
Suasana hati Khaira yang semula mendung lantaran merasa kangen rumah atau homesick perlahan hilang.
Dalam hal inilah Radit benar-benar menjadi 'support system' untuk Khaira. Support system adalah istilah untuk sekumpulan orang di sekitar kita, bisa saja keluarga, sahabat, mau pun teman yang senantiasa memberikan dukungan baik secara materiil mau pun moril, mereka selalu ada kapan pun saat kita membutuhkannya.
Saat ini Khaira bersyukur, hidup di negeri asing, jauh dari Tanah Air, tetapi ia masih memiliki Radit sebagai support system-nya. Pria itu menempatkan dirinya tidak hanya sebagai suami, tetapi juga sebagai kakak, sahabat, bahkan menjadi seorang ayah. Peran yang diambil Radit benar-benar membuktikan kesungguhan dan keseriusannya kepada Khaira.
Radit lebih banyak menjadi pendengar yang baik, mendengar apa pun cerita keseharian Khaira, terkadang menggodanya, atau sekadar memberikan gombalan atau perkataan receh. Ajaibnya semua itu justru bisa menenangkan Khaira seperti saat ini.
"Diminum lagi tehnya Sayang, mumpung masih hangat ... Waktunya kita Tea Time." ucapnya seraya turut menyeruput secangkir tehnya yang masih hangat.
"Saatnya ngeteh, saatnya bicara ya Mas...." celetuk Khaira yang juga turut menyeruput teh tubruk racikan beraroma Melati itu.
"Jangan bilang gitu dong Sayang, kan kita enggak di-endorse." sahutnya sembari memincingkan matanya.
Sahutan dari Radit justru membuat Khaira tertawa geli, bisa-bisanya Suaminya mengatakan terkait endorsement.
"Kita juga bukan selebgram Mas, kan gak ada yang endorse kita." ucapnya sembari cemberut.
Radit menangkup wajah Khaira dengan kedua tangannya, pria itu rasanya begitu gemas dengan Istrinya. "Kamu ini memang pinter ya, bisa jawab apa pun omongan aku. Sun bibir boleh?" tanya sembari semakin mendekatkan wajahnya ke arah Khaira.
__ADS_1
"Isshhh, enggak ah. No. Aku enggak mau." Khaira langsung menarik wajahnya dari tangkupan tangan Radit.
"Bercanda aja Sayang ... Sini, mau cerita apa lagi sama aku? Aku siap menjadi pendengar yang baik kok."
Khaira sekilas melirik pada Radit, lalu ia sedikit menyandarkan bahunya di sofa. "Kamu enggak bosan tiap hari dengerin aku Mas?"
Radit menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku senang kok mendengarkan ceritamu. Walaupun terkadang aku gak bisa memberimu solusi, tetapi setidaknya aku setidaknya bisa mendengarkan semua ceritamu. Saat orang merasakan sesuatu dan dia membaginya, lalu ada orang yang memberikan telinga untuk mendengarkannya itu adalah kebahagiaan bukan? Terkadang kita ingin berbagi, tetapi tidak ada telinga yang mau menampung keluh kesah kita. Iya kan?"
Khaira menghela nafasnya. Ya, dia menyadari betapa bahagia bila ada seseorang yang mau memberikan telinganya untuk mendengarkan cerita kita, walaupun ceritanya hal seputar kuliah, acara televisi, bahkan candaan garing yang sering Khaira ajukan. Terkadang manusia hanya ingin didengarkan. Itu sudah merupakan sebuah kebahagiaan.
"Makasih ya Mas, sudah bersabar denganku dan mendengar ceritaku. Mas...." ucapnya kepada Radit dengan suara yang lembut.
"Hmm, apa?" Radit merubah posisi duduknya dan kini menatap wajah Khaira.
"Aku tahu dengan adanya kamu di sini, aku bisa menangani situasi yang sulit. Seperti barusan tadi, saat aku merasa homesick hingga akhirnya aku tahu Bunda sedang sakit. Aku sangat sedih Mas. Sebagai anak, aku tidak bisa berada di dekat Bunda, merawat Bunda, dan menghiburnya di tengah suasana hatinya yang bisa berubah-ubah karena menopause. Namun, saat aku sedih dan kalut, ada kamu di sini. Juga kamu memotivasi aku untuk semangat kuliah dan mengerjakan Thesis. You are my support system. Makasih yahh...."
Radit tersenyum, lalu ia mengeratkan genggaman tangannya di tangan Khaira. "Itu adalah tugasku sebagai suamimu. Jika dulu aku melakukannya untuk menebus dosa-dosaku padamu, ternyata dekat denganmu sangat menyenangkan. Sekarang aku melakukan semua itu karena aku cinta sama kamu, Khaira. Perasaan ini yang mendorongku untuk bisa menjadi support system-mu. Jika bisa, aku ingin menjadi support system-mu yang nomor satu. Begitu pun nanti, saat kita kembali ke Tanah Air, aku kembali bekerja dengan segala rutinitas dan masalahnya, aku harap kamu akan menjadi support system-ku juga ya."
Satu tangan Radit terulur memegang sisi wajah Khaira. "Mungkin saat ini kamu merasa aku adalah support system-mu, tetapi kamu juga melakukan hal yang sama kok. Terima kasih sudah mengubahku menjadi manusia yang lebih baik."
__ADS_1
Khaira tersenyum. "Sama-sama Mas, saat ini masalah kita mungkin belum kompleks. Akan tetapi, saat mulai memiliki anak, kamu bekerja, dan sebagainya, masalah kita akan semakin kompleks. Aku berharap di saat itu kita berdua sama-sama bisa menjadi support system untuk satu sama lain ya."
"Iya Sayang, pasti...." Radit menjeda sejenak ucapannya. "... Aku harus mulai memikirkan nih akan bekerja apa setelah kembali ke Jakarta nanti."
Khaira menatap wajah Radit. "Mau kembali menjadi Auditor di bagian Sistem Pengendali Internal, Mas?"
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya. "Enggak. Menjadi auditor di bagian itu capek Sayang. Dulu aku pernah lost contact sama kamu karena pekerjaanku banyak banget, pernah aku pulang sampai jam 4 dini hari. Akhirnya aku rawat inap karena kecapean. Kalau aku mulai serius membantu Ayah di perusahaannya gitu bagaimana menurutmu?"
"Sebagai Istrimu tentu aku mendukungmu, Mas. Akan tetapi, setiap orang kan punya passion. Bekerja dengan passion lebih memberikan kepuasan di hati. Apakah enggak apa-apa jika tidak lagi bekerja sebagai seorang Auditor?" Tanya Khaira menatap lekat wajah Radit.
Radit nampak menatap dalam wajah Khaira. "Hmm, enggak apa-apa sih. Aku bisa mencobanya."
Khaira menganggukkan kepalanya. "Kamu pasti bisa, Mas. Aku yakin itu, yang penting selalu belajar dan berusaha. Dengan begitu, jalan akan dibukakan Tuhan."
"Iya, atas doa Istri tercinta juga, pasti Tuhan akan bukakan jalan." Radit turut menimpali ucapan Khaira.
Tiba-tiba saja keduanya hening seketika dengan netra yang saling memandang satu dengan yang lain. Jantung keduanya berdegup begitu kencang. Satu tangan Radit kembali mengusap lembut sisi wajah Khaira, bahkan kini Ibu jarinya mengelus lembut bibir ranum Khaira.
Sekian detik berlalu, dari Ibu jarinya masih menyentuh bibirnya. Akhirnya Radit sedikit memajukan wajahnya, hingga nafasnya menyapu hangat wajah Khaira. Seolah tak ada penolakan, Radit memiringkan sedikit kepalanya lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya.
__ADS_1
Bibir itu bertengger di sana untuk sekian menit lamanya, hingga akhirnya dengan perlahan ia membuka mulutnya dan memberikan ciuman lembut di bibir Khaira yang lembut, manis, dan hangat. Keduanya saling memberikan kecupan yang hangat, ******* yang membuat jantung keduanya seolah berhenti berdetak. Sentuhan dan ciuman yang Radit berikan membuat Khaira hanya bisa mengikuti arus permainan dalam ciuman yang dalam itu. Radit baru melepaskan ciumannya, ketika keduanya merasakan paru-parunya terasa kosong dan membutuhkan suplai oksigen.
"Love U Sayang...." ucap Radit disela-sela ciumannya dan memeluk Istrinya itu dengan penuh kasih sayang.