
Usia kehamilan Khaira kian bertambah besar setiap harinya. Ibu hamil itu kini merasa lebih capek, pinggangnya yang terasa pegal, berkali-kali ke kamar mandi karena harus sering buang air kecil, dan juga lebih mengantuk. Sementara, Radit tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendampingi istrinya itu menjelang usia kehamilannya yang kian bertambah. Tetap berusaha menjadi suami yang siaga dan selalu ada untuk istrinya. Sebab, dengan bertambahkan usia kehamilan sang istri, mereka sangat membutuhkan suami yang selalu siaga dan juga waspada.
Untuk menyambut putranya, Radit sudah menyiapkan sebuah kamar yang berada di sebelah kamarnya. Jika kamar Arsyilla berada di sebelah kanan kamarnya, maka sebuah kamar yang baru dia sediakan di sebelah kiri kamarnya. Sebuah kamar yang dipersiapkan bagi putranya saat sudah lahir nanti. Mulai dari tahap pembangunan hingga desain interiornya, Radit sendirilah yang mengaturnya. Sama saat menyambut kelahiran Arsyilla 3,5 tahun yang lalu, si papa muda pun juga terlihat begitu tertarik untuk mempersiapkan segala sesuatunya sendiri.
Lemari, bed bayi, tempat penyimpanan, bahkan hiasan pemanis sudah disiapkan dengan sedemikian rupa. Kali ini, pria itu dengan bangga menunjukkan kamar itu kepada istrinya.
“Gimana Sayang? Kurang apa lagi?” tanya kepada istrinya.
Perlahan Khaira memasuki kamar itu dan memperhatikan detail ruangan tersebut di setiap sisinya. Ruangan yang didominasi warna biru itu memang sangat cocok untuk anaknya yang berjenis kelamin laki-laki. Pemilihan interior dan juga pencahayaan juga diperhatikan dengan sangat baik.
“Bagus … bagus banget kok Mas. Kamu diam-diam punya bakat mendesain loh Mas. Dari ruangan Arsyilla sampai sekarang untuk Baby Boy, hasil desain kamu sendiri. Hasilnya pun semua bagus, konsepnya matang jadi hasilnya juga maksimal dan bagus banget.” ucapnya memuji hasil kerja suaminya itu.
Radit pun tertawa, dan mencubit pipi istrinya yang kian chubby itu, “Kamu berlebihan Sayang … aku enggak sekeren itu. Aku cuma berimajinasi saja sebenarnya, cuma dulu waktu SMA aku suka gambar-gambar gitu. Jadi ya aku berusaha berimajinasi dan mewujudkannya. Kamu mau aku desainkan sesuatu?” tawarnya kepada istrinya.
“Enggak, mau desain apa lagi Mas? Semua di rumah ini sudah bagus kok menurutmu.” jawabnya dengan matanya berputar menatap setiap bagian ruangan bayinya nanti. “Mas, sibuk enggak? Belanja buat si Baby yuk? Ini dia sudah mau lahiran, malahan kita belum persiapan sama sekali. Cuma baju-baju Kakaknya saja yang sudah di lemari penyimpanan.”
Radit pun mengangguk, “Ya sudah … yuk, kita ajak Syilla sekalian ya Sayang … dia pasti seneng diajak belanja dan memilih-milih untuk adiknya nanti.”
Tidak berselang lama, ketiganya kini telah tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Radit dengan senang hati menggandeng istri dan anaknya. Rasanya dia menjadi pria paling bahagia di dunia dengan memiliki istri dan anaknya itu.
__ADS_1
“Kita mau ke mana Pa?” tanya Arsyilla yang terlihat tertarik.
“Kita belikan beberapa keperluan untuk adik bayi ya Sayang …” jawab Radit yang kini agak sedikit berjongkok guna mensejajarkan tingginya dengan tinggi Arsyilla.
“Iya Pa … kita belikan yang lucu-lucu buat adik bayi ya Pa.” sought Arsyilla dengan terlihat gembira.
Setelahnya, ketiganya memasuki sebuah outlet yang khusus menjual berbagai perlengkapan bayi. Mulailah Khaira memilih-milih beberapa baju untuk bayinya yang akan berjenis kelamin laki-laki nanti, handuk, sarung tangan dan sarung kaki, hingga kain bedongnya. Sedangkan untuk pumping, stroller, dan sebagainya memang dia tidak membelinya karena masih bisa menggunakan milik Arsyilla yang masih dia simpan.
“Ma, bajunya warna biru ya Ma? Syilla ikut pilihkan boleh?” tanya Arsyilla yang berinisiatif untuk ikut serta memilihkan baju untuk adiknya nanti.
Dengan cepat Khaira pun mengangguk, “Iya … Kakak Syilla pilihkan untuk adik bayi ya. Warna biru, putih, navy, kuning, dan lainnya tidak apa-apa Sayang.” jawab Khaira.
“Pilihkan tiga untuk adik bayi ya Sayang.” jawab Khaira.
Usai menjawab pertanyaan Arsyilla, Khaira lantas menghampiri suaminya yang tampak melihat-lihat beberapa baju untuk anak laki-laki. “Kamu juga pilihin ya Mas … pilihkan tiga buat baby boy ya.” pintanya.
Perlahan Radit pun mengangguk, “Siap Mama … jangan lupa beli buat keperluan Mamanya juga, karena bukan hanya babynya yang membutuhkan persiapan. Mamanya juga membutuhkan perlengkapan untuk bersalin. Jadi beli sekalian ya.” pria itu mengingatkan istrinya untuk sekaligus membeli perlengkapan untuk dirinya sendiri.
“Iya Papa … nanti aku beli sekalian, palingan cuma beli diapers celana dan breastpad aja kok.” jawabnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Radit pun mengangguk, “Apa pun yang kamu butuhkan, beli saja Sayang … kamu yang lebih tahu apa saja yang kamu butuhkan. Aku tinggal bayar saja.”
Memang terkadang para suami akan bersikap seperti itu, para istrinya yang tahu mana saja yang menjadi kebutuhan mereka, suami hanya tinggal memberikan uangnya untuk membayar apa yang dibeli oleh istrinya. Pun demikian dengan Radit, baginya istrinyalah yang paling tahu apa saja yang menjadi kebutuhannya, sekarang dia hanya tinggal membayar saja apa yang dibeli oleh istrinya.
“Iya Papa Sayang … makasih ya, udah perhatiin Mama juga.” jawab Khaira dengan menatap suaminya itu.
“Ma, Syilla sudah pilih ini buat adik bayi. Belikan adik bayi sepatu dan topi juga ya Ma.” pinta Arsyilla kepada Mamanya.
Khaira pun menghampiri Arsyilla dan menerima beberapa potong pakaian yang sudah dipilihkan Arsyilla itu, “Iya Sayang … nanti kita belikan juga buat adik bayi. Kakak Syilla ingin sesuatu? Boleh loh kalau kamu pengen sesuatu, ambil saja Sayang … nanti berikan pada Mama untuk dibayar ke kasir ya?”
Mendengar Mamanya yang menanyakan apa yang menjadi keinginannya dan juga memperbolehkannya untuk membeli sesuatu, Arsyilla pun mengangguk, “Oke Ma … aku mau beli baju princess saja Ma.”
“Pilih saja Sayang …” sahut Khaira.
“Ma, nanti sama belikan buku ya Ma … Syilla, mau beli buku. Boleh Ma?” tanya Arsyilla lagi kepada mamanya.
Dengan cepat Khaira pun mengangguk, “Boleh Sayang … kita belikan buat adik bayi dulu dan Kakak Syilla pilih dulu baju princessnya di sini ya. Setelah ini kita bayar ke kasir, dan kita ke lantai atas untuk membeli buku buat Kakak Syilla. Yuk, Sayang.”
“Yeey, oke Ma.” jawab Arsyilla dengan sedikit berteriak, luapan kegembiraannya karena Mamanya itu juga perhatian padanya.
__ADS_1
Apa yang dilakukan Khaira bukan sekadar membelikan Arsyilla apa yang dia mau, tetapi menyeimbangkan kasih sayangnya untuk kedua anaknya. Terlebih masa-masa seusia Arsyilla tidak dipungkiri bisa dengan mudahnya merasa iri dengan saudara kandungnya sendiri. Oleh karena itu. Khaira pun sekaligus belajar bahwa sekalipun nanti si bayi lahir, kasih sayang dan perhatian untuk Arsyilla akan tetap ada. Bersikap adil bukan berarti memberi sesuatu yang sama persis, tetapi memberikan sesuatu dengan kebutuhan dari anak.