Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Cermin Keluarga


__ADS_3

Langit masih begitu terang saat Radit, Khaira, dan juga Arsyila pulang dari kantor dan kembali ke rumahnya. Gerimis kali ini menyertai perjalanan mereka. Sepanjang jalan agaknya Khaira lebih melihat rintik-rintik gerimis yang terasa begitu sejuk baginya.


"Kamu suka gerimis Sayang?" tanya Radit sembari mengemudikan mobilnya.


Seketika Khaira menolehkan wajah dan tersenyum kepada suaminya. "Suka ... gerimis manis ya Mas." ucapnya sembari mengamati lagi jalanan Ibukota yang mulai basah, pepohonan yang bermandikan air hujan menghembuskan angin yang begitu segar rasanya.


"Kamu tahu apa bedanya gerimis dan kamu, Sayang?" tanya Radit tiba-tiba.


Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Enggak ... enggak tahu. Apa bedanya Mas?" tanya sembari menolehkan kepalanya hingga kini dia bisa menatap suaminya.


"Kalau gerimis itu jatuhnya ke bawah, kalau kamu jatuhnya ke hati aku." Rupanya suaminya baru memasang mode gombal kepada istrinya itu.


Merasa digombali dengan gombalan receh, Khaira pun tertawa hingga wajahnya memerah. "Isshhhs ... Gombal banget sih." ucap Khaira sembari menggelengkan kepalanya.


"Tuh Arsyila, Papa kamu jago banget gombal." ucap Khaira kepada Arsyila yang sejak tadi nampak mengamati Papanya yang tengah mengemudikan mobilnya.


"Papa cuma gombal ke Mama aja, Sayang ... Mama kamu itu bikin Papa candu rasanya. Gak ada obatnya deh Mama itu. Mantap jiwa pokoknya. Sehari kalau enggak gombalin Mama itu rasanya ada yang kurang." ucapnya sembari mengacungkan satu jempolnya kepada istri dan anaknya.


Khaira terkekeh geli mendengar ucapan suaminya itu. "Kamu itu ada-ada aja, Mas ... masak kalau sehari enggak gombalin aja rasanya ada yang kurang. Berlebihan banget deh...."

__ADS_1


Tidak berselang lama, mereka bertiga telah tiba di rumah. Lantaran Arsyila ikut Papanya ke kantor, sehingga sore ini bayi kecil itu masih belum mandi. Begitu sampai di kamar, Khaira segera memandikan putrinya itu. Mengganti semua pakaian dan diapersnya, lalu menyerahkannya kepada suaminya yang terlebih dahulu sudah mandi.


"Mas, nitip Arsyila dulu ya ... aku mau mandi." Pamitnya kepada sang suami bahwa gilirannya untuk mandi.


Papa muda itu selalu senang hati berbagi peran untuk mengasuh Arsyila. Bahkan Radit justru menikmati momen saat dia mengasuh Arsyila. Hingga 20 menit berlalu, Khaira baru saja keluar dari kamar mandi. Sementara netra suaminya nampak menyorot istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah.


Khaira pun tersenyum kepada suami dan anaknya. "Enggak rewel kan Mas?" tanya kepada sang suami.


"Tenang Sayang ... kalau pun rewel, aku bisa menenangkannya. Aku bisa kamu andalkan. Papa akan selalu ngejagain Arsyila..." ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Kamu memang best kok Mas ... setengah hari ngasuh Arsyila sudah lulus, kalau di rumah juga ganti-gantian. Suami itu kalau mau berbagi peran mengasuh anak itu bagus banget karena anak-anak juga belajar sosok kepemimpinan dari Papanya. Figur kepemimpinan dalam keluarga kan seorang Papa" ucapnya.


Sebab benarlah bahwa pola pengasuhan anak di dalam rumah sangat penting. Anak akan bercermin kepada orang tuanya. Maka dari itu, orang tua memang dituntut menjadi sosok teladan yang baik bagi anak-anak. Anak akan belajar kelemahlembutan dari sosok Mamanya, dan belajar kepemimpinan dan ketegasan dari sosok Papanya. Sementara Radit dan Khaira yang notabene adalah pasangan baru, memang mereka menginginkan bisa menjadi cermin yang utuh bagi Arsyila.


"Walaupun sebagai orang tua kita tidak sempurna, harus belajar, harus berbenah sana-sini, tetapi kita berusaha menjadi sosok Mama dan Papa yang baik untuk Syila ya Mas...." ucap Khaira sembari mengusap-usap kepala Arsyila.


Radit pun mengangguk setuju. "Benar Sayang ... apalagi aku dengan semua kesalahanku di masa lalu, aku berharap Arsyila bisa melihatku sebagai sosok Papa yang baik baginya."


Khaira pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan suaminya. "Sudah tentu kamu Papa yang baik bagi Arsyila, Mas. Kamu cinta pertamanya dia. Pasti Arsyila bercermin banyak hal dari kamu." ucapnya menenangkan suaminya.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya yang begitu lembut dan menenangkan, Radit pun tersenyum. Sungguh hatinya terasa hangat selama hidup bersama Khaira. Istrinya benar-benar wanita yang baik, sabar, penyayang, dan bijaksana. Walaupun terkadang istrinya nampak cengeng, tetapi Khaira adalah sosok yang kuat.


"Kamu baik banget Sayang ... semoga saja Arsyila saat dewasa nanti akan bangga punya Papa sepertiku. Setelah memiliki anak itu, rasanya aku ingin menjadi terbaik, mengupayakan yang terbaik buat Arsyila. Aku sayang banget sama Arsyila. Aku pengen saat dewasa nanti dia akan bangga menjadi putriku."


Tidak dipungkiri bahwa apa yang Radit katakan sekarang ini juga menjadi impian semua orang tua. Mereka ingin anak yang mereka besarkan dengan sepenuh hati, suatu hari nanti akan menjadi orang yang berhasil dan mereka bangga dengan orang tuanya.


"Pasti Mas ... pasti Arsyila bangga banget punya Papa kamu. Gak hanya Arsyila, aku aja bangga kok memilikimu sebagai suamiku." kali ini Khaira berkata dengan jujur. Selain dia ingin membesarkan hati suaminya, tak dipungkiri bahwa Khaira bangga memiliki Radit sebagai suaminya.


"Sama Sayang ... aku pun bangga memilikimu dalam hidupku. Udah jamnya Arsyila bobok, yuk kita tidurin dulu Sayang. Abis ini giliran Quality Time buat kita berdua. Biar aku tiduran aja Arsyila." ucapnya yang mulai mencoba menidurkan Arsyila dengan membaca buku dongeng anak-anak.


Khaira hanya tersenyum. "Yakin bisa nidurin Arsyila? Kamu mau minum atau makan sesuatu Mas? Aku bisa bikinin, mumpung hujan di luar. Sapa tau mau camilan."


Khaira menawarkan kepada suaminya ingin makanan dan minuman yang menemani keduanya di malam yang diguyur hujan itu.


"Cokelat hangat saja Sayang ... keliatannya enak hujan-hujan minum cokelat hangat. Lebih enak karena kamu yang buatin, jangan lupa ditambahin sesendok cinta Sayang, biar makin mantap rasanya." pesannya kepada sang istri.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, aku buatkan cokelat hangat. Bukan hanya sesendok, aku kasih segayung kalau perlu, Mas ... Yakin nih Papa yang nidurin Arsyila?" tanyanya dengan terkekeh geli mendengar request tambahan dari suaminya untuk menambahkan sesendok cinta ke dalam cokelat hangatnya.


Dengan cepat Radit menganggukkan kepalanya. "Yakin ... sana Mama keluar dulu aja. Biar Papa nidurin Princessnya Papa dulu."

__ADS_1


Akhirnya Khaira memilih keluar dari kamar, membiarkan suaminya untuk menidurkan Arsyila. Sementara Khaira memilih turun ke dapur, memasak air untuk membuat Cokelat panas, minuman kesukaan suaminya. Menikmati minuman hangat berdua sembari mengobrol bersama dan menikmati hujan yang turun di malam begini agaknya memang menyenangkan.


__ADS_2