
Tidak terasa sepekan terasa berlalu begitu saja bagi Radit, Khaira, dan juga Arsyilla di Bali. Sekarang ketiganya tengah berada di Bandara Internasional Ngurah Rai untuk kembali lagi ke Jakarta. Sepekan yang tentunya berkesan untuk mereka bertiga, karena bukan sekadar memanfaatkan quality time bersama, tetapi banyak waktu juga yang mereka alokasikan untuk Arsyilla. Mulai dari mengunjungi Bali Safari Marine Park di mana Arsyilla bisa melihat berbagai satwa yang begitu beragam, jalan-jalan ke Plaza Garuda karena Arsyilla ingin melihat patung Dewa Wisnu yang tengah mengendarai garuda, mengunjungi Pulau Penyu dengan menyeberangi Tanjung Benoa, semuanya dilakukan bersama dengan Arsyilla.
“Kita akan kembali ke rumah lagi, ke Jakarta ya Sayang …” ucap Khaira yang saat ini tengah berada di dalam bandara.
“Iya Ma … nanti kalau Papa tidak sibuk, ajakin Syilla jalan-jalan lagi ya Ma.” sahutnya.
“Iya Sayang … kalau Papa tidak sibuk dan nanti kalau Mama sehabis melahirkan ya, soalnya tidak lama lagi adik bayinya mau lahir. Kamu mau kan ketemu adik bayinya?” tanya Khaira kepada Arsyilla.
Rupanya dengan cepat Arsyilla pun mengangguk, "Iya Ma … Syilla mau punya adek bayi. Biar bisa bermain di rumah sama adek bayi ya Ma … sama baby boy." sahutnya dengan menunjukkan wajah penuh kegembiraan.
Sedikit memutus pembicaraan Arsyilla dan Mamanya, Radit pamit kepada istrinya untuk ke toilet sebentar. "Sayang, aku ke toilet sebentar ya. Kamu dan Syilla jangan kemana-mana ya. Tungguin aku." ucap pria itu yang kemudian bergegas ke toilet.
Khaira untuk mengangguk dan meminta suaminya itu untuk tidak lama-lama ke toilet, karena bisa saja mereka akan segera diminta untuk memasuki pesawat. Beberapa saat usai Radit ke toilet, rupanya Khaira melihat sosok pria yang cukup dia kenal.
"Tama?" Khaira bergumam lirih.
Mendengar gumaman Mamanya, Arsyilla pun bertanya, "Siapa Ma?" tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
"Ah, dia teman Mama saat kuliah dulu Sayang." sahut Khaira dengan lirih.
Akan tetapi, Arsyilla justru menunjuk ke sosok yang merupakan teman Mamanya saat kuliah itu.
"Yang mana Ma?" tanyanya lagi.
"Itu Sayang, Om yang memakai jaket cokelat." jawab Khaira sembari sedikit melihat pada Tama yang saat itu memang memakai jaket cokelat.
Sialnya, saat Khaira tengah melihat Tama, ternyata Tama pun sedang melihat ke arahnya. Pandangan mereka pun bertemu, layaknya pencuri yang tengah ketahuan aksinya Khaira lantas menunduk dan mengalihkan pembicaraan dengan Arsyilla.
"O … Om nya liatin Mama itu Ma, keliatannya Om nya berjalan ke sini Ma." ucap Arsyilla dengan lirih.
__ADS_1
Seketika Khaira pun merasa gugup, jangan sampai Tama mendatanginya. Lagipula, dia juga tidak ingin terjadi keributan antara mereka dengan Radit yang sampai sekarang masih di toilet. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya karena nyatanya Tama justru datang menghampiri Khaira dan juga Arsyilla.
"Hai Khai …" sapa pria itu sembari menyapa Khaira.
Sementara Khaira hanya mengangguk, tanpa enggan berbicara. Dia tiba-tiba teringat dengan kejadian saat suaminya harus mengenakan gips di kakinya. Perjuangannya untuk menyemangati suaminya saat patah kaki dulu.
Merasa Khaira masih diam, Tama lantas mengulurkan tangannya, tetapi kali ini kepada Arsyilla.
"Hei, halo cantik … kamu pasti anaknya Mama Khaira ya?" sapa Tama kepada Arsyilla.
Arsyilla pun mengangguk dan mengulurkan tangannya demi menjabat tangan pria itu. "Namaku Arsyilla, Om." sahut Arsyilla begitu menjabat tangan Tama.
"Ini Om Tama." Kenalnya kepada Arsyilla.
Saat Arsyilla tengah menjabat tangan Tama, rupanya Papanya sudah kembali dari toilet. Pria itu melihat sosok Tama yang tengah menjabat tangan Arsyilla. Kendati demikian, Radit berusaha tenang.
"Hei apa kabar Kak?" sapanya dengan sopan.
Merasa disapa dengan sopan, Radit pun mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Tama.
"Baik." sahutnya singkat.
Rasanya begitu aneh dan canggung, dua pria yang di masa lalu adalah rival dan sekarang kembali bertemu. Kendati demikian, Radit berusaha menenangkan dirinya sendiri bahwa semua ini tidak akan berdampak apa pun.
"Gak nyangka ketemu kalian di sini. Sudah sekian tahun berlalu. Aku seneng liat kalian yang selalu bahagia dan saling mencintai. Baiklah aku duluan ya." pamitnya. Akan tetapi baru membalikkan badannya, Tama kembali berbalik, "Bye Arsyilla … Om Tama duluan ya." ucapnya sembari melambaikan tangannya kepada Arsyilla.
Usai kepergian Tama, Radit segera mengambil tempat di sisi istrinya, "Kenapa dia bisa ada di sini Sayang? Aku kaget melihatnya pas menjabat tangan Syilla." ucapnya sembari berbisik di telinga istrinya.
"Aku sendiri pun kaget kok, Mas … enggak nyangka ketemu dia di sini." jawab Khaira.
__ADS_1
Ya, Khaira pun tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Tama setelah sekian tahun lamanya. Pertemuan yang tentunya tidak disengaja.
"Dia tidak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya Radit kali ini dengan serius.
Dengan cepat Khaira pun menggelengkan kepalanya, "Enggak … cuma menyapa. Kamu khawatir ya Mas?" tanyanya.
Namun, sebelum Radit menjawab rupanya terjadi attention voice dari pihak maskapai bahwa penumpang dengan pesawat dari Denpasar menuju Jakarta diminta untuk segera naik ke pesawat. Oleh karena itu, Radit pun bersiap dengan beberapa bawaan mereka. Dia menggendong Arsyilla dengan satu tangan, dan satu tangan lainnya menggandeng tangan istrinya.
Melupakan sejenak pembicaraan yang ingin dia sampaikan kepada istrinya, Radit jauh lebih fokus untuk memasuki pesawat terlebih dahulu.Setelah duduk di dalam pesawat, barulah pria itu kembali berbicara kepada istrinya.
“Kamu enggak khawatir kok Sayang … hanya saja, kenangan masa lalu berputar kembali. Aku ingin melindungimu.” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Khaira pun tersenyum menatap suaminya itu, “Makasih karena kamu selalu melindungiku. Tanpa aku minta, kamu selalu berinisiatif untuk melindungiku.” sahut Khaira dengan cepat.
Usai mengatakan itu, ternyata Tama juga memasuki pesawat yang mereka tumpangi, dan sialnya Tama pun mendapat tempat duduk bersisian dengan Radit. Sontak saja kecanggungan terasa menyelimuti ketiga. Akan tetapi, Khaira berusaha meyakinkan suaminya bahwa semua tidak berarti apa-apa karena sejak dulu hingga sekarang perasaannya dan cintanya hanyalah untuk suaminya seorang. Sekalipun Khaira tidak pernah membuka cela untuk pria lain. Hanya ada satu pria yang ada di dalam hatinya dan itu adalah suaminya.
“Mas …” dipanggilnya suaminya itu.
“Hmm, apa Sayang?” tanyanya kepada Khaira.
“ACnya diarahkan ke tempat yang lain dong Mas, ini tanganku dingin deh.” keluhnya kepada suaminya karena merasakan AC yang berada di pesawat itu terasa dingin.
Radit pun dengan cekatan mengarahkan AC-nya ke arah yang lain. Kenyamanan istrinya jauh lebih penting saat ini.
“Sudah belum Sayang?” tanyanya.
“Udah … makasih Mas Radit.” ucapnya sembari mengalungkan tangannya ke lengan suaminya itu.
Dengan demikianlah, suasana di pesawat yang semula terasa canggung, bisa mencair karena Khaira benar-benar tidak fokus kepada orang lain. Yang dia fokuskan saat ini adalah suami dan anaknya. Cukup dengan suami dan anaknya saja, kecanggungan selama penerbangan pun sirna.
__ADS_1