Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Rekonsiliasi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, baik Radit dan Khaira sama-sama memilih diam. Bukan tanpa sebab, tetapi berselisih saat sedang mengendara bukanlah pilihan tepat. Oleh karena itu, keduanya memilih untuk sama-sama diam. Kalut dalam pikirannya masing-masing. Khaira yang merasa kecewa dengan suaminya setelah melihat Fanny, sementara Radit juga merasa terpojokkan di sini. Pria itu perlu segera memberi penjelasan kepada istrinya itu. Akan tetapi, Radit memilih sedikit menahan hingga mereka telah berada di dalam rumah.


Perjalanan tersunyi yang pernah mereka alami. Tidak pernah sebelumnya mobil Radit terasa sesunyi ini. Hanya terdengar mesin dari mobilnya, sedangkan keduanya sama-sama menutup mulut.


Begitu telah sampai di rumah, Khaira pun memilih turun sendiri dari mobil suaminya itu dan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Seolah dirinya benar-benar menghindari suaminya itu, bahkan sekadar menatap suaminya pun enggak. Rasa kecewanya terlalu mendominasi sekarang ini.


Tanpa banyak bicara, Radit pun juga masuk ke dalam rumah tanpa bicara. Begitu masuk ke dalam kamar, dia mendengar gemericik air dari kamar mandi, pastilah sekarang Khaira lebih memilih untuk mandi. Pria itu memilih duduk di tempat tidur, menunggu sampai istrinya selesai mandi. Setelahnya barulah dia akan membersihkan dirinya dengan air dingin yang berharap bisa mendinginkan perasaannya saat ini.


Keluar dari kamar mandi pun, Khaira hanya diam dan saat berpapasan dengan suaminya, wanita itu justru menunduk. Seakan dia menghalangi bola matanya yang bisa saja bersitatap dengan netra suaminya.


Khaira memilih merapikan rambutnya dengan menguncirnya ala ponny tale dan setelah, Khaira memilih turun ke dapur. Agaknya secangkir Teh hangat beraroma melati bisa merilekskan pikirannya saat ini.


Menikmati secangkir teh hangat, Khaira sembari mengusap-usap bagian belakang lehernya yang terasa kencang. Setelahnya dia berniat untuk segera tidur saja, tidur lebih cepat lebih bagus.


Namun, saat ini membalikkan badannya dan akan berjalan menaiki anak tangga, rupanya suaminya sudah berdiri di belakangnya.


"Kita harus bicara dulu Sayang." ucapnya dengan wajah yang datar.


"Aku ngantuk mau tidur." balas Khaira yang mencoba berlalu begitu saja dari hadapan suaminya.


Akan tetapi, Radit seolah tak kehilangan akal, tangannya sembari menggenggam tangan Khaira dan membawa wanitanya itu untuk mengikuti langkah kakinya duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Kalau marah, marah aja Sayang. Jangan diem seperti itu. Aku enggak tahan kalau kamu diem seperti ini." ucap Radit dengan jujur.


Sementara Khaira justru masih memilih diam, enggan menjawab perkataan suaminya itu.


"Tadi aku mati-matian menghiraukan dia, Sayang. Aku masuk menemui dia untuk mengusirnya. Please, percaya aku kali ini." ucapnya sembari menjelaskan semuanya kepada Khaira.


"Aku minta maaf … aku salah." Ucapnya yang meminta maaf secara langsung kepada Khaira.


"Dimaafkan enggak?" tanyanya lagi kepada Khaira.


Khaira justru menggelengkan kepalanya, dan menjawab dengan nada ketus, "Enggak." jawabnya sembari hendak berdiri dan memasuki kamarnya.


"Enggak, selama kamu belum maafin aku, belum menjelaskan uneg-uneg dalam hatimu, aku akan menghalangimu untuk naik ke atas." ucap Radit yang kali ini tampak bersikukuh tidak akan mengizinkan istrinya itu untuk memasuki kamarnya sebelum memaafkannya.


"Sudahlah Mas … lagipula aku bosen, berselisih sama kamu karena wanita itu terus." ucapnya kali ini dengan nada bicara yang terlihat kesal.


"Terus kamu maunya aku gimana Sayang?" tanya Radit. Kali ini pria itu berbicara dengan nada yang begitu lembut.


"Tau. Pikir aja sendiri." jawab Khaira ketus.


Radit justru menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari istrinya itu, "Kalau marah itu boleh, tapi enggak gini juga kali Sayang. Ditanyain itu ya dijawab baik-baik." jawabnya dengan menatap wajah istrinya itu.

__ADS_1


"Udahlah Mas, aku capek. Kamu di belakangku mau ngapain aja, aku juga enggak tahu." kali ini Khaira berusaha berlalu, sedikit memberi dirinya sendiri ruang.


Namun, baru saja Khaira memasuki kamarnya dan hendak menutup pintu kamarnya, suaminya itu sudah terlebih dahulu turut memasuki kamar. Radit dengan cepat mendekap tubuh istrinya itu dari belakang. Mendekapnya dengan begitu erat.


"Jangan diam seperti ini Sayang … aku benar-benar gila kalau sampai kamu mendiamkan aku. Lebih baik kamu marah, kamu lupain semua kemarahanmu." ucap Radit sembari terus mendekap Khaira dari belakang.


“Lepasin Mas, aku baru sebel sama kamu.” ucap Khaira yang seolah melepaskan dekapan tangan suaminya di sekitar perutnya itu.


Radit justru terus menggelengkan kepalanya, “Enggak … sebelum kamu maafin aku dan kita clear-kan semuanya ini.”


Usai mengatakan semua itu, Radit perlahan membalik badan istrinya itu. Kemudian satu tangannya menggenggam erat tangan istrinya itu dan membawanya untuk duduk di sofa yang berada di dalam kamar itu.


“Dengarin aku Sayang … tadi dia memang ke kantorku, memaksa untuk ketemu aku. Sekian lama, dia nunggu aku, akhirnya aku jengah dan aku nemuin dia dengan maksud untuk mengusirnya. Aku benar-benar enggak bohong Sayang. Kamu bisa cek rekaman CCTV di sana, bahkan kamu bisa tanya kepada temen-temen aku.” ceritanya kepada istrinya itu.


Akan tetapi, tampaknya Khaira masih terlihat marah. Dia masih enggan untuk menatap wajah suaminya itu.


“Aku sekarang menyerahkan semuanya ke kamu kok Mas, kamu apa pun itu terserah kamu. Cuma ya aku tetap pada pendirianku dulu, sekali lagi kamu berlaku tidak setia, aku akan meyakinkan diriku sendiri untuk meninggalkan kamu. Walaupun cintaku sangat besar untukmu, tetapi aku tidak akan mentolerir suami yang tidak setia.” ucap Khaira saat ini dengan begitu tegas.


Radit kemudian berjongkok di depan istrinya itu, tangannya menggenggam erat kedua tangan Khaira, “Kamu boleh lakukan apa pun Sayang … lagipula, dalam hidup ini aku cuma mau sama kamu. Lain kali, aku akan bilang resepsionis di kantor supaya tidak membiarkan dia untuk menemuiku lagi. Aku buktikan Sayang.” ucapnya sembari menggenggam erat tangan Khaira.


Tidak seperti biasanya, Khaira justru melepaskan genggaman tangan suaminya itu dan dia mengibaskannya sedemikian rupa, “Intinya, kalau kamu masih memberi celah kepada wanita lain, ya tetep aja wanita ganjen itu akan semakin ngedeketin kamu. Lagipula, aku juga enggak tahu sudah seberapa sering wanita itu mengunjungimu.”

__ADS_1


Radit kembali menarik tangan istrinya itu dan menggenggamnya, “Baru satu kali Sayang … dia baru ke kantorku hari ini. Usai ini, aku akan meminta resepsionis untuk tidak membiarkannya masuk. Bahkan kalau kamu mau dan setuju, aku siap meninggalkan pekerjaanku, aku bisa mencari pekerjaan lainnya untuk menjaga hatimu.” ucapnya dengan serius.


__ADS_2