
"Kata mereka, kamu Papa Muda Idaman loh Mas...." bisik Khaira kepada suaminya.
Seketika Radit pun nampak tersenyum dan mengedikkan bahunya. "Biarin aja Sayang ... yang penting bagiku itu penilaian kamu. Itu jauh berharga buatku."
Mendengar jawaban dari suaminya, Khaira lantas menahan tawa. "Di mataku, kamu memang suami terbaik buatku dan Papa terbaik buat Arsyila." ucap Khaira sembari berbisik kepada suaminya lagi.
Bagaimanapun di sana ada teman-teman Radit lainnya, sehingga Khaira tidak mungkin berbicara terlalu keras. Saat jam kerja tinggal 15 menit, Miko kembali berjalan mendekati meja kerja Radit.
"Hei Khai, gimana kabarnya? Kalian bertiga ini keluarga yang bahagia ya...." ucapnya sembari mengamati Khaira dan juga Arsyila.
"Baik Kak ... terima kasih." hanya itu yang Khaira ucapkan karena dia menjaga perasaan suaminya. Jangan sampai suaminya marah karena Khaira menanggapi perkataan Miko.
"Kalau ntar gue berkeluarga, gue pengen keluarga gue kayak lo, Dit. Bahagia banget...." Kini giliran Miko yang berbicara kepada Radit.
Radit pun hanya tersenyum sekilas. "Amin ... semoga lo juga dikaruniai Tuhan keluarga yang bahagia." jawabnya.
"Amin ... ya udah, lo turun duluan tinggal lima menit. Balik dulu ya Khai...." pamitnya kepada Radit dan Khaira.
Sementara hanya tersenyum, berhadapan dengan Miko mau pun pria lainnya memang membuat Khaira irit berbicara. Dia tidak mau membuat suaminya justru uring-uringan. Menjaga hati suami, jauh lebih penting bagi Khaira.
Beberapa menit berselang, giliran teman-teman satu ruangan Radit pun berpamitan untuk pulang. Maka, Radit pun juga bergegas merapikan meja kerjanya. Khaira tertawa melihat beberapa foto mereka yang terdapat di meja suaminya. Foto saat mereka di Paris, foto saat mereka di Candi Prambanan, dan foto Baby Arsyila.
Mengamati foto-foto kenangan mereka membuat Khaira tersenyum dalam hati. Baginya seorang suami yang menaruh foto keluarganya di meja kerjanya adalah suami yang cinta keluarga.
Radit pun mengamati Khaira yang nampak tersenyum mengamati berbagai foto di meja kerjanya. Pria itu perlahan merangkul bahu istrinya. "Kenapa Sayang kok senyum-senyum?" tanyanya dengan menatap wajah istrinya dari samping.
__ADS_1
Khaira hanya menggelengkan kepalanya perlahan. "Fotonya banyak banget, ada foto-foto kita berdua. Kalau teman-teman kamu lihat foto-foto ini gimana Mas?" tanyanya.
"Biarin aja Sayang. Lagian aku sering kangen sama kamu dan Arsyila, jadi kadang sambil ngaudit, sambil mandangin foto-foto ini." jawabnya spontan.
"Banyak juga tempat-tempat yang kita datangi berdua ya Mas ... dari dalam hingga luar negeri." Ucap Khaira sembari mengamati foto-foto tersebut.
"Kamu pengen kemana lagi Sayang? Ada tempat yang pengen kamu datangi?" tanya Radit kepada istrinya itu.
Khaira menggelengkan kepalanya. "Belum ada lagi tempat yang ingin aku datangi." jawabnya.
Radit pun tertawa. "Kamu tidak pengen ke Cappadocia Sayang? Naik balon udara di sana?" tanyanya.
"Alih-alih ke Cappadocia, aku justru pengen ke Istanbul, Mas... Jalan-jalan di sepanjang Laut Bosporus. Satu-satunya laut yang berada di dua benua, Eropa dan Asia. Seru pasti." ucap Khaira yang sembari membayangkan indahnya berjalan-jalan di sepanjang Laut Bosporus.
Mendengar ucapan sang istri, agaknya Radit rasanya ingin mewujudkan keinginan istrinya tersebut. "Mau ke sana Sayang? Aku atur cuti dulu." ucapnya begitu meyakinkan.
Apa yang dikatakan oleh istrinya memang benar dalam beberapa bulan terakhir, Radit terlalu banyak mengambil cuti. Mulai dari saat kakinya patah hingga saat Khaira dikuretase. Untungnya Ayah Wibi memberikan kelonggaran kepada Radit untuk bisa bekerja dari rumah. Sehingga, walaupun sakit Radit tetap bekerja dari rumah.
"Ya sudah ... tahun depan ya, kita jalan-jalan lagi. Pulang yuk?" ajaknya kepada istrinya untuk pulang ke rumah.
Dengan segera Khaira menggendong Arsyila, sementara Radit membawa barang-barang mereka yang cukup banyak. "Kita pulang ya Syila Sayang ... Mandi di rumah terus bobok ya." ucap Khaira sembari mengajak anaknya mengobrol.
Radit begitu bahagia melihat Khaira dan Arsyila yang mendampinginya bekerja. Bekerja membawa Arsyila cukup seru juga bagi Radit. Sehingga di lain waktu, saat Khaira mengajar dia ingin membawa Arsyila bekerja lagi.
Ketika mereka turun dengan menggunakan lift, ternyata di luar gerimis. "Kamu tunggu di lobby aja Sayang ... aku ambil mobilnya dulu, jangan sampai kamu dan Arsyila kehujanan. Tunggu aku ya...."
__ADS_1
Khaira pun dan menunggu suaminya yang mengambil mobilnya terlebih dahulu, tidak sampai lima menit, suaminya telah memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk. "Yuk Sayang ... gerimisnya lumayan nih."
"Kamu enggak kehujanan kan Mas? Takut kalau kamu sampai sakit." ucapnya yang mengkhawatirkan suaminya supaya tidak masuk angin.
Radit segera menggelengkan kepalanya. "Enggak Sayang ... kamu mengkhawatirkan Suami kamu ini ya? Aku enggak kehujanan kok, badanku saja masih kering begini." ucapnya sembari mengedikkan bahunya.
"Sudah tentu aku khawatir bila kamu sakit Mas ... sehat selalu ya Mas ... jangan sakit lagi." ucap Khaira.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku bakalan sehat kok. Kita pulang ya. Sudah sore, gerimisnya gini bikin pengen sesuatu deh Sayang." ucapnya yang tentunya memberikan kode kepada istrinya.
"Pengen apa Mas? Mampir aja sekalian kalau pengen sesuatu." jawab Khaira dengan polosnya.
Rupanya sifat polos Khaira memang belum berubah. Berkali-kali suaminya memberinya kode, tetapi Khaira selalu menafsirkannya secara harfiah. Akan tetapi, justru itulah yang membuat Radit bahagia karena istrinya justru terlihat menggemaskan di matanya.
"Kalau yang aku pengen gak bisa mampir Sayang ... Cuma kamu yang bisa ngasih." ucapnya sembari mengerlingkan matanya.
Beberapa saat kemudian barulah Khaira paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Segera saja Khaira mendaratkan cubitan di pinggang suaminya yang membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Aww ... sakit Yang." ucapnya sembari memegangi pinggangnya.
"Abis kamu itu modus kok Mas ... kan jadi sebel." jawab Khaira sembari mengerucutkan bibirnya. "Syila Sayang ... besok kalau besar cari suaminya yang menyayangi kamu tulus seperti Papa, tapi jangan yang modus kayak Papa ya. Biar Papa aja yang modus." ucap Khaira sembari menatap wajah Arsyila.
Radit justru tertawa terbahak. "Ssstttss ... jangan ngasih tahu Syila kayak gitu dong Mama. Nanti dia dengar loh. Gini-gini, kamu dimodusin juga seneng kan Sayang?" tanyanya sembari mengmudikan mobilnya membelah sorenya Ibukota yang saat itu tengah gerimis.
Khaira pun ikut tertawa. "Abisnya gimana lagi Mas ... Kamu mau modusin cewek lain? Sampai berani, angkat kaki dari rumah." ucap Khaira dengan nada bicara yang serius.
__ADS_1
Radit bergidik ngeri mendengar ucapan istrinya itu. "Gak mungkin Sayang ... aku cuma mau kamu. Apapun yang terjadi, aku bakalan kayak gini. Gembok cintanya aja udah aku berikan ke kamu."
"Makanya jangan aneh-aneh ... kalau sampai berani kita hukum Papa ya Syila." kali ini Khaira mengikutsertakan anaknya yang sejatinya belum paham dengan apa yang mereka bicarakan.