
Sendratari Ramayana yang dilihat oleh Radit, Khaira, dan beberapa penonton lainnya begitu membekas dalam hati mereka. Tarian yang dibawakan begitu apik, musik yang digarap juga begitu bagus. Ditambah panggung terbuka di pelataran Candi Prambanan membuat pertunjukan itu terlihat sangat indah dan terkenang di hati.
"Sayang, kamu tidur aja di mobil. Kalau sudah sampai hotel aku bangunin." ucap Radit begitu keduanya telah masuk ke dalam mobil.
Khaira justru menggelengkan kepalanya. "Aku temenin, Mas. Nyetir sendirian dan udah malam. Aku belum ngantuk kok." jawabnya sembari menatap jalanan kota Jogjakarta yang masih saja ramai menjelang jam 22.00 malam.
"Makasih ya Sayang, udah mau nemenin. Perut kamu enggak papa Sayang? Seharian sama sekalian enggak rebahan loh." tanya Radit dengan khawatir karena seharian mereka beraktivitas di luar dan Khaira sama sekali tidak rebahan sejak pagi.
"Enggak ... Baby A baik-baik aja kok Mas. Kan abis ini nyampe di hotel, aku bisa langsung rebahan." jawab Khaira sembari tertawa.
Tidak menunggu lama, Radit dan Khaira pun telah sampai di hotel. Begitu juga dengan orang tua dan mertuanya juga tiba di hotel itu.
"Langsung istirahat, Khai ... banyakin istirahat. Besok siang kita balik lagi ke Jakarta." kata Bunda Ranti yang langsung diangguki oleh Khaira.
"Iya Bunda ... ya sudah Ayah dan Bunda semuanya kami istirahat ya." pamit Khaira kepada Ayah dan Bundanya.
Begitu telah sampai di dalam kamar, Bumil itu membersihkan diri sejenak. Setelah dengan segera dia merebahkan dirinya di atas kasur empuk dan selimut yang tebal. Lampu kamar pun telah dipadamkan hanya lampu di sisi nakas tempat tidur yang dibiarkan menyala.
"Istirahat Sayang ... udah malam banget. Met malam Sayang...." ucap Radit yang membawa tubuh istrinya untuk tidur dalam pelukannya sembari memberikan ciuman selamat malam di keningnya.
Tanpa menunggu waktu lama, dalam pelukan suaminya begitu cepatnya Khaira terlelap. Tidur menjadi lebih nyenyak setiap kali suaminya memeluknya. Hingga akhirnya fajar kembali menyapa, pagi pun kembali tiba.
Kali ini Radit yang bangun lebih pagi. Membiarkan istrinya masih bergelung di bawah selimut. Radit sangat tahu, kemarin istrinya pasti kelelahan beraktivitas seharian karena itu dia membiarkan istrinya untuk bangun lebih siang.
Menjelang jam 8 pagi barulah Khaira mulai terbangun. Dia perlahan menyingkap selimutnya, duduk sejenak bersandar di headboard, dan mengumpulkan seluruh fokus pandangannya.
__ADS_1
"Pagi Sayang...." sapa Radit begitu istrinya itu sudah bangun.
Khaira tersenyum, lalu merapikan rambutnya. "Pagi Mas ... kok aku enggak dibangunin sih?" tanya Khaira begitu baru saja bangun tidur.
"Kemarin kamu enggak istirahat sama sekali, jadi sekali-kali bangun agak siang gak papa. Kamu sarapan sekarang atau mandi dulu?" tanya Radit kepada istrinya itu.
"Kamu udah mandi, Mas?" tanya Khaira kepada suaminya itu.
Dengan segera Radit menganggukkan kepalanya. "Iya, sudah ... kenapa? Mau mandi bareng?"
Khaira menggelengkan kepalanya. "Enggak, kan aku cuma tanya. Ya sudah, aku mandi dulu bentar ya." ucapnya sembari turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Kurang lebih 20 menit kemudian, Khaira keluar dengan wajah yang segar dan siap turun ke bawah untuk sarapan bersama suaminya.
"Pagi Ayah ... Bunda...." sapa Radit dan Khaira begitu mereka telah sampai di restoran tempat hotelnya menginap.
"Iya Bunda ... abis bersih-bersih Khaira langsung tidur kok, Bun. Tanya saja sama Mas Radit, bahkan Khaira bangun kesiangan." ucap Khaira yang baru saja mengambil tempat duduk di sisi Bundanya.
"Ya sudah. Bunda tuh khawatir, seharian kamu aktivitas. Takut pinggang kamu sakit, atau perut kamu kenceng. Ibu Hamil jangan terlalu kecapean." lagi ucap Bunda Dyah.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda ... terima kasih sudah perhatian sama Khaira."
"Karena Bunda sayang kamu. Sekalipun kamu sudah menikah, tetapi kamu tetap putri Bunda." ucap Bunda Dyah yang membuat Khaira begitu terharu.
"Sudah-sudah, sekarang lebih baik ayo sarapan. Khaira juga lapar, Bun." ucap Ayah Ammar yang meminta istrinya untuk membiarkan Khaira sarapan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mau sarapan apa Sayang? Aku ambilin." kali ini Radit yang menawarkan kepada Khaira untuk mengambilkan sarapan.
Khaira menyentuh tangan suaminya. "Aku ambil sendiri aja, Mas ... aku masih bisa. Yuk, kita ambil sarapannya."
Akhirnya keduanya mengambil sendiri menu sarapan mereka, tak lupa Radit meminta segelas air hangat kepada pelayan untuk membuat susu ibu hamil bagi Khaira.
Setelah sarapan, semuanya melanjutkan aktivitas mereka dan tidak lupa packing untuk dibawa pulang ke Jakarta siang hari nanti.
Begitu mereka telah kembali ke kamar, sembari Khaira sibuk menata koper mereka, Radit pun juga membantu istrinya itu.
"Apa lagi yang perlu dibantu Sayang? Jangan terburu-buru, biar tidak ada yang ketinggalan." ucapnya yang mengingatkan istrinya.
Khaira menoleh melihat suaminya itu. "Enggak ada kok, ini semua tinggal aku tata dan masukkan ke koper." jawab Khaira sembari tangannya melipat baju dan memasukannya ke dalam koper.
Setelah koper mereka siap dan tinggal menunggu waktu ke bandara. Keduanya memilih duduk bersama di balkon yang berada di kamar mereka.
"Kamu seneng enggak baby moon ini? Walaupun sama keluarga sih, kayak family trip." tanya Radit kepada istrinya.
"Seneng lah Mas ... ada Ayah dan Bunda juga gak apa-apa. Kan sekalian family time. Kemarin waktu liat Sendratari Ramayana Ayah dan Bunda juga nampak bahagia, aku lihat jadi ikut seneng." ucap Khaira.
Radit nampak melihat kepada istrinya. "Iya, Ayah dan Bunda kita semalam keliatan seneng dan menikmati banget. Aku yang lihat juga seneng. Ya sudah, kita turun yuk ... sebentar lagi ke bandara. Balik lagi ke Jakarta. Liburannya udahan dulu ya, di Jakarta tinggal persiapan dan menunggu Baby A lahir."
"Iya... makasih ya Mas, udah diajakin liburan. Refreshing sebelum melahirkan beberapa bulan lagi. Juga gak sabar bentar lagi ketemu sama Baby A." ucap Khaira sembari mengelus perutnya. "Rumah kita akan semakin berwarna dengan lahirnya Baby A nanti Mas... bayi lahir itu membawa banyak kebahagiaan. Enggak sabar deh jadinya merasakan rumah kita makin berwarna, ada tangisan bayi, kita juga berubah peran gak hanya sebatas suami dan istri, tetapi juga jadi Mama dan Papa."
Radit mendengarkan setiap ucapan istrinya itu. "Bener banget ... kita jalani dan nikmati bersama setiap momennya ya. Belajar bersama, menjalani bersama. Mempersiapkan semuanya untuk Baby A. Udah pengen gendong Baby A...." ucap pria itu dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, kita jalani dan nikmati momen menjadi orang tua baru."