
Jauh sebelum Radit turun dari mobil, dia melihat bagaimana istrinya tertunduk. Tidak biasanya Khaira bersikap demikian. Bahkan istrinya pun tidak menyadari bahwa mobilnya telah berhenti tidak jauh dari hadapannya.
Radit memilih turun dan pelan-pelan membuka pintu mobil sehingga tidak menimbulkan suara. Bahkan perlahan pria itu melangkahkan kakinya dan kini berdiri di hadapan istrinya. "Sayang ... kamu kok kamu ngelamun sih?" sapanya sembari berdiri tepat di hadapan Khaira.
Merasa ada yang mengusik lamunannya, Khaira mendongakkan kepalanya perlahan. Netranya bersitatap dengan netra suaminya. "Mas...." mulutnya terbuka dengan senyuman di sudut bibirnya.
Tangan Radit terulur untuk meraih hand bag dan tas laptop yang masih dipegang istrinya itu, lalu membawanya ke mobil. Pria itu membukakan pintu terlebih dahulu bagi Khaira. Setelah ia mengitari mobil dan mendaratkan dirinya di kursi kemudi.
Baru saja Radit duduk, rupanya Khaira justru menyerukkan wajahnya di dada suaminya. "Mas...." lagi-lagi hanya itu kata-kata yang terucap.
Mendapati istrinya bersikap cukup aneh, Radit hanya mengelus lembut kepala istrinya dan mendaratkan ciuman penuh kasih sayang di kening istrinya. "Kamu kenapa? Hmm."
Khaira segera menarik kepalanya dari dada suaminya. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya. "Enggak papa kok...." sahut Khaira.
Merasakan bahwa istrinya berbeda, moodnya mendadak berantakan maka Radit terlebih dahulu memberi istrinya itu waktu untuk tenang. Dia hanya bisa bersabar, menunggu istrinya akan bercerita kepadanya. Khaira memang tipe wanita yang memendam semuanya dalam hatinya, tetapi jika sudah pasti Khaira akan berbicara. Oleh karena itulah, Radit memilih diam, tidak mencecar dengan begitu banyak dan menunggu hingga istrinya itu akan bercerita langsung kepadanya.
Radit sangat percaya bahwa Khaira akan bercerita, dan kapan pun Khaira bercerita, Radit akan selalu memberikan telinganya untuk mendengar keluh kesah dari Khaira.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Khaira memilih diam padahal biasanya ia selalu ceria dan membahas apa pun dengan suaminya. Bahkan sering kali, Khaira juga menceritakan bagaimana ia mengajar, mahasiswa-mahasiswa yang unit, bahkan hal-hal sepele selalu Khaira bicarakan. Komunikasi memang salah satu cara mempertahankan keharmonisan rumah tangga, dan itulah yang selalu dibangun Radit dan Khaira. Keduanya suka sama-sama saling berbagi melalui cerita harian mereka. Akan tetapi, kali ini Khaira benar-benar memilih diam. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat aneh bagi Radit.
Begitu sampai di rumah, Khaira memilih langsung masuk ke kamar. Radit pun mengikuti istrinya itu masuk ke dalam kamar. Tanpa pikir panjang, dia segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Di saat mulut tidak mampu berkata-kata, sebuah pelukan mampu memberikan kenyamanan dan kekuatan.
Hanya pelukan dan tangannya yang mengelus lembut rambut panjang istrinya itu. Hening beberapa saat. Hingga akhirnya Khaira mengeluarkan suaranya.
"Mas ... hari ini moodku berantakan." Khaira nampak akan memulai obrolannya.
"Kenapa? Kamu bisa cerita sama aku." sahut Radit, pria itu masih saja mengusapi rambut yang lembut beraroma Cherry Blossom itu.
Khaira mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya. "Tadi waktu aku berjalanan mau ke ruangan kelas, ada mahasiswi yang nyinyirin aku. Katanya aku masih muda, umurku cuma selisih sekian tahun dari mereka, tapi udah hamil. Biasanya sih kampus itu bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga menimba gosip terkini. Bahkan Dosen pun tak luput dijadikan sebagai bahan gosip bagi para mahasiswa." ucap Khaira yang masih memeluk suaminya itu.
Khaira menggelengkan kepalanya. "Enggak ... untuk apa juga membuat pengumuman kalau aku udah menikah. Mungkin mereka melihat perutku yang makin membuncit. Akan tetapi, aku pikir-pikir mungkin aku masih terlalu muda kali, Mas buat hamil. Jadilah mereka nyinyir ke aku. Euhm, tetapi ada yang lebih bikin aku sebel."
"Siapa?" tanya Radit dengan cepat.
"Tama...." Khaira menjawab dengan cepat.
__ADS_1
Menghembuskan nafasnya kasar. "Tama menyudutkanmu Mas, katanya dulu Tama pernah lihat kamu jalan ke Mall sama dia. Tama menerka ada yang tidak beres dari pernikahanku. Saat ada orang lain yang menghakimi suamiku, aku tidak terima Mas. Lagipula, kamu kan sudah berubah." Khaira bercerita dengan emosi yang menyala-nyala.
Radit tersenyum mendengar ucapan Khaira, hatinya pun menghangat karena Khaira tidak terima saat ada orang lain yang menghakiminya. "Tidak apa-apa, lagian itu semua hanya masa lalu. Dan, aku rasa ... aku tidak perlu membuktikan diriku yang sudah berubah kepada siapa pun, cukup kamu yang tahu. Kamu adalah saksiku bahwa aku sudah berubah. Kamu jugalah alasanku untuk berubah. Kamu yang membuatku jadi pria yang lebih baik." ucap Radit dengan tulus.
"Ya memang itu masa lalu, tetapi telingaku panas mendengarnya Mas. Aku bilang pada Tama untuk melupakan semuanya. Aku tegaskan padanya alasanku memberimu kesempatan karena tentu aku mencintaimu, Mas. Dan, dulu memang ucapanmu menyakitiku, tetapi setidaknya kamu tidak main tangan. Karena aku tidak akan sudi memberi kesempatan kepada pria yang suka main pukul." ucap Khaira.
"Iya Sayang ... aku tahu, dulu ucapanku dan sikapku sangat menyakitimu. Namun, tanganku tak akan pernah memukul wanita, Sayang. Siapa pun itu. Akan tetapi sampai sekarang aku masih menyesal, karena ucapanku dulu sangat menyakitimu. Dan, diammu justru itulah yang membuatku gelisah. Diammu yang membuat aku sadar sedalam apa luka yang kuberikan. Maafkan aku ya Sayang." lagi Radit meminta maaf untuk kesalahannya yang dulu.
Khaira menggelengkan kepalanya. "Jangan minta maaf lagi Mas, lupakan yang dulu. Aku sungguh sudah memaafkanmu. Bahkan sekarang, aku rasanya gak bisa sehari tanpamu, Mas ... I Love U Mas Radit." jawabnya sembari memeluk erat pinggang suaminya.
Radit mengusapkan dagunya di puncak kepala Khaira. " I Love U too, Khairaku Sayang. Jadi ... sekarang sudah lega kan, udah enggak ada yang disimpan di hati kan? Jangan cemberut lagi. Karena kita akan jalani semua bersama-sama kan? Ya sudah, aku balik ke kantor dulu ya Sayang. Jam istirahat sudah habis, nanti sore aku balik lagi."
"Mas ... aku ikut ke kantor boleh?" tanya Khaira spontan. Tidak biasanya Khaira meminta mengikuti suaminya ke kantor. Apakah hormon kehamilan benar-benar membuat Ibu hamil kadang meminta di luar kebiasaannya? Permintaan spontanitas ini justru membuat Radit gemas.
Radit hanya terkekeh geli mendengar ucapan istrinya.
"Beneran mau ikut ke kantor? Yang pengen Mama atau Baby A?"
__ADS_1
Khaira yang menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. "Abis kalau ada Mas itu rasanya nyaman. Yang mau Mama dan Baby A. Euhm, tetapi anak Papa nih yang mau nempel terus. Boleh enggak Papa, kami ikutan ke kantor?"