Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Jalan-Jalan Pagi


__ADS_3

Semakin bertambahnya usia kehamilan, Khaira pun sekarang menyempatkan diri di pagi hari untuk jalan-jalan pagi. Sekalipun hanya sekadar mengelilingi kompleks, tetapi tetap dia lakukan. Sebab jalan kaki di pagi hari begitu baik untuk ibu yang tengah mengandung dan juga untuk bayi yang masih di dalam kandungannya.


Sebagai suami siaga, Radit pun selalu setia menemani istrinya berjalan-jalan pagi mengelilingi kompleks perumahannya. Seakan dia tidak akan membiarkan istrinya itu sendirian. Selama dia bisa, sudah pasti Radit akan terus mengusahakan untuk menemani istrinya itu.


"Jalan-jalan pagi sekarang Sayang?" Ajak Radit kepada istrinya itu.


Khaira pun mengangguk, "Iya Mas ... biar sehat. Lagipula kan Dokter Indri juga mulai disuruh jalan-jalan pagi. Yang penting kan enggak naik turun tangga." ucapnya sembari keluar dari rumahnya bersama dengan suaminya itu.


Masih pagi buta, tetapi keduanya sudah berjalan-jalan dan terkadang saling bergandengan tangan. Hanya sebatas cuci muka dan gosok gigi saja, kemudian keduanya berjalan-jalan bersama kurang lebih 15 menit.


"Semoga saja, persalinan nanti lancar ya Sayang ..." ucap Radit sembari merangkul bahu istrinya itu.


Khaira pun mengangguk, "Iya ... aku juga berdoanya gitu. Sama kalau bisa sih enggak sesakit dulu." ucapnya sembari tertawa.


Tidak dipungkiri bahwa melahirkan itu sangat sakit, bahkan penelitian medis mengatakan bahwa saat melahirkan seluruh tulang wanita rasanya seperti diremukkan. Maka dari itulah, Khaira pun jika bisa meminta akan meminta supaya melahirkannya nanti tidak akan sesakit dulu.


"Sabar ya Sayang ... aku cuma bisa bilang gini saja. Gak bisa ngapa-ngapain. Yang pasti aku akan selalu mensupport kamu. Sebisaku, aku akan selalu menemani kamu." ucap Radit sembari menggenggam tangan istrinya itu.


Keduanya menelusuri jalan di sekitar perumahannya, udara pagi yang masih segar sangat bagus untuk ibu hamil. Selain bisa melakukan relaksasi, tetapi udara pagi juga baik untuk mempertahankan mood ibu hamil. Jika pagi hari diawal dengan sesuatu yang nyaman dan menenangkan, mood bisa terjaga sepanjang hari.


Keduanya yang berjalan-jalan, terkadang juga menyapa beberapa tetangga yang mereka temuinya.


"Mari Bu ..." sapa Khaira yang memang ramah kepada beberapa tetangga di perumahannya.


Tidak jarang juga, beberapa tetangga yang mendoakan kehamilannya. "Sama-sama ya Bu Khaira ... sudah besar sekali perutnya. Semoga lancar sampai melahirkan nanti. Benar, jalan-jalan pagi biar ibu dan bayinya sehat."

__ADS_1


Mendengar berbagai perkataan yang baik dari beberapa tetangganya sudah pasti Khaira merasa senang, banyak orang yang mendoakan bahwa kehamilannya bisa lancar dan keduanya sehat. Tidak ada yang lebih indah selain bisa melahirkan dengan lancar, ibu dan bayinya sama-sama sehat dan selamat.


Akan tetapi, saat melewati sebuah taman yang tidak jauh dari kompleks perumahannya ada segerombolan ibu-ibu yang mulai menatap keduanya dan mulai berbisik.


"Tuh, pasangan yang selalu harmonis. Beberapa pagi ini keduanya jalan-jalan pagi terus, keliatannya istrinya mau melahirkan."


"Keliatannya suaminya siaga ya, sampai jalan-jalan pagi saja ditemenin."


"Suaminya udah cakep, baik juga. Kapan punya suami kayak gitu."


Rupanya ibu-ibu nyinyir saling berkomentar, dan tidak jarang memuji-muji Radit.


Mendengar ocehan dari ibu-ibu di kompleks tersebut, sontak Khaira menunduk dan mengerucutkan bibirnya.


"Mas, besok kalau jalan-jalan pagi, aku sendirian aja deh. Tuh, ibu-ibu hebring muji-muji kamu." gerutunya pagi itu.


"Lha itu, Ibu-ibu malahan muji-muji kamu. Aku kan sebel." ucapnya kali ini dengan jujur. "Apa karena aku hamil ini jelek sih Mas? Aku gendut banget sekarang, sudah naik 13 kilogram." ucapnya yang kehamilan kali ini memang mengalami kelonjakan berat badan cukup banyak. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan saat mengandung Arsyilla 3 tahun yang lalu.


Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah Sayang ... toh ya, aku tidak pernah mempermasalahkan berat badanmu. Di mataku tetap kamu yang paling cantik." ucapnya kali ini dengan serius.


"Gombal." sahut Khaira dengan singkat.


"Aku jujur kok Sayang ... enggak peduli mau bagaimana pun kamu, di mataku dan di hatiku nilaimu tetap sama kamu tetap Khairaku." jawabnya lagi.


Khaira pun sedikit menghangat dalam hatinya mendengar ucapan suaminya itu. Sembari berjalan, wanita hamil itu pun sedikit memperhatikan suaminya dari sudut pandangnya sekarang.

__ADS_1


"Karena kamu memang cakep sih Mas ... anakmu sudah mau dua saja masih capek. Aku cuma pake baju rumahan dan perut sebesar ini sudah keliatan kayak ibu-ibu." ucap Khaira dengan lirih.


"Kan kamu memang seorang Ibu, Sayang ... kamu Mamanya Syilla dan baby boy kita. Sudah jangan insecure gitu, toh ya aku cuma milikmu. Hak guna dan hak miliknya sepenuhnya punya kamu." jawab Radit.


Dalam pandangan Radit sekarang ini, mungkin saja istrinya tengah merasa insecure di tengah-tengah masa kehamilan. Merasa gendut, terlihat seperti ibu-ibu, dan lebih parah ada beberapa ibu hamil yang merasa dirinya jelek, kecantikannya pudar, dan tidak layak bersanding dengan suaminya. Dengan cepat Radit ingin menyadarkan istrinya, bahwa di matanya istrinya tetap memiliki value yang sama dan tidak berubah. Mau hamil dan tidak hamil. di mata Khaira tidak berubah.


"Jangan merasa insecure Sayang ... justru, hamil itu membuatmu lebih cantik. Sebab, kamu kian menawan setiap harinya, menjalani proses demi proses untuk jadi rumah pertama bagi buah hati kita. Di mataku, kamu tetap yang tercantik." ucapnya lagi dan kian menegaskan kepada istrinya itu.


"Serius?" tanya Khaira perlahan.


Radit pun mengangguk, "Iya serius ... kalau kamu merasa insecure dan tidak mau mendengar ucapan ibu-ibu tadi, besok kita cari rute yang lain aja Sayang ... kan ya banyak jalan yang lain. Jalan pagi kan biar kamu dan baby boy kita sehat, mood kamu baik seharian, nanti bisa persalinan dengan lancar. Jadi, terus jalan-jalan pagi ya ... biar aku temenin. Oke."


Perlahan Khaira pun tersenyum, "Oke Mas Radit yang jadi idola ibu-ibu sekompleks." sahutnya sembari mencubit pinggang suaminya itu.


“Apa sih Sayang.” sahut Radit yang terlihat tidak terima dengan perkataan istrinya itu.


“Lha itu tadi, apa coba. Nasib punya suami cakep.” gerutunya lagi.


Radit justru tersenyum, “Kalau kamu kayak gini terus, aku sun di sini sekarang, biar dilihatin ibu-ibu itu. Toh, omongan ibu-ibu atau wanita mana pun tidak ada pengaruhnya buatku. Aku cakep cuma buat kamu dan Arsyilla.” sahutnya dengan serius.


Mendengar ancaman dari suaminya, Khaira pun bergidik ngeri, “Udah cakep, hobi main ngesun-sun aja, gitu gimana enggak klepek-klepek coba.” sahutnya lagi.


“Kamu kan yang klepek-klepek?” sahut Radit dengan cepat.


“Enggak ya … aku biasa aja kok.” jawab Khaira dengan wajah yang sudah bersemu merah.

__ADS_1


“Dari wajah kamu saja udah keliatannya, ya sudah yuk … cepet diselesaikan jalan-jalan paginya. Abis ini mandi bareng Sayang.” ucap pria itu dengan begitu entengnya.


Khaira hanya geleng-geleng kepala mendengar celotehan suaminya itu, “Ya ampun Mas … kenapa kamu terang-terangan sih, malu tahu.” ucap Khaira sembari berbisik dan mengelus dadanya melihat tingkah suaminya itu.


__ADS_2