Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Papa Muda Idaman


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu. Kesedihan yang dialami Khaira perlahan tapi pasti mulai berangsur hilang. Wanita itu mulai kembali pada aktivitasnya sehari-hari. Suaminya yang selalu mendukung dan memperhatikannya, juga Arsyila yang seolah menjadi pelipur lara baginya membuat Khaira semakin pulih.


Hari ini, Khaira akan kembali mengajar di kampus. Satu hari dalam seminggu, yaitu hari Kamis pasti Khaira akan lebih sibuk dari pagi. Mulai dari menyiapkan MPASI, pumping ASI, menyiapkan tas yang berisi peralatan Arsyila, belum lagi mempersiapkan bahan mengajarnya. Kendati demikian, Khaira mempersiapkannya satu per satu tanpa mengeluh.


Siang hari, suaminya kembali datang dari kantor dan hendak mengantarkannya ke kampus. "Sayang ... ayo, berangkat sekarang." ucap Radit begitu baru saja memasuki rumah.


"Iya Papa ... bantuin masukkan tas ini ke mobil ya Pa." ucap Khaira yang menyerahkan beberapa tas kepada suaminya.


Dengan cekatan, Radit pun memasukkan beberapa tas ke dalam mobilnya. Tidak lupa, dia juga memastikan lagi tidak ada barang yang tertinggal.


"Sudah semua Sayang?" tanyanya ketika Khaira sudah keluar dari rumah dengan menggendong Arsyila.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... sudah semua Mas. Yuk, berangkat sekarang. Masih harus nganter Arsyila dulu ke rumah Neneknya." ucap Khaira.


Begitu mereka telah masuk ke dalam mobil, Radit pun mengatakan sesuatu kepada Khaira yang membuat istrinya mengernyitkan keningnya.


"Sayang, hari ini Arsyila ikut aku ke kantor aja ya. Aku asuh di kantor." ucapnya sembari mengemudikan stir mobilnya.


"Serius Mas ... kamu kerjanya gimana? Nanti kamu malahan enggak bisa kerja." tanya Khaira yang khawatir jika Arsyila justru mengganggu Papanya yang sedang bekerja.


Radit pun tertawa. "Gak papa Sayang ... biar Arsyila tahu kantor Papa dan Eyangnya. Sapa tahu nanti kalau gede Arsyila mau jadi Auditor sama seperti Papanya."


Mendengar jawaban suaminya, sontak saja Khaira tertawa. "Tuh Syila Sayang ... dengerin Papa. Kamu sudah diprospek Papa buat jadi Auditor saat besar nanti. Syila mau jadi Auditor kayak Papa?" ucap Khaira sembari menciumi pipi chubby Arsyila.


Radit ikut terkekeh. "Enggak juga Sayang ... aku cuma bercanda. Nanti kalau besar, Arsyila biar menentukan sendiri ingin kuliah apa, mau jadi apa. Kita orang tua perlu mengarahkan saja. Mau jadi Auditor boleh, mau jadi Dosen boleh, mau punya cita-cita yang lain pun tidak masalah. Yang penting saat dewasa nanti Arsyila menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain." ucap Radit.


Hati Khaira pun menghangat mendengar penuturan suaminya. Dia menyentuhkan satu tangannya ke lengan suaminya. "Kamu bijak sekali Mas ... benar banget, apapun cita-citanya kelak, semoga Arsyila menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama."


Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di kampus Khaira. "Yakin mau bawa Arsyila, Mas?" tanya Khaira memastikan sekali lagi.


Radit pun menganggukkan kepalanya. "Yakin ... udah kamu ngajar aja Sayang. Sukses ya ngajarnya, kalau digodain mahasiswa yang tegas ya. Kamu cuma milikku." ucapnya dengan posesif.


"Iya ... Khaira cuma miliknya Mas Radit." ucapnya sembari mencium punggung tangan suaminya. Setelahnya Khaira turun dan mendudukkan Arsyila di car seat.

__ADS_1


"Syila Sayang ... Mama ngajar dulu ya. Syila mau ikut Papa? Yang pinter ya, jangan rewel." pesannya kepada Arsyila.


"Nanti aku susulin ke kantor naik taksi online aja Mas ... biar kamu enggak repot. Aku ngajar dulu ya Mas ... hati-hati nyetirnya. Nitip Arsyila ya." ucapnya sembari melambaikan tangannya kepada suami dan juga anaknya.


"Bye Mama ... Arsyila ikut Papa kerja. Love U...." sahut Radit sembari melajukan mobilnya perlahan.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Radit membawa Arsyila ke kantornya hari ini. Jika seperti jadwalnya, hari ini tugas-tugas auditingnya sudah selesai. Sehingga Radit bisa membawa putri kecilnya itu ke kantornya.


Begitu memarkirkan mobilnya, Radit menggendong ransel yang berisi seluruh perlengkapan Arsyila. Kemudian dia menggendong Arsyila di satu tangan dan tangan lainnya menenteng stroller yang bisa digunakan untuk menidurkan Arsyila dulu.


Ketika memasuki lobby kantor, baik resepsionis dan beberapa karyawan di perusahaan itu nampak memperhatikan Radit. Beberapa lainnya juga nampak gemas melihat wajah Arsyila dengan pipinya yang chubby.


Begitu telah sampai di ruangannya, Radit membiarkan Arsyila mengeksplore ruangan kerjanya. Bayi berusia 1,5 tahun begitu lincah berjalan ke sana kemari.


"Anaknya ya Pak?"


"Namanya siapa?"


Pertanyaan dari teman-teman seruangannya yang terlihat begitu gemas dengan Arsyila. Bahkan Miko pun yang dulunya merupakan kakak tingkat Khaira, juga mendekati bayi kecil itu.


"Tumben baby nya diajak kemari?" tanyanya kepada Radit.


"Iya ... Mamanya baru ngajar, jadi Arsyila ikut Papanya." jawab Radit dengan singkat.


"Cantik ya anaknya ... kayak Khaira, cantik." ucap Miko dengan tiba-tiba.


Mendengar Miko yang mengatakan bahwa Khaira cantik, sontak hati Radit kembali panas.


"Berani-beraninya muji Khaira di depan suaminya sendiri. Gue geprek lo." ucapnya dalam hati.


Menyadari ada yang salah dari ucapannya, Miko seketika menjadi salah tingkah. "Sorry Bro ... bukan maksud gue." ucapnya sembari berlalu pergi.

__ADS_1


Sementara Radit berusaha bersikap biasa saja, walaupun hatinya tidak terima saat ada pria lain yang mengatakan bahwa istrinya cantik. Kehadiran Arsyila tidak luput dari beberapa karyawan wanita di perusahaan itu. Bahkan mereka saling berbisik jika Radit adalah Papa Muda Idaman. Lantaran mereka melihat bagaimana Radit juga luwes menyuapi makan siang Arsyila, menggendong, bahkan menidurkan Arsyila dengan mendorong perlahan stroller yang dia bawa hingga membuat Arsyila tertidur di dalam stroller.


Menjelang jam setengah empat sore, Khaira menyusul Radit ke kantornya. Dia memilih menggunakan jasa taksi online. Kali ini, dia bisa langsung masuk ke ruangan suaminya karena resepsionis sudah mengenalnya kalau dia adalah menantu dari Direktur Utama yaitu Ayah Wibisono.


Pelan-pelan Khaira menuju ruangan suaminya bekerja. Dalam perjalanan, dia mendengar bagaimana beberapa karyawan membisikkan jika suaminya adalah Papa Muda Idaman. Mendengar ucapan para karyawan, Khaira sesungguhnya senang karena memang suaminya memang figur Papa yang sangat baik bagi Arsyila.


"Sore Mas ...." sapa Khaira sembari mengetuk pintu ruangan suaminya yang di dalam berisikan empat karyawan di bagian Auditing Finansial itu.


Melihat kedatangan istrinya, Radit pun berdiri dari kursinya. "Sore ... sudah selesai ngajarnya Sayang?" tanyanya kepada sang istri. Sontak ketiga teman Radit lainnya turut melihat keharmonisan pasangan suami-istri tersebut. Termasuk Miko yang melihat Khaira saat wanita itu dengan lemah lembut menyapa suaminya.


"Arsyila rewel enggak?" tanyanya sembari menghampiri Arsyila yang tengah duduk di stroller dan memakan biskuit bayinya.


"Enggak dong ... Syila pinter dong ikut Papa. Pulang setengah jam lagi ya ... Nunggu jam pulang." ucap Radit.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya... Mas kerja dulu saja. Sini, biar Arsyila sama aku." Setelahnya Khaira berbisik lirih kepada suaminya. "Kamu jadi bahan obrolan para karyawan loh Mas ... katanya kamu Papa Muda Idaman."


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Dear Pembaca setia Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta,


Aku mau memberikan info untuk Pembaca setia kesayanganku bahwa tanggal 5 Maret nanti, aku akan publish karya terbaru berjudul "Pembalasan Istri yang Tersakiti."



Cerita ini akan banyak mengupas insecurity pada wanita yang dibumbui dengan Kisah Cinta yang tidak terprediksi. Maka dari itu, follow akun aku di Noveltoon untuk mendapatkan informasi setiap karya terbaru.



Klik nama pena aku, lalu tekan ikuti ya... ๐Ÿฅฐ


Follow juga akun Instagram aku di @kiranapramudya90 untuk mendapatkan update terbaru, mau berteman, curhat, tanya-tanya seputar parenting juga boleh banget.


Selalu dukung ya...

__ADS_1


With All My Love,


Kirana Pramudya๐Ÿ’œ


__ADS_2