Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Cinta dan Obsesi


__ADS_3

Beberapa hari sejak Radit dan Khaira pergi bersama ke Kota Tua. Usai pesan yang mereka kirimkan di malam itu, keduanya kembali larut dalam kesibukan masing-masing.


Khaira kembali bergumul dengan ujian skripsinya, Radit kembali dengan rutinitasnya sebagai auditor perbankan, dan Felly juga kembali pada rutinitasnya sebagai marketing perhotelan.


Siang itu di tempat kerja Radit. Radit yang sedang beristirahat siang, terlibat obrolan dengan sahabatnya Dimas.


"Gue perhatikan wajah lo kusut lagi deh Bro, ada apa ceritalah sama gue?" tanya Dimas sembari memberikan kopi dalam kemasan kaleng kepada Radit.


"Gak apa-apa, cuma agak pusing aja gue." ucap Radit sembari membuka kopi kemasan kaleng yang diberikan Dimas.


"Bro, gue boleh bilang sesuatu enggak tentang cewek lo?" tanya Dimas perlahan. Dimas pun meminta izin terlebih dulu untuk menyampaikan apa yang ada di kepalanya.


"Felly?"


"Iya."


"Kenapa emangnya? Bilang aja gue gak apa-apa kok." ucap Radit sembari minuman kopi dingin itu.


"Kalau gue perhatikan keliatannya cewek lo itu bukan cinta sama lo deh, Bro. Tapi lebih ke obsesi. Sorry Bro, bukan maksud gue. Tetapi, akhir-akhir lihat kondisi lo keliatannya hubungan kalian berdua sudah enggak sehat Bro." ucap Dimas dengan jujur.


"Maksudnya obsesi gimana Bro?" tanya Radit dengan berbagai pikiran yang seketika muncul di dalam otaknya.


"Kalau menurut gue ya, perasaan cinta itu lebih sehat, perasaan dan pola perilaku terus berkembang menuju ke arah kedewasaan, semakin lama hubungan semakin ada kedekatan emosi, menerima pasangan apa adanya, menghormati privasi pasangan. Sementara kalau obsesi itu karena terlalu memikirkan pasangan jadi sulit konsentrasi, berusaha keras untuk bertemu berdua hingga muncul sikap posesif, cemburu berlebihan, mengejar orang yang disukai karena bisa membuatnya tenang. Nah, sekarang lo coba pikirin lo dan Felly itu saling cinta atau cuma obsesi." Jelas Dimas dengan cukup tegas.


Lagi, Dimas berkata kepada Radit, "Jangan habiskan waktu lo hanya untuk mengejar hubungan yang tidak sehat, Bro. Kita sudah jadi pria dewasa harus bisa membuat keputusan. Sudah waktunya kita menjalin hubungan serius. Jangan membuang waktu untuk emosi sesaat. Karena kalau cinta pasti ada percaya, sementara kalau lo kemana-mana harus lapor ke dia, bukannya itu posesif? Jika sekian lama enggak ada kepercayaan apa itu cinta? Apalagi belakangan wajah lo kusut banget, sebagai sahabat gue tahu banget pasti lo baru ada masalah."


"Makasih Bro, udah merhatiin gue. Gue cuma rada pusing aja sih. Sama kecapean aja karena sekarang gue naek motor. Kalau pas pulang enggak hujan sih enak, tapi kalau pas hujan ya lo tahu sendiri."


Bagaimana pun Radit berusaha menyembunyikan permasalahannya dari Dimas. Tetapi dalam pikirannya, ia sedikit banyak berpikir tentang cinta dan obsesi. Tiba-tiba saja ia merasa ragu, perasaannya sejauh ini apakah hanya murni cinta atau obsesi semata? Begitu pula dengan Felly, apakah dia benar-benar mencintainya atau memiliki motif lain di balik kata-kata cinta itu.

__ADS_1


"Jangan ngalamun Bro, ya udah besok mau enggak ikut gue ke kampus waktu jam makan siang? Gue mau bikin Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) buat pinjem buku di perpustakaan. Kalau mau besok ikut gue aja." ajak Dimas dengan antusias.


"Ya udah, besok gue ikut lo. Sekalian beli Ketoprak di depan kampus itu keliatannya enak Bro."


"Okey, besok ya..."


***


Keesokan harinya, Khaira bergegas ke kampus. Ia masih harus mengikuti bimbingan skripsi sebelum mengikuti ujian. Khaira telah bersiap dengan map yang berisi skripsinya lengkap dari Bab 1 hingga Bab 5, tidak hanya itu kelengkapan lain seperti Daftar Isi dan Daftar Pustaka, hingga lembar lampiran telah dipersiapkan Khaira.


Sekitaran jam 10 pagi, Khaira telah sampai di kampus dan ia segera menemui Pak Andreas, Dosen Pembimbingnya.


"Pagi Pak Andreas, saya datang lagi untuk bimbingan skripsi Pak." sapa Khaira kepada dosen Pembimbingnya itu.


"Masuk Khaira, gimana sudah lengkap?" tanyanya pada Khaira.


"Sudah Pak." sembari Khaira menyerahkan map biru berisi skripsinya kepada Pak Andreas.


"Oh iya, Khaira. Ini ada beberapa brosur yang memberikan scholarship (beasiswa), coba kamu pelajari dulu. Sapa tau kamu tertarik, tetapi semua scholarship yang dibuka untuk Universitas di luar negeri. Kamu pelajari dulu ya, kalau perlu bantuan nanti kamu bisa hubungi saya lagi ya. Sampai ketemu nanti di sidang skripsi ya."


"Wah terima kasih Pak Andreas, saya akan pelajari dulu semua brosur scholarship ini. Terima kasih ya Pak."


Khaira keluar dari ruangan Pak Andreas dengan wajah bahagia, sidang skripsi nya sudah di depan mata dan kini di tangannya ada beberapa brosur scholarship. Tinggal menuju wisuda, dan Khaira memang berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2).


Baru ia berjalan dengan wajahnya yang berseri-seri, Metta sudah menunggunya.


"Ada yang lagi bahagia nih? Gimana bimbingannya?" tanya Metta dengan wajahnya yang juga nampak gembira.


"Lancar, tinggal nunggu sidang skripsi aja."

__ADS_1


"Asyik, gelar sarjana sudah di depan mata ya Beb." ucapnya sambil bercanda.


"Lo juga dikejar dong, ayo kita wisuda barengan. Inget janji kita dulu kan?"


"Iya-iya, gue inget. Doakan aja, gue bisa nyusul ya. Ya udah, beli Ketoprak Cirebon di depan kampus yuk Beb, laper gue." ajak Metta dengan semangat. Tanpa menunggu lama, gadis itu telah menggandeng tangan Khaira dan membawanya berjalan menuju warung Ketoprak Cirebon yang berada di depan kampus.


"Pak, Ketoprak dua ya Pak... Makan di sini." Khaira memesan dua porsi Ketoprak untuk dimakan di warung tenda itu.


Tak berselang lama, Radit pun juga mendatangi warung Ketoprak itu. Dia memang berniat menunggu Dimas di warung Ketoprak itu, karena menunggu di area kampus tentu akan membosankan baginya.


Usai memesan, Radit melihat seorang gadis yang sedang terlibat obrolan seru dengan temannya. Ya, Radit melihat Khaira di warung Ketoprak itu. Tanpa menunggu lama, Radit berjalan dan mendekati Khaira.


"Hei, kamu di sini ya." sapanya sembari tersenyum lalu mengambil duduk di samping Khaira.


"Eh, Mas Radit... Kok bisa ada di sini? Bukannya ke kantor ya?" tanya Khaira dengan wajahnya yang bingung, tetapi ia berusaha bersikap biasa aja, karena ada Metta saat ini.


"Iya, baru makan siang. Aku anterin Dimas baru ke dalam mau bikin KTM katanya."


"Oh, bikin KTM ya..." Khaira menganggukkan kepalanya. Lalu, ia menatap Metta. "Oh iya, Mas Radit kenalin ini sahabat aku, namanya Metta. Dan, Ta, lo masih inget kan ini siapa?" tanya Khaira sembari tersenyum kepada Metta.


Radit pun menganggukkan kepalanya dan berjabat tangan dengan Metta. "Radit, suaminya Khaira." ucapnya sopan.


"Metta, sahabatnya Khaira." sahut Metta, ia juga tak mengira akan bertemu suami sahabatnya itu.


"Sudah pesan Mas? Atau mau aku pesenin?" tanya Khaira.


"Sudah kok, aku sudah pesan." jawabnya sembari tersenyum.


"Kalau suami istri nada bicaranya memang beda ya Say, di telinga terdengar manis." gurau Metta secara blak-blakan.

__ADS_1


Radit dan Khaira pun sama-sama melempar senyum yang tentunya hanya diketahui mereka berdua arti senyuman mereka.


(Ketemu dadakan nih cie-cie...😅)


__ADS_2