
"Selamat Datang di Jakarta anak-anak Ayah dan Bunda ...."
Suara penyabutan yang nyaring dan senyuman lebar penuh haru tergambar jelas di wajah Ayah Ammar dan Bunda Dyah, Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Mereka sengaja datang ke Bandara untuk memberi kejutan bagi Radit dan Khaira.
Khaira yang melihat orang tua dan mertuanya telah menunggunya di pintu kedatangan, sontak langsung berlari meninggalkan Radit yang masih mendorong koper-koper mereka. Layaknya seorang anak kecil, Khaira berhambur ke dalam pelukan orang tua dan mertuanya. Ia tidak bisa menahan lagi, air matanya luruh seketika. Rasa rindu yang dipendam dua tahun lamanya akhirnya terobati dengan melihat wajah yang selama ini ia rindukan.
"Ayah ... Bunda ... Khaira kangen." Dengan dibanjiri air mata, Khaira hanya bisa menangis dan memeluk orang tua dan mertuanya dengan rasa bahagia dan haru.
Suasana semakin haru, lantaran Bunda Dyah dan Bunda Ranti turut menangis di sana. Kedua wanita paruh baya menangis bahagia tentunya, menyambut kembali anak-anak mereka setelah sekian lama.
Sementara Radit yang sudah semakin dekat dengan Khaira dan keluarganya juga tersenyum, kemudian pria itu memeluk orang tuanya satu per satu.
"Radit pulang Ayah, Bunda... Radit pulang membawa Khaira."
Entah ada perasaan bangga yang Radit ucapkan kepada kedua orang tuanya. Jikalau dulu dia pergi ke Manchester dengan perasaan kacau, nyaris terserang depresi lantaran kepergian Khaira, kini seolah berhasil memperjuangkan istrinya, layaknya pahlawan yang pergi ke medan pertempuran dan kembali dengan membawa kemenangan.
Ayah Ammar dan Ayah Wibi menepuk punggung anaknya itu. "Jangan diulangi lagi, Dit. Usai ini Ayah gak akan mentolerir lagi ya." ucap Ayah Wibi kepada anaknya itu.
"Iya Ayah ... Radit akan menjaga Khaira seumur hidup Radit, tidak akan lagi membuatnya menangis." Di hadapan kedua ayahnya, Radit berkata dengan sungguh-sungguh untuk menjaga Khaira.
"Kangen-kangenan nya di rumah lagi ya. Kita pulang ke rumah Ayah Wibi dulu." ucap Ayah Wibi yang diangguki seluruh keluarga.
Rupanya memang Ayah Ammar sengaja meninggalkan mobilnya di rumah besannya, mereka hanya membawa satu mobil saja untuk menjemput Radit dan Khaira.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam mobil, Khaira yang hendak duduk di samping Bundanya digoda oleh Radit. "Kamu duduk sama Bunda, Sayang? Enggak duduk sama aku?"
Saat itu Radit di bagian belakang sendirian. Di depannya telah duduk Bunda Dyah, Bunda Ranti, dan Khaira.
"Khaira nya dipinjam sebentar aja, Dit. Apa tidak boleh?" Bunda Ranti berkata dengan sedikit memukul lengan anaknya itu.
Khaira ikut terkekeh geli mendengar celotehan suaminya itu. "Aku duduk di sini sama Bunda dulu ya Mas. Kan kita juga depan-belakang, enggak jauh-jauh."
Seluruh mobil tertawa geli melihat polah tingkah anaknya yang membuat hati orang tua merasa lega, lantaran keharmonisan yang Radit dan Khaira tunjukkan bukan lagi keharmonisan settingan. Keduanya benar-benar sudah rukun dan saling menyayangi.
Perjalanan dari Bandara menuju rumah Ayah Wibi ditempuh dalam waktu kurang lebih empat puluh menit. Sekarang mereka telah sampai di rumah Ayah Wibi.
"Welcome Home ...." ucap Ayah Wibi kepada Radit dan Khaira.
Begitu masuk ke dalam rumah, Khaira memandangi kembali rumah mertuanya yang sudah dua tahun lamanya tidak disambanginya. Suasana di rumah masih rapi dan asri, tidak ada yang berubah dalam dua tahun terakhir.
"Yuk, kita makan dulu. Kalian pasti lapar kan usai menempuh perjalanan jauh. Usai makan, kalian bisa langsung istirahat. Kami tahu pasti kalian jet lag akibat perbedaan waktu di Inggris dan di Jakarta." ucap Bunda Ranti.
Akhirnya mereka semua menuju ke meja makan. Berbagai masakan khas Indonesia, masakan yang kaya akan rempah-rempahnya, masakan yang selalu menggugah selera menyambut mereka dengan aromanya yang menggoda indera penciuman mereka.
"Wah, akhirnya kami ketemu lagi sama masakan rumahan khas Indonesia. Kangen Bunda, sama masakan Indonesia." ucap Khaira yang mengambil duduk di dekat suaminya.
"Iya Khai ... Bunda sengaja memasak menu masakan kesukaan kalian berdua. Ada Rendang, Oseng Tempe, Oseng Daun Pepaya, dan Ayam Goreng Serundeng. Ayo, kalian berdua makan yang banyak." ucap Bunda Ranti.
__ADS_1
"Makasih Bunda untuk masakannya...." Khaira berterima kasih karena keluarganya menyambutnya dengan sangat baik.
Akhirnya makan bersama keluarga, dibarengi canda tawa, rasa kekeluarga yang hangat benar-benar menjadi obat penawar rindu bagi Khaira dan juga Radit.
"Radit, Khaira ... Ada yang perlu kami sampaikan kepada kalian berdua. Usai ini apa rencana kalian?" tanya Ayah Wibi yang mewakili pertanyaan dari istri dan juga besannya.
"Radit akan kembali bekerja, Yah. Sementara Khaira akan melamar bekerja kembali ke kampusnya mengajar di sana. Di hari Sabtu, Khaira akan terlibat dalam sekolah bagi keluarga prasejahtera, tetapi kami perlu survei dulu tempatnya sih Yah." ucap Radit, dan tentunya jawaban itu juga mewakili jawaban Khaira.
Kedua orang tua mereka nampak mendengarkan lebih dahulu penjelasan dari Radit.
"Ya, kami sebagai orang tua tentunya mendukung rencana kalian berdua ke depannya. Akan tetapi, usia pernikahan kalian sudah cukup lama, apa kalian tidak memikirkan tentang keturunan? Sekali lagi, kami tidak mendesak, namun perlu juga kalian pikirkan." kali ini giliran Ayah Ammar yang berbicara kepada Khaira dan Radit.
"Oh, iya Yah... Tentu kami akan segera memprogramkan keturunan Yah. Kami akan segera menemui spesialis Obgyn, kebetulan waktu di Manchester kami pernah menemui Obgyn, dan kami akan mengontak lagi Obgyn tersebut untuk melakukan program hamil. Dokter Spesialis Kandungan dari Indonesia yang belajar S2 di sana, Yah." jawab Radit.
"Kenapa kalian menemui Obgyn di Manchester?" tanya Bunda Dyah yang begitu penasaran karena anaknya ternyata menemui Obgyn ketika di Manchester.
Khaira menatap wajah Bundanya. "Hmm, kami melakukan pemasangan alat kontrasepsi, Bun. Karena Khaira di sana kuliah, ingin menunda terlebih dahulu, tetapi Khaira hanya memasang implan yang termasuk kontrasepsi non hormonal kok Bunda. Khaira akan melepasnya segera dan ingin berusaha untuk mendapat keturunan."
"O ... iya, karena sudah di Jakarta, jadi bisa dilepas. Memang tidak perlu terburu-buru, tetapi kalian harus berusaha juga dan tentunya berdoa. Sebab dalam mendapatkan keturunan, ada usaha manusia dan ridho dari Allah. Dulu Ayah dan Bunda juga kosong hingga tiga tahun, barulah di tahun keempat, Bunda mengandung kamu. Berusaha dan berdoa selalu." ucap Bunda Dyah yang disambuti anggukan oleh Radit dan Khaira.
"Iya Bunda, Ayah ... doakan juga semoga kami segera dipercayai Allah untuk menjadi orang tua." ucap Radit.
"Amin ...." semua yang ada di situ pun mengaminkan doa untuk keturunan Khaira dan Radit.
__ADS_1