Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
37 Weeks


__ADS_3

Tidak terasa usia kehamilan Khaira telah memasuki usia 37 Weeks, itu artinya tidak lama lagi keduanya akan resmi menjadi orang tua dan Baby A tidak lama akan segera lahir ke dunia.


Sore ini usai Radit pulang kerja, keduanya mengunjungi Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk mengecek kembali kandungan dan posisi bayi. Apabila memungkinkan Khaira memilih untuk bisa melahirkan secara normal. Walaupun suaminya pun tidak mempermasalahkannya. Mau normal dan Caesar, bagi Radit istrinya adalah Ibu yang hebat. Ibu yang sudah memberi diri dengan sukarela untuk mengandung, melahirkan, dan nanti membesarkan anaknya.


Setelah menunggu antrian dan pemeriksaan berat badan dan tekanan darah, kini Radit dan Khaira kembali menemui Dokter Indri, Dokter yang dipercaya mereka sejak pemilihan kontrasepsi hingga mengandung, untuk melahirkan nanti keduanya juga ingin ditangani langsung oleh Dokter kepercayaan mereka ini.


"Selamat sore Ibu Khaira dan Bapak. Bagaimana sehat Bu?" sapa Dokter Indri kepada mereka berdua.


"Alhamdulillah baik Dokter. Kami juga sehat." jawab Radit dan Khaira serempak.


"Kita lakukan cek USG dulu ya Bu, supaya kita bisa melihat posisi bayinya." ucap Dokter Indri dan mempersilakan Khaira untuk naik ke brankar dan melakukan cek dengan menggunakan USG.


Seperti biasa USG Gell pun dioleskan di atas perut Khaira. Lalu, alat USG pun mulai digerakkan. "Selamat datang di usia kehamilan 37/38 weeks ya Bu. Berat badan bayi sekitar 2,9 kilogram. Sementara masih ada kurang lebih 2 minggu, jadi kemungkinan saat lahir bisa 3 kilogram bayinya nanti Bu. Jika merasa lapar, bisa makan dengan porsi kecil, tetapi lebih sering tidak apa-apa ya Bu."


Radit dan Khaira mendengarkan penjelasan Dokter Indri itu dengan sangat serius.


"Bagaimana kondisi baby nya ya Dok? Saya sebenarnya ingin melahirkan secara normal nanti, Dok. Apakah kriteria untuk melahirkan secara normal sudah terpenuhi ya Dok?" tanya Khaira kepada Dokter Indri yang masih menggerakkan alat USG di atas perutnya.

__ADS_1


"Baby nya secara berat badan normal ya Bu. Tidak ada lilitan juga, di layar bisa dilihat kan kalau tidak ada lilitan di badan bayi, lalu posisi kepalanya juga sudah di bawah. Sudah mulai masuk ke panggul. Letak plasentanya juga tidak menghalangi jalan lahir. Jadi, menurut saya bisa melahirkan normal ya Bu." ucap Dokter Indri.


Khaira nampak lega mengetahui posisi bayinya yang berat badannya normal dalam artian tidak terlalu besar, tidak ada lilitan, dan sekarang sudah masuk panggul.


Setelah pemeriksaan dengan alat USG, kini keduanya melanjutkan sesi konsultasi dengan sang Dokter.


"Karena kepala bayi sudah masuk panggul, perbanyak jalan kaki Bu. Minum air putih yang cukup atau minum air kelapa juga diperbolehkan ya. Melakukan hubungan suami istri boleh asalkan tidak menekan perut. Jadi HPL itu nanti bisa maju atau mundur ya Bu. Ibu harus lebih peka, bila perutnya kencang tetapi setelah sekian lama rasa sakitnya tidak datang lagi itu hanya kontraksi palsu. Sementara kalau sakit kencang dan sakitnya datang lebih rutin dan sakitnya bertambah, itu berarti waktu melahirkan sudah segera tiba. Saat kontraksi semakin bertambah itu, Ibu bisa langsung berangkat ke Rumah Sakit. Saya akan membantu Ibu untuk melahirkan nanti. Biasanya bisa ditunggu hingga 12 jam, tetapi jika tidak tambah pembukaannya maka kita bisa melakukan Induksi ya Bu."


Penjelasan Dokter Indri yang sangat detail membuat Khaira begitu puas dengan konsultasi yang didapat. Terlebih dia masih sangat awam, sehingga pengetahuan seperti ini sangat berguna untuknya.


"Oh, iya Bu. Mulai siapkan tas yang berisi keperluan bayi dan Ibu juga. Jika sewaktu-waktu kontraksi itu datang, tinggal angkat tasnya. Karena keadaan panik dan masih harus mempersiapkan tas justru hasilnya kacau. Jadi lebih baik disiapkan mulai sekarang. Sambil menunggu masa kelahiran bisa disiapkan tas untuk Ibu dan bayi. Bisa membuat checklist apa saja yang dibutuhkan." tambahan dari Dokter Indri. "Masih ada yang ingin ditanyakan?"


Dokter Indri pun mengerti tidak mudah bagi para Ibu yang akan melahirkan anak untuk pertama kalinya. Memang benar, setiap wanita yang akan melahirkan membutuhkan persiapan fisik dan mental.


"Tidak apa-apa Bu. Semua wanita yang akan melahirkan pasti akan merasakan semua itu. Akan tetapi, ya yang Ibu sampaikan benar, mau tidak mau harus dihadapi. Bapak juga dipersiapkan fisik dan mentalnya untuk menemani Ibu Khaira nanti. Support dari suami itu sangat penting bagi wanita yang akan melahirkan. Sabar juga, karena kesakitan bersalin itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata."


Radit menganggukkan kepalanya. "Iya Dok, saya juga sebenarnya cukup cemas karena ini pengalaman pertama. Akan tetapi, saya akan mendampingi Istri untuk melahirkan nanti."

__ADS_1


Setelah sesi pemeriksaan dan konsultasi usai, keduanya memilih kembali untuk pulang ke rumah.


"Jadi gimana Sayang, kamu sudah siap?" tanyanya sembari menggandeng tangan Khaira berjalan keluar dari Rumah Sakit.


Khaira pun menoleh kepada suaminya itu. "Ya siap-siap enggak siap Mas. Akan tetapi, harus dihadapi. Euhm, deg-degan sih Mas." ucap Khaira sembari menghela nafasnya.


Radit kini merangkul istrinya itu. "Kata Dokter itu wajar kok, semua wanita yang akan melahirkan juga merasakan hal yang sama. Kita jalani bersama ya. Aku selalu ada buat kamu dan Baby A. Dijalani karena pada akhirnya kita akan bahagia karena akan bertemu dengan buah cinta kita berdua Sayang."


Khaira menganggukkan kepalanya. "Selalu temani dan dampingi aku saat melahirkan dan menyambut Baby A nanti ya Mas. Aku sangat menbutuhkanmu, Mas ... tidak akan bisa aku menghadapinya sendiri."


"Iya Sayang, aku akan menemani kamu, mendampingi kamu. Kita sambut Baby A berdua ya. Seperti yang selalu aku katakan kepadamu dulu, aku akan selalu menjadi support system buat kamu. Aku akan selalu ada buat kamu, susah mau pun senang, sehat mau pun sakit, kita jalani bersama. Aku yakin kamu pasti bisa Sayang." ucap pria itu dengan penuh kesungguhan.


"Baby A sehat-sehat di perut Mama ya, nanti kalau sudah waktunya kita berjuang sama-sama ya Sayang. Papa akan mendampingi Mama untuk menyambutmu lahir ke dunia nanti. Papa dan Mama sudah pengen memeluk dan menggendong kamu. Berjuang sama-sama ya Baby A nya Papa dan Mama." ucap Radit sembari mengelus lembut perut istrinya itu.


Entah ikatan apa, dari dalam perut rupanya Baby A juga merespons dengan menendang perut Khaira.


"Eh, Mas ... Baby A nendang-nendang nih. Dia merespons perkataanmu, Mas. Sini tanganmu, Mas. Nih, masih bergerak babynya." ucap Khaira sembari menaruh tangan suaminya di perutnya.

__ADS_1


"Hai Baby A Sayang ... kamu dengar ucapan Papa ya? Jadi, nanti kita berjuang sama-sama ya Sayang. Tidak lama lagi kita akan bertemu Sayang. Baby A tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna ya..."


__ADS_2