
"Kalau kalian tidak bisa memaafkan Radit, aku sangat maklum Besan. Bagaimana pun Radit bersalah, dan aku sebagai orang tua tidak akan menutupi kesalahannya,"ucap Ayah Wibi dengan bijak. Ia menghela kembali nafasnya. "Akan tetapi, masalah rumah tangga yang tidak diselesaikan berlarut-larut juga membuat Radit merasa bersalah pada Khaira hingga akhirnya ia mengalami stress seperti sekarang ini. Masih cukup bersyukur karena belum mengarah ke depresi."
Ayah Ammar pun tahu, bahkan sahabatnya memang bijaksana dan ia tidak menutupi kesalahan anaknya. Bagaimana pun salah tetaplah salah. Dan, Ayah Wibi juga sependapat bahwa tindakan Radit adalah salah.
"Iya, aku tahu. Tetapi mungkin anakku juga karena terlalu lama disakiti akhirnya Khaira menjadi acuh kepada Radit. Padahal aku tahu, Khaira adalah anak yang sensitif dan hatinya lembut. Aku lebih sedih, karena aku sama sekali tidak mengetahui rumah tangga mereka berdua bermasalah sejak awal pernikahan. Aku juga tidak tahu, jika anakku pergi ke luar negeri tanpa berpamitan dengan suaminya sendiri," ucap Ayah Ammar.
"Perempuan bila sudah tersakiti bisa melakukan apa saja, Yah. Mungkin dia merasa sudah tidak diharapkan oleh suaminya sendiri, jadi Khaira memilih pergi tanpa pesan kepada Radit," ucap Bunda Dyah.
"Benar Jeng, karena kita akan lebih mengutamakan hati dan perasaan kita. Khaira juga sangat mungkin berpikiran seperti itu. Tetapi, misal kita diposisi Khaira mungkin kita akan melakukan hal yang sama." timpal Bunda Ranti.
"Jadi sekarang gimana, kita sebagai orang tua tentu tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita. Aku sudah meminta Radit untuk melepaskan Khaira, tetapi dia tidak mau. Dia bahkan mengancam bisa mati kalau dipisahkan dengan Khaira. Sementara aku pun tidak yakin Khaira di sana akan memaafkan Radit," ucap Ayah Wibi sembari memijat pelipisnya.
"Akan tetapi, Radit dan Khaira sangat ini terpisah jarak dan waktu yang sangat jauh. Masalah mereka perlu diselesaikan segera. Jika tidak diselesaikan harus menunggu waktu hingga 2 tahun mendatang, Radit bisa semakin depresi di sini," kini giliran Ayah Ammar yang berbicara.
"Coba nanti kalau Radit sudah sadar kita tanyakan saja apa keinginannya, apa langkah yang mau ia ambil. Kita sebagai orang tua coba mendengarkan dulu, tanpa banyak menekan kemauan kita. Berikan telinga kita untuk mendengar apa yang dimaui dan direncanakan anak itu," ucap Ayah Wibi.
Di ruang perawatan VIP, Radit masih terkapar lemah di atas brankar. Sementara orang tua mereka tentu membahas bagaimana masa depan kedua anak mereka. Semalaman semua orang berjaga, akhirnya pagi hari Radit telah sadar.
__ADS_1
"Ayah ... Bunda ...." kata pertama yang ia ucapkan ketika telah sadar.
"Kamu sudah sadar, Dit? Bagaimana badanmu?" ucap Bunda Ranti yang langsung menghampiri brankar Radit.
"Sudah Bunda, Radit cuma lemes saja Bunda."
"Istirahat dulu, kamu harus pulih. Habis ini sarapan ya, Bunda suapin."
"Radit tidak lapar Bunda," ucapnya lesu.
"Ayah Ammar dan Bunda Dyah, sekali lagi maafkan Radit. Jangan pisahkan Radit dengan Khaira. Radit mau susulin Khaira, Yah... Radit harus menyelesaikan ini semua."
Ayah Ammar dan Bunda Dyah hanya menatap prihatin keadaan menantunya yang masih tergolek lemah, tetapi bersikeras untuk menemui Khaira.
"Pikirkan kesehatanmu dulu, Dit. Kamu harus sehat, harus pulih dulu. Jangan banyak pikiran, kata Dokter kamu terkena stress yang bisa memicu terjadinya depresi. Jadi tidak hanya badanmu yang harus sehat, hati dan pikiranmu harus tenang. Jiwamu juga harus sehat." Ayah Ammar menasihati banyak hal pada Radit.
Jauh di dalam kedalaman hatinya sudah pasti Ayah Ammar dan Bunda Dyah begitu kecewa dengan Radit, tetapi bagaimana pun semarah apa pun orang tua kepada anaknya, mereka tak akan tega ketika anaknya kesakitan bahkan juga tertekan secara mental. Bagi Ayah Ammar dan Bunda Dyah, Radit bukan hanya menantu, mereka telah menganggap Radit seperti anaknya sendiri, mereka juga menyayangi Radit sejak anak itu masih kecil.
__ADS_1
"Kamu harus makan, kalau mau cepet sehat. Tidak mungkin kalau kondisimu saja lemah seperti ini mau nyusulin Khaira. Apalagi menjelang akhir tahun, di Inggris mulai musim salju," cibir Bunda Ranti di dekat Radit. "Ayo, sekarang makan dulu. Bunda suapin."
Mendengar perkataan Bunda Ranti ada benarnya, maka Radit mau makan. Satu suapan pertama ia telan dengan susah payah, suapan berikutnya ia makan hingga tandas tanpa sisa karena besarnya keinginannya untuk sembuh dan segera menemui Khaira.
"Hari ini kamu masih harus rawat inap di rumah sakit, besok baru boleh pulang," ucap Ayah Wibi yang kini duduk di sebelah Radit.
"Sekarang semua orang tuamu sudah berkumpul di sini. Ada kami dan orang tua Khaira yang juga adalah orang tuamu. Semalam kami sudah berembug, kami tidak akan menyuruh kalian bercerai. Tetapi, Ayah dan Bunda semua perlu mendengar terlebih dahulu langkah apa saja akan kamu ambil. Jika langkah yang kamu ambil itu logis dan tentu bisa kamu pertanggung jawabkan kepada kami dan Khaira tentunya, maka kami akan mendukungmu," ucap Ayah Wibi kepada Radit.
"Terima kasih Ayah dan Bunda semuanya karena tidak memaksa Radit untuk bercerai." Hening sejenak. "Radit ingin menyusul Khaira ke Manchester, Ayah dan Bunda. Tentu Radit akan resign dari pekerjaan, tapi Ayah dan Bunda jangan khawatir karena selama ini Radit juga menginvestasikan sejumlah uang untuk membeli saham. Tidak hanya bermain sendiri, Radit juga menggunakan Autobot sehingga mendapat penghasilan pasti setiap bulannya. Itu cukup untuk menghidupi kami berdua selama di luar negeri. Radit ingin meminta maaf secara langsung kepada Khaira, dan menjaga Khaira selama di sana. Radit mau menebus dosa dan kesalahan Radit selama ini."
"Lalu, bagaimana jika Khaira tidak memaafkanmu?" tanya Ayah Ammar yang menelisik pada Radit.
"Radit akan berusaha mati-matian, hingga Khaira memaafkan Radit, Yah. Radit mau berjuang dan menunjukkan perasaan dan kesungguhan Radit pada Khaira," ucapnya dengan sepenuh hati.
"Baiklah kalau begitu. Sembuhkan dirimu dulu. Harus benar-benar pulih, tidak hanya asam lambungmu yang sembuh, secara psikis dan mental kamu juga harus sembuh. Jangan sampai stress yang kamu alami berubah menjadi depresi karena ketika depresi itu datang, justru akan lebih sulit untuk disembuhkan. Bahkan kamu harus ke psikolog untuk menyembuhkan tekanan dan gangguan mental yang kamu alami." Ayah Ammar sekali lagi berbicara kepada Radit.
"Iya Ayah, Radit akan berusaha sembuh dan pulih. Tapi secara psikis, Radit tidak tahu bagaimana sembuhnya, Yah. Mungkin Radit benar-benar baru bisa sembuh saat Khaira sudah memaafkan Radit." ucapnya sembari tertunduk lesu di hadapan orang tua dan mertuanya.
__ADS_1