
Sembari menikmati semangkok Soto Ayam Lamongan di warung tenda, rupanya bisa sedikit mengakrabkan Radit dan Khaira. Berbagai topik pembicaraan mengalir begitu saja, walau pun Radit lebih mendominasi untuk bertanya-tanya kepada Khaira.
Dari obrolan itu jugalah, ternyata keduanya sama-sama menyukai makan nasi kucing di Angkringan. Sungguh, sebuah kesamaan yang tak terduga.
"Habis makan mau kemana lagi? Aku bisa anterin mumpung aku libur?" tanya Radit kepada Khaira.
"Aku ngikut aja kok, Mas. Kemana aja gak masalah." balas Khaira.
"Naek sepeda bentar di depan itu mau enggak? Sewa sepeda maksudnya, muter-muter wilayah sini. Mau enggak?"
"Iya, boleh Mas..."
Akhirnya seusai makan, keduanya kembali berjalan untuk menyewa sepeda yang memang disewakan untuk mengeliling kawasan Kota Tua. Penyewa cukup membayar uang sewa sesuai paket yang bisa mereka pilih.
"Kita sewa satu sepeda aja ya, aku bisa boncengin kamu." tawarnya.
Khaira nampak kebingungan, padahal mereka bisa menyewa sepeda sendiri-sendiri. Padahal mereka sebenarnya belum sedekat itu untuk bisa saling berboncengan menaiki sepeda.
"Eh, Mas Radit yakin? Kenapa enggak menyewa dua saja?" Khaira masih berusaha supaya Radit mau menyewa dua sepeda.
"Gak apa-apa, aku boncengin aja. Mau pake topi bundar itu enggak?" kali ini Radit tertawa melihat topi bundar yang memang turut di sewakan bersama dengan sepedanya.
"Enggak ah, Mas. Apaan sih. Udah gak usah pake topi segala." jawab Khaira agak ketus.
"Ya udah, tapi ayo buruan naik." sekali lagi Radit meminta Khaira untuk segera memboncengnya.
Dengan ragu-ragu, Khaira akhirnya membonceng sepeda itu. Sekali pun ia memakai celana jeans, tapi ia memilih membonceng ala perempuan yang mengenakan rok atau pun dress.
__ADS_1
Radit mengayuh sepeda berwarna putih itu lalu memutari kawasan Kota Tua, Radit memilih rute dari Fatahillah menuju ke Pasar Pagi dan Pasar Lama. Radit bahkan nampak bersemangat mengayuh sepedanya. Siapa sangka Radit yang semula ketus, kini pria itu bahkan begitu banyak tertawa dan banyak bicara bersama dengan Khaira.
Ketika sampai di Jembatan Kota Intan, Radit menghentikan sepedanya. "Kita foto dulu ya, buat kenang-kenangan. Di sini tempatnya bagus soalnya. Serasa di Eropa gak sih?" ucap Radit sembari mengamati sekelilingnya.
Lalu, Radit mengeluarkan handphone dari saku celananya dan meminta salah satu pengunjung yang berada di situ untuk memfotokan mereka.
"Mas, boleh minta tolong fotoin kami enggak?" ucap Radit meminta tolong kepada seorang pria yang nampak sedang jogging di area itu.
"Boleh Mas... Saya fotokan." Pria itu bersiap memfoto Radit dan Khaira. "Mbaknya senyum dong Mbak, sama pegangan Mas nya biar kelihatan romantis."
Khaira panik mendengar arahan dari pria yang sedang memfoto itu, Khaira tersenyum kaku tetapi ia tidak berani jika harus berpegangan, maksudnya memegang pinggang Radit.
Melihat Khaira yang seolah tak bereaksi apa pun justru membuat Radit mengambil tangan Khaira dengan tiba-tiba dan mendaratkannya untuk melingkar ke pinggangnya.
"Lihat sini ya Mbak... Satu... Dua... Tiga..." Instruksi dari pria yang tengah memotret itu.
"Senyum ke arah kamera. Biar fotonya bagus." ucapnya lirih.
Cekrekkk...
"Sekali lagi ya Mas dan Mbak..." lagi-lagi pria memberikan instruksi untuk mengambil potret keduanya sekali lagi.
Setelah aksi foto dadakan selesai, Radit mengucapkan terima kasih kepada pria yang sudah membantunya. Pria itu lantas mengamati hasil jepretan di galeri handphonenya, senyuman muncul begitu saja dari wajah Radit sembari mengusap-usap layar handphonenya.
"Coba liat ini. Bagus kan fotonya? Aku kirimkan ke handphone kamu ya." ucapnya tersenyum bahagia sembari memperlihatkan layar handphonenya kepada Khaira.
"Iya, bagus. Makasih Mas." balas Khaira sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Selain foto pernikahan, foto kali ini menjadi foto keduanya bersama setelah menikah. Setelah empat bulan berlalu, Khaira tak menyangka akan kembali berfoto dengan suaminya sendiri. Jembatan Kota Intan menjadi tempat bersejarah bagi Khaira, karena di sinilah mereka berdua berfoto bersama setelah menjadi suami-istri.
Setelah itu, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki sepeda. Dan, Radit masih semangat mengayuh sepedanya.
"Capek enggak Mas? Kalau capek kita jalan aja, biar aku yang bawa sepedanya." tanya Khaira yang masih membonceng di belakang Radit.
"Enggak, enggak capek kok. Bentar lagi juga udah mau sampai. Gimana seru enggak?" tanyanya sembari kakinya masih mengayuh sepeda dan menoleh ke belakang pada Khaira.
"Iya, seru. Makasih Mas." ucap Khaira. "Mas, mampir minimarket itu sebentar ya, aku belikan minum, pasti haus." sembari jari Khaira menunjuk pada minimarket yang berada di depannya.
Radit menghentikan sepedanya di depan minimarket, lalu mengikuti Khaira masuk ke dalam. Pria itu mengambil air mineral berukuran 1 liter, karena mengayuh sepeda cukup jauh tentu membuatnya kehausan. Sementara Khaira hanya mengambil air mineral kemasan kecil.
"Biar aku saja yang membayarnya, Mas." ucap Khaira begitu mereka hendak menuju ke kasir untuk membayar.
"Jangan, aku saja. Lagipula aku kan cowok, aku kan suami kamu. Aku saja." Radit langsung membayar dua botol air mineral itu lalu kembali keluar dari minimarket.
Baru ia meminumnya sebentar dan berniat kembali bersepeda, handphonenya berdering dan rupanya itu dari Felly.
Khaira yang melihat Radit akan menerima telepon, ia pun mengambil jarak dari Radit supaya pria itu bisa berbicara leluasa di telepon.
[Halo, iya Yang...] ucap Radit begitu menerima panggilan telepon itu. Dan entah mengapa Khaira merasa hatinya seperti dicubit. Baru beberapa saat yang lalu, ia begitu bahagia hingga tidak memikirkan Felly, tetapi sekarang Felly sedang menghubungi Radit.
[Iya, habis ini aku balik ke rumah, Yang. Hmm, iya.] kembali Radit berbicara dan mengakhiri panggilan itu.
Mendengar ucapan Radit yang begitu lembut saat menerima panggilan telepon dari Felly, nyatanya begitu berdampak bagi Khaira. Membuat Khaira sadar siapa dia, apa posisinya di dalam hidup Radit, semanis apa pun Radit memperlakukannya tetapi cinta yang dimiliki pria itu hanya itu Felly. Khaira menenangkan hatinya sendiri, bahwa tidak apa-apa. Tetapi kenapa saat itu hatinya lebih terasa sakit dari sebelumnya? Apakah ia mulai membuka hatinya untuk Radit? Salahkah bila Khaira juga menginginkan untuk bisa diterima dan disayangi oleh suaminya sendiri?
Kebahagiaan yang Khaira alami nyatanya berujung pilu. Walau pun, Khaira mencoba menyembunyikannya tetapi tak bisa ia abaikan bahwa hatinya terasa pilu.
__ADS_1
Andai saja suamiku mencintaiku, tidak ada wanita lain di hidupnya, aku akan benar-benar menjadi wanita yang berbahagia.
Batinnya dalam hati sembari kembali membonceng Radit dengan tangannya memegangi botol air mineral milik keduanya.