
Apabila ada orang yang merasakan bahwa kehamilan itu menyenangkan, maka Khaira akan sependapat bahwa kehamilannya selalu menyenangkan. Baik itu kehamilan pertamanya, dan kali ini. Kehamilan selalu menyenangkan bagi Khaira, karena itu seolah Khaira tidak merasa keberatan jika harus menjalani fase kehamilan. Yang menjadi ketakutannya hanyalah saat melahirkan. Entah mengapa rasanya, melahirkan itu sangat dramatis bagi Khaira.
Sekarang, tidak terasa usia kehamilannya sudah memasuki 37 minggu. Itu artinya tidak lama lagi, dirinya akan segera bertemu dengan babynya. Kurang lebih tiga minggu lagi akan menjadi waktu yang sudah dinantikannya untuk bisa bertemu dengan babynya nanti.
Kini, Radit dan Khaira kembali mengunjungi Poli Kandungan di Rumah Sakit, untuk kembali melakukan pemeriksanaan bersama Dokter Indri.
“Selamat sore Bu Khaira dan Pak Radit …” sapa Dokter Indri yang selalu ramah saat menyambut pasiennya. “Ada keluhan Bu?” tanyanya kepada Khaira sebelum mulai melakukan pemeriksanaan dengan USG.
Dengan cepat Khaira pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Dok … sejauh ini saya sehat-sehat saja." ucapnya yang yakin bahwa selama ini dirinya memang sangat sehat, tidak ada keluhan yang berarti.
Setelah merasa bahwa kehamilan Khaira tidak ada keluhan, Dokter Indri pun mempersilakan Khaira untuk berbaring di atas brankar dan mulai melakukan pemeriksaan dengan USG.
"Baik, usia kehamilan sekarang memasuki 37-38 minggu ya Bu. Artinya semakin dekat dengan masa-masa persalinan. Lebih sensitif dengan tanda-tanda menjelang persalinan yang bisa muncul kapan saja ya Bu." jelas Dokter Indri menjelaskan kepada Khaira.
Khaira pun mengangguk, "Baik Dok." jawabnya singkat.
Setelahnya Dokter Indri mulai mengukur panjang baby, lingkar kepalanya, dan letak plasenta. Saat transducer digerakkan, mulailah terlihat beberapa bagian dari janin tersebut.
"Sekarang panjang bayinya dari kepala hingga kaki 48 centimeter, lalu perkiraan beratnya sudah 3 kilogram. Ini hanya analisis ya, nanti faktanya bisa lebih atau kurang. Akan tetapi, biasanya mendeketi dengan berat yang diukur dengan USG. Lalu, ini posisi plasentanya tidak menutupi jalan lahir. Sehingga bisa melahirkan dengan normal ya Bu, ini kepala babynya juga sudah turun ke panggul. Ibu Khaira mau melahirkan normal atau Caesar kali ini?" tanya Dokter Indri.
Sebab memang menjelang persalinan biasanya Dokter Kandungan akan bertanya metode persalinan manakah yang akan dipilih oleh para Ibu Hamil. Normal atau pun Caesar biasanya menjadi dua alternatif yang umumnya dipilih para Ibu Hamil.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Khaira tampak menengok kepada suaminya terlebih dahulu. Dokter Indri pun mengamati gerak-gerik pasangan suami istri tersebut. Hingga akhirnya justru Radit yang menjawab.
"Kalau saya senyamannya Istri saja, Dok. Mau normal atau Caesar itu kan hanya metode persalinan. Yang penting Ibu dan Bayinya selamat." jawab Radit.
Ya, dia memang tidak memaksa istrinya harus normal. Apa yang nyaman bagi istrinya, itulah yang akan Radit support.
"Kalau Bu Khaira bagaimana?" kini Dokter Indri bertanya langsung kepada Khaira.
"Hmm, mungkin saya mau mencoba normal dulu saja, Dok. Walaupun sakit banget. Normal, tetapi enggak sakit gitu ada enggak sih Dok?" tanyanya.
Sontak saja Dokter Indri dan seorang perawat yang ada di tempat itu tertawa. Bagi mereka pertanyaan Khaira termasuk lucu.
"Sakitnya hanya sementara kok Bu … nanti kalau babynya sudah lahir, udah hilang sakitnya. Sakitnya memang luar biasa, tetapi kebahagiaannya juga luar biasa. Nanti, seperti persalinan sebelumnya, saya sendiri yang akan mendampingi Ibu dalam melahirkan ya." jawab Dokter Indri.
"Kenapa Pak?" tanya Dokter Indri kepada Radit.
Pria itu pun tersenyum, "Saya sudah ngeri rasanya, Dok."
"Tidak apa-apa Pak, aman kok. Justru bagus untuk babynya, asal tidak menekan perut dan hindari area atas. Itu saja. Selainnya aman, justru babynya harus ditengokin supaya mempercepat proses persalinan nanti." jelas Dokter Indri kepada Radit.
Setelah pemeriksanaan selesai, Radit dan Khaira sama-sama membayar biaya pemeriksaan dan juga menunggu obat yang masih harus Khaira konsumsi hingga menjelang persalinan.
__ADS_1
Melihat istrinya berjalan dengan perutnya yang sudah begitu membuncit, beberapa kali Khaira juga memegangi pinggang, membuat Radit tampak berkaca-kaca. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya guna menggenggam tangan istrinya.
"Sudah keliatan berat ya Sayang?" tanyanya perlahan.
Akan tetapi, Khaira menggelengkan kepalanya, "Enggak … enggak berat kok. Jadi Ibu itu luar biasa banget, ibarat kata aku sudah menggendong si baby selama 9 bulan dalam perutku ya Mas." ucapnya sembari tertawa.
Radit pun mengusap puncak kepala istrinya itu, "Iya … babynya kamu bawa kemana-mana selama 9 bulan. Sehat-sehat ya Mama Khaira Sayang & adik bayi." Radit berbicara dengan begitu lembut dan juga beberapa kali mengusap perut istrinya itu.
Khaira pun lantas tersenyum, "Kenapa Mas? Rasanya aku jadi mellow loh ini." ucap wanita itu yang merasa ada yang berbeda dari perlakuan suaminya.
"Enggak apa-apa. Cuma aku kasihan lihat perut kamu yang udah sebesar ini. Mau jalan susah, duduk juga susah, berbaring juga susah. Maaf ya Sayang." ucap Radit yang memang menyadari kian besar usia kehamilan, memang akan membatasi ruang gerak Ibu hamil. Berada dalam posisi tidak nyaman.
Akan tetapi, Khaira justru menggelengkan kepalanya, "Tidak usah minta maaf juga, kan memang ini takdir dan kodrat ku sebagai wanita. Aku sedang menjalaninya saja. Asalkan ada kamu yang selalu disampingku, semua bisa aku hadapi." sahutnya.
Memang bagi Khaira, dia membutuhkan suaminya itu untuk mendampinginya. Support system yang selalu dia harapkan. Asalkan ada suaminya, Khaira bisa merasa lebih kuat dan bisa menjalani semuanya.
***
Di dalam kamarnya kini Khaira duduk bersandar di head board dan tampak bergumam melakukan sounding dengan mengajak bicara babynya yang masih dalam perut.
"Hai, Adik bayi … sekarang kamu di dalam sini lagi ngapain Sayang? Sudah 37-38 Weeks, tidak lama lagi kita ketemu ya Sayang … Adik kalau dengar suara Mama berikan tendangannya dong. Respons ucapan Mama dong." gumamnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Rupanya benar, si baby pun merespons dengan bergerak di dalam sana hingga Khaira bisa merasakan tendangannya. Wanita itu tersenyum dengan berkaca-kaca.
"Wah, pintar anak Mama … nanti kalau sudah ketemu, digendong dan dipeluk Mama ya Sayang. Rasanya tidak sabar menunggu waktu untuk semakin berjumpa dengan kamu. Kira-kira kamu akan lebih mirip Papa atau Mama ya Sayang? Baby A-nya Mama." gumamnya lagi dan mengusapi perutnya dengan begitu lembut.