Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Menyambut Pagi Bersama


__ADS_3

Malam yang terasa panjang nyatanya dapat dilewati oleh Radit dan Khaira dalam satu kamar. Keduanya tidur bersama dalam satu tempat tidur yang sama, walaupun dua buah guling membatasi keduanya. Khaira tidur meringkuk, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Menyembunyikan diri di bawah selimut, membuat Khaira seperti siput yang bersembunyi di dalam cangkangnya. Akan tetapi, memang itulah caranya menghindari Radit.


Namun, saat surya menyapa dan burung-burung gereja bersahut-sahutan di pagi hari. Posisi tidur keduanya nampak berubah. Keduanya nampak saling berhadap-hadapan walaupun dua buah guling tak beranjak dari tempatnya. Mereka tidur dengan tangan yang saling menggenggam seolah-olah saling menjaga satu sama lain.


Baik Radit dan Khaira nampak terlelap dalam tidur mereka. Pemandangan tidur keduanya pun dilihat oleh Bunda Ranti yang sebenarnya ingin membangunkan keduanya, tetapi melihat anak-anaknya masih tertidur lelap membuat Bunda Ranti enggan membangunkan keduanya. Bunda tersenyum melihat Radit dan Khaira yang nampak menggenggam tangan satu sama lain.


"Kalian memang tidak pernah berubah dari kecil. Terlihat saling sayang dan saling menjaga. Semoga kalian bisa terus saling menyayangi hingga tua nanti..." Bunda Ranti pun keluar dari kamar Radit dengan senyuman bahagia di wajahnya.


Tidak lama kemudian, baik Khaira dan Radit nampak terbangun. Posisi tidur yang saling berhadapan, mata yang terpejam hingga akhirnya terbuka langsung bersitatap dengan sepasang netra milik pasangannya. Keduanya nampak diam, dalam sepersekian detik baik Radit dan Khaira nampak langsung membuang muka.


Khaira pun sadar dengan posisi tangannya yang berada dalam genggaman Radit pun, langsung melepaskan tangannya.


Namun, ada perasaan aneh yang menjalar ke hatinya. Tidurnya terasa tenang dan begitu lelap, padahal biasanya Khaira akan susah tidur di tempat yang baru. Akan tetapi, semalam dia bahkan langsung tertidur pulas.


Demikian pula dengan Radit, semalam ia pun langsung tertidur. Bahkan karena langsung tidur, ia sampai lupa untuk menghubungi Felly karena ia harus menginap di rumah orang tuanya.


Khaira bangun, lalu membasuh wajahnya di kamar mandi. Sementara Radit sibuk dengan handphonenya, pria itu berniat menghubungi Felly segera.


[Halo Yang...]


[Iya, halo Ay...] sahut Felly di seberang sana.


[Sorry, aku semalam menginap di rumah Ayah dan Bunda, Ay... Karena hujan deras dan petir, mereka memintaku untuk menginap di sini.]


[Iya, aku tahu Ay... Kamu juga tidur sama anak kecil itu, Ay? Eh, Khaira maksudku.]


[Tidur sekamar Ay, tapi enggak ngapa-ngapain kok. Aku juga gak tertarik sama bocah itu. Kamu kan tahu, gimana aku.]


[Hemm, iya deh percaya. Ya udah, aku hari ini masuk kerja Ay, nanti sore aku pulang.]


[Iya Sayang. Hati-hati. Love U...]


Obrolan Radit di telepon rupanya di dengar pula oleh Khaira. Dengan masih di kamar mandi untuk mencuci wajahnya, ia mendengar semua percakapan suaminya di telepon.


Sabar... Sabar... Hai, hatiku walau pun lukamu menganganga, tapi bersabarlah. Kamu akan baik-baik saja. Kita bisa lewati semua ini.


Khaira memberikan afirmasi positif untuk hatinya sendiri.

__ADS_1


Setelah mencuci mukanya, Khaira keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan bagi keluarganya.


"Selamat pagi Bunda..." Sapa Khaira begitu melihat Bunda sedang menyeduh teh di dapur.


"Eh, anak Bunda sudah bangun... Gimana semalam bisa tidur?"


"Hemm, iya Bunda... Semalam Khaira langsung tidur kok Bunda. Mau dibantuin apa Bunda?"


"Kamu bisa memasak Khai?"


"Bisa Bunda... Karena di rumah kalau sedang tidak kuliah, Khaira sering memasak bersama Bunda Dyah."


"Wah, bagus. Udah pinter, cantik, pinter masak. Anak Bunda memang T.O.P deh." Bunda tertawa memuji menantunya itu.


"Masih belajar Bunda... Ya udah, saya yang buatkan sarapan saja Bunda... Bunda istirahat saja, ini masih jam 6 pagi Bunda."


"Yakin kamu bisa?"


"Iya Bunda, sama minta izin mengotori dapur Bunda. Hehehe..."


Bukan maksud memberikan tes atau mencobai, tetapi Bunda Ranti memang memberikan kesempatan bagi Khaira untuk menyiapkan makanan. Tujuan Bunda Ranti sebenarnya hanya satu, yaitu supaya menantunya merasa nyaman di rumah mertuanya. Tidak merasa kaku atau kebingungan, bisa menganggap rumah mertuanya seperti rumahnya sendiri.


"Pakai aja Nak..." sahut Bunda dari ruang tamu.


Khaira pun melihat berbagai bahan yang berada di dalam kulkas, ia melihat ada wortel, jamur kuping, ayam, telor, dan soun. Muncullah ide untuk membuat Timlo Solo, masakan kesukaan Ayah Ammar.


Khaira menyiapkan bumbu yang terdiri dari bawang putih, bawang bombay, lada, pala, dan cengkeh. Dengan cekatan ia mengupas wortel, dilanjutkan merebus jamur kuping, soun, dan wortel yang sudah diiris, merebus telor. Lalu, membuat kuah kaldu untuk daging ayam dan bumbu yang sudah ditumis terlebih dulu.


Tumisan bumbu untuk kuah kaldu tercium begitu harum aromanya, hingga membuat Bunda Ranti tersenyum mengamati menantunya yang sedang serius memasak.


"Menantu pilihan Bunda dan Ayah emang paling top. Cantik, pinter, di dapur pun cekatan...", puji Bunda Ranti sambil memperhatikan Khaira dari jauh.


Hampir satu jam bergelut di dapur, Khaira telah merampungkan Timlo Solo di mana racikannya telah di tata dalam empat mangkok, kuah yang disendirikan, tak lupa Khaira membuat sambal kecap sebagai pelengkap. Masakan itu telah tersaji dengan cantik di meja kamar.


"Bunda... Mari sarapan Bunda, sudah siap sarapannya." Khaira tersenyum menghampiri Bunda dan mempersilakan sarapan.


Mencium aroma masakan yang begitu harum, membuat Ayah Wibi dan Radit sama-sama keluar dari kamar.

__ADS_1


"Wah, Bunda masak apa pagi-pagi? Aromanya harum sekali." ucap Ayah Wibi sembari duduk ke meja makan.


Sementara Radit pun juga mengekori Ayahnya, dan kini duduk di meja makan.


"Yang masak bukan Bunda kok Yah... Menantu yang masak." Bunda tersenyum sembari menatap Khaira yang duduk di depannya.


"Wah, menantu Ayah pinter masak juga ternyata. Masak apa ini?"


"Ini Timlo Solo, Ayah... Tetapi masih kurang dengan sosis Solo nya, belum sempat bikin. Ini makanan kesukaan Ayah Ammar, Yah." sahutku dengan perasaan bahagia.


"Oh, ya ya ya... Ayah tahu, ini masakan kesukaan Ayahmu, karena dia kan Wong Solo." Ayah tertawa mengingat bagaimana Ammar dulu begitu menyukai Timlo Solo.


"Silakan Ayah dicicipi..." Khaira mempersilakan mertuanya untuk menyicipi hasil masakannya.


"Wah, ini enak... Enak banget. Anak Ayah ternyata pandai masak juga, bener kan Bunda?"


"Iya Yah... Kita beruntung punya anak yang pinter masak."


"Makasih Ayah, Bunda..." Balas Khaira dengan tersenyum kepada Ayah Wibi dan Bunda Ranti.


Radit pun tidak banyak berkomentar, tetapi ia terlihat sangat menikmati Timlo Solo buatan Khaira. Bahkan ia menghabiskan Timlo nya dengan cepat dan terasa ingin lagi menambah makanannya. Khaira yang melihat Radit terlihat ingin menambah pun, akhirnya menawari suaminya itu untuk menambah makanannya.


"Mas Radit mau nambah ya?" Sapa Khaira sekaligus menanyai apakah suaminya mau nambah makanan lagi.


"Hem, iya..." balas Radit sembari tersenyum kepada Khaira.


"Sini mangkoknya biar Khaira tambahkan, masih ada kok."


Khaira pun mengambil mangkok Radit, membawanya ke dapur, lalu menggantinya dengan seporsi Timlo Solo dalam mangkok yang baru, lengkap dengan kuah ayam yang masih panas.


"Silakan Mas..."


"Makasih..." Mata Radit berbinar-binar menerima semangkok Timlo Solo dengan kuahnya yang masih panas, tanda ragu ia segera menyantapnya.


"Enak Dit, masakan istrimu?" canda Bunda Ranti kepada Radit yang terlihat sangat menikmati Timlo Solo buatan Istrinya.


"Iya Bunda, ini enak. Baru pertama kali Radit makan yang kayak beginian."

__ADS_1


Ayah Wibi, Bunda Ranti, dan Khaira pun tersenyum melihat kelakuan Radit yang dengan lahapnya menyantap Timlo Solo nya, sikapnya nyaris seperti anak kecil yang mendapatkan permen.


__ADS_2