
Kota Manchester - Inggris
Hampir dua bulan lamanya waktu berjalan. Perlahan-lahan Khaira mulai beradaptasi dengan keberadaannya di kota Manchester.
Tidak hanya dengan budaya dan bahasa, Khaira juga beradaptasi dengan makanan di sana dan tentunya cuaca. Sebab, akhir tahun ini Inggris akan memasuki musim dingin hingga musim salju. Khaira yang sebelumnya tinggal di zona Khatulistiwa untuk pertama kalinya akan merasakan salju.
Sebenarnya Khaira memiliki alasan khusus mengapa ia mencari beasiswa dan memilih Kota Manchester. Yang pertama memang untuk kuliah karena basis pendidikan di Manchester of University sangat bagus. Yang kedua karena Khaira menyukai sepakbola. Kecintaannya pada Manchester United yang membulatkan tekadnya untuk tinggal sementara di kota ini. Mimpi untuk menonton langsung pertandingan sepak bola di Old Trafford (stadion Manchester United) membuat Khaira datang jauh-jauh ke kota ini.
Di kuliahnya, Khaira sudah memulai kuliah. Khaira juga mendapatkan teman-teman baru di Manchester of University. Ada Tina - gadis keturunan India, Adam warga Indonesia yang tinggal di Singapura, dan Mark warga kota London yang menempuh pendidikan di kota Manchester.
Keempatnya mulai berteman sejak hari pertama kuliah.
"Where do you want to go after college? (kamu pergi kemana usai kuliah?" tanya Tina, Adam, dan Mark kepada Khaira.
"I want go to back home. (Aku akan kembali ke rumah.)" jawab Khaira.
"Where are you going this afternoon? (Kemana kamu akan pergi sore ini?) tanya Adam kepada Khaira.
"As usual, I'm going to watch the football match. (Seperti biasa, aku akan melihat pertandingan sepak bola.)" jawab Khaira.
(Selanjutnya percakapan mereka akan memakai bahasa Indonesia langsung saja, anggap saja sudah saya translate 🥰)
"Kau selalu saja menghabiskan akhir pekan dengan menonton sepak bola. Berkencanlah. Pilih salah satu cowok tampan di kampus kita." Adam berkata dengan raut wajah kesal karena Khaira selama ini hanya kuliah dan di akhir pekan ia hanya habiskan untuk menonton sepak bola.
"Diam kau. Aku tidak mungkin berkencan dengan siapa pun. Aku ini gadis yang sudah bersuami." jawab Khaira.
Ya, sekali pun jauh dari suami dan keluarganya Khaira tetap sadar posisi dan kedudukannya. Dia adalah istri seseorang. Lagipula sejauh apa pun dia pergi, hubungan pernikahan yang mengikat keduanya masih dan belum ada kata perceraian yang memutuskan hubungan keduanya.
Ketiga teman Khaira pun tertawa, bagi mereka seusia Khaira masih sangat muda untuk terikat dalam hubungan pernikahan. Terlebih di luar negeri, mereka pun bebas hidup bersama dengan kekasihnya layaknya suami istri tanpa adanya pernikahan.
"Aku saja tinggal satu apartemen dengan kekasihku tidak masalah. Kami bahkan belum menikah," ucap Mark yang penduduk asli kota London, tentu kehidupan bebas sangat wajar di sana. Tetapi, semua itu tidak berlaku bagi Khaira yang berasal dari Indonesia, negeri yang menjunjung tinggi adab kesopanan.
__ADS_1
"Sudah diam. Jangan ganggu Khaira. Biarkan dia pulang. Jangan samakan dirimu dengan Khaira, kami orang Indonesia memiliki sudut pandang sendiri tentang sebuah pernikahan," kembali Adam membuka mulutmu.
"Baiklah aku akan pergi. Bye all." Khaira memilih pergi dari ketiga temannya itu.
Dengan menyusuri jalan-jalan di sepanjang kota Manchester, Khaira berjalan dengan tenang. Udara dingin yang menusuk badan membuat hari itu serasa mendung dan berkabut. Walau pun telah mengenakan coat, syall, dan kaos tangan tetapi dingin yang dirasakan masih terasa hingga ke badan.
Di dalam apartemennya, Khaira segera menghangatkan ruangannya dengan room heater (pemanas ruangan listrik yang bisa membuat suhu ruangan tetap panas di musim dingin), lalu ia rebahkan dirinya ke tempat tidurnya yang hangat.
Gadis itu memilih untuk tidur siang sejenak, sebelum sore nanti ia akan mengunjungi Old Trafford Stadium untuk menonton pertandingan sepak bola klub favoritnya, Manchester United.
***
Sore hari di Stadion Old Trafford yang memiliki julukan Theatre of Dreams, karena sepanjang yang dimiliki klub asal kota Manchester dan kemegahan stadion, membuat semua klub ingin merasakan atmosfer bermain di Old Trafford.
Khaira berada di tribun penonton bergabung dengan para penonton lain yang melihat pertandingan sore itu. Berbagai lagu chants diteriakan penonton selama pertandingan berlangsung.
Glory, glory Man United
Glory, glory Man United
Glory, glory Man United
Khaira turut menyanyikan lagu dukungan tersebut. Ya, menonton sepak bola seperti ini selalu bisa membuat Khaira melupakan semua beban dalam hidupnya. Menyaksikan klub favoritnya dengan mata kepalanya secara langsung sudah dimimpikan Khaira sejak kecil. Dan kini, impiannya menjadi nyata. Ia bisa berdiri di tribun penonton, menyaksikan pertandingan Manchester United secara langsung.
Khaira pun larut kebahagiaan karena klub favoritnya memenangkan pertandingan sore itu.
Akan tetapi, ada sepasang mata yang mengamati Khaira sejak pertandingan dimulai. Sorot mata yang hanya tertuju pada Khaira.
Ketika pertandingan usai, Khaira memilih duduk. Ia menunggu hingga penonton telah keluar, barulah ia akan keluar dari stadion.
Gadis itu hanya duduk, begitu pertandingan usai lenyap jugalah perasaan bahagia yang sekian menit sebelumnya ia rasakan.
__ADS_1
Ketika ia mulai berdiri, di berbalik ke belakang. Netranya bertemu dengan sepasang netra yang hampir selama 2 jam memperhatikannya dari belakang.
Deg.
Mata itu.
Wajah itu.
Seketika Khaira tertegun, mata berpandangan dengan mata. Muka bertemu muka, keduanya larut dalam keheningan dan pikiran masing-masing. Banyak rasa yang tertinggal dalam sorot mata keduanya.
Sang pemilik netra segelap malam itu turun melangkahi anak tangga tribun stadion. Mengikis jarak antaranya dirinya dan Khaira.
"Halo Khaira. Lama tidak bertemu...." sapanya sembari memberikan senyuman kepada Khaira.
Sementara Khaira hanya terdiam, badannya seolah membeku di tengah musim dingin itu. Berkata-kata pun lidahnya terasa kelu.
"Mas Radit...." ucapnya dalam hati, tetapi mulut dan lidahnya sama sekali tidak bisa berkata-kata.
"Ini aku, Khai... Radit...." Hening sejenak. "Aku datang untukmu, Khai."
Pria itu semakin melangkah, keduanya tangannya sedikit terentang ingin membawa tubuh gadis itu dalam rengkuhan pelukannya.
Pertemuan yang dramatis, Radit ternyata benar-benar menyusul Khaira hingga ke Manchester, Inggris. Dan di Theater Impian inilah keduanya kembali bertemu setelah hampir 2 bulan lamanya.
Begitu Radit ingin memeluknya, Khaira langsung menghindar. Dia berjalan menghiraukan Radit keluar dari stadion. Akan tetapi, beberapa bulir air matanya rupanya jatuh di sudut matanya. Hatinya bertalu-talu tidak karuan.
"Ya Tuhan apakah ini mimpi? Kenapa aku harus bertemu dengannya ya Tuhan." Dengan perasaan gusar Khaira memilih terus berjalan.
Sementara Radit masih saja mengekori Khaira dari belakang. Dia memilih terus mengikuti kemana Khaira pergi.
"Khaira, aku datang untukmu Khai... Aku datang ingin meminta maaf secara langsung padamu," ucapnya sembari terus mengikuti langkah kaki Khaira.
__ADS_1
Jengah karena terus diikuti, akhirnya Khaira menghentikan langkahnya. "Mas Radit pulang saja. Tolong, jangan membuatku terjebak dalam situasi yang tidak pasti. Anggap saja tidak ada hubungan apa-apa di antara kita berdua."
"Tidak Khai, aku akan tetap di sini. Aku akan mengikutimu, aku akan menunggumu, sampai kamu memaafkanku. Kamu boleh menyuruhku pergi, tapi aku tidak akan pergi kemana-mana."