Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Rencana Busuk Felly


__ADS_3

Pasangan suami istri yang seharusnya tidur saling berpelukan dan merangkuh kebahagiaan bersama, hal demikian tidak berlaku bagi Radit dan Khaira. Keduanya nampak tidak nyaman menjalani peran sebagai seorang suami dan istri.


Keesokkan paginya, saat surya kembali menyapa, Khaira bangun terlebih dulu untuk membantu Bunda Ranti menyiapkan sarapan.


"Pagi Ayah, Bunda..." sapa Khaira kepada mertuanya yang tengah duduk bersama memandangi akuarium yang besar di dekat ruang keluarga.


"Pagi Khaira..." Ayah Wibi dan Bunda Ranti menjawab serempak.


"Kok sudah bangun sih, bangun siang gak apa-apa loh." kali ini giliran Bunda Ranti yang menggoda Khaira.


"Sudah terbiasa bangun pagi Bunda." jawab Khaira sembari mengutas senyum simpul di wajahnya.


"Ya udah, panggil suamimu sana. Bunda sudah masak Bubur Ayam nih."


"Baik Bunda."


Khaira pun kembali masuk ke kamarnya untuk membangunkan Radit. Sesampainya ke dalam kamar, Radit justru sudah bangun. Wajahnya sudah segar dan ia kini tengah duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Diminta Bunda turun buat sarapan." kata Khaira sembari berdiri di depan pintu.


"Hem. Iya." Radit pun bangkit berdiri dari posisinya yang semula duduk. Keduanya berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga hingga sampai di meja makan dengan Ayah Wibi dan Bunda Ranti yang sudah berada di sana.


"Ayo, sarapan..." ajak Bunda Ranti kepada Radit dan Khaira.

__ADS_1


Dengan cekatan Khaira mengisi mangkok dengan bubur ayam dan memberikan mangkok yang sudah terisi itu untuk Radit.


"Makasih ya..." ucap Radit sembari tersenyum kepada Khaira.


Khaira tahu sesungguhnya sikap suaminya hanya pura-pura, tetapi ia ingin menjaga nama baik suaminya. Khaira pun membalas ucapan terima kasih dan senyuman Radit dengan memberikan senyumannya kepada suaminya itu.


Usai makan pagi dan sedikit mengobrol dengan Ayah dan Bunda, Khaira meminta izin untuk pulang. Ia masih harus mengejar skripsinya, terlebih dua bulan lagi ia akan menempuh ujian skripsi. Karena Radit dan Khaira datang sendiri-sendiri dan dengan mobil yang berbeda, jadi keduanya juga mengendarai mobilnya sendiri-sendiri untuk pulang ke rumah.


Beberapa jam kemudian, baik Khaira dan Radit telah berada di rumah mereka. Di ruang tamu, Felly telah menunggu dengan raut wajah yang sangat masam. Begitu terdengar pintu terbuka, wanita itu langsung berdiri.


"Jadi semalam dari mana saja Ay, sampai handphone kamu gak aktif sama sekali?" Tanya Felly dengan suaranya yang cukup lantang dan terdengar nada penuh amarah dalam setiap ucapannya.


"Aku semalam dari rumah Ayah dan Bunda, kami gak kemana-mana kok. Bunda yang minta kami untuk menginap." Radit menjawab dan ia pun berbohong karena sebenarnya ia yang memilih menyusul Khaira di rumah orang tuanya.


Khaira yang mendengar perdebatan sepasang suami itu hanya bisa mengelus dadanya, meminta kesabaran. Baginya sikap Felly terlalu berlebihan. Sebab, dirinya pun juga istri Radit yang sah, bukan selingkuhannya yang pantas diberi amukan seperti ini.


"Kalian tidur berdua di sana, Ay?" Tanya Felly sembari mengepal tangannya.


"Iya, tapi cuma satu kamar dan kami gak ngapa-ngapain kok. Cuma tidur aja." untuk jawaban kali ini Radit tidak berbohong karena dia dan Khaira hanya tidur dengan guling yang memisahkan keduanya.


"Isstt. Aku gak percaya." dahut Felly dengan cepat.


Radit menggenggam kedua tangan Felly. "Kamu enggak percaya sama aku? Kamu bisa tanya langsung ke dia kok."

__ADS_1


"Hei, anak kecil bener enggak kalau kalian enggak ngapa-ngapain?" Felly bertanya dengan matanya yang melotot melihat Khaira.


Khaira menghela nafasnya. "Enggak. Permisi aku mau ke kamar." Khaira pun berjalan melewati Felly dan Radit.


"Ay, aku gak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Cukup satu kali waktu itu, dan aku mau kamu gak pergi dari sisiku. Kita kan bisa hidup bersama tanpa Anak Kecil itu di sini, Ay." Ucap Felly dengan nada yang masih berusaha menahan emosinya. Wanita itu melepaskan tangannya dari Radit, dan matanya menatap wajah Radit. "Belikan aku rumah, Ay. Rumah sederhana pun tidak apa-apa. Tinggalkan rumah ini dan Bocah Kecil itu. Kita bina rumah tangga kita sendiri, Ay. Tanpa ada bayang-bayang Bocah itu."


Entah sekadar drama atau sungguh-sungguh, tetapi buliran air mata keluar dari mata Felly.


Radit yang mendengar ucapan Felly, ia sungguh tak menduga, wanita itu tengah meminta sebuah rumah kepadanya. Membeli rumah baru bukan hal yang mudah bagi Radit. Lagipula, Radit juga tidak akan meminta uang dalam jumlah banyak kepada orang tuanya, tentu orang tuanya akan sangat curiga.


"Kenapa mendadak ingin rumah? Hmm." Radit bertanya perlahan sembari mengajak Felly duduk di sofa yang berada di ruang tamu itu.


"Aku gak mau kamu deket-deket lagi sama Bocah itu, Ay. Aku takut perasaanmu akan berubah." Felly menjawab dengan memasang wajah sendu dan air matanya yang berderai.


"Perasaanku gak akan berubah. Kamu sendiri tahu itu kan? Kamu juga tahu bagaimana selama ini aku berkorban untukmu." Radit mencoba meyakinkan Felly. Dan, Radit memang benar sekali pun dulu orang tua tidak merestui hubungan dengan Felly, nyatanya ia tetap mencari cara untuk tetap bisa bersama dengan Felly, sekali pun ia harus menyakiti pasangan yang sudah dipilihkan orang tuanya.


Radit mengelus perlahan rambut Felly. "Kalau membeli rumah yang sama seperti ini aku tidak bisa. Kamu tahu sendiri juga kalau aku tidak akan meminta uang kepada orang tuaku. Tapi, aku bisa menjual mobilku itu dan menggantikannya dengan sepeda motor. Walau hanya bisa membeli perumahan rakyat saja yang sederhana apa kamu mau? Kalau aku tidak bisa mengantar dan menjemputmu dengan mobil lagi apa kamu mau?" Radit menjelaskan dengan kesungguhan, pria itu layaknya telah benar-benar dibutakan oleh cintanya kepada Felly.


"Hmm, iya aku mau. Itu jauh lebih baik daripada aku tersiksa di rumah ini." Ucap Felly bersemangat, tujuannya untuk menjauhkan Radit dari Khaira ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan. Dengan begitu mudah, Radit mengiyakan permintaannya.


"Baiklah, aku akan menjual mobilku dan mencari perumahan rakyat sederhana untukmu. Aku akan membelinya dengan namamu. Sudah jangan menangis dan bete lagi ya. Tetapi, bagaimana dengan dia?" Yang dimaksud "dia" oleh Radit di sini adalah Khaira. Radit memang tidak mencintai Khaira, tetapi sebagai suami dia tetap harus mengetahui kabar Khaira bukan.


Felly nampak berpikir, ia pun tahu bagaimana pun Khaira adalah istri Radit yang sah. "Kau bisa ke sini, Ay. Kalau aku bekerja di shift malam, kau bisa kesini. Tetapi ingat, jangan macem-macem. Kamu bisa menjanjikan itu kan?"

__ADS_1


"Iya, aku janji. Ya udah, jangan marah lagi ya. Nanti kalau mobilku sudah terjual, kita cari rumah bersama-sama."


Jika jatuh cinta memang menghilangkan logika, itulah yang sedang Radit alami saat ini. Tanpa perlu berpikir panjang, ia akan langsung mengiyakan permintaan Felly.


__ADS_2