Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Minta Maaf


__ADS_3

Ting Tong....


Terdengar bunyi bel dari rumah mereka.


Baik Radit dan Khaira sama-sama mengerjap, siapa yang datang dan membunyikan bel. Orang tua mereka kalau datang pun hanya mengetuk pintu. Nyaris bel rumah mereka tidak pernah berbunyi.


"Siapa ya yang datang ke rumah? Biasanya bel rumah enggak pernah berbunyi kan?" tanya Radit kepada istrinya itu.


Khaira pun berdiri. "Biar aku aja ya buka, Mas...." Perasaanya masih cemas, tetapi dorongan hatinya yang membuatnya ingin membukakan gerbang bagi orang yang datang tersebut.


Perlahan Khaira menggeser gerbang yang terbuat dari teralis itu. Matanya langsung melihat wanita yang beberapa menit tadi membuat Khaira tersedu sedan.


"Kamu...." ucap Khaira dengan lidah yang terasa kelu.


"Ya, aku Felly, Khai...." Sahut wanita itu yang tidak lain adalah Felly.


"Ada apa?" tanya Khaira dengan singkat.


Nampak kikuk, Felly pun memberikan sebuah kantung plastik putih. "Ini Cimol yang tadi dibeli Radit, dia meninggalkan begitu saja. Aku bertanya pada security yang ada di depan untuk memberikan ini."


Mata Khaira nampak melihat kantung plastik putih yang memang berisi Cimol itu. "Hmm, makasih ucapnya."


Dengan enggan Khaira menerima kantung plastik itu. Saat Khaira hendak menggeser gerbang, satu tangan Felly menahannya.


"Khai, boleh kita bicara sebentar?" ucapnya.


Khaira memutar bola matanya malas. Antara harus memilih berbicara dengan Felly atau tidak. "Apa lagi yang harus dibicarakan?" sahut Khaira.


"Uhm, aku minta maaf sama kamu, Khai. Tolong maafkan aku." wanita itu tersenyum getir.

__ADS_1


Khaira bisa melihat sorot mata yang penuh penyesalan itu.


Saat Felly hendak melanjutkan pembicaraannya, rupanya Radit pun turut keluar dari pintu rumahnya. Pria itu tentu saja istrinya.


"Bumilku Cantik, kok lama banget sih...." ucapnya sembari berjalan ke arah Khaira. Namun ucapan pria itu juga tertahan lantaran di depannya kini ada Felly.


Radit seketika melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Kejadian yang tidak pernah disangka oleh Radit.


"Buat apa kamu ke sini Fel? Jika tidak ada urusan, silakan pergi." ucap Radit dengan tegas.


Ucapan yang membuat Khaira sedikit menoleh ke suaminya, melirik sedikit wajah suaminya.


"Aku mau minta maaf aja, Radit. Aku minta maaf sama kalian berdua. Terutama sama kamu, Khai ... aku ingat betapa jahatnya aku dulu. Aku yang memang sejak awal tidak suka padamu, karena kamu adalah wanita yang selalu disukai oleh kedua orang tua Radit. Kamu yang menjadi istri sah secara hukum dan agama, padahal aku yang jauh terlebih dulu mengenalnya dan mencintainya. Saat melihatmu, kamu juga gadis yang baik, tahu apa yang kurasakan saat itu, Khai? Aku merasa semua pesona yang ada pada dirimu, akan sangat dengan mudah membuat Radit berpaling dariku dan mencintaimu. Karena itu, aku menerormu dan aku membuat Radit untuk meninggalkanmu."


Layaknya sebuah pengakuan dosa, Felly mengucapkan kesalahan dan perasaanya di waktu lalu.


Khaira hanya bisa diam dan mencerna ucapan Felly.


Radit menghela nafasnya kasar. "Jika sudah, lebih baik kau segera pergi dari sini saja." lagi Radit mencoba mengusir wanita yang dulu pernah mengisi hatinya itu.


Enggan pergi, kini Felly justru menatap Radit. "Aku juga minta maaf sama kamu. Aku bahkan bermain hati di belakangmu, tanpa sepengetahuanmu. Tolong maafkan aku juga Radit. Dan, ku harap kalian berdua hidup bahagia, aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi."


Felly pun segera pergi memasuki sebuah mobil hidup yang terparkir tidak jauh dari rumah mereka.


Usai kepergian Felly, Khaira kembali masuk ke dalam rumah. Ia menaruh kantung plastik berisi Cimol itu di atas meja makan, lalu ia menaiki anak tangga kembali ke dalam kamarnya.


Perasaanya lega sesungguhnya ketika masalah di masa lalu bisa diselesaikan. Namun, kembali bertemu Felly nyatanya cukup membuat mood-nya berantakan.


Khaira memilih berbaring, sementara Radit pun mengekori Khaira, ia juga berbaring di sebelah Khaira.

__ADS_1


Namun tidak seperti biasanya, di mana Khaira pasti berbaring dan mencerukkan kepalanya di dada suaminya, kini wanita hamil itu memilih memunggungi Radit.


Berbaring di sebelah Khaira, Radit menatap punggung istrinya itu. "Apakah istrinya menghindarinya?" gumamnya dalam hati. Dengan sorot yang dalam, Radit melihat punggung istrinya yang bergetar.


Tangan kanan Radit terulur memegangi punggung istrinya itu. "Sayang...." dipanggilnya istrinya dengan penuh sayang.


Tidak ada jawaban, tetapi Radit tahu pasti bahwa istrinya tengah menangis sekarang. Alih-alih terlalu banyak bicara yang bisa saja membuat mood istrinya semakin berantakan. Maka Radit memilih untuk diam. Memberi istrinya waktu untuk mencerna semuanya. Bukan karena Khaira tengah hamil, tetapi Radit tidak ingin merusak ketenteraman rumah tangganya. Bersabar hingga wanitanya mulai berbicara.


Radit pun kini telentang, dengan ekor mata yang menatap punggung istrinya. Sejak hubungan keduanya baik, tidak pernah Khaira memunggunginya. Jika pun tanpa sengaja memunggunginya, Radit lah yang akan selalu mendekap hangat tubuh istrinya.


Akan tetapi, kini Radit memilih memberi istrinya waktu terlebih dahulu. Sekian menit hening, hingga akhirnya di saat yang tepat Radit mendengar istrinya tengah memanggilnya.


"Mas...."


Radit pun langsung menyahutnya, "Ya?"


Dalam detik-detik yang membuat pria itu serasa menahan nafas, Radit melihat bagaimana tubuh itu pelan-pelan bergerak. Berbalik. Kedua netra itu pun bertemu.


Menguatkan diri, Radit mencoba bertanya kepada istrinya. "Ada apa?"


Khaira hanya terdiam, matanya bertatapan dengan netra suaminya. "Peluk aku...."


Radit begitu tertegun, ia tidak menyangka istrinya yang sedang begitu bad mood mengatakan itu. Tanpa berpikir panjang, Radit segera bergerak dan Radit menarik Khaira dan menenggelamkan wanita yang sangat ia cintai itu dalam pelukannya.


Keduanya masih sama-sama hening, hembusan nafas Khaira yang membelai dadanya membuat pria itu begitu tenang. Radit semakin menguatkan pelukannya dengan satu tangan yang mengusap lembut punggung istrinya.


"Mas, sejak kapan kau mencintaiku?"


Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat jantung Radit berdegup kencang. Ia mencoba menundukkan wajahnya, namun hanya helaian rambut istrinyalah yang ia lihat.

__ADS_1


Sejak kapan ia mulai mencintai istrinya? Mengapa Khaira menanyakan pertanyaan seperti ini?


__ADS_2