Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Salah Paham


__ADS_3

Khaira tiba-tiba saja larut berbagai pikiran negatif yang memenuhi kepalanya hingga membuatnya sesak. Mungkinkah memang perasaannya yang sensitif dan mengalami traumatik berkaitan dengan pengalaman rumah tangganya. Atau karena Blame The Hormone yang sering kali menimpa ibu hamil, saat tubuh memproduksi berbagai hormon yang juga menyebabkan seorang ibu hamil mengalami perubahan hormonal seperti tingkat sensitivitas, mood swing, dan stress.


Sementara Radit yang juga telah sampai di rumahnya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka Khaira akan bereaksi seperti ini.


Dengan pelan, Radit memutar handle pintu kamarnya yang memang tidak terkunci. Lalu ia mendatangi istrinya yang tengah menangis.


Radit menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia menjadi menyesal lantaran memilih membeli Cimol dan berakhir dengan bertemu Felly. Radit percaya ini semua pasti ada hubungannya dengan Felly.


Pria itu duduk di samping istrinya. Berusaha memegang tangan Khaira, tetapi Khaira segera menangkisnya.


"Khaira ... Istriku..." dipanggilnya nama istrinya dengan suara yang terdengar lirih. "Dengarkan aku dulu. Jangan salah paham seperti ini."


Khaira enggan mendengar perkataan Radit, wanita hamil itu memilih membuang mukanya.


Merasa dihindari, dan Radit pun sama dia tak ingin menunda hingga esok. Ia akan menjelaskan semuanya kepada Khaira.


Pria itu beringsut turun dari tempat tidurnya, lalu ia memilih membungkukkan badannya tepat di hadapan wajah Khaira.


"Sayang ... aku yakin engkau mendengarkanku saat ini. Jangan terlalu berasumsi dan menyimpulkan sesuatu sendiri. Aku tadi menunggu Cimol pesananku digoreng oleh Abangnya. Tidak berselang lama dia pun tiba-tiba ada di sana. Dia hanya menyapaku, dan aku pun hanya membalas sekenanya saja. Tidakkah kau lihat bahwa aku pun bersikap biasa-biasa saja. Please jangan salah paham." ucap pria itu mencoba menjelaskan.


Sementara Khaira hanya diam dan enggan menatap wajah suaminya. Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam suaminya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Jika tahu justru membuatmu menangis seperti ini aku jadi menyesal karena lebih memilih membeli Cimol itu. Jika tahu seperti ini, aku lebih memilih menemanimu memasuki minimarket. Tolong, jangan diam seperti ini. Lebih baik kamu marah, memukulku, atau apa pun. Tetapi jangan mendiamkanku seperti ini. Aku tidak bisa jika kau diamkan seperti ini, Sayang. Sudah cukup dahulu kamu mendiamkanku seperti itu. Diamnya kamu membuatku nyaris depresi, kalau marah katakan. Aku akan menerima semuanya, tapi jangan hanya diam." ucap pria itu dengan penuh kesungguhan.


Perlahan, Khaira menggerakkan sedikit kepalanya dan ekor matanya mencoba menatap wajah suaminya.


"Aku bisa menahan apa pun, Mas. Akan tetapi, tidak dengan wanita itu. Dia yang merendahku sejak pertama mengenalku, memanggilku cengenglah, bocah kecillah. Dia yang membuatmu pergi dari rumah dulu. Dia menjadi salah satu alasan mengapa aku lari sejauh mungkin, Mas. Aku memang sadar, dia yang terlebih dahulu mengenalmu, bersamamu, mengisi hari-harimu. Akan tetapi, istri mana yang tidak sakit mengalami hal seperti itu. Saat aku sudah menerima takdirku, menerima pinanganmu, tetapi nyatanya kalian berdua menyakitiku hingga pertama kali dalam hidup, aku memilih berlari. Aku memilih pergi, dan berharap dengan meninggalkan semuanya bisa melepaskan rasa sakit di hatiku."


Khaira menghela nafasnya kasar. "Bayang-bayang masa lalu itu kembali menyakitiku. Jika itu terjadi lagi, kemana lagi aku harus berlari Mas? Tidak. Aku tidak punya tempat dan kesempatan untuk berlari lagi." ucap Khaira sambil terisak pilu.


Radit menggelengkan kepalanya. "Maaf Sayang ... maaf. Kamu tidak perlu berlari, kita sudah berjanji akan menjalani semua bersama-sama. Aku hanya bertemu dengan dia itu saja."


Radit menangkup wajah Khaira dengan kedua telapak tangannya. "Lihat aku, Sayang. Lihat mataku, apakah kau tidak lihat bahwa di dalam mata ini hanya ada dirimu. Di hati ini hanya ada namamu. Tidak akan ada lagi dia atau pun yang lainnya. Lihat ketulusanku dan usahaku untuk selalu memantaskan diriku." ucap pria itu dengan wajah yang merah dan matanya nampak berkaca-kaca.


Khaira mengurai telapak tangan suaminya yang tengah menangkup wajahnya. "Jika sudah tahu itu dia, kenapa kamu tidak pergi Mas? Kenapa kamu masih berdiri di sana Mas?"


Radit hanya menggaruk tengkuknya. "Aku membeli Cimol, Sayang. Aku tidak ada maksud lain. Jangan emosi, jangan menangis. Ayo kita bicarakan sama-sama. Ada Debay di sini yang bisa merasakan Mamanya sedang menangis. Emosi Ibu Hamil itu bisa dirasakan janinnya. So please, jangan menangis lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada buah hati kita."


Khaira pun merutuki dirinya sendiri. Ia benar-benar gelap mata dan menangis terisak, ia melupakan bahwa kondisi psikologis Ibu Hamil sangat berpengaruh kepada janin dalam rahimnya.


"Dengarkan aku Sayang. Aku gak peduli dengan dia, atau wanita lainnya. Karena satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku cuma kamu, Khaira Amaira. Tidak akan ada lagi ya lain. Ku mohon jangan meragukan aku, karena setiap hari aku selalu berusaha memantaskan diriku. Maafkan suamimu ini ya?" lagi pria itu meminta maaf kepada suaminya.


Akhirnya pun Khaira menganggukkan kepalanya. Dia memaafkan suaminya.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya..." ucap Radit.


"Euhm, iya..." jawab Khaira sambil masih terisak.


"Masih marah?" Lagi tanya pria itu.


"Masih...." Tanpa ragu Khaira pun menjawab pertanyaan suaminya.


Radit mengambil kesimpulan bahwa memberi maaf bukan berarti istrinya tidak lagi marah atau ngambek. "Jadi apa yang harus aku lakukan supaya Bumilku Cantik ini tidak lagi marah? Hmm."


Dengan berusaha menenangkan dirinya. Khaira mencoba mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Lagi pula, ia pernah berjanji tak akan mendiamkan suaminya lagi. Jadi kesempatan ini, Khaira ingin mengatakan isi hatinya.


"Aku pun minta maaf, jika sudah berkaitan dengan dia, hatiku rasanya sesak. Entahlah, dulu menerima pinanganmu tanpa cinta aku masih bertahan, berharap ada pelangi sehabis hujan dalam rumah tangga kita. Akan tetapi, saat aku melihat dia berlaku tidak setia, dia menduakanmu dengan pria lain, aku yang sakit Mas. Aku merasa sakit karena kamu dikhianati oleh wanita yang kamu perjuangkan. Puncaknya saat kamu meninggalkan rumah dulu, aku sendirian di sana. Jika sudah demikian, untuk apa dan untuk siapa lagi aku bertahan Mas? Tidak ada. Aku sudah tidak memiliki alasan untuk bertahan dan mempertahankan rumah tangga kita dulu. Harga diriku sebagai wanita sangat tersakiti."


Radit mendengarkan perkataan Khaira dengan wajah tertegun. "Maaf jika dulu aku sudah menggoreskan luka yang sangat dalam, Sayang. Aku yang dulu melukaimu, aku juga yang akan membalut dan membebat lukamu. Tetapi kini, jangan lagi terluka dan tersakiti...." ucap Radit dengan menggenggam kedua tangan Khaira.


Baru Radit ingin kembali berbicara, nyatanya ada orang yang memencet bel rumahnya.


Ting Tong...


Keduanya sama-sama mengerjap dan bertanya-tanya siapakah orang yang membunyikan bel rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2