
Beberapa hari usai Radit bisa pulang ke rumah, sekarang giliran waktunya untuk mengunjungi Rumah Sakit guna melakukan terapi pada kakinya, sekaligus hari ini gips yang membungkus rapat kakinya akan dilepas.
"Sudah siap, Mas?" tanya Khaira yang mendekati suaminya yang sudah bersiap dan duduk di ruang tamu.
Radit pun menganggukkan kepala. "Sudah Sayang ... siapa yang anterin aku?" tanyanya dengan menatap wajah Khaira.
"Aku anterin Mas ... nunggu Bunda Ranti datang dulu ya, nanti Arsyila dititip sama Eyangnya. Aku anterin kamu therapi hari ini." ucap Khaira sembari tersenyum kepada suaminya.
Tidak berselang lama, Bunda Ranti pun datang dan Khaira berpamitan untuk mengantar suaminya terapi terlebih dahulu. "Bunda, nitip Arsyila dulu ya Bunda ... Khaira anterin Mas Radit cek up dan terapi." ucapnya sembari menyerahkan Arsyila dalam gendongan Eyangnya.
Bunda Ranti pun mengangguk. "Makasih ya Khai ... kamu sudah merawat anak Bunda dengan baik." ucap Bunda Ranti dengan wajah yang nampak berkaca-kaca.
Bagi Bunda Ranti, Khaira adalah menantu yang sangat baik. Dahulu saat awal pernikahan kedua yang penuh prahara, tak pernah Khaira mengadukan kejelekan suaminya. Kini saat suaminya sakit dan pasti membutuhkan perawatan lebih, Khaira pun selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh. Dalam hati Bunda Ranti sangat bersyukur, keputusannya menjodohkan Radit dengan Khaira adalah keputusan tepat yang pernah dia lakukan dalam hidupnya. Pengabdian seorang istri akan terlihat jelas saat sang suami sakit, memberi diri untuk merawat orang yang kita kasihi. Itulah yang dilakukan Khaira kini.
"Sudah kewajiban Khaira untuk merawat Mas Radit. Lagipula semua ini tidak gratis kok Bunda ... Mas Radit harus membayarnya, membayar dengan seluruh hidupnya untuk mencintai Khaira dan hidup bahagia bersama Khaira." ucapnya sembari tertawa.
Bunda Ranti pun memeluk menantunya itu. "Kamu baik banget, Khai ... Bunda yakin kamu adalah jodoh yang Allah kirimkan untuk melengkapi Radit. Bunda berharap cinta kalian tak akan putus, kalian berdua hidup bahagia bersama. Kerikil dalam rumah tangga itu wajar, tetapi kalian yang harus selalu mencari cara menyingkirkan bahkan membuang kerikil itu." nasihat Bunda Ranti yang didengar oleh Khaira dan juga Radit.
"Iya Bunda ... Ya sudah, kami pamit ya Bunda. Nitip Arsyila ya Bunda...." pamitnya sembari mencium punggung tangan Bunda Ranti.
Kemudian Khaira berjalan menapah suaminya itu memasuki mobil. Dia sendiri yang mengemudikan mobilnya dan mengantar suaminya melakukan cek up untuk pertama kalinya. Sesungguhnya Khaira takut saat ini, tetapi dia selalu menguatkan hatinya sendiri karena dia ingin selalu mendampingi suaminya.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan Khaira telah sampai di Rumah Sakit.
"Mas, jangan turun dulu. Aku mintakan kursi roda dulu ya. Tunggu dulu sebentar ya...." ucapnya sembari melepas sit bealt dan membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Wanita itu berlari menuju security yang berada di depan pintu masuk dan meminjam kursi roda untuk suaminya. Dengan pelan-pelan, Khaira memapah suaminya dan mendudukkannya di kursi roda.
"Aku dorong sampai di pintu masuk, tunggu aku dulu ya Mas ... Aku markirin mobil dulu." ucap Khaira sembari mendorong kursi roda suaminya.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Makasih Sayang ... iya, aku tunggu."
Khaira segera berlari menuju mobilnya dan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, dia kembali berjalan menemui suaminya.
"Yuk ... Kita cek up, semoga udah bisa dilepas ya gips-nya ini." ucap Khaira sembari mendorong kursi roda itu.
"Aku kayak tunadaksa (suatu keadaan yang terganggu atau rusak sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada otot, sendi dan tulang dalam fungsinya yang normal) ya Sayang...." ucapnya dengan lirih.
Khaira seketika menepuk punggung suaminya. "Sssttss ... Gak boleh bilang gitu. Pasti sembuh ... gak lama lagi, kamu udah bisa lari, Mas." Ucapnya yang memotivasi suaminya.
Akhirnya Khaira membawa suaminya menuju bagian Ortopedi dan di sanalah suaminya akan melakukan cek up. Dokter yang menanganinya sebelumnya mengatakan bahwa gips boleh dilepas, hanya saja untuk berjalan normal masih harus melakukan beberapa kali latihan berjalan. Bagi Khaira itu sudah sebuah kemajuan yang sangat pesat bagi suaminya.
"Sudah lepas gips-nya ... Gimana rasanya Mas?" tanya Khaira yang melihat kaki suaminya kini hanya dibalut layaknya perban berwarna cokelat.
"Udah enggak berat Sayang ... akhirnya ... Namun masih harus terapi berjalan lagi Sayang. Harus beberapa kali terapi lagi." ucapnya.
Khaira pun tersenyum. "Gak apa-apa Mas ... aku temenin, aku anterin. Harus semangat pokoknya."
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya, makasih ya ... aku pasti semangat kok. Aku mau sembuh." ucapnya.
"Anggap saja kamu cidera hamstring kayak pemain sepak bola itu, Mas. Christiano Ronaldo cidera, beberapa pekan kemudian bisa main sepak bola dan cetak gol kok. Kamu juga seperti itu, nanti bisa jalan lagi, bisa lari lagi. Semangat!" ucapnya yang memotivasi suaminya dengan mengambil ilustrasi pemain bintang sepak bola dunia, Christiano Ronaldo.
__ADS_1
Radit pun terkekeh geli. "Kamu ini bisa-bisanya nyamain aku sama Christiano Ronaldo." ucapnya sembari tertawa.
"Kamu melebihi Christiano Ronaldo, Mas. Kamu lebih hebat dari dia karena aku mencintaimu." ucapnya sembari berbisik lirih kepada suaminya.
Sontak tawa Radit pun pecah. "Istri siapa sih jago gombal gini."
"Belajar sama sapa dulu dong." Khaira pun tertawa hingga wajahnya memerah.
"Udah pandai ya sekarang gombalnya." ucapnya sembari tertawa dan melirik pada istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Aku kan belajar dari Masterpiece-nya. Jadi jangan salahkan aku." sahut Khaira yang tak mau kalah.
"Ya sudah, aku mau nebus obat dan kalsium buat kamu ke apotek dulu Mas ... Kamu masih terapi sebentar kan? Aku ke apotek duluan ya." pamit Khaira kepada suaminya itu.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... kalau sudah, kesini ya. Jangan lama-lama."
Khaira pun berjalan menebus obat terlebih dahulu ke apotek dan membayar biaya cek up suaminya, setelah itu dia kembali berjalan ke bagian Ortopedi guna menemui suaminya lagi.
Namun saat di sana, Khaira justru melihat suaminya tengah berbicara serius dengan seorang pria. Oleh karena yang diajak bicara suaminya adalah pria maka Khaira tidak begitu cemburu, hingga perlahan dia mendekat.
"Aku tebus obatnya, Mas ... mau pulang sekarang?" ucapnya dengan tangan yang menenteng kantung obat.
Akan tetapi, suaranya perlahan hilang saat melihat pria yang tengah berbicara dengan suaminya adalah Tama. Seketika Khaira berjalan lebih cepat, lalu mendekati suaminya.
"Ayo kita pulang sekarang Mas...." Ucapnya dengan tegas dan enggan melihat pada Tama yang kini duduk di sebelah suaminya. Rasanya Khaira tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu lagi.
__ADS_1