Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Survei Rumah Baru


__ADS_3

Sepekan berlalu, di hari Sabtu ini Radit akan mengajak Khaira untuk melihat-lihat perumahan yang akan mereka beli. Rumah yang akan menaungi keduanya dan kembali pada kehidupan rumah tangga yang mandiri.


Beberapa hari sebelumnya Radit memang sudah berkata kepada Ayah dan Bundanya, jika mereka akan mencari sebuah rumah. Keduanya ingin menjalani kehidupan rumah tangga berdua dan belajar mandiri. Bersyukurnya baik Ayah Wibi dan Bunda Ranti menyetujuinya.


Sabtu pagi usai sarapan, keduanya telah keluar dari rumah dan melihat perumahan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor Radit dan juga dari kampus Khaira dulu, karena Khaira telah melamar untuk menjadi Dosen di kampusnya pada tahun ajaran Baru nanti.


Mereka memasuki sebuah perumahan dengan sistem one gate untuk akses masuknya, berbagai rumah dua lantai berjejer rapi di sekitar kanan dan kiri. Perumahan yang mengusung konsep minimalis itu nampak indah dan berderet rapi.


"Ini perumahannya Sayang, coba lihat-lihat dulu. Cocok enggak?" tanya Radit sembari menjalankan mobilnya pelan-pelan karena mereka sembari melihat perumahan di kanan dan kiri mereka.


Khaira mengedarkan pandangannya, melihat ke sisi kanan dan kiri. "Lingkungannya sih bagus, bersih, dan rapi. Di jalan depan itu sudah ada mini market, ATM center, apotek juga. Tapi lihat dalamnya rumah gak boleh ya Mas?"


"Bisa aku pun ya kontak agen propertinya kok. Aku sudah janjian juga. Nanti kita ke kantornya, biar bisa lihat dalamnya." sahut Radit.


Puas mengelilingi area perumahan itu, Radit menghentikan mobilnya ke kantor agen properti yang tidak jauh dari situ.


"Selamat siang Pak, saya Radit. Sebelumnya saya sudah menelpon Bapak untuk melihat-lihat perumahan di sini. Jika mau melihat dalamnya apa boleh Pak?" tanya Radit dengan sopan.


"Boleh Pak, boleh silakan. Mari saya hantarkan ke perumahan di sebelah yang kebetulan masih kosong dan dekat dari sini." ucap agen properti itu dengan ramah.


Khaira pun berjalan mengekori Radit, menuju ke salah satu rumah yang tidak jauh jaraknya dari kantor agen properti itu.


Pegawai agen properti itu mulai membuka gerbang rumah yang terbuat dari teralis, lalu membuka pintu rumahnya.


"Ini dalamnya Pak. Rumah ini dibangun dengan tipe minimalis yang biasanya menjadi pilihan keluarga masa kini. Untuk pondasinya kami menggunakan rollag batu bata dan batu kali. Batu bata cocok untuk model kontruksi sederhana, sedangkan batu kali lebih kokoh jika digunakan sebagai pondasi. Struktur rumah menggunakan beton bertulang. Keunggulan penggunaan struktur beton bertulang untuk bangunan adalah materialnya yang tahan api dan air, mudah dibentuk, harga bahan pembuatannya terjangkau. Material untuk dinding menggunakan double batu bata merah supaya dinding lebih dingin. Rumah ini terdiri dari tiga kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tamu, satu dapur, dan garasi mobil." Agen properti itu menjelaskan material dan spesifikasi perumahan itu dengan sangat detail.


Khaira dan Radit sama-sama menganggukkan kepala dengan penjelasan yang diberikan oleh agen properti tersebut.


Mereka pun dibawa tour ke dalam rumah, dan melihat setiap ruangan di sana. Dari lantai dua, jalanan raya di Ibu Kota juga terlihat.


"Jika ingin membeli perumahan ini, kami juga bisa memberikan kredit dengan bunga yang cukup rendah, Pak. Sehingga tidak akan memberatkan konsumen. Selain itu, jika membeli perumahan ini juga berhadiah sofa, televisi, dan AC Pak..."


Khaira dan Radit saling berpandangan, entah bagi mereka berdua terasa lucu saat membeli sebuah rumah dan masih mendapatkan bonus berupa sofa, televisi, dan AC. Akan tetapi, keduanya berusaha menahan tawa. Hanya mata mereka berdua yang saling berbicara.

__ADS_1


"Baik Pak, untuk informasinya. Kami akan kontak dengan Bapak lagi kalau kami sudah berkeyakinan untuk membeli rumah ini ya Pak." jawab Radit.


Kemudian mereka berpamitan dengan agen properti dan berniat melihat lokasi perumahan di tempat lainnya.


Sesampainya mereka berdua di dalam mobil, keduanya tergelak bersama. "Lucu banget ya Mas, beli rumah dapat hadiah. Enggak sekalian lengkap seperabotannya jadi kita berdua tinggal bawa diri dan menghuninya ya Mas." Khaira tertawa dengan tangannya menahan perutnya yang terguncang akibat terlalu lama tertawa, wajahnya pun memerah, dan matanya berair seperti orang menangis.


"Iya lucu banget Sayang. Aku ampe nahan tawa tadi waktu di sana. Untung enggak kelepasan, kalau kelepasan gimana coba." jawab Radit.


Radit menahan sejenak tawanya, lalu mulai kembali berbicara kepada Khaira. "Masih mau melihat lokasi lainnya atau udah sreg sama yang ini?"


Mendengar pertanyaan dari suaminya, Khaira langsung menghentikan tawanya. "Aku sebenarnya ini suka sih Mas, tapi harganya masuk enggak di kita? Kalau bisa cash mending kita bayar cash aja Mas, enggak perlu kredit. Tetapi dihitungkan juga karena kita masih harus membeli perabotannya." jawab Khaira sembari mengubah posisi duduknya agak menyerong sehingga ia bisa menghadap suaminya.


Radit nampak menghitung-hitung, matanya berkedip-kedip seolah ia sedang menghitung sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia pun berkata. "Cukup kok, untuk beli perabotan sekalian masih ada sisa malahan." jawabnya meyakinkan.


Khaira mengernyitkan matanya. "Serius Mas? Emang uangnya kamu sebanyak itu?" tanya Khaira dengan wajah serius.


"Iya cukup kok. Sisa dikit. Bukan uangku dong, tapi uang kita. Uangku kan juga uangmu. Uang kita berdua." jawabnya enteng.


"Aku padahal belum bekerja dan menghasilkan uang sama sekali, Mas. Jadi praktis, itu uang kamu." jawab Khaira.


Khaira menyandarkan badannya ke kursi. "Aku enggak berhak, Mas. Itu rumah kan dari Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Orang tuanya Mas... Sementara aku kan hanya sebatas Istrimu aja."


Radit melihat ekspresi di wajah Khaira, pria itu lantas menggenggam satu tangan Khaira. "Lihat aku. Kan aku sudah bilang sejak kita di Manchester, rumah itu buat kamu. Aku cuma membawakan buku tabungannya aja. Kalau kamu mau rumah ini, aku bisa cairkan dulu nanti depositonya. Kamu mau beli rumah ini kapan? Biar aku atur pencairan depositonya dulu."


"Sesenggangnya kamu aja Mas, yang penting enggak mengganggu pekerjaan kamu. Mas..."


Khaira menjeda ucapannya, ia menoleh ke arah Radit.


"Iya apa... Mau sesuatu? Bilang aja..." ucapnya.


"Kalau nanti punya rumah baru, kamar kita dicat warna pink pastel boleh?" tanya Khaira sembari menahan tawa. Ia hanya bermaksud menggoda suaminya saja.


Radit menatap serius wajah Khaira. "Yakin, mau warna pink pastel? Kalau kamu mau dan itu pilihan kamu, aku gak masalah kok. Ya, walau pun kalau bisa sih jangan warna pink dong Sayang, kesannya girly banget." jawab Radit.

__ADS_1


"Katanya dulu aku boleh request, sekarang bilangnya kalau bisa jangan warna pink. Gak konsisten deh...." jawabnya pura-pura sebel kepada suaminya.


***


Dear All,


Maaf kalau dua hari belakangan ada gangguan teknis terkait postingan.


Karena itu, urutan membaca:



Aku Cemburu


Berhadapan dengan Rival


Istrinya Mas Radit


Serius Promil


Bertemu Sahabat Lama


Because Home is Where The Love is


Filosofi Lilin


Brownies Rasa Cinta



Saya udah lapor ke admin, tetapi belum ada respons. Semoga segera dibenarkan oleh pihak Admin ya...


Terima kasih🙏🏻

__ADS_1



Visualnya Radit & Khaira. 🥰


__ADS_2