Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Dia Lagi


__ADS_3

Sebagai orang tua, Radit dan Khaira memberikan waktu bagi Arsyilla untuk melukis dan mewarnai di area Monas. Mereka memberikan ruang bagi Aryilla untuk mengenali minat dan bakatnya. “Tuh Arsyilla menikmati banget mewarnainya ya Mas … kok dia bisa tahu profesi Arsitektur itu dari mana ya Mas?” Tanya Khaira kepada suaminya itu.


Nampak Radit tengah berpikir, tetapi kemudian dia teringat sesuatu, “mungkin dari buku yang profesi itu Sayang … kan ada banyak profesi di bukunya Syilla, jadi dia teringat yang tentang Arsitektur itu. Kenapa kamu tidak setuju kalau Syilla menjadi Arsitek?”


Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, “enggak … kan apa pun cita-cita dia nanti, aku akan selalu support, Mas. Seperti katamu kan, mau jadi Dosen sepertiku atau menjadi Auditor sepertimu, bahkan jika dia memilih jenis profesi yang lainnya kan tidak masalah. Katamu jangan berekspektasi lebih kepada anak, biarkan dia melakukan apa yang dia mau, sesuatu passionnya. Iya kan?”


“Benar Sayang … nanti kan kalau anak semakin besar, kita semakin tahu minat dan bakatnya apa. Jadi ya enggak apa-apa, biarkan saja. Sekarang dia masih kecil kan biarkan dia bereksplorasi.” ucap Radit sembari memperhatikan Arsyilla dari belakang.


Memang demikianlah pola tumbuh kembang, orang tua memberikan ruang bagi anak-anak untuk bisa mengejar dan melakukan apa yang menjadi minat dan bakatnya. Mengarahkan anak untuk melakukan apa yang dia sukai dan juga memfasilitasi anak sesuai dengan minat untuk menggapai mimpinya. Itulah yang dinamakan Kooperatif Parenting. Tidak menggenggam anak dengan erat, tetapi memberi anak kepercayaan untuk melakukan apa yang mereka sukai dan tidak bersikap otoriter dengan selalu memaksakan kehendak kita kepada anak.


Pola pengasuhan otoriter terbilang kuno dan dianut oleh orang tua zaman dulu. Di mana orang tua menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling benar, dan anak harus selalu taat dan menuruti semua kemauan orang tua. Secara positif, anak mungkin akan mengikuti apa yang orang tua mau, tetapi anak justru tumbuh menjadi pribadi yang terkekang, tidak berani mengutarakan keinginannya. Sementara, anak juga adalah pribadi yang mau didengar, mau didukung untuk mencapai mimpinya. Menggapai cita-citanya. Sementara Radit dan Khaira, lebih memilih untuk mengadopsi pola kooperatif parenting, di mana dia akan memberikan ruang bagi Arsyilla. Memberikan kepercayaan kepada Arsyilla, menjadi sahabat yang baik baginya, dan juga memberikan saran-saran juga kepada Arsyilla.


Rasanya sungguh menyenangkan hanya sekadar jalan-jalan ke Monas dengan budget ekonomis, tetapi mereka benar-benar menikmati keseharian hari ini, mulai dari jalan-jalan ke Museum dengan melihat berbagai diorama dan peninggalan sejarah lainnya, melihat panorama kota Jakarta dengan menggunakan teropong, dan juga kini Arsyilla bisa menyalurkan hobinya yaitu melukis dan mewarnainya. Walaupun mewarnainya tidak sempurna, tetapi setidaknya Arsyilla bisa menyalurkan hobbinya mewarnai.


Akan tetapi, baru saja mereka mengobrol tentang Arsyilla dan pola pengasuhan, tampak Fanny yang saat itu juga berada di Monas. Entah untuk apa, tetapi wanita itu menebarkan senyuman dan bergabung dengan Khaira dan Radit.


“Hai Kak Radit, Khai … boleh gabung enggak?” ucapnya yang kemudian mengambil tempat duduk tidak jauh dari Radit.


Layaknya sinyal tanda bahaya, Khaira pun memasang mode siaga I, jujur saja dia merasa jengah saat harus bertemu lagi dengan Fanny di Monas ini. Bukankah kota Jakarta ini cukup besar? Tetapi, bagaimana mereka bisa bertemu di Monas. Khaira menghela napasnya, dan kali ini dia bersikap biasa saja seolah tidak terpengaruh, padahalnya dalam hatinya dia begitu bergemuruh.


Sementara Radit pun kian menempel dengan istrinya itu, bahkan satu tangan pria itu sibuk untuk merangkul pinggang istrinya dan satu tangan yang lain memegangi tangan istrinya, seolah memberikan pernyataan bahwa dia akan selalu bersama dengannnya, tidak akan membiarkan istrinya untuk pergi, dirinya sepenuhnya hanyalah untuk Khaira.Tidak memberikan celah bagi wanita lain untuk mendekatinya.


Menghiraukan Fanny, Radit justru bertanya kepada istrinya, “abis dari Monas, kamu mau kemana lagi Sayangku? Pengen kemana lagi, aku pasti akan mengantarmu.”


Khaira hanya menggelengkan kepalanya, “kayaknya hari ini cukup dengan Mas, abis Syilla selesai, kita pulang ke rumah ya. Katamu kan aku gak boleh capek-capek, nanti kalau aku kecapean malahan enggak baik kan,” ucapnya sembari tersenyum kepada suaminya, “Kalau aku kecapean, kamu mau mijitin aku Mas?” Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya pun tidak niat untuk diucapkan Khaira, dia hanya ingin memanas-manasin wanita yang saat duduk tidak jauh dari suaminya itu.

__ADS_1


“Retoris banget sih Sayang … tanpa kamu minta, pasti aku pijitin kok.” jawabnya sembari mengerlingkan matanya kepada istrinya.


Dalam menit yang terus berjalan, Arsyilla justru semakin menikmati kegiatan mewarnainya. Sementara Radit dan Khaira hanya duduk saling menempel dan berharap putrinya akan segera usai, sehingga mereka bisa segera pulang kembali ke rumah. Berlama-lama di tempat itu dan ada Fanny sudah pasti membuatnya tidak merasa nyaman.


Seolah jengah, akhirnya Fanny menginterupsi Radit yang saat itu tengah bercanda dengan istrinya, “Kak … kalau aku melamar di WNS Finance boleh enggak sih?” Tanya wanita itu secara sponstan.


Pertanyaan yang seolah memancing Khaira untuk marah dan cemburu. Akan tetapi, di situ Khaira justru terlihat sama sekali tidak terpengaruh. Khaira justru hanya tersenyum dan kini justru dengan sukarela menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya.


Radit menghela napasnya, sebelum menjawab Fanny, “kalau melamar langsung saja ke HRD, jangan tanya ke gue. Keliatannya lo salah tanya deh,” ucap pria itu dengan ketus.


“Kan Kak Radit, kerja di sana. Ya, sapa tau bisa tanya kan sama Kak Radit, biar bisa ketemu terus.” ucap Fanny sembari tersenyum.


Sungguh, wanita itu seolah tidak malu dengan tindakannya, berusaha menggoda seorang pria yang telah beristri dan posisi istrinya pun ada di sana. Cara wanita itu memandang Radit, cara wanita itu berbicara kepada Radit, seolah menyiratkan bahwa dia memang terang-terangan menggoda Radit.


“Tutup mulut lo itu, jika bekerja orientasi lo cuma untuk hal lain, mending gak usah bekerja.” ucap Radit dengan begitu ketus. Dalam sejarah hidupnya, mungkin kali ini Radit berkata tidak sopan dengan seseorang. Seakan emosinya sudah memuncak dengan perilaku wanita yang genit dan ganjen tersebut.


Setengah berbisik, Khaira berbicara di telinga suaminya itu, “sabar Mas … sabar … udah, enggak usah ditanggapin. Biarin aja. Yang pasti kamu di sini buat aku dan Arsyilla. Justru kalau kamu tersulut emosi, dia semakin mendapat celah untuk menggoda kamu. Biarin aja.”


Radit menghela napasnya perlahan, dan kemudian dia menatap wajah istrinya itu, “iya Sayang … tetapi, aku sungguh tidak suka. Murahan banget.”


Dengan cepat Khaira menutup mulut suaminya dengan satu telapak tangannya, “Ssstttss, enggak boleh berbicara kayak gitu, Mas … nanti adik baby nya di sini denger loh. Sama-sama berbicara itu mending bicara yang bagus. Gombalin aku aja, malahan itu lebih bagus.” ucapnya yang memperingatkan suaminya untuk tidak berbicara terlalu kasar di telinga Khaira.


Saat mendapat nasihat dari istrinya, Radit pun menganggukkan kepalanya, “iya Sayang … maaf ya. Aku emosi, abis aku sebel banget sama dia. Pria single aja banyak kok, malahan kayak gitu sama pria yang sudah beristri dan punya anak.” Radit berkata dan dia tampak begitu emosi saat ini. Sama sekali dia tidak bermaksud berkata kasar, tetapi keadaan yang memaksanya berkata demikian.


Khaira pun mengangguk, “asal hatimu tidak mencoba membuka celah, seberat apa pun godaan di depan mata, kamu tetap akan bisa menghadapinya kok Mas … hanya saja terus ingat aku dan Arsyilla, saat kamu salah langkah, aku dan Arsyilla lah yang paling akan terluka. Mungkin juga, si baby di sini juga bisa merasakannya. Akan tetapi, aku percaya bahwa kamu sejak dulu sudah berusaha sekuat tenaga, jadi teruslah berusaha Mas. Sebagaimana aku yang selalu menautkan hatiku padamu, kuharap kamu pun begitu.” Khaira berbicara dengan lirih dan berharap suaminya tetap berusaha dan tidak goyah.

__ADS_1


Hingga akhirnya, pria itu pun mengangguk samar, “kamu percaya sama aku kan?” Tanyanya dengan menggenggam tangan Khaira.


“Ya aku percaya padamu melebihi percayaku pada diriku sendiri.” Khaira menjawab dengan yakin.


“Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu beri ini, karena selamanya cuma kamu, Sayang … seluruh hidupku milikmu.” Radit berkata dengan sungguh-sungguh, rasa mendapatkan kepercayaan yang diberikan oleh istrinya nyatanya juga meningkatkan rasa percayanya, dia percaya diri bahwa apa pun yang terjadi di sana memang hanya kerikil-kerikil yang harus dia injak, bahkan harus dia singkirkan. Tidak peduli berapa banyaknya kerikil di depan, tetapi baik Radit dan Khaira sudah sama-sama berjanji untuk menghadapi semuanya di sana dengan bergandengan tangan bersama-sama. Bergandengan tangan untuk menjaga dan mempertahankan rumah tangga mereka. Memang badai yang menerpa dalam setiap rumah tangga itu bermacam-macam, tetapi saat berhasil melewati badai, justru sebuah pernikahan akan semakin kuat, cinta yang tahan uji akan tetap bertahan sekalipun badai menerpa.


 Radit tersenyum, kemudian melihat Arsyilla yang masih asyik mewarnai di atas kertas yang ditaruh layaknya sebuah canvas, “tunggu sepuluh menit lagi kalau Arsyilla belum selesai aku panggil ya Sayang? Supaya kita bisa pulang dan kamunya bisa istirahat.”


“Iya Mas Raditku Sayang … kamu khawatir banget ya kalau aku kecapean, tenang saja, kalau capek kan kamu janji mau mijitin aku. Janji loh yah Maskuw?” Khaira berbicara dan nampak menahan tawa, dia teringat bagaimana di Manchester dulu, dia acap kali menyebut suaminya sebagai Maskuw.


Sama-sama tergelak dalam tawa, pasangan muda itu benar-benar menghiraukan Fanny yang duduk tidak jauh di sisi mereka. Membuat dunia mereka sendiri dengan tawa dan canda tentunya yang penuh dengan aroma cinta. Tidak peduli, bagaimana kerikil-kerikil yang akan berserakan di depan sana, dengan kekuatan cinta yang mereka miliki, mereka percaya bisa saling menjaga dan bertahan dari apa pun juga.


...🍃🍃🍃...


Dear All My Bestie,


Aku beritahukan dulu bahwa bulan April ini akan menjadi bulan terakhir Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta ya..


Artinya bulan ini akan tamat. ☺


Teman-teman semua gabung yuk ke karya terbaruku yang berjudul Pembalasan Istri yang Tersakiti. Kisah ini menceritakan tentang kisah orang tuanya Aksara ya.



Sekuel Meminang Tanpa Cinta juga akan hadir usai lebaran ya. Mengisahkan tentang pertemuan kembali Arsyilla dan Aksara. Kalian ada usulan judul untuk kisahnya Arsyilla dan Aksara? Bisa tinggalkan di kolom komentar yahhh🥰

__ADS_1


Ikuti profil aku untuk dapat cerita seru selanjutnya. 🧡


__ADS_2