
Diam-diam tanpa sepengetahuan Khaira, Radit telah mempersiapkan kejutan spesial untuk istrinya tercinta. Dengan penuh percaya diri, pria itu merasa bahwa kejutan ini akan segera ia berikan kepada Khaira. Waktu yang tepat, itulah yang ada dalam pikiran Radit.
Ulang tahun istrinya yang tinggal beberapa hari lagi dan usia kehamilan Khaira yang hampir berusia 12 minggu, membuat Radit mempersiapkan kejutan yang pasti akan membuat istrinya begitu bahagia. Menjelang malam, di kala weekend itu Radit membawa Khaira untuk pergi ke satu tempat yang ia rahasiakan.
"Kita mau kemana Mas?" tanyanya penuh penasaran kepada suaminya.
Sementara Radit hanya tertawa, beberapa kali ia hanya mengangkat jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. "Ssttt... Rahasia."
Jawaban yang membuat Khaira merotasi matanya, malas. Sebab, sejak tadi Khaira selalu bertanya dan Radit hanya menjawabnya 'rahasia'. Jawaban yang nyaris membuat mood Bumil itu hampir jelek berantakan. Akan tetapi, Khaira masih berusaha bersabar. Beberapa kali ia melakukan gerakan relaksasi berupa menghirup nafas sebanyak-banyaknya, lalu mengeluarkannya perlahan.
Namun untuk menghindari perdebatan, Khaira memilih membuang mukanya. Melihat jalanan Ibu Kota dari balik kaca jendelanya.
Beberapa meter sebelum tiba di lokasi yang hendak dituju, Radit menepikan mobilnya. Pria itu mengambil penutup mata dan meminta izin untuk menutup mata istrinya.
"Matanya ditutup dulu ya Sayang..." ucapnya sembari menutupkan penutup mata berwarna hitam di kedua mata istrinya.
"Mas, jangan aneh-aneh. Sudah ditanyain kemana enggak dijawab, sekarang pakai acara ditutup mata. Aku ngambek loh." jawabnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Radit yang gemas hanya mencubit hidung mancung istrinya itu. "Bumil cantik, jangan ngambek ya... Sabar paling 5 menit lagi kok."
Masih berusaha sabar, sekaligus bujukan suaminya. Akhirnya Khaira pasrah mengikuti permintaan Radit.
Mobil terus melaju, sementara mata Khaira telah tertutup. Perlahan-lahan Radit melajukan mobilnya, menuju lokasi yang ia rahasiakan sebelumnya.
Setiba di lokasi, Radit membuka pintu mobil untuk Khaira. Dengan sigap, pria itu menautkan tangan Khaira untuk berpegangan pada tangannya. Gadis yang saat ini tengah mengenakan dress bermotif floral itu berjalan dengan mengapit lengan suaminya, dengan mata yang masih ditutup, ia sungguh tidak tahu kemana suaminya membawanya.
Klekkk....
Terdengar seperti suara Radit tengah membuka pintu.
__ADS_1
"Kita kemana sih Mas? Kok lama banget sih?" Khaira sudah menggerutu lantaran suaminya masih belum berbicara, sementara matanya masih tertutup yang membuatnya risih sekaligus jengah.
Mendengar istrinya yang menggerutu, Radit hanya tersenyum. "Sabar, sebentar lagi Sayang..." merasa bahwa persiapannya sudah maksimal dan sempurna, perlahan tangan Radit memegang penutup mata berwarna hitam itu. "Kita buka sekarang ya."
Pria itu menghitung mundur mulai dari angka lima.
Lima....
Empat....
Tiga....
Dua....
Satu....
Penutup mata itu terbuka, perlahan kelopak mata itu bergerak-gerak dan Khaira melihat bahwa ia tengah berada di sebuah rumah baru, rumah yang dulu disurveinya bersama Radit.
"Rumah baru?" tanyanya ekspresi terkejut.
Radit hanya mengangguk dengan mengulas senyuman di sudut bibirnya.
Kejutan belum berakhir di sini, tanpa sepengetahuan Khaira juga orang tua dan mertuanya telah berada di sana. Bunda Ranti dan Bunda Dyah membawa kue dan kitchen set yang dihias manis dengan pita.
"Kejutan Khaira Sayang...." seru kedua pasangan paruh baya itu yang semakin sukses membuat Khaira terkejut hingga menangis terisak.
Radit segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya, Khaira menurut. Ia menyerukkan kepalanya di dada bidang milik suaminya dengan buliran air mata yang seolah tak terbendung. Kebahagiaan dari keluarga dan juga dari suaminya yang membuat Khaira terisak bahagia.
"Sudah dong, Bumilku Cantik jangan menangis lagi ya. Kasihan debay nya nanti ikutan nangis loh." ucap Radit sembari mengelus puncak kepala istrinya yang memang lebih cengeng dan mudah sekali menangis selama kehamilannya.
__ADS_1
Bunda Ranti dan Bunda Dyah pun berjalan mendekati Khaira. "Kejutan Sayang... Hari ulang tahunmu sebentar lagi kan? Kado dari kami semua untukmu dan calon cucu."
Kedua perempuan paruh baya itu langsung memeluk Khaira bersamaan. Ucapan kasih sayang dan pelukan hangat yang membuat Khaira semakin terisak.
Bunda Dyah menyeka air mata di pipi putrinya itu. "Benar kata Radit, udah nangisnya... Nanti kalau bayinya ikut nangis gimana? Perasaan seorang Ibu yang tengah mengandung itu berdampak kepada janin. Kalau Ibunya bahagia, bayinya juga bahagia. Kalau Ibunya nangis terus, bayinya juga nangis di dalam sini." ucap Bunda Dyah dengan lemah lembut.
Khaira mengangguk. "Kan Khaira menangis bahagia Bunda... Bukan karena sedih. Terima kasih Bunda Dyah, Bunda Ranti, Ayah Ammar, dan Ayah Wibi untuk kejutannya. Khaira benar-benar bahagia."
Bunda Dyah memegangi kedua tangan putrinya. "Bilang terima kasih juga sama Radit, Suamimu. Dia yang sudah bekerja keras mempersiapkan semua ini."
Tanpa kata-kata, Khaira kembali memeluk manja suaminya itu. "Makasih banget ya Mas...." ucapnya manja dengan sesekali menahan isakan tangisnya.
Radit mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya. "Sama-sama Sayangku...."
Para orang tua memilih bercengkerama di ruang keluarga. Sementara Radit meminta izin kepada orang tua dan mertuanya untuk membawa Khaira tour melihat keseluruhan rumah dengan desain minimalis dua lantai itu.
Dengan menggenggam tangan Khaira, pria itu membawa Khaira berjalan menuju dapur mereka yang telah didesain sedemikian rupa lengkap dengan kompor gas, alat pemanggang, lemari es, dan beberapa peralatan makan.
"Ini dapurnya, Sayang. Kamu bisa memasak di sini, tapi jangan memaksakan diri ya ... Karena aku gak mau Bumilku cantik ini kecapean."
Khaira tersenyum seraya mengangguki perkataan suaminya itu. "Kalau untuk masak aku masih bisa kok Mas ... Toh, selama ini dedeknya baik banget, bikin Mamanya enggak mual dan muntah."
Usai dari dapur, Radit membimbing Khaira menaiki lantai dua. Tempat di mana tempat tidur berada. Radit membuka sebuah pintu, membawa Khaira masuk. "Ini kamar kita berdua Sayang. Aku minta tukang untuk renovasi kamar ini sebelumnya, di sini ada walk in closet mini, kamar mandi dalam, dan juga balkon. Aku sudah membelikanmu sprei dan bed cover bunga-bunga seperti permintaan kamu dulu."
Radit masih menggenggam tangan Khaira, ia membuka sebuah pintu kaca yang berada di kamar itu. "Ini connecting room buat kamar baby nanti Sayang. Terkoneksi dengan kamar tidur ini. Cuma dipisahkan kaca ini aja. Tapi kalau kamu keberatan baby nya boleh kok bobok tiap malam sama kita berdua. Senyamannya aja..."
Khaira kembali memeluk suaminya. "Terima kasih banyak ya Papa buat semuanya."
Radit bahagia, istrinya kali ini tidak memanggilnya "Mas" melainkan "Papa", panggilan yang membuat hati pria itu begitu bahagia.
__ADS_1
Foto dulu di rumah baru ya gaeesss🥰