
Aspek dalam pernikahan ini sangat banyak. Menyatukan dua kepribadian berbeda menjadi satu memang tidak mudah, tetapi dengan kesungguhan hati nyatanya dua orang yang berbeda bisa melebur menjadi satu menggapai cita dan cinta bersama.
Hari ini menjadi hari yang cukup menyenangkan bagi Radit. Di kota asing ini, ia bisa berteman dengan teman-teman Khaira. Banyak yang mereka obrolkan sembari menikmati minuman dan berbagai camilan. Selain itu Radit juga banyak terlibat obrolan dengan Adam. Mungkin karena sama-sama orang Indonesia, keduanya justru terlibat obrolan cukup lama dengan Adam.
"Gimana kalau aku panggil kamu Kakak aja, aku sungkan jika memanggil langsung dengan namamu." ucap Adam.
"Gak apa-apa. Boleh dengan bahasa santai tidak dengan kata aku dan kamu kan?" tanya Radit.
"Gak papa Kak." sahut Adam cepat.
"Jadi lo orang Indonesia juga?" tanya Radit.
"Iya, gue ini Warga Negara Indonesia (WNI) tetapi lama tinggal di Singapura, Kak. Bokap ada perusahaan di sana." jawab Adam.
"Ikut Khaira ke sini, Kakak enggak kerja berarti?" lagi tanya Adam.
Radit tersenyum sembari menyenggol lengan Khaira. "Dia yang bikin gue jadi pengangguran." jawabnya sambil tertawa.
"Maksudnya?"
"Gue resign dari kerjaan untuk susulin dia ke sini." jawab Radit dengan serius.
"Kerja apa sebelumnya? Lo gak sayang resign gitu aja?" lagi Adam bertanya seolah ia ingin mewawancarai Radit.
"Gue Auditor di salah satu Bank Swasta di Jakarta. Gue lebih sayang sama istri, dibandingkan kerjaan. Kerjaan bisa dicari lagi nanti." jawabnya.
"Kok gue mencium aroma-aroma Bucin sih di sini." Adam terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Jadi sekarang pengangguran?"
__ADS_1
"Aku sekarang mainin saham, tetapi sudah memakai autobot jadi keuntungan per bulannya pasti. Selain itu bantu ngaudit laporan keuangan di perusahaan Ayah."
Adam menganggukkan kepala mendengar jawaban Radit. "Gue kira dulu Khaira masih single, kaget gue waktu dia bilang kalau udah nikah."
"Gue kan gak bohong, Dam. Status gue ini istri orang." ucapnya memotong perkataan Adam. "Tahu enggak Mas, masak dulu Adam nyuruh aku nyari pasangan di sini."
Radit membelalak mendengar ucapan Khaira. Adam yang melihat ekspresi berbeda dari Radit pun langsung mengalihkan pembicaraan. "Sorry, bukan maksud gue. Abis lo cuma sendirian melulu. Cuma kuliah pulang, kuliah pulang. Mahasiswa kupu-kupu banget. Tapi Khaira baik kok Kak, dia gak macem-macem di sini."
Setelah cukup lama mereka bercengkerama hingga nyaris sore hari, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Circle pertemanan baru yang membuat Radit merasa diterima dan nyaman.
"Ada mau mampir ke mana lagi Sayang?" ucap Radit begitu mereka keluar dari kafe. "Sini biar aku bawakan buku kamu yang tebal ini." Tangannya meraih buku yang berada di genggaman Khaira.
Setelah itu, kini Radit meraih tangan Khaira untuk menggandengnya.
"Dilepas aja sarung tangannya." ucap Pria itu yang meminta Khaira melepas sarung tangannya.
"Dingin Mas." sahut Khaira cepat.
Akhirnya Khaira menuruti permintaan suaminya. Ia melepas satu sarung tangannya. Begitu sarung tangannya terlepas, Radit lalu menggenggam tangan Khaira dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang tebal.
"Gini Sayang. Hangat kan?" Tanyanya sembari tersenyum penuh makna.
Khaira memutar bola matanya. "Modus pasti."
"Yang dimodusin kan istri sendiri. Kita mau jalan kaki atau nunggu bus di depan kamu?"
"Jalan kaki aja yuk Mas, udah sore juga. Lagian musim dingin, kita akan akan kegerahan deh."
__ADS_1
"Iya yuk. Malahan seneng aku bisa gandeng tangan kamu seperti ini. Khai, temen-temen kamu seru juga ya." ucap Radit sembari menceritakan tentang teman-teman Khaira yang berkumpul bersamanya barusan.
"Ya menjalin pertemanan lintas bangsa kan tidak mudah. Perbedaan kultur kan kuat, tapi kalian bisa ngeblend. Seru sih. Pengalaman kamu banyak juga karena bisa berteman dengan orang-orang lintas bangsa dan kultur. Yang kamu temui kan tidak hanya Warga +62."
Khaira tersenyum mendengar ucapan Radit. "Ya di sini mau tidak mau harus beradaptasi Mas, tidak mungkin aku hidup sendirian. Aku kan juga makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Tapi seru sih, aku kadang seneng dengar cerita dari Adam, Mark, dan Tina. Apalagi Tina sering cerita berbagai tradisi dan budaya di India, aku seneng banget. Jadi banyak belajar."
"Karena kamu memang suka belajar. Jadi pengalaman temen-temen kamu jadi bahan belajar buat kamu. Iya kan?"
"Hmm, iya sih Mas. Belajar kayak gini sampai luar negeri ya." Ucap Khaira.
"Ya mungkin dulu awal kamu kuliah di sini salah satunya untuk menghindari aku, tetapi sekarang karena aku sudah di sini dan kamu gak menghindari aku lagi, jadi belajarlah ya.. Gak cuma dari pembelajaran formal di kampus, dari pengalaman teman-temanmu atau dari yang lainnya." ucapnya sembari mengeratkan genggaman tangannya.
"Hmm, iya sih. Sebenarnya tujuanku ke sini ada 2 hal. Pertama kuliah jauh untuk menghindarimu dan melihat sepak bola Manchester United secara langsung di Old Trafford. Tetapi, sekarang gimana aku bisa menghindarimu, kamunya aja menempel terus kayak gini coba." Ucap Khaira sembari sedikit cemberut.
Radit terkekeh geli mendengar curhatan istrinya. "Tapi seneng kan ditempelin kayak gini? Maaf ya Sayang, untuk semua kesalahanku dulu. Aku bener-bener menyesal." Raut wajahnya kini benar-benar berubah dan nampak menyesal.
Khaira menatap wajah suaminya yang memang terlihat menyesal. "Iya Mas, penting jangan diulangi lagi ya, ini kesempatan kedua dan terakhir ya. Abis ini gak ada kesempatan yang lainnya."
"Iya, janji. Aku bakalan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Hatiku sudah terisi penuh olehmu Sayang. Jangan bosen denganku ya, karena setiap hari kita akan bersama seperti ini. Selama kamu kuliah pokoknya, nanti kalau kita sudah kembali ke Indonesia, aku akan bekerja lagi ya." ucapnya dengan masih menggandeng tangan Khaira yang di masukkan dalam saku jaket tebalnya.
Khaira mengangguk, "Iya, lebih baik kamu bekerja normal Mas. Mau balik jadi auditor atau kerja di kantor Ayah tidak masalah. Kalau aku sendiri, aku mau buat pendidikan untuk anak-anak Mas, boleh?"
"Buat sekolah anak-anak? Pendidikan Anak Usia Dini?" tanyanya sembari menoleh menatap wajah Khaira.
"Sekolah anak-anak untuk keluarga prasejahtera Mas. Boleh? Selain itu aku akan buat content digital untuk anak-anak, banyak sekali bahan-bahan yang bisa diberikan untuk anak-anak."
Radit tersenyum bangga. "Cita-cita kamu mulia sekali Sayang. Aku bangga padamu. Ya nanti kita jalani bersama pelan-pelan ya. Aku akan mendukungmu semampuku."
__ADS_1
Khaira sedikit menyerukkan kepalanya di lengan Radit, "Makasih ya Mas, untuk dukungannya. Semoga nanti bisa diwujudkan pelan-pelan."
"Iya Sayang." ucapnya sembari menunjukkan senyuman manisnya.