
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga bulan pun berganti bulan. Khaira merampungkan perjuangannya kuliah di kota Manchester.
Tidak hanya mengambil kuliah padat, Thesis yang ia kerjakan pun berhasil di selesaikan. Selama mengerjakan Thesis, Radit bahkan tak ragu untuk membantu Khaira sekadar membacakan buku referensi dan Khaira mengetiknya di laptop atau pun sebaliknya Radit yang mengetik di laptop dan Khaira yang membaca untuk mendiktekannya.
Kali ini Khaira benar-benar merasakan indahnya kerja sama antara suami dan istri. Jika dahulu, Khaira mengerjakan Skripsinya sendiri dalam suasana rumah yang sepi, kali ini ada Radit yang stand by 24 jam bersamanya. Seakan tidak pernah lelah dan juga mengeluh, Radit benar-benar menjadi support system bagi Khaira.
"Jadi hari ini siap?" tanya Radit sembari memperhatikan penampilan Khaira yang begitu cantik mengenakan Kebaya berwarna pink berpadu dengan rok batik yang dibuat sarimbitan dengan kemeja yang dikenakan Radit.
"Aku deg-degan sih Mas, gimana rambutku udah rapi belum ini? Aku cuma tata sendiri, rapi enggak sih?" tanya Khaira sembari memantaskan dirinya di depan cermin.
Radit memindai penampilan istrinya dari atas hingga ke bawah. "Kalau menurut aku sih udah. Perfect! Cantik."
Khaira tersenyum mendengar pujian dari suaminya itu. "Makasih ya Maskuw...."
Radit lantas memasukkan baju toga ke dalam tasnya. Rencananya toga itu baru akan dipakai ketika mereka sudah tiba di University of Manchester.
Jika biasanya mereka ke kampus dengan berjalan kaki, maka hari ini mereka lebih memilih memesan sebuah taksi yang bisa mengantarkan mereka hingga di depan kampus.
Begitu sampai di halaman kampus, Khaira memakai terlebih dahulu baju toganya. Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Begitu pula Radit, dia begitu bahagia dengan pencapaian istrinya.
"Sudah, mau masuk sekarang?" Radit mengulurkan satu tangannya untuk menggandeng tangan Khaira.
Khaira mengangguk, lalu menerima uluran tangan dari suaminya itu. "Mas, tahu enggak?"
"Hmm, kenapa?" tanya Radit.
__ADS_1
"Aku bangga bisa memakai kebaya dan batik saat di luar negeri. Walaupun wisudawan bebas mengenakan apa pun, yang penting pake toga. Tetapi, aku pengen pakai kebaya. Terus kebaya yang dikirim Bunda Ranti ini juga bagus dan pas di badan aku." Khaira bercerita sembari melangkah memasuki gedung dilangsungkannya wisuda dengan menggandeng erat lengan suaminya itu.
Radit tersenyum. "Iya, aku juga bangga bisa memakai batik di sini. Nanti prosesinya wisuda gimana Sayang? Kayak di Indonesia enggak?" tanya Radit.
"Enggak Mas, di sini acara wisuda lebih singkat dari di Indonesia cuma 1 jam 30 menit aja. Prosesinya wisudawan masuk ke dalam gedung mengisi bangku sesuai nomor urut. Setelah itu tamu undangan dan keluarga wisudawan masuk juga menempati bangku khusus tamu undangan. Enggak lama kok Mas." ucap Khaira.
Ya prosesi wisuda di luar negeri memang lebih singkat dibandingkan acara prosesi wisuda di negara Indonesia yang bisa menghabiskan waktu hingga lima jam. Di luar negeri, setiap fakultas bisa mengadakan acara wisuda sendiri, sehingga tidak seluruh fakultas seperti di Indonesia. Selain itu waktu wisuda juga berlangsung dua kali dalam setahun, wisuda musim panas (Summer Graduation) dan wisuda musim dingin (Winter Graduation).
Khaira akhirnya berbaris dengan teman-temannya dari Fakultas Pendidikan sebelum memasuki gedung wisuda. Sementara Radit telah duduk di bangku tamu.
Tepat jam 10 pagi, para pemusik masuk ke dalam gedung, mengambil tempat di bagian atas panggung. Mereka duduk menghadap tamu undangan dan wisudawan. Setelah pemusik bersiap, maka perwakilan pihak-pihak kampus memasuki ruangan dengan diiringi musik orchestra yang terdengar begitu indah dan megah. Alunan musik itu hingga membuat atmosfer di dalam gedung aula terasa khidmat.
Prosesi dilanjutkan dengan pihak-pihak kampus yang mengisi tempat duduk di depan dengan menghadap seluruh tamu undangan dan wisudawan. Acara pun dimulai oleh seorang MC yang merupakan perwakilan dari pihak kampus. Kemudian dilanjutkan sambutan singkat di mana pihak-pihak kampus memberikan sambutan benar-benar singkat dan tidak bertele-tele, rata-rata mereka hanya memberikan sambutan tidak lebih dari 10 menit. Pembacaaan penghargaan pemberian gelar doktor honoris causa. Sambutan singkat penerima penghargaan gelar doktor honoris causa.
Hingga akhirnya acara yang dinantikan Radit pun tiba, saat Khaira memasuki gedung wisuda. Istrinya itu berbaris rapi bersama wisudawan lainnya. Momen yang berharga dan haru, Radit hingga meneteskan air matanya melihat sang Istri berdiri di depan sebagai wisudawan dari salah satu Universitas terbaik di Negeri Ratu Elisabeth itu.
Setelah semua nama wisudawan telah disebutkan dan semua sudah maju bersalaman, maka wisudawan akan menuju meja panitia di bagian samping kiri dan kanan panggung untuk mengambil ijasah dan transkrip nilai serta buku angkatan (tipis), kemudian kembali ke tempat duduk.
Rangkaian acara wisuda berakhir saat seluruh perwakilan kampus yang tadinya duduk pada bagian panggung akan turun dan keluar gedung. Diikuti wisudawan berjalan menuju panggung dari sisi kanan dan kiri lalu keluar melalui bagian tengah kemudian keluar gedung dengan diiringi musik orchestra yang indah dan megah.
Tepat 1 jam 30 menit wisuda telah berakhir. Benar-benar waktu yang singkat, tidak tertele-tele, tetapi sangat berkesan.
Pada wisuda ini, Khaira pun lulus bersama kedua sahabatnya Adam dan Tina. Hanya Mark saja yang masih santai menjalani masa kuliahnya.
"Selamat guys, akhirnya kalian semua lulus." sapa Mark yang turut berdiri di luar gedung bersama Radit. Pria asli London itu memeluk ketiga sahabatnya. "Kalian benar-benar meninggalkanku sendiri ya." ucap pria berambut blonde itu.
__ADS_1
"Sorry Mark, kami harus menyelesaikannya lebih cepat. Keluarga kami sudah menunggu." ucap Tina sembari menepuk punggung sahabatnya itu.
"Jika senggang, datanglah ke Indonesia, Mark. Kami akan senang jika suatu hari kau bisa ke sana." ucap Khaira yang juga diangguki oleh Radit.
"Khai, suatu hari datanglah ke negeriku juga di India. Aku akan memasakkan Parata Kol dan Nasi Briyani khusus untukmu. Kau harus ke sana, Khai." ucap Tina yang kini memeluk Khaira.
Khaira tersenyum, "Semoga saja ya Tina." jawabnya.
"Jadi kapan kalian akan kembali ke negara kalian? Aku tidak bertanya padamu ya Mark, karena kau tidak akan kemana-mana bukan." tanya Adam sekaligus menggoda Mark yang begitu betah tinggal di Manchester.
Tina menjawab, "aku lusa akan kembali ke India, Adam."
"Aku juga lusa Adam, mainlah ke Jakarta. Kau hanya membutuhkan waktu 2 jam saja untuk terbang dari Singapura ke Jakarta." Khaira berbicara kepada Adam, mempersilakannya untuk mengunjungi Jakarta.
Radit mengangguk setuju. "Iya, maenlah ke Jakarta." ucapnya sembari menepuk punggung Adam.
"Baiklah, karena ini momen berharga. Ayo kalian fotolah bersama. Aku akan mengambil potret kalian." ucap Radit dan akan mengambil potret keempat sahabat itu.
Akhirnya Khaira, Tina, Adam, dan Mark berangkulan dan tersenyum ke arah Radit.
"Senyum ya. Satu... Dua... Tiga..."
Jepretan lensa kamera pun berhasil membidik mereka berempat.
"Ingat setiap waktu yang kita lalui bersama ya. Sahabat untuk selamat!" ucap Khaira dengan wajah penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Happy Graduation🎓