, saat aku habis bersama Mas Radit ke rumah orang tuaku."
Radit nampak berpikir siapa orang yang telah memperingatkan Khaira. Selama ini, dia pun merasa tidak bermasalah dengan siapa pun.
"Jangan dipikirin, kalau ada apa-apa kabarin aku."
"Hmm, iya." ucap Khaira singkat.
"Ya boleh."
"Kalau gitu cepat habiskan dan bersiaplah. Aku tunggu."
"Iya..." jawab Khaira.
Selesai sarapan dan membersihkan meja makan, Khaira masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Karena hari ini akan naik sepeda motor, jadi Khaira memilih mengenakan celana jeans panjang, kemeja, dan tidak lupa ia membawa jaket. Jika biasanya Khaira membiarkan rambutnya terurai, kali ini ia menguncir rambutnya model ponytail.
"Sudah?" tanya Radit begitu Khaira sudah turun ke bawah.
"Iya." jawabnya singkat.
Radit pun berjalan keluar, mengeluarkan kendaraannya lalu bersiap menaikinya. Tidak lupa ia memberikan sebuah helm kepada Khaira. Tangannya mengulurkan helm, dan Khaira menerimanya dan langsung memakainya.
"Berangkat sekarang ya?" ucapnya sembari menoleh ke belakang, memastikan Khaira telah duduk dengan nyaman.
__ADS_1
"Iya." sahutnya sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
Radit pun mulai melajukan kendaraannya menyisir sepanjang jalan, dari kaca spionnya terkadang ia melihat Khaira. Gadis itu terlihat kecil di balik punggung Radit. Entah mengapa, sesekali Radit tersenyum di balik helm full face yang menutupi wajahnya.
"Kamu pengen pergi ke mana?" tanya Radit kepada Khaira.
"Aku ngikut aja, soalnya aku anaknya jarang pergi-pergi juga." sahutnya.
"Ke Kota Tua, mau enggak?" Radit menawarkan pada Khaira untuk ke Kota Tua.
"Iya, boleh."
Setelah Khaira mengiyakan, Radit melajukan kendaraannya menuju Kota Tua.
Khaira mengamati pemandangan di sekitarnya, kali ini bukan dari balik kaca jendela mobilnya. Ia menikmatinya secara langsung. Dan, ini merupakan pengalaman pertama menaiki sepeda motor dengan jarak tempuh yang jauh. Tidak terpikirkan sebelumnya, kali ini justru ia berkendara seperti ini bersama suaminya sendiri.
Sepanjang perjalanan, keduanya memang lebih banyak diam. Tetapi, saat berhenti di lampu merah, Radit sesekali menoleh ke belakang. Hingga akhirnya motor yang mereka kendarai telah sampai ke Kota Tua. Radit memarkirkan sepeda motornya terlebih dahulu dan memasukkan satu helmnya ke dalam jok sepeda motor.
"Jalan-jalan ya?" ucap Radit sembari melihat pada Khaira.
"Iya, ayo."
Keduanya pun berjalan bersama menyisir jalanan di Kota Tua yang dipenuhi dengan bangunan sejarah dan museum. Khaira menengok ke sekitarnya, tempat ini terlihat menarik dan kesan kuno yang ditinggalkan membuat kawasan ini terlihat klasik.
"Mau masuk ke Museum atau jalan dulu?" lagi Radit menawari Khaira ingin kemana.
"Terserah Mas Radit aja." Khaira berjalan sembari mengikuti langkah kaki Radit.
Langkah kaki Radit yang lebar, membuat Khaira sering tertinggal di belakang. Hingga beberapa kali Radit harus berhenti dan menunggu Khaira. Jika dahulu mungkin pria ini akan marah-marah, sekarang ia hanya diam menunggu Khaira. Jika dulu mulutnya akan mendidih dan langsung mengomel, sekarang Radit rasanya sudah tidak bisa mengomeli Khaira.
"Kita minum itu dulu ya. Aku haus, nanti lanjut jalan lagi." tangan Radit menunjuk gerobak penjual minuman 'Teh Cincau' yang berada di seberang mereka. "Mau enggak?"
"Aku sebenarnya belum pernah nyoba sih, enak enggak?" tanya Khaira penasaran. Tapi ia tetap berjalan mengikuti langkah kaki Radit.
"Pak, minta dua ya. Diminum di sini." pesannya kepada penjual minuman itu.
Sementara Khaira menunggu dengan duduk di kursi plastik yang disediakan. Tidak sampai lima menit dua gelas teh cincau dingin telah mereka terima.
__ADS_1
"Diminum, ini enak kok." Radit membuka pembicaraan, karena melihat Khaira yang masih mengaduk-aduk minumannya.