
Baru beberapa hari yang lalu, Khaira merasakan kebahagian karena kasih sayang yang ia terima dari keluarganya. Kini ia kembali kesepian. Perasaannya tempo hari benar, terlalu banyak kebahagiaan yang ia terima justru pada akhirnya hanya memberinya kesedihan.
Untuk mengalihkan rasa sepi dan sendirinya, Khaira segera mencari kursus Bahasa Inggris, ia akan segera membutuhkan sertifikat TOEFL dan IELTS. Tidak hanya itu, Khaira pun sudah mendaftar untuk mengikuti scholarship dengan mendaftar untuk program studi Bachelor of Educations di University of Manchester, Inggris.
Tekad Khaira semakin kuat untuk menempuh pendidikan di luar negeri, lagipula terlalu lama hidup dalam kesendirian dan hubungan pernikahan tanpa cinta yang tidak ada kepastian justru hanya membuat Khaira seolah terjebak di hutan belantara sendirian tanpa tahu akan ia bisa keluar dari dalamnya.
Sudah sekian hari pun tidak ada kabar dari Radit. Keduanya sama-sama tidak memberikan kabar sama sekali. Lost contact!
"Apa masih ada harapan untuk pernikahan yang tidak jelas ini Mas? Belakangan terakhir kamu bersikap baik, tetapi nyatanya rumah tangga kita tidak ada yang berubah. Saat hatiku mulai tersentuh dengan sedikit perhatianmu, nyatanya tetap tidak merubah kenyataan ini ya Mas... Sebenarnya jika sauh tak bersambut, aku mau melepaskannya Mas. Aku kepayahan mendayung perahu ini seorang diri. Bahkan sejak dulu, aku tak keberatan jika kau mengakhiri semua ini dan memulangkanku kepada Ayah dan Bundaku." Khaira berucap lirih sembari memandangi foto pernikahan mereka. Foto pernikahan yang indah, nyatanya tidak memberi keindahan pada kehidupan rumah tangga keduanya.
"Kalau aku pergi jauh ke luar negeri, mungkin akan jauh lebih baik dan aku semakin bisa melupakanmu tanpa berharap kau mengunjungiku. Terkadang aku seperti orang bodoh yang hanya sebatas menunggu kabar darimu, tetapi kau pun tidak memberiku kabar sekian hari lamanya. Aku memang bukan prioritasmu, Mas. Akan tetapi, apakah tidak bisa jika kau memberikanku kabar. Hanya kabar darimu yang aku minta. Sedikit kabar dalam satu pesan saja sudah cukup bagiku. Lost contact seperti ini juga sudah menjadi keseharianku."
Khaira memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing. Akhirnya Khaira memilih berdiri dan bersiap ke tempat pelatihan Bahasa Inggrisnya.
Khaira keluar dari rumahnya, ia segera melajukan mobilnya menuju tempat pelatihan Bahasa Inggrisnya. Paling tidak sedikit kegiatan bisa mengalihkan Khaira pada hubungan pernikahannya yang tidak ada kejelasannya seperti ini.
***
Sementara itu di kantor Radit masih berkutat dengan berbagai file yang harus dikerjakannya sebagai laporan audit. Tidak jarang pria itu harus lembur hingga dining hari hanya untuk mengaudit laporan keuangan perbankan.
Kurang tidur, kurang asupan nutrisi, dan menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor membuat stamina Radit menurun, tetapi ia tetap bekerja karena memang beban kerja sebagai auditor internal sangat tinggi.
"Sehat, Bro." Sapa Dimas sembari memberikan kopi kemasan kaleng kepada Radit.
__ADS_1
"Thanks Bro..." ucapnya sembari menerima kopi dari Dimas.
"Kapan kerjaan ini selesai, mata gue ampe pedes liat tabel berderet-deret yang tiada habisnya di laptop." Dimas menggeruti sambil mengucek matanya yang pedas lantaran terlalu lama di depan komputer.
"Sama, mata gue juga lelah ini, kadang angkanya terlihat numpuk saking lelahnya." timpal Radit, pria itu pun matanya sama-sama lelah melihat tabel yang banyak di laptopnya.
"Sekarang cewek lo kok jarang menghubungi lo sih Bro. Lo masih sama dia kan?" tanya Dimas tiba-tiba.
Radit pun ingat beberapa hari ini dia yang sangat sibuk ternyata juga jarang mendapat pesan dari Felly.
"Mungkin dia juga baru sibuk kali." jawab Radit singkat.
"Andai nih Bro. Andai di belakang lo Felly selingkuh dengan cowok lain gimana? Soalnya kerjaan lo kan sibuk banget. Kadang cewek kan ngambek karena pasangannya sibuk bekerja." tanya Dimas pada Radit.
Saat Dimas berbicara tentang cewek yang ngambek, dia malahan teringat pada Khaira.
Radit menepuk-nepuk keningnya tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"Kenapa lo, Bro? Kepala lo pusing?"
"Iya, mendadak pusing gue." Radit menjawab sembari masih memijit pelipisnya.
"Ya udah, lo istirahat dulu, gue mau keluar makan dulu."
__ADS_1
"Iya..."
Saat Dimas sudah keluar, Radit mengambil handphonenya lalu ia menekan nomor telepon Khaira, ia bermaksud menghubunginya.
"Panggilan tersambung tapi enggak dijawab. Kamu kemana Khai? Sorry Khai, aku benar-benar lupa untuk memberimu kabar, pekerjaanku sangat banyak sehingga aku lupa memberimu kabar. Ayo angkat teleponnya dong Khai...."
Radit tiba-tiba menjadi resah, dia merasa begitu bersalah dengan Khaira. Tetapi lagi-lagi, Radit tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang sedang sangat sibuknya.
"Baiklah sore nanti aku akan ke rumah, Khai..." Pria itu masih bergumam dan bertekad untuk mengunjungi Khaira.
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan akhirnya Radit selesai untuk bekerja hari ini. Mengingat Khaira yang sepanjang hari tidak bisa ia hubungi, akhirnya ia memilih untuk langsung menuju ke rumah Khaira.
Sepanjang perjalanan, Radit melajukan sepeda motornya dengan lebih cepat, dia hanya berharap bisa segera sampai dan menemui Khaira saat ini. Otaknya serasa buntu, hanya Khaira yang ia pikirkan. Bahkan sejak ia menjadi lebih baik dan tak terlalu acuh pada Khaira, rasanya dia mulai melupakan Felly. Wanita yang sekian lama dicintai dan diperjuangkannya justru rasanya tidak memberi ketentraman dan kenyamanan baginya.
Lebih dari setengah jam berkendara akhirnya, Radit sudah sampai di rumah Khaira. Namun, ia melihat tidak ada mobil Khaira, rumah pun masih gelap.
"Apa Khaira tidak ada di rumah? Mengapa sepi sekali?" gumam Radit dan ia pun enggan untuk masuk ke dalam. Pria itu memilih menunggu di luar pintu gerbang, dengan masih menduduki sepeda motornya.
Sekian menit Radit menunggu, Khaira masih belum juga datang. Langit Ibukota yang semula terang telah berubah menjadi gelap. "Kamu kemana Khai? Jam segini sampai kamu belum pulang?"
Nyaris satu jam menunggu, akhirnya Radit memilih untuk pulang.
Saat Radit baru saja melajukan sepeda motornya, ternyata dari jalan berlawanan arah mobil Khaira telah datang. Keduanya pun gagal bertemu lantaran Radit yang terlebih dulu pergi.
__ADS_1
Sekali lagi, takdir tidak mempertemukan keduanya. Takdir seolah-olah membawa kedua terjerembab dalam jurang yang gelap dan dalam.
Baik pertemuan mau pun perpisahan itu adalah sebuah perjalanan. Beberapa hari yang lalu Radit dan Khaira bertemu hingga akhirnya tidak ada kabar lagi dari keduanya, dan sekarang saat mereka bisa nyaris bertemu, tetapi takdir tidak memihak kepada mereka. Takdir tidak membiarkan mereka untuk bertemu dan memperbaiki hubungan mereka berdua yang kusut.