
Ucapan suaminya yang penuh ketulusan membuat hati Khaira terasa begitu hangat. Sebagai seorang wanita, memang benar Khaira merasa bahagia saat seorang pria melindunginya. Itulah yang Khaira rasakan. Suaminya begitu melindunginya. Bahkan tidak segan mengalami kesakitan karena membiarkan dirinya yang dihantam sepeda motor.
Sekalipun begitu sedih, tetapi pengorbanan yang Radit berikan sangat berharga bagi Khaira. Level tertinggi dari mencintai adalah mengorbankan diri kita bagi orang yang kita cintai, dan itulah yang sedang Radit lakukan saat ini.
Khaira masih berlama-lama memeluk suaminya. Keduanya sama-sama diam dan tentunya berkutat dengan pikiran mereka sendiri. Hingga akhirnya Khaira mengurai pelukannya. "Ya sudah, istirahat ya Mas. Aku tidur di sofa, kalau butuh apa-apa bangunkan aku. Jangan sungkan." ucap Khaira.
Radit pun mengangguk. "Nanti kalau aku enggak bisa tidur gimana Sayang? Biasanya kan tidur sama kamu, melukin kamu. Guling hidupku hilang." ucap pria itu dengan nada yang mendramatisir.
Khaira hanya tersenyum. "Selama di Rumah Sakit aja kita pisah ranjang, Mas ... nanti kalau udah di rumah udah bobok lagi kok." sahut Khaira dengan mata yang memandang wajah suaminya.
Dengan berat hati, Radit pun terpaksa merelakan istrinya tidur di sofa, sementara dirinya tidur di atas brankar. Malam pertama di Rumah Sakit nampaknya tidak menjadi hambatan. Keduanya sama-sama terlelap di tempat tidur yang berbeda. Hingga surya pun menyapa, dengan segera Khaira bangun terlebih dahulu dan mengecek suhu badan suaminya dan juga mengamati luka di area wajah dan tangan suaminya.
Setelahnya Khaira lantas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum nanti dirinya akan pulang ke rumah. Hari ini Khaira memutuskan untuk pulang karena Arsyila juga membutuhkan Mamanya.
Selesai dengan dirinya, Khaira lantas mengisi sebuah baskom dengan air hangat dan handuk kecil, pikirnya dia akan membantu membersihkan badan suaminya terlebih dahulu.
"Pagi Mas...." sapa Khaira ketika keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya sudah bangun.
"Pagi Sayang...." sahutnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Hari ini kamu pulang ya Sayang?" tanya Radit sembari memerhatikan Khaira.
Dengan cepat Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... Arsyila butuh aku juga, Mas. Aku pun juga kangen sama Arsyila." akunya dengan sepenuh hati karena sebagai seorang ibu, sudah pasti Khaira juga merindukan anaknya saat ini.
Radit pun mengangguk. "Iya ... kamu di rumah aja, mengasuh Arsyila. Kasihan dia masih kecil harus pisah lama-lama dari Mamanya." ucapnya dengan wajah sendu.
Khaira pun kini duduk di tepi brankar milik suaminya. "Badan kamu mau dibersihkan enggak Mas? Biar aku bantu."
"Kamu mau bantuin aku?" tanya Radit dengan menatap wajah Khaira.
Khaira pun mengangguk. "Iya ... mau. Atau Mas Radit mau dibantuin Perawat aja? Biar aku panggilkan." satu tangan Khaira sudah siap untuk menekan tombol yang terhubung ke perawat jaga.
__ADS_1
Dengan segera Radit meraih tangan Khaira. "Aku cuma butuh kamu, Sayang." ucapnya yang kemudian dia mengatur posisi brankarnya dengan remote kontrol. Membuatnya kini dalam posisi duduk.
Sementara Khaira menaruh baskom berisi air hangat dan juga handuk. Dengan telaten dia melepas kemeja suaminya, lalu mulai menyeka wajah, leher, dada, dan lengannya dengan handuk yang sudah terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air hangat.
Radit hanya mengamati bagaimana istrinya merawatnya. Hatinya menghangat, sakit yang dia derita sebanding dengan ketulusan yang selalu Khaira berikan padanya. Bahkan Khaira memperlakukan suaminya dengan sangat baik.
"Mau cuci muka dan gosok gigi? Aku bisa bantu sekalian." Khaira menawarkan cuci muka dan gosok gigi kepada suaminya itu.
Radit sekilas memandang wajah Khaira. "Kamu enggak jijik Sayang?"
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Kamu suamiku, Mas. Surgaku ada di kakimu. Ini justru baktiku kepadamu." ucap Khaira dengan mata yang nampak berkaca-kaca.
Baginya pengabdian seorang istri ya di saat suaminya sedang sakit. Merawatnya memastikan suaminya akan baik-baik saja. Sembari berharap suaminya akan segera sembuh.
"Kamu baik banget Sayang. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah karena mengaruniakan kamu sebagai pendamping hidupku. Sungguh kamu mau membantuku?" tanya Radit dengan serius.
Tanpa menjawab, Khaira terlebih dahulu mengambil gelas dari kamar mandi untuk tempat kumur suaminya. Kemudian dia memberikan sikat gigi. "Biar aku sendiri, satu tanganku masih bisa untuk melakukannya." ucap Radit.
Khaira juga menyeka wajah dan badan suaminya dengan handuk bersih, lalu memakaikan kemeja yang baru.
"Sudah selesai...." ucapnya terdengar puas.
Saat Khaira hendak berbalik, Radit menahan pergelangan tangan Khaira. Dengan perlahan dia membawa Khaira dengan satu tangan supaya lebih mendekat padanya. Dia mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya. Sementara Khaira memejamkan matanya, merasakan kasih sayang yang sedang diberikan suaminya itu.
"Terima kasih sudah merawatku, Sayang...." ucap Radit dengan tulus.
Khaira justru menggelengkan kepalanya. "Jangan berterima kasih, Mas ... sudah pasti aku akan merawatmu."
Setelah itu, Khaira mulai membersihkan berbagai peralatan yang dia pakai sebelumnya untuk membersihkan badan suaminya. Tepat jam 08.00 pagi, petugas Rumah Sakit datang dengan membawakan sarapan bagi pasien.
"Sekarang makan dulu ya Mas ... aku suapin." ucap Khaira yang sudah mengambil tempat duduk di sisi suaminya.
__ADS_1
Radit hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Walau rasanya hambar dan tidak seenak masakanmu, tetapi karena kamu yang nyuapin maka aku akan memakannya." jawab Radit sambil mengamati wajah istrinya dengan beberapa luka di keningnya.
Khaira justru tertawa. "Yuk makan dulu ya..." perintahnya sambil menyuapikan satu sendok makanan ke dalam mulut suaminya. Tanpa ada perlawanan, menu sarapan pun habis dimakan Radit, tanpa sisa.
"Kamu enggak makan Sayang?" tanya Radit yang menanyakan kepada istrinya.
Khaira menggelengkan kepalanya. "Nanti aku bisa makan di rumah, Mas ... sekarang kamu dulu. Masih sakit Mas?" tanyanya khawatir.
"Enggak ... ada kamu yang all out banget merawatku jadinya sudah tidak sakit lagi." ucapnya sambil menggerakkan alis matanya.
"Namun nanti aku pulang dulu ya Mas ... kalau bisa aku akan kesini lagi, kalau tidak maafkan aku. Mungkin besok aku akan kembali lagi. Besok mau dibawakan makanan apa? Biar aku masakkan dari rumah." Khaira menawarkan makanan yang bisa dia bawakan untuk suaminya.
"Apa aja yang kamu masak pasti enak Sayang ... aku pasti memakannya. Tenang saja." sahutnya.
Menjelang jam sepuluh, Ayah Wibi datang untuk menggantikan Khaira. Sementara giliran Khaira untuk pulang ke rumah. "Aku pamit ya Mas ... nanti kalau bisa aku ke sini lagi. Cepat sembuh ya Mas...." ucapnya sembari mencium punggung tangan suaminya.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya hati-hati. Salam buat Arsyila, Papanya sudah kangen banget sama dia. Sampaikan kangen, peluk, dan ciumku untuk putri kecilku ya." ucap Radit kepada istrinya.
...🍃🍃🍃...
Dear All,
Numpang promosi untuk novel teman-temanku ya..
Silakan bisa mampir dan juga membaca. Dukung juga karyaku berjudul Antara Cinta & Corona yang sedang mengikuti lomba Yang Muda Yang Bercinta.
Terima kasih.
__ADS_1
Stay Healthy & Happy💜