
Sepeda motor yang Radit dan Khaira kendarai akhirnya telah sampai di Kota Tua. Dengan segera Radit memarkirkan sepeda motornya, kemudian ia menggandeng tangan istrinya untuk berjalan-jalan di area Kota Tua itu.
Terkadang hidup memang aneh, dahulu mereka berdua menghabiskan satu hari di sini saat hubungannya hambar. Kemudian Khaira mengunjungi tempat ini juga dua hari sebelum penerbangannya ke Manchester, dengan tekad untuk menghapus jejak mereka berdua. Akan tetapi hari ini, keduanya justru kembali lagi bukan hanya berdua melainkan bertiga dengan calon buah hati mereka.
"Hmm, dulu sebelum pergi ke Manchester, aku pernah ke sini Mas." ucap Khaira sembari terus berjalan dan sesekali menghela nafasnya.
"Kok bisa Sayang?" tanya Radit.
"Dulu niatnya aku mau menghapus kenangan kita berdua Mas, aku pengen ke Manchester dengan perasaan lega. Tanpa perlu mengingat lagi apa yang ada di belakangku. Eh, sekarang malahan aku balik ke sini lagi sama kamu." ceritanya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan pernah hapus apa pun yang ada di belakang kita Sayang, biarlah itu jadi kenangan. Sekarang anggap saja kita bernostalgia ya..." ucap Radit sembari merangkul bahu istrinya.
"Jadi, mau masuk ke Museum?" tanya Radit kepada Khaira.
Lantaran Kota Tua memang tempatnya Museum, maka sudah pasti Radit menawarkan kepada istrinya itu untuk melakukan tour ke Museum.
Khaira pun mengangguk. "Mau. Hmm, tapi selain Museum Fatahillah ya Mas ... kan kalau Fatahillah dulu udah kita kunjungi. Yang lainnya ya? Kan di sini ada banyak Museum yang bisa kita kunjungi."
Radit menganggukkan kepala, ia pun setuju dengan Khaira. "So, Bumilku Cantik dan anak Papa mau jalan-jalan ke Museum mana nih?"
Dengan mengedarkan matanya sekilas, Khaira mengamati satu per satu bangunan tua yang dialihkan fungsikan sebagai Museum itu. Akhirnya, Khaira menjatuhkan pilihannnya untuk mengunjungi Museum Bank Indonesia terlebih dahulu. Bangunan khas kolonial Belanda berwarna putih dengan pilar-pilarnya yang menjulang tinggi itu nampaknya menarik perhatian Khaira.
"Museum Bank Indonesia mau Mas?" ucapnya dengan jari telunjuknya yang menunjuk sebuah bangunan megah berwarna putih itu.
__ADS_1
"Iya boleh, yuk...."
Mereka berdua memasuki Museum dengan bangunan yang terlihat megah di bandingkan beberapa bangunan di sekitarnya itu. Sebelumnya bangunan megah itu digunakan sebagai Rumah Sakit Umum dengan nama Binnen Hospital. Akan tetapi mengingat nilai sejarah yang tinggi pada bangunan itu, maka gedung itu diubah menjadi De Javasche Bank. Barulah kemudian nama De Javasche Bank dinasionalisasikan menjadi Bank Indonesia pada tahun 1853.
Mereka berdua melihat berbagai logo Bank Indonesia dari masa ke masa, sejarah mata uang di Indonesia, koleksi uang dari berbagai negara di dunia, catatan krisis moneter di Tahun 1998, hingga berbagai tumpukan emas, patung, dan kegiatan perbankan.
"Kegiatan perbankan seperti ini ya Mas? Dulu kamu di bagian apa Mas?" tanya Khaira saat melihat diorama aktivitas perbankan.
"Iya, seperti itu Sayang. Aku enggak ada di diorama ini, karena ini biasanya kegiatan di depan Teller dan Costumer Service. Aku kerjanya di dalam, mengaudit keuangan perbankannya. Jadi enggak kenal sama nasabahnya. Cuma berhadapan sama pembukuan dan tabel-tabel aja. Buku besar kayak gitu." Radit kembali mengingat pekerjaannya dulu sebagai Auditor Perbankan waktu dulu.
Khaira mendengarkan cerita suaminya, hal yang tidak pernah ia ketahui saat awal mula menjalin pernikahan dengan Radit.
"Kangen enggak Mas sama pekerjaanmu dulu?" lagi Khaira bertanya kepada suaminya.
Khaira pun membayangkan bagaimana sibuknya Radit dulu, pasti saja dulu suaminya selalu pulang malam dan wajah yang begitu kusut.
Radit menggenggam tangan Khaira. "Sekarang udah ada kamu, rasanya aku gak ingin bekerja sampai dini hari. Ada Istri dan calon bayi yang harus aku jaga. Udah enak kerja di kantor Ayah sih, beban kerja enggak begitu berat terus yang paling penting jam empat sore sudah pulang. Masih sore udah di rumah ketemu Istri, itu bikin aku bahagia banget." ucapnya begitu lembut yang membuat Khaira terharu.
Melihat bahwa sorot mata istrinya mulai berkaca-kaca, Radit segera mengalihkan topik pembicaraan dan mengajak istrinya untuk makan siang karena sudah mendekati waktu makan siang. "Ya sudah, lanjut lagi yuk. Mau makan?" tawarnya kepada Khaira.
Khaira melihat bahwa jam baru mendekati jam makan siang, lagipula perutnya masih kenyang. "Beli kerak telor dulu mau enggak Mas? Aku pengen."
"Ya sudah yuk, Bumil mau Kerak Telor yang di mana? Yuk, kita keluar dulu dan cari Kerak Telor ya..."
__ADS_1
Mereka pun kembali berjalan di area Kota Tua untuk mencari Kerak Telor, salah satu makanan yang diinginkan Khaira saat ini. Lantaran hamil atau memang pengen, membeli Kerak Telor saja harus jauh-jauh sampai ke Kota Tua.
Akhirnya mereka berhenti pada penjual Kerak Telor yang berada di depan Museum Pos Indonesia. "Pak, Kerak Telornya satu ya." Radit memesan satu Kerak Telor untuk Khaira.
"Ya, pakai telor ayam atau telor bebek?" tanya sang penjual kepada Radit.
"Bebek saja Pak...." sahut Khaira.
Sekian menit menunggu akhirnya Kerak Telor yang mereka pesan sudah jadi. Khaira terlebih dahulu mencium aroma Kerak Telor yang menggunakan telor bebek itu. Setelahnya ia mulai memakan Kerak Telor itu.
"Enak Sayang? Udah kesampaian ya ngidamnya...." ucap Radit kepada istrinya.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya, ini enak. Makasih ya Mas udah nurutin ngidamnya aku." ucapnya sembari menyuapkan Kerak Telor di dalam mulutnya.
Akan tetapi baru beberapa sendok, ia menyantap Kerak Telor itu rasanya ia sudah kekenyangan. Akhirnya ia nyuapkan Kerak Telor itu kepada suaminya. "Kamu makan juga ya Mas, aku suapin...." ucapnya seraya menyedokkan satu suap Kerak Telor ke dalam mulut suaminya.
"Loh kok jadi aku yang makan, katanya kamu ngidam Sayang ... aku udah aja, kamu habisin ya." sahut Radit sembari mengunyah Kerak Telor itu.
"Aku sudah kenyang Mas, jadi Mas yang makan ya." sahutnya sambil terus menyuapkan Kerak Telor kepada suaminya.
Radit memutar bola matanya. Tadi di rumah istrinya yang merengek minta Kerak Telor, setelah dibelikan justru hanya dimakan tidak sampai lima sendok. Dan, kini justru ia yang harus memakan Kerak Telor ini. "Lahh ... kok jadi aku yang ngabisin sih, Yang?"
Khaira tertawa, "Bukan mauku Mas, tapi anak Papa nih yang minta."
__ADS_1
Jika sudah menyangkut nama anak, praktis Radit hanya bisa mengalah. Lagipula momen kehamilan pertama buat istrinya, mengalah tidak ada salahnya. Pria itu selalu membayangkan bagaimana istrinya yang mulai sering kecapean di sekitaran pinggang saja membuatnya kasihan, terlebih saat usia kandungan semakin besar nanti yang akan membuat ibu hamil mengalami kenaikan berat badan, kaki bengkak, hingga engap. Maka jika hanya sebatas menghabiskan Kerak Telor bukan masalah bagi Radit.