Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Hidup tanpa Rasa


__ADS_3

Hari telah berganti, kini Radit kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Kejujurannya yang memang terlambat membuat Ayah dan Bundanya sangat marah.


Kendati demikian, Ayah Wibi dan Bunda Ranti tetap mengizinkan Radit untuk tinggal bersama mereka. Radit juga telah menjual rumah hadiah pernikahan dari kedua orang tuanya. Uang hasil penjualan rumah, ia depositokan dalam jangka waktu 2 tahun. Usai kepulangan Khaira dari Manchester nanti, Radit akan kembali membeli rumah untuk mereka berdua dengan uang tersebut.


Sudah sekian minggu Radit tinggal bersama orang tuanya, tetapi kesibukannya bekerja memang membuatnya selalu pulang malam. Tubuh Radit pun kembali nyaris tumbang karena beban kerja yang sangat banyak.


"Dit, jangan lupa istirahat. Beberapa hari ini kamu pulang malam terus. Dijaga kesehatannya." Bunda Ranti mengingatkan Radit untuk menjaga kesehatannya.


"Iya Bunda..." jawabnya singkat.


"Kamu kurang tidur juga, mata kamu sampe berkantung tuh, kayak mata panda."


"Radit tidak bisa tidur, Bun. Radit kangen Khaira. Apa di sana Khaira juga memikirkan Radit ya Bun?" ucapnya sembari memijit pelipisnya. "Sejak Khaira pergi, Radit gak bisa tidur, Bun ... hidup Radit terasa kosong. Radit hidup tetapi tanpa rasa. Terlebih Radit belum meminta maaf pada Khaira, Bun." ceritanya panjang lebar.


"Terus apa yang akan kamu lakukan?" Bunda Ranti pun terenyuh hatinya mendengar curhatan putra semata wayangnya yang merasakan hidupnya kosong dan tanpa rasa.


"Boleh tidak Bun, kalau Radit susulin Khaira?"


"Jangan gegabah Dit. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Lagipula kamu sudah enak, sudah punya kerjaan menetap. Kalau hidup di luar negeri, kamu mau kerja apa? Biaya hidup di sana pasti juga tinggi."


Radit mengusap kasar wajahnya, "Radit gak bisa hidup jika terus seperti ini, Bun."


"Coba nanti sharing dulu sama Ayah. Tanyakan bagaimana baiknya. Dan, inget kamu jangan gegabah, jangan kekanak-kanakan juga. Kamu itu pria dewasa, berpikiran yang panjang. Pikirkan juga di sana apa iya Khaira langsung memaafkanmu? Kalau Khaira tidak memaafkanmu apa yang akan kamu lakukan? Sudah, masuk kamar sana. Istirahat dulu."


Dengan langkah gontai, Radit pun memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan dirinya ke kamar dan memeluk erat foto mereka berdua saat bersepeda di Kota Tua.


"Khai, aku kangen. Aku rindu kamu, Khai ... Kamu di sana apa enggak memikirkan aku, Khai?" Setetes air mata lolos begitu saja dari sudut matanya.


Begitulah Radit, sepanjang malam ia tidur dengan memeluk fotonya bersama Khaira. Jatuh cinta pada Khaira membuatnya hilang akal. Rasa kehilangan yang dalam membuatnya menangis hampir tiap malam. Tidak ada lagi Radit yang angkuh seperti dulu, yang ada sekarang adalah Radit yang rapuh.

__ADS_1


"Selalu sehat di sana ya Khai ... jangan lupakan aku. Aku bisa benar-benar gila kalau kamu ngelupain aku."


Puas bergumam sendirian, akhirnya Radit pun tertidur. Dengan masih membawa pigura foto dalam genggaman tangannya.


Kurang lebih jam 7 malam, Bunda Ranti membangunkan Radit untuk makan malam. Dengan hati-hati Bunda Ranti memasuki kamar Radit.


Bunda Ranti begitu terenyuh melihat Radit yang tidur meringkuk dengan memeluk foto Khaira. "Kasihan sekali kamu, Dit ... tetapi, ini setimpal dengan luka yang kamu berikan pada Khaira, Bunda harap kamu benar-benar berubah menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab, tidak lagi menyakiti hati perempuan. Saat kamu menyakiti istrimu, Bunda juga turut tersakiti." gumam Bunda sembari mengelus punggung Radit.


"Dit, bangun Dit ... ayo makan malam. Ayah sudah menunggu di bawah tuh." Bunda Ranti membangunkan Radit.


Perlahan Radit membuka matanya, lalu ia mengambil posisi duduk. Wajah pria itu terlihat merah dan matanya juga terlihat sembab.


Bunda yang melihat wajah anaknya memerah pun, mendaratnya punggung tangannya untuk mengecek suhu badan Radit.


"Dit, kamu demam. Ayo kita ke rumah sakit." ucap Bunda Ranti panik.


"Enggak Bun, Radit tidak apa-apa. Nanti juga sembuh sendiri kok. Cuma sedikit demam."


"Enggak Bun ... Radit di rumah sa ..." belum Radit menyelesaikan bicaranya, perutnya tiba-tiba terasa mual, hingga ia segera berlari ke kamar mandi.


Dengan segera ia memuntahkan isi perutnya. Dan, satu tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit.


Bunda Ranti yang turut ke kamar mandi hanya bisa memijat punggung Radit. "Kamu kenapa Dit? Kenapa tiba-tiba bisa seperti ini?"


"Radit tidak apa-apa Bunda ..." jawabnya sok kuat. Padahal badannya serasa sudah mau melayang.


"Yah, Ayah.... Yah.... Tolong Yah, Radit sakit." Bunda Ranti berteriak dari kamar Radit.


Ayah Wibi pun berlari menaiki anak tangga, menuju kamar Radit.

__ADS_1


"Kenapa Bun? Ada apa ini?"


"Radit, Yah ... Badannya demam, sekarang muntah-muntah di kamar mandi." ucapnya dengan panik.


"Kita langsung ke Rumah Dakit saja Bun, biar Dokter berikan medical check up sekalian buat Radit." Ucap Ayah Wibi.


Dengan sigap, Ayah Wibi memapah Radit masuk ke dalam mobil, lalu membawa putranya ke Rumah Sakit terdekat.


Setibanya di Rumah Sakit, Dokter pun segera memeriksa kondisi Radit.


"Keluarga Raditya Wibisono." sapa Dokter ketika usai memeriksa kondisi Radit.


"Ya, kami Dok ...."


"Pasien kembali mengalami kenaikan asam lambung dan stress berlebih. Untuk asam lambungnya diharapkan menghindari makanan yang menyebabkan refluks asam seperti cokelat, kopi, makanan yang asam dan pedas, dan tentunya alkohol sangat dilarang. Sementara untuk stress yang diderita membuat pasien kurang tidur, jika tekanan yang dialami berlebihan bisa menyebabkan depresi pada pasien."


Ayah Wibi dan Bunda Ranti hanya bisa menghela nafas berat mendengar penjelasan Dokter. Mereka tidak menyangka kondisi Radit hingga sampai taraf stress yang mengarah pada depresi.


Sepasang pasangan paruh baya itu hanya bisa memijat pelipisnya melihat Radit sekarang yang terkapar di atas brankar Rumah Sakit. Tidak lupa Ayah Wibi pun memberitahu keadaan Radit kepada mertuanya, Ayah Ammar dan Bunda Dyah.


Tidak berselang lama Ayah Ammar dan Bunda Dyah juga datang menjenguk kondisi menantunya di rumah sakit.


"Gimana kabarnya menantu, Besan?" tanya Ayah Ammar begitu ia sampai.


"Asam lambungnya naik dan terlalu banyak pikiran hingga menyebabkan dia stress, kalau semakin tertekan Radit bisa terkena depresi."


Hati Ayah Ammar yang beberapa waktu lalu begitu marah dengan Radit, saat menantunya datang dan menceritakan semua permasalahan rumah tangganya dan meminta maaf kepada Ayah Ammar dan Bunda Dyah, melihat kondisi Radit yang memprihatikan hanya bisa mengelus dada. Rasa kecewanya berganti dengan rasa khawatir yang mungkin saja bisa menambah tekanan psikis pada diri Radit.


"Maafkan kami, Besan. Kami gagal mendidik Radit, hingga dia memperlakukan Khaira dengan sangat tidak baik." ucap Ayah Wibi penuh penyesalan kepada sahabat sekaligus besannya itu.

__ADS_1


"Sebelum sakit tadi di rumah, Radit cuma bilang merasa hidup tapi kosong, hidup tapi tanpa rasa, dia ingin resign dari pekerjaannya dan menyusul Khaira ke luar negeri. Bahkan tadi Radit meringkuk di kamar dengan memeluk fotonya bersama Khaira." cerita Bunda Ranti kepada suaminya dan Besannya.


"Mungkin Radit benar-benar menyesal kali ini." ucap Bunda Dyah sembari menatap menantunya yang kini terpapar lemah di atas brankar dengan selang infus yang terpasang di tangannya.


__ADS_2