
Beberapa bulan pun berlalu, sekarang Arsyila telah menginjak usia enam bulan. Tumbuh tembangnya optimal, Arsyila sudah bisa berguling ke kanan dan kiri, bahkan bayi cantik itu juga sudah bisa belajar duduk. Tingkah laku Arsyila juga semakin membuat orang tuanya gemas saat bayi itu mengeluarkan ocehan khas bayi dan sembari bertepuk tangan dengan senyum lebar di wajahnya.
Sore hari sepulang dari kantor, Radit selalu bahagia disambut istri dan anaknya yang semakin bertumbuh setiap harinya. Sementara itu, rutinitasnya setiap pulang kerja tetap sama yaitu mandi terlebih dahulu sebelum memegang baby Arsyila.
Memastikan diri bersih, barulah Radit akan menghampiri putri kecilnya itu. Akan tetapi, kali ini ada yang berbeda, Radit menghampiri istri dan anak dengan membawa sebuah undangan berwarna cokelat di tangannya.
"Sayang, kita dapat undangan nih...." ucapnya sembari menyerahkan undangan pernikahan kepada istrinya.
Khaira pun nampak tertarik. Setelah sekian lama, baru kali ini dia mendapatkan undangan pernikahan. "Wah, undangan pernikahan? Dari siapa ini, Mas?" ucapnya seraya tangannya terulur menerima undangan yang diberikan suaminya.
Mata Khaira membola seketika ketika melihat inisial nama di depan sampul undangan. "Haa ... Kak Dimas sama Metta? Serius?" tanya Khaira seakan tidak percaya.
Radit pun yang tengah memangku Arsyila hanya menganggukkan kepala dan tertawa. "Iya ... serius Sayang. Dua minggu lagi resepsinya." jawabnya.
"Kok bisa sih Mas? Mana Metta gak pernah cerita sama aku." ucapnya sembari membuka undangan pernikahan itu.
Radit pun tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya. "Setiap orang punya rahasia tersendiri yang enggan untuk dibagi dengan orang lain Sayang. Mereka baru bicara setelah semua pasti. Dimas aja juga enggak cerita sama aku loh, padahal aku sahabatnya. Akan tetapi, tadi Dimas yang ke kantor aku. Sedikit banyak dia cerita sih."
"Gimana ceritanya Mas ... ceritain dong." ucapnya dengan wajah yang menunjukkan antusias dengan cerita tentang sahabatnya Metta dan juga Dimas.
__ADS_1
"Sun dulu dong, baru nanti aku ceritain." goda Radit sembari jari telunjuknya menunjuk bibirnya.
Khaira pun tertawa. "Isshhh ... kalau modus pinter banget. Arsyila Sayang, besok kalau besar semoga dapat suami yang enggak banyak modus ya. Biar Papa kamu aja yang modusan sedunia."
Radit pun terbahak mendengar ucapan sang istri kepada anaknya yang masih berusia enam bulan itu. "Justru cari yang seperti Papa, Arsyila Sayang ... Karena, Papa itu cintanya cuma sama Mama kamu." ucapnya sembari tertawa.
Khaira hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarkan suaminya yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi itu. "Ceritain dong Mas...." ucapnya sembari mengedip-edipkan matanya kepada suaminya.
"Jadi mereka mulai dekat usai nengokin Arsyila itu Sayang ... saat itu aku cuma bercanda dan asal berceloteh aja supaya mereka nikah karena mereka mau jadiin Arsyila sebagai menantu. Sehabis itu, ternyata mereka tukeran nomor handphone. Terus semakin dekat. Dimas juga maunya kalau serius langsung menikah saja, gak perlu pacaran terlalu lama. Setelah nikah kan bisa saling mengenal, pacaran halal kan." cerita Radit panjang lebar kepada istrinya.
"O ... begitu. Ya bersyukur akhirnya sahabatku akan sold out juga. Tahu enggak Mas, aku lega sih. Soalnya Kak Dimas itu baik. Aku yakin dia akan menjadi suami sekaligus imam yang baik buat Metta. Dewasa juga kan." ucap Khaira dengan tulus.
"Jadi aku enggak baik dan dewasa kayak Dimas ya Sayang?" ucapnya sembari menatap Khaira dalam-dalam.
Merasa suaminya sedang mencari perhatian, Khaira memukul gemas lengan suaminya. "Nyebelin banget sih Mas ... udah pasti, kamu Suami, Imam, dan Papa yang terbaik buat aku dan Arsyila. Gak ada obat pokoknya. Mantap jiwa." sahut Khaira sembari mengangkat dua jempolnya untuk suaminya.
"Makasih Sayang ... aku tidak sebaik itu, tetapi aku berusaha setiap harinya menjadi pribadi yang baik dan berguna buat kamu dan juga Arsyila." ucapnya sembari mengusap-usap rambut Arsyila.
Khaira pun tersenyum. "Di rumah ini, kamu tetap idola bagi kami berdua Papa ... ya kan Arsyila Sayang. Kita sama-sama mengidolakan Papa di rumah kan?"
__ADS_1
Sementara Arsyila hanya duduk dan heboh berceloteh dengan memainkan air liurnya.
"Padahal dulu aku sempat bilang sama Metta supaya dia pendekatan dengan Tama. Katanya sih Tama beberapa kali menghubungi dia. Ya, aku pikir sekalian saja pendekatan. Aku minta dia bermunajat kepada Allah. Membawa namanya dalam doa. Ternyata sekarang, Metta justru bakalan sama Kak Dimas. Aku lebih lega sih. Kak Dimas pasti bakalan jagain Metta." ucap Khaira yang membuat suaminya merespons dengan memperhatikannya.
Radit pun tersenyum. "Jodoh itu misteri dari Allah, Sayang. Kadang tidak mengejar A, tetapi Allah berikan jodoh yang lain. Akan tetapi, aku percaya jika Allah yang menyatukan, Allah yang berkehendak maka itulah yang terjadi. Cara Allah menyatukan manusia begitu indah, seperti cara Dia menyatukan kita berdua. Tidak ada yang tahu, siapa jodoh kita. Rupanya kamu adalah jodohku. Wanita yang sudah kukenal sejak aku kecil. Demikian juga dengan Dimas dan Metta, hanya bertemu di sini dan mungkin dulu berpapasan saat kamu kuliah, nyatanya tidak lama lagi mereka akan bersatu. Misteri dari Allah bukan, tetapi saat Dialah yang menyatukan semua akan terasa indah Sayang."
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Setuju Mas ... aku juga berpikiran begitu. Aku tidak menyangka walau kita dijodohkan sejak kecil, seusai menikah aku sempat membencimu, aku pernah pergi jauh, tetapi Allah yang sudah menggariskan kita berdua bersama ya kehendak-Nya yang terjadi. Lebih bersyukur karena Allah juga ridhoi kita berdua dengan adanya Arsyila. Dia pasti membuat kita semakin belajar bersama, jadi orang tua bagi Arsyila."
"Amin ... semoga doa dan harapan kita dikabulkan Allah ya Sayang." ucap Radit sembari menggenggam tangan Khaira.
"Jadi, nanti kita datang kan ke pernikahan Dimas dan Metta?" lagi tanya Radit kepada istrinya itu.
Dengan segera Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Datang dong, masak pernikahan sahabat sendiri enggak datang."
"Arsyila mau diajak atau dititipkan ke Ayah dan Bunda, Sayang?" lagi tanyanya kepada Khaira.
"Menurut Papa gimana? Kita ajak Arsyila atau biar di rumah Nenek atau Eyangnya Pa?" Khaira justru balik bertanya kepada suaminya.
Radit nampak berpikir sebelum menjawab Khaira. "Waktu Ijab Qoubul Ayah Wibi dan Bunda Ranti datang sih karena Dimas juga memberi undangan buat Ayah dan Bunda. Kita ajak aja pas ijab Qoubul ya ... nanti resepsinya, kita titipkan Arsyila kepada Eyangnya aja. Gimana?"
__ADS_1
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Oke ... Setuju Papa. Arsyila, dua minggu ikut Mama dan Papa ke pernikahan Om Dimas dan Aunty Metta ya...."