
“Jadi, tidak ada lagi yang kamu takutkan karena suamimu ini akan selalu menemanimu. Sama seperti saat kamu melahirkan Arsyilla dulu, aku akan selalu di sisimu.” ucap Radit yang kembali meyakinkan istrinya bahwa dia akan selalu menemani istrinya.
Saat menghadapi persalinan pun, Radit juga memastikan bahwa dirinya akan menemani Khaira. Memang benar, sebagai pria dirinya juga merasakan takut dan panik, tetapi dia menguatkan dirinya sendiri. Dia harus selalu kuat karena ada Khaira yang harus dia kuatkan. Tidak mungkin dia bisa menguatkan istrinya, sementara dirinya sendiri rapuh. Akan tetapi, itulah dahsyatnya kekuatan cinta, di saat kita sendiri lemah, rapuh, dan tak berdaya, justru di kala itulah, kita mampu menguatkan orang yang kita cintai. Menggenggam tangannya dan menyalurkan kekuatan yang bisa melecut semangat orang tersebut.
Khaira pun tersenyum, “Makasih ya Mas Radit … menyambut baby kita dan ditemani kamu itu sesuatu banget. Selalu aku ingat dan tidak pernah hilang dalam memoriku. Sama seperti dulu, saat menyambut kelahiran Arsyilla. Makasih ya di saat tergenting dalam hidupku pun, kamu selalu menemaniku.” ucapnya sembari menatap lekat suaminya.
Radit pun mengangguk, “Iya Sayangku … penting kalau ngabarin jangan mendadak ya, walaupun kantor ke rumah tidak begitu jauh, tetap aja kalau menerima kabar darimu, jadi deg-degan memuncak.”
Tergelak dalam tawa, Khaira tidak menyangka bahwa suaminya juga deg-degan sampai memuncak saat dia dulu mengabari bahwa sudah mulai kerasa melahirkan. Namun, bagaimana lagi terkadang tanda-tanda kehamilan kan datang begitu saja. Tidak bisa diprediksi. Terkadang bisa melebihi Hari Perkiraan Lahir (HPL), terkadang bisa juga kurang dari Hari Perkiraan Lahir (HPL), maka dari itu ketika sudah memasuki usia 37 Weeks, sebagai suami istri sama-sama siaga menyambut kelahiran di baby.
Lantaran hari sudah cukup malam, Radit pun mengajak istrinya untuk tidur, “tidur yuk Sayang … sudah malam. Besok pagi kita masih harus jemput Syilla ke rumah nenek dan kakeknya.”
Sementara Khaira seolah enggan, turun dari pangkuan suaminya. Dalam posisi nyaman dan membuatnya enggan turun dan berjalan menuju tempat tidur.
“Aku malas turun. Masih kangen.” ucapnya sembari mencerukkan kepalanya di dada suaminya.
Sebuah reaksi yang justru membuat Radit kian merasa gemas, tanpa basa-basi, dia langsung membopong Khaira begitu saja. Membawanya perlahan, dan membaringkannya dengan hati-hati di tempat tidur. Kedua matanya saling beradu, dan senyuman manis tidak hilang dari keduanya.
“Tidur sekarang ya … aku ambilkan air putih dulu. Obat dari Dokter, Kalsium dan Asam Folatnya diminum dulu. Belum minum susu buat Bumil juga loh Sayang, aku buatkan dulu ya.” ucapnya yang merupakan bentuk perhatiannya kepada istrinya yang tengah mengandung.
“Perhatian banget sih, kamu bikin aku meleleh deh Mas … Papa Radit memang juara sih.” ucapnya seraya mengangkat dua jempol tangannya untuk suaminya.
Menerima pujian dari istrinya, Radit hanya tertawa. Pria itu segera turun menuju dapur membuat susu untuk istrinya dan juga membawa segelas air putih. Setelahnya dia segera naik ke atas, tetapi saat dirinya sudah sampai di atas, istrinya justru sudah tertidur. Perlahan, Radit mencoba membangunkan istrinya itu.
“Sayang … bangun dulu yuk, minum obatnya dulu dan susunya. Abis itu boleh bobo lagi, yuk.” ucapnya sembari membangunkan istrinya.
__ADS_1
Namun, Khaira hanya memejamkan matanya dan melenguh saat suaminya itu membelai wajahnya. Merasa bahwa istrinya belum bangun, Radit seolah harus mencari cara lain untuk membangunkan istrinya. Seolah-olah bola lampu pijar di kepalanya menyala seketika, dia menemukan ide brilian untuk membangunkan istrinya.
Pria itu duduk di tepi tempat tidur, lantas menyibak untaian rambut istrinya, kemudian menciumi area leher istrinya. Bukan hanya mencium, tetapi juga mengecupinya meninggalkan jejak basah dan hangat di sana. Bahkan dengan nakalnya, pria itu juga meraba area dada sang istri. Sentuhan yang membuat Khaira memekik, dan matanya pun terbuka.
Mengerjap, wanita itu lantas melihat ulah nakal suaminya. “Ya ampun Mas, aku sudah tidur loh ini. Jadi kebangun deh.” keluhnya yang harus bangun tiba-tiba karena kenakalan suaminya itu.
Radit pun tertawa, “kamu aku bangunin enggak bangun sih. Jadi, aku mencari cara lain untuk membangunkanmu. Minum obatnya dulu dan susunya. Yuk … abis itu boleh bobo lagi.” ucap sang suami yang meminta istrinya untuk meminum obat dan susunya terlebih dahulu.
“Aku ngantuk banget Mas …besok aja dirapel ya.” sahutnya yang meminum obat dan susu besok saja sekalian.
Tidak ingin ada penolakan, Radit kembali mengecupi leher istrinya itu. Kecupan yang menghadirkan gelenyar di tubuh sang istri tentunya. Membuat Khaira mengeluh, “jangan nakal dong Mas … aku benar-benar ngantuk.”
“Minum cuma 5 menit aja loh Sayang … abis itu boleh bobok lagi. Bukan cuma kamu yang membutuhkan manfaatnya, tetapi adik bayinya di dalam perut Mamanya kan butuh nutrisi, Omega 3, dan Asam Folat untuk tumbuh kembang dan perkembangan otaknya. Kasihan babynya loh.” kali ini Radit mencoba dengan jurus mengatasnamakan sang baby.
“Good … gitu dong. Jadi nutrisinya untuk baby di sini selalu tercukupi.” ucapnya sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya, “sekarang udah boleh bobok.”
Namun, Khaira dengan cepat menahan tangan suaminya. Yang ditahan tangannya pun bertanya-tanya mengapa istrinya justru menahan tangannya.
“Kenapa?” tanyanya kepada Khaira.
“Tanggung jawab lah …”
Radit membolakan matanya, “tanggung jawab buat apa?” tanyanya lagi.
“Salah sendiri, sudah nakal. Jadi harus tanggung jawab.” jawab Khaira sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
“Astaga Sayang … cuma nakal aja harus tanggung jawab. Ya sudah, aku mau tanggung jawab dengan senang hati.” ucapnya pria itu sembari tersenyum dan langsung mengukung istrinya.
***
Keesokan harinya, Khaira bangun dengan masih bergelut di dalam selimut bermotif floral di tempat tidurnya dan ada tangan kekar yang melingkarinya pinggangnya. Wanita itu mengerjap, kemudian memperhatikan sekelilingnya. Betapa dia tercengang dengan suasana kamarnya yang biasanya rapi, kini beberapa pakaian bersebaran di sekitar tempat tidurnya. Lantas Khaira menilik pada dirinya sendiri. Betapa dia tambah kaget, saat badannya benar-benar polos dan hanya selimut saja yang menutupi tubuh polosnya.
Dia itu menarik selimut itu hingga ke lehernya, kemudian merubah posisinya yang semula berbaring miring membelakangi suaminya dengan suaminya yang memeluknya erat dari belakang dan kini dia menghadap suaminya yang masih terlelap. Yang aneh pagi ini adalah suaminya tidak bangun lantaran Couvade Syndrom yang dialaminya selama 17 minggu belakangan.
Pria Khaira pun membangunkan suaminya, “Mas … bangun Mas … jadi jemput Syilla enggak. Ini sudah jam 6 loh.”
Dengan cepat Radit mengerjap, pria itu mengucek matanya perlahan, hingga dirinya bisa benar-benar membuka mata. “Pagi Wifey ….” ucapnya sembari mengecup kening Khaira.
“Bangun yuk, ya ampun, semalam kita langsung ketiduran ya? Kamarnya sampai berantakan kayak gini. Untung Arsyilla nginep di rumah Neneknya, kalau ada Arsyilla gak bisa kebayang deh aku.” ucapnya sembari menatap horor jadi suaminya yang justru hanya tersenyum itu.
“Gak apa-apa Sayang. Sekali-kali, biar kayak pengantin baru.” jawabnya dengan begitu entengnya.
“Ya ampun Mas … kita udah pengantin lama kali. Anak udah mau dua.” sanggahnya kepada sang suami.
“Gak apa-apa Sayang, penting kan kita selalu harmonis kayak pengantin baru.”
Khaira hanya geleng-geleng kepala dengan suaminya itu, “Tumben Mas, kamu enggak morning sickness. Biasanya kan tiap pagi udah heboh ke kamar mandi. Hari ini kok enggak?” tanyanya sembari meraba dada bidang suaminya yang polos itu.
Radit justru tertawa, “mungkin … kamu harus sering bikin aku tanggung jawab ke kamu deh Sayang. Jadinya aku enggak mual dan muntah lagi di pagi harinya. Ntar malam lagi yah …” godanya sembari mengerlingkan matanya.
Tidak terima, Khaira justru mencubiti pinggang suaminya itu, “ya ampun … modus banget sih. Akalnya banget. Suamiku paling modus sedunia.” gerutunya pagi-pagi karena suaminya yang begitu banyak akal dan modus padanya.
__ADS_1