
"Kalau pasangan cara bicaranya beda, di telinga terdengar manis." celetuk Metta yang baru kali ini menyaksikan sahabatnya itu bersama dengan suaminya.
"Apaan sih, Ta. Emangnya kami produk air mineral yang ada manis-manisnya?" balas Khaira sembari ia tertawa kepada Metta.
"Bukan begitu, Say. Tetapi, beda loh cara bicaranya. Iya kan, bicara sama temen dan pasangan kan beda."
"Udah makan aja, jangan banyak bicara deh." gerutu Khaira mendengar sahabatnya yang banyak bicara.
Sementara Radit hanya tersenyum melihat obrolan Khaira dan Metta yang tidak ada habisnya.
Tidak berselang lama, Ketoprak yang mereka pesan pun datang. Khaira mengambil sendok dan garpu, mengelapnya dengan tissue, lalu menyerahkannya kepada Radit.
"Pakai ini Mas..." tangannya sembari menyodorkan sendok dan garpu.
"Makasih ya..." jawabnya sembari menerima sendok dan garpu dari Khaira.
Radit menjadi menyadari bahwa Khaira adalah sosok yang perhatian, bahkan hal kecil seperti mengambil sendok dan garpu pun, Khaira memperhatikannya. Pikiran Radit yang semula rumit, seolah sedikit lega setelah melihat Khaira hari ini.
"Kak Dimas nya lama ya Mas? Tinggal makan duluan gak papa?" tanya Khaira kepada Radit sembari ia menyantap Ketopraknya.
"Aku kurang tahu, kalau bikin KTM itu lama enggak sih? Ya, nanti kalau Dimas mau makan biar aku temenin." jawabnya sembari sesekali melihat Khaira.
"Bikin KTM lumayan lama kok Kak, bisa setengah jam." sahut Metta yang duduk di depan mereka.
"Emangnya iya ya? Aku lupa, bikin KTM kan setelah jadi mahasiswa baru dulu kan ya. Lo abis bikin KTM lagi Ta?" tanya Khaira.
"Iya, waktu mau bikin skripsi. KTM gue ilang soalnya. Eh, jadi kapan sidang Khai?" tanya Metta yang seketika membuat Radit menghentikan makannya.
"Nunggu jadwal aja, Ta. Tadi Pak Andreas sudah acc kok, semoga cepet ya. Biar gue bisa nyusun rencana lainnya." ucap Khaira dengan serius.
"Jadi sudah mau sidang skripsi ya? Dipersiapkan baik-baik ya." sela Radit yang sedang memandang Khaira. "Kapan sidangnya?"
"Belum tau Mas, tadi baru di-acc sama dosen pembimbingnya." balas Khaira. "Doakan Mas."
Radit menganggukkan kepalanya, "iya, Mas pasti doakan. Sukses ya." Kali ini Radit berbicara tulus dan lembut.
Khaira pun merasa, suaminya ini tidak lagi ketus. Dan, barusan yang dia dengar "Mas?" Radit menyebut dirinya "Mas", apakah Khaira sedang tidak salah dengar, kenapa terdengar manis?
__ADS_1
"Makasih Mas..." jawab Khaira sembari tersenyum pada Radit.
Metta dan Khaira melanjutkan obrolan sembari menyantap Ketoprak mereka, sementara Radit lebih banyak mendengarkan. Walau sesekali Radit juga terlibat dalam obrolan Khaira dan Metta.
Hingga akhirnya Ketoprak yang berada di dalam piring ketiganya sudah habis. Tandas tanpa sisa.
Radit segera berdiri, ia mengambil dompet dari saku celananya dan membayar tiga Ketoprak bersama minumannya.
Khaira pun ikut berdiri, hendak membayar makanan mereka.
"Biar Mas saja yang bayar."
Lagi-lagi Khaira kebingungan kenapa pria itu tidak memakai kata ganti "aku", tetapi justru memakai kata ganti "mas", apakah karena ada Metta di sini? Apa yang membuatnya tiba-tiba seperti ini.
"Makasih banyak ya Mas." ucap Khaira sembari kembali duduk.
"Kak, makasih ya sudah ditraktir makan Ketoprak." ucap Metta sembari nyengir pada Khaira dan Radit.
"Iya, sama-sama." ucapnya.
Usai makan Ketoprak, ketiganya berjalan bersama menuju gerbang masuk ke kampus Khaira.
Radit hanya menganggukkan kepalanya.
"Mau berdiri di sini nunggu Kak Dimas, atau duduk di situ Mas?" Khaira menunjuk sebuah bangku kecil yang berada di bawah pohon di dekat pos sekuriti.
"Berdiri boleh, duduk boleh. Mas, ngikut aja."
Akhirnya Khaira memilih berjalan menuju bangku kecil yang berada di dekat pos sekuriti.
"Jadi kapan kamu sidang skripsi? Nanti kabari Mas ya." ucap Radit sembari menatap sebuah map biru yang berada dalam genggaman Khaira.
"Tanggalnya belum keluar Mas, nanti kalau sudah ada tanggalnya aku kasih tahu."
"Harus kasih tahu begitu jadwal sidang kamu keluar ya?"
"Iya Mas..." Khaira menghela nafasnya sejenak. "Mas, aku mau ngomong."
__ADS_1
Radit yang semula tatapannya lurus ke depan, kini ia menoleh pada Khaira.
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Hm, karena aku praktis sudah tidak ada jam kuliah karena tinggal nunggu sidang dan wisuda. Aku mau ambil kursus Bahasa Ingrris boleh? Aku mau ambil TOEFL dan IELTS"
Radit menimbang-nimbang, rencana yang mau diambil Khaira, tetapi Radit langsung tahu kemana arah pembicaraan Khaira.
"Kamu mau langsung melanjutkan S2 usai wisuda nanti ya?" tanya Radit. Pria itu menghela nafasnya sesaat. "Kalau ambil IELTS juga, apa mau lanjut sekolah di luar negeri?"
Khaira tak menyangka, Radit bisa langsung menebak arah pembicaraannya. Bahkan Radit bisa tahu, rencana yang baru disusun Khaira di kepalanya.
"Hmm, baru rencana Mas. Tetapi, Mas jangan khawatir untuk biayanya. Karena aku mau cari scholarship (beasiswa) aja untuk S2 nanti. Kalau tahun ini tidak dapat, ya aku coba lagi tahun depan. Aku cuma ingin mengisi waktu dulu dan mempersiapkan persyaratan yang diperlukan. Bagaimana Mas?"
"Iya, gak apa-apa, kamu ambil kursus aja apa yang kamu butuhkan. Nanti biar Mas yang membayarnya. Kamu kirim pesan aja ya berapa nanti pembiayaannya. Biar Mas yang bayar."
"Eh, aku bayar sendiri aja, Mas. Lagipula, Ayah Ammar masih memberi uang jajan dan uang kuliah kok. Masih banyak malahan." ucap Khaira.
Radit sedikit tersenyum di sudut bibirnya, bahkan sekarang ia baru mengetahui bahwa Khaira juga gadis yang mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain.
"Gak apa-apa biar Mas yang biayain, Mas kan suami kamu." ucapnya dengan menekankan bahwa ia adalah suaminya. "Juga, kenapa kamu tidak memakai debit card yang Mas kasih?"
Khaira bingung, bagaimana Radit tahu kalau dia sama sekali belum memakai debit card yang diberikan suaminya.
"Kalau kamu gak mau pakai gak apa-apa, tetapi jangan sampai selama tiga bulan tidak dipakai untuk transaksi. Minimal bawa ke ATM dan cek saldonya saja, supaya tidak terblokir ya."
Khaira menganggukkan kepala, ia benar-benar lupa bahwa tabungan bisa terblokir jika selama 3 bulan tidak ada transaksi keluar. Juga Khaira tahu, karena suaminya adalah pegawai bank jadi mungkin dia juga yang mengurus ketika tabungannya terblokir.
"Iya Mas..." sahutnya singkat.
Keduanya masih duduk bersama di bawah pohon yang cukup sejuk dan rindang, hingga tiba-tiba sebuah sepeda motor gede berwarna merah berhenti di seberang Khaira.
Pria tampan yang mengenakan helm full-face itu menghentikan kuda besinya, dan membuka helmnya lalu berjalan ke arah Khaira.
"Khai, kamu di sini?" sapanya dengan senyum mengembang di wajahnya yang tampan.
"Tama...." ucap Khaira dengan wajah agak bingung.
__ADS_1
Radit menolehkan kepalanya dan sorot matanya berubah menjadi tajam melihat cowok tampan yang berjalan ke arah Khaira.
"Tama, dia siapanya Khaira?" gumamnya dengan sembari menaruh curiga pada cowok tampan itu.