
Peraduan malam tidak selamanya, ketika surya menyingsing, malam pun berganti pagi. Hari baru pun tiba.
Sejak pagi wanita hamil itu sudah berjibaku di dapur guna membuatkan berbagai masakan kesukaan suaminya. Urap sayuran, gurame goreng, dan tempe mendoan. Seolah ingin menyambut kedatangan suami, Khaira rela berlama-lama di dapur dan menghasilkan berbagai olahan masakan yang tidak hanya enak, tetapi juga disukai suaminya.
Usai acara masak-masak di dapur, Khaira memilih mandi sehingga saat suaminya datang dia sudah segar. Rasanya seperti pengantin baru saja, hanya ditinggal sehari oleh suaminya, tetapi setiap menit yang berlalu membuat Khaira harap-harap cemas rasa rindu yang membuncah di hati membuatnya seperti orang sedang jatuh cinta.
Pun demikian dengan Radit, pria itu juga berharap bisa segera sampai di rumah. Sekarang rasa rindunya serasa berlipat lantaran ada istri dan calon bayi mereka yang terus tumbuh dalam rahim istrinya.
Untung saja perjalanan Bogor - Jakarta tidak macet, sehingga Radit bisa lebih sampai di rumah. Kurang lebih jam 1 siang, barulah Radit tiba di rumahnya.
Mendengar suara mobil yang seolah memasuki garasi, Khaira yang masih berada di kamar langsung turun ke bawah. Ia ingin membukakan pintu bagi suaminya.
Belum sampai suaminya mengetuk pintu dengan tangan yang sudah nyaris mengetuk pintu kayu itu, rupanya pintu itu terbuka lebih dulu. Netra keduanya saling bersitatap dengan senyuman yang mengembang di sudut bibirnya.
"Welcome Home Papa...." sambutan hangat tentunya penuh cinta membuat Radit mengembangkan senyuman.
"Papa pulang ... Mama dan Adek baik-baik saja kan di rumah?" jawabnya sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Mandi dulu ya Mas, abis ini makan. Aku sudah masak spesial buat kamu." ucapnya sembari terus tersenyum lantaran begitu bahagia suaminya telah tiba di rumah.
Radit mengacak gemas puncak kepala istrinya. "Iya, aku mandi dulu ya. Mau nemenin mandi?" ucapannya sembari mengedipkan matanya.
Khaira hanya geleng-geleng kepala. "Papa jangan genit ya ... udah sana mandi dulu. Kalau sudah langsung turun ke bawah ya, makan dulu."
Ah, betapa bahagianya Radit, rasa capeknya hilang begitu saja ketika tiba di rumah istrinya menyambutnya dengan senyuman dan segala bentuk perhatiannya. Khaira memang adalah sebuah rumah bagi Radit. Rumah untuknya pulang dan melepas semua lelahnya, rumah untuknya menjadi diri sendiri. Pria itu terus tersenyum sembari mengguyur badannya di bawah dinginnya air shower. Tidak sampai 15 menit, Radit kembali turun ke bawah dan mendapati istrinya telah menata meja makan.
"Masak apa Sayang?" tanya begitu telah sampai di meja makan.
Khaira justru mengerlingkan matanya. "Lihat sendiri aja, Mas... Suka enggak?"
__ADS_1
Radit pun melihat satu per satu hasil kreasi istrinya. "Masakan kesukaan aku?" tanyanya sembari tersenyum.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya, aku masak sendiri semuanya. Makan yang banyak ya Mas."
Begitu lucunya Khaira, dia bahkan rela menahan lapar guna bisa makan siang bersama suaminya. Keduanya makan bersama tanpa menggunakan sendok. Keduanya sama-sama makan dengan menggunakan tangannya.
"Makasih Sayang, masakan kamu enak banget." ucap pria sembari mengangkat dua jempol untuk istrinya.
Setelah makan siang, keduanya memilih masuk ke dalam kamar. Bersantai berdua di sofa yang ada di dalam kamar.
"Mas, aku kangen...." ucap Khaira begitu telah duduk bersama suaminya.
"Aku juga, kangen sama kamu dan Adek juga. Kemarin bisa bobok enggak semalam?" tanyanya dengan wajah cukup khawatir, takut istrinya tidak bisa tidur sendirian.
"Aku paksakan tidur sih, walaupun aku kangen banget sama kamu, enggak ada yang dipeluk." ucapnya manja yang membuat Radit gemas seketika.
Radit pun mengecupi wajah istrinya dengan ciuman gemas. "Aku juga kangen banget sama kamu, Sayang."
Tentu saja mendapat isyarat dari suaminya membuat Khaira malu seketika, hingga wajahnya merah merona.
Meringsut, Khaira pun mendaratkan dirinya dalam pangkuan suaminya dan tangannya melingkari leher suaminya.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, kali ini dengan beraninya Khaira mendaratkan ciumannya di bibir suaminya. Sebatas menempel untuk sekian detik lamanya. Membuat Radit mengerjap sekaligus bahagia, untuk sekian lama istrinya lah yang berinisiatif menciumnya.
Mulanya memang hanya sentuhan bibir sekilas. Ketika bibir itu bertemu, sekian menit berikutnya bibir keduanya berpisah kembali. Namun seinci jarak yang memisahkan keduanya, disertai hembusan nafas hangat yang menyapu sisi wajah mereka terasa membelai dalam sensasi rasa yang berbeda.
Kedua tangan Khaira bergerak di antara leher suaminya, mengalung indah di sana. Tepat ketika wajah suaminya kembali menunduk, mendaratkan bibirnya di atas bibir Khaira. Pertemuan bibir yang lebih dari sekadar sentuhan, ada sesuatu yang lebih yang ingin keduanya dapatkan.
Menekan, Radit membawa bibirnya untuk mengecup lebih kuat dan dalam bibir istrinya itu. Khaira pun juga melakukan hal yang sama. Mengecup bibir suaminya. Keduanya sama-sama menuntut. Sama-sama memuaskan diri.
__ADS_1
Larut dalam pertempuran panas, tangan-tangan Radit menelusup masuk dari balik piyama rumahan yang dikenakan Khaira itu. Bergerak perlahan di sana, meraba setiap inci epidermis kulit yang terasa begitu lembut. Dengan beraninya, bahkan jari-jemarinya telah melepas pengait yang berada di dalam sana.
Jari-jari tangan itu meraba, menyusuri lekuk tubuh istrinya dengan gerakan yang menggetarkan. Menjelajah setiap sisinya, lalu menjelajah sisi lainnya. Tangannya meremas bukit kembar yang membuat Khaira melenguh seketika.
Tangannya terus bergerak menggoda sesuatu di bawah sana yang membuat istrinya terasa menggigil kedinginan. Bagai menghadapi terpaan badai salju yang membuat Khaira merasakan gemetar jiwa dan raga. Puas membuat istrinya memekik dan mencengkeram erat lehernya.
Dalam sepersekian detik, tangan itu begitu lincah melepaskan pakaian keduanya. Membuat keduanya sama-sama polos.
"Cantik...." ucapnya sembari menyelipkan untaian rambut di sisi wajah istrinya, lalu tangannya mengelus lembut perut istrinya yang membuncit itu.
Kedua tangan itu merengkuh tubuh Khaira. "Gerakkan pinggulmu Sayang...." pria itu memberi instruksi kepada istrinya untuk bergerak dalam pangkuannya. Tentu karena ini adalah posisi yang aman untuk Ibu Hamil, sehingga tidak akan menekan perut yang di dalamnya ada buah hati mereka berdua.
Pria itu menarik tubuh istrinya hingga keduanya saling menempel, dengan sorot mata yang saling mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Pria itu membimbing istrinya untuk bergerak perlahan, dalam irama yang lembut. Keduanya bahkan tersengal saat mengalami pelepasan bagi keduanya.
Seketika Khaira mencerukkan kepalanya di dada bidang suaminya, disertai peluh yang bercucuran. Peperangan panas yang terjadi siang itu benar-benar membuat keduanya terengah-engah berdua.
Mendapati bahwa nafas keduanya lebih teratur, tanpa aba-aba, Radit membopong tubuh istrinya memasuki kamar mandi membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.
"Masih kangen? Adek udah seneng belum udah ditengokin Papa?" Radit terkekeh sembari kini membantu mengering rambut istrinya usai keramas.
Pertanyaan yang justru membuat wajah Khaira kian merona. "Yang seneng Papanya. Wajahnya jadi ceria banget." ucapnya sembari menatap wajah suaminya dari pantulan cermin itu.
"Kan dapat asupan Vitamin, Sayang." sahutnya sambil terkekeh geli. "Nanti kalau makin besar usai kehamilannya harus makin sering dikunjungi Adeknya loh Sayang, kan mencari jalan lahir."
Khaira mencubit pinggang suaminya itu. "Kamu kalau kayak gitu emang paling pinter ya Mas."
Radit mengedikkan bahunya. "Aku sudah baca Sayang, jadi tidak asal bicara. Berhubungan bisa memicu kontraksi nanti, menambah pembukaan secara alami."
__ADS_1
"Suami paling modus sedunia...." sahut Khaira sembari memincingkan matanya kepada suaminya.