
Radit dan Khaira akhirnya memutuskan menambah satu hari liburan mereka di Kota Paris. Keesokan harinya, mereka menuju Kota Vienna atau Wina yang merupakan Ibu Kota negara Austria.
Alasan Radit mengajak Khaira ke Vienna karena kota ini adalah salah satu kota terpenting di Eropa yang menyimpan begitu banyak panorama yang menakjubkan. Di berbagai penjuru kota ini mulai dari pelosok hingga pusat kota semua menyuguhkan keindahan bangunan dan kesenian yang sangat melegenda.
Lantaran Vienna memiliki banyak museum dan Radit adalah satu orang yang menyukai perjalanan ke Museum maka di Vienna ini, Radit memiliki agenda untuk mengajak Khaira mengunjungi museum dan juga Istana Schonbrunn yang merupakan Istana tempat tinggal raja di masa kerajaan Austria.
Setelah cek in di sebuah hotel yang berada di pusat kota, Radit dan Khaira memulai perjalanan mereka menuju Istana Schonbrunn, mereka disuguhi dengan bangunan istana yang megah, indah, dan juga begitu luas. Istana ini berisikan sejarah besar bangsa Austria dan istana ini masih gunakan sampai sekarang ini saat musim panas.
"Gimana suka enggak ke sini?" tanya Radit kepada Khaira yang terlihat mengamati keindahan bangunan bersejarah tersebut.
"Suka Mas, suka banget malahan. Gaya arsitekturnya bagus ya Mas."
"Gak nyangka ya bisa sampai sini. Ini kalau di Jawa disebut Keraton nih Sayang. Kan tempat tinggal raja-raja Jawa namanya Keraton kan?" tanya Radit kepada Khaira.
"Iya, Keraton. Ini juga tempat tinggal raja Austria sih Mas, cuma ditempati saat musim panas aja." ucap Khaira sembari mengelilingi area istana yang sangat luas itu.
"Kalau balik ke Indonesia, jalan-jalan ke Keraton yuk? Mau enggak." Radit kembali ingin mengajak istrinya jalan-jalan ke Keraton.
Tanpa banyak berdebat, Khaira pun mengangguk setuju untuk jalan-jalan ke Keraton bersama Radit.
"Eh, tapi kamu masih punya satu janji kepadaku loh Mas. Inget enggak?"
"Janji apa?"
"Waktu ke Kota Tua, Mas kan pernah ngajakin aku backpackeran ke Jogja buat beli nasi kucing di Angkringan. Inget enggak?"
Radit terkekeh geli mendengar ucapan Khaira, ia sungguh tak menyangka Khaira masih mengingat janjinya untuk mengajaknya ke Jogjakarta. "Iya, nanti kalau pulang ke Indonesia kita jalan-jalan ke Jogja ya, beli nasi kucing di Angkringan sama jalan-jalan malam di Malioboro kan? Aman Sayang."
Khaira pun mengangguk setuju.
"Habis ini kita ke Museum ya? Hmm, akhirnya aku kesampean ngajakin cinta masa kecil ke Museum. Bukan Museum di Jogja lagi loh ini, tapi aku membawanya ke Museum di kota Vienna. Keren kan?"
"Hmm, iya. Kamu memang keren kok Mas." ucap Khaira sembari menggoda suaminya itu.
Puas mengelilingi Istana Schonbrunn, kini Radit dan Khaira mengunjungi Imperial Carriage Museum Vienna. Di Museum ini menyimpan berbagai kereta kekaisaran yang tersimpan sangat rapi di museum ini.
Kereta antik yang sudah dipugar atau direplikasi di simpan dalam museum ini.
"Keretanya terlihat hidup ya Mas?" Khaira berbicara sembari memperhatikan berbagai kereta kekaisaran yang beranekaragam bentuknya.
Bahkan setiap kereta memiliki sejarahnya sendiri. Namun yang paling menyita perhatian Khaira adalah kereta berwarna emas yang sangat megah dengan kepemilikan Empress Elisabeth of Austria.
"Kenapa Sayang, kereta ini yang paling bagus ya?"
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya, bagus banget. Seperti kereta di film Cinderella ya Mas. Bentuknya, warnanya gold. Mirip banget."
__ADS_1
"Iya Sayang. Seneng enggak jalan-jalannya hari ini?"
"Seneng Mas, seneng banget. Tapi kok aku mulai capek ya udah berapa jam jalan kaki dan muter-muter terus." Khaira mengeluh kecapean kali ini.
"Ya sudah, balik aja ke hotel ya. Tapi mampir makan dulu. Mau?"
"Mau, aku juga laper."
Nyaris setengah hari lebih Radit dan Khaira, mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Kota Vienna, sekarang keduanya memilih mengisi perutnya di salah satu kafe yang berada di depan hotelnya.
Keduanya memilih makanan khas Vienna seperti Wiener Schnitzel (irisan tipis daging sapi muda yang dilapisi tepung roti dan kemudian digoreng dengan mentega atau minyak), Sachertorte yang merupakan hidangan kebanggaan ibukota Austria (kue bolu cokelat pekat yang dibuat dengan lapisan tipis selai aprikot yang atasnya dengan lapisan cokelat), dan Potato Goulash (makanan khas Austria yang berasal dari kota Viena, terbuat dari daging sapi, saus, dan kentang.)
Begitu hidangan yang telah mereka pesan telah tersaji di depan mereka, Radit segera mengambilkannya terlebih dahulu untuk Khaira. "Makan yang banyak Sayang."
"Eh, harusnya aku yang ngambilin buat kamu, Mas. Kok malahan aku yang diambilin sih."
"Gak papa, ini enggak berat cuma mengambilkan makanan. Yang berat itu rindu, Sayang. Mau disuapin juga?" Radit justru menawarkan untuk menyuapin istrinya itu.
Sontak Khaira langsung menggelengkan kepalanya. "Itu kan Dylan yang bilang, Mas. Emang bagi Mas Radit, rindu itu juga berat? No. Enggak Mas, jangan disuapin. Malu...." sergahnya dengan cepat.
Radit justru tertawa melihat wajah Khaira yang nampak malu. "Rindu sama kamu lebih berat, Sayang. Nungguin kamu kuliah aja udah kangen kok, rindu serindu-rindunya. Gak papa, pasangan di sini justru melakukan lebih. Kan cuma nyuapin enggak yang lain."
"Jangan Mas, aku bisa sendiri." Tolaknya dengan tegas.
***
30 menit berlalu.
Radit dan Khaira telah kembali ke dalam hotel untuk beristirahat dan keesokan harinya mereka akan kembali ke London, setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Manchester.
"Seneng enggak Mas sama jalan-jalan singkat kita ini?" tanya Khaira sembari menaruh sling bag dan melepas jaket tebalnya.
"Seneng dong. Seneng banget malahan. Kamu seneng?" Pria itu balik bertanya kepada Khaira.
Radit mengambil duduk di sofa yang berada di kamar hotel itu, sementara Khaira masih berdiri melepas syal dan sepatunya.
"Sini Sayang..." Radit memberi kode supaya istrinya menyusul duduk dengannya, tetapi anehnya pria itu justru menepuk pahanya seolah memberi isyarat supaya Khaira duduk di pangkuannya.
Khaira mendekat, tetapi ia enggan. Gadis itu masih berdiri.
Radit justru menarik tangan Khaira dan membuatnya terduduk nyaman dalam pangkuannya.
"Eh Mas, ini...." Khaira terkesiap dengan posisi yang membuatnya tidak nyaman.
"Gak papa, aku kan suamimu." Ucapnya seraya mencuri ciuman di pipi Khaira yang justru membuat Khaira salah tingkah.
__ADS_1
Khaira mencoba terlepas dari suaminya itu, "Aku mandi dulu Mas, gerah. Tadi kan abis jalan-jalan."
"Mandinya nanti aja sekalian. Sayang, kota Vienna ini indah ya?"
Khaira mengangguk setuju. "Iya indah..."
"Tetapi kamu jauh lebih indah Sayang."
Tanpa menunggu aba-aba, Radit kembali menikmati bibir semanis madu milik Khaira. Lidahnya menerobos masuk mengabsen setiap kedalaman yang tersembunyi di rongga mulut yang hangat dan manis itu.
Puas mengeksplor kedalaman rongga mulut Khaira, Radit melanjutkan perjalanan bibirnya menyusuri leher Khaira. Yang justru membuat sekujur tubuh Khaira bagai tersengat arus listrik sebesar 220 volt.
"Sayang, boleh?" Suara lembut nan parau itu keluar dari mulut Radit, bagaimana pun ia meminta izin terlebih dahulu kepada Khaira.
"Kalau sakit gimana Mas?" Tanya Khaira di tengah-tengah usahanya menahan serangan dari Radit.
"Aku pelan-pelan Sayang, nanti aku pijitin. So?"
Belum sampai Khaira memberinya jawaban, Radit segera membawa istrinya menuju tempat tidur. Ia mengungkung titisan Hawa itu dengan terus menikmati bibir yang begitu manis layaknya serpihan glukosa. Lidahnya mendesak masuk mengeksplorasi kehangatan di dalam rongga mulutnya. Keduanya sama-sama limbung dengan permainan lidah panas mereka.
Bibir pria itu beralih pada leher jenjang istrinya, menyelusuri leher itu, disertai jemari yang berulah melepaskan kancing kemeja yang dimiliki Khaira. Tangannya mulai bergerilya menangkup kedua bukit kembar yang seperti buah persik itu. Bermain di sana, hingga membuat Khaira melenguh seketika.
"Mas...." panggilnya kepada sang suami yang seolah memberikan serangan bertubi-tubi itu.
"Hmm...." sahut Radit di sela-sela permainan bibirnya yang panas. "Nikmati saja Sayang, aku yang bergerak." lanjutnya, membuat Khaira seolah kehilangan kesadarannya.
Merasakan bahwa istrinya telah siap, Radit mencoba mendorong perlahan, kembali menyatukan raga keduanya merengguk kembali nektar cinta. Dibarengi detak jantung yang lebih cepat dari biasanya dan cucuran keringat yang disebabkan panas dari dalam. Keduanya bersatu, saling menerima dan saling memberi.
"Khaira...."
Pria itu menggeram ketika telah sampai menuju puncak kepuasan keduanya.
Seketika Radit jatuh di atas tubuh istrinya dengan nafas yang masih memburu. "Aku benar-benar Cinta Kamu, Sayang. So please, stand by me."
Keindahan kota Vienna yang memiliki 27 istana kekaisaran dan berbagai bangunan bersejarah Gothic dan Romawi ini kembali menjadi saksi perjalanan cinta bagi Radit dan Khaira. Pasang surutnya hubungan telah mereka jalani, sampailah keduanya pada kehidupan rumah tangga yang begitu bahagia.
***
Dear All,
yang sudah baca ini like, komentar, & vote ya...
Aku hanya ingin menulis kehidupan rumah tangga yang relate dengan pasangan milenial seperti Radit dan Khaira. Percayalah, jempol & jejak kalian sangat berarti bagiku.ππ
Happy Readingππ
__ADS_1