
Khaira yang baru saja dari apotek guna mengambil obat dan membayar biaya cek up suaminya, melihat Tama yang tengah duduk di samping suaminya. Keduanya terlibat obrolan serius.
"Ayo Mas ... kita pulang sekarang." ucap Khaira yang sudah meraih tangan suaminya.
Radit justru menatap wajah istrinya sesaat. "Sayang, kamu bisa enggak nunggu di sana sebentar. Aku mau ngobrol sama dia dulu, banyak yang harus aku luruskan. Sepuluh menit, nunggu di sana dulu bisa?" tanya Radit yang justru meminta Khaira untuk menunggunya.
Khaira nampak menggelengkan, matanya sudah nampak berkaca-kaca. "Mas...." dipanggilnya nama suaminya dengan lirih.
Radit pun menggenggam tangan istrinya itu. "Percaya sama aku. Tunggu sebentar ya...." pinta Radit dengan tulus.
Akhirnya Khaira pun menganggukkan kepalanya dan dia berjalan menunggu di tempat lain. Khaira hanya tidak mau melihat Tama lagi setelah apa yang dia lakukan. Bagi Khaira, sengaja maupun tidak sengaja Tama lah yang membuat suaminya mengalami kesakitan dan beberapa kali juga sempat tertekan secara mental.
Setelah Khaira sedikit menjauh, Radit mulai melihat Tama. "Jadi, bagaimana?"
Tama pun menghela nafasnya sejenak. "Gue datang ke sini mau minta maaf. Gue yang menyebabkan lo kecelakaan seperti ini, tapi jujur gue tidak sengaja. Saat pulang dari pernikahan Metta, banyak pikiran di kepala gue. Akhirnya gue mengendarai sepeda motor terlalu kencang, gak sadar ada penyebrang jalan. Sorry."
Radit pun mendengarkan penjelasan dari Tama dengan tenang, tanpa tersulut emosi. Walaupun memang saat mengetahui kakinya patah dan perlu waktu lama untuk sembuh, Radit sangat ingin marah dan menemukan siapa yang orang telah menabraknya. Akan tetapi, mengingat istrinya baik-baik saja hati Radit menjadi tenang.
Kini penabrak yang membuatnya kesusahan beraktivitas berada di hadapannya. Radit pun tidak menyangka bahwa Tama lah yang telah menabraknya.
"Waktu itu malam hari usai tabrakan itu, gue ke sini dan berhasil menemui Khaira. Akan tetapi, dia marah sama gue. Dia gak mau maafin gue. Gue datang untuk minta maaf dan akan bertanggung jawab untuk semuanya, tetapi dia menolaknya. Gue tahu reaksi Khaira sangat wajar, dan gue juga akui kalau gue udah salah banget sama Khaira." aku Tama dengan penuh penyesalan.
Sebuah fakta baru muncul yang baru Radit ketahui dan belum diceritakan istrinya kepadanya. Seperti yang diceritakan Tama, Radit pun setuju saat itu Khaira pasti sangat marah dan hancur. Bahkan pertama kali Radit sadar, dia masih ingat betapa mata istrinya terlihat sembab dan terlihat berantakan.
Sejenak Radit melihat punggung istrinya dari kejauhan, Radit menghela nafasnya. Radit percaya bahwa Khaira memiliki alasan mengapa dia marah dan meminta Tama untuk pergi. Baginya Khaira adalah wanita yang tidak bertindak impulsif. Khaira adalah wanita yang berpikir dan bersikap dengan matang.
Radit kemudian kembali melihat pada Tama. "Keliatannya banyak yang harus diurai di antara kita. Sebagaimana cerita dari Istri Gue. Jadi dulu gue akui, di awal pernikahan gue memang salah banget. Namun, gue berubah. Bahkan gue rela tinggalin semua dan ngejar dia, mendapatkan kembali hatinya hingga akhirnya dia menerima gue kembali. Memberikan kesempatan kedua sekaligus terakhir buat gue. Apakah gue sudah berubah? Tentu sudah, Khaira yang sudah merubah gue menjadi seperti ini. Tanpa dia rasanya gak mungkin gue menjadi pria seperti ini. Gue gak peduli dengan penilaian orang lain gimana dulunya gue. Yang gue pedulikan adalah bagaimana pandangan Istri gue ke gue. Dan, kalau lo minta maaf karena udah nabrak gue hingga membuat gue seperti ini, gue udah maafkan. Mungkin semua ini termasuk garis takdir." ucap Radit dengan mata yang terus melihat pada Tama.
Mendengar pengakuan Radit secara langsung jujur Tama merasa tidak enak hati, terlebih saat ini perasaannya untuk Khaira belum sepenuhnya beres. Akan tetapi, Tama akan mempercayai bahwa pria di depannya ini tidak akan menyakiti Khaira lagi.
__ADS_1
"Gue bisa bener-bener maafin lo, tetapi dengan syarat." Kali ini Radit kembali bersuara.
Tama yang sedari tadi menunduk, perlahan melihat Radit dengan bola mata yang menatap pada pria yang sejak dulu dia anggap sebagai rival itu.
"Apa?" tanya Tama perlahan.
Radit menghela nafasnya dan menegakkan punggungnya. "Tolong lupakan Khaira ... jangan mencintainya dan jangan mengharapkannya. Dia sudah menjadi seorang Istri dan Ibu. Tidak etis menunggu dan menginginkan apa yang sudah menjadi milik orang lain." ucapnya dengan begitu tegas.
Ucapan Radit yang terdengar tegas itu, justru layaknya tamparan bagi Tama. Pria itu menjadi benar-benar telah bersalah selama ini. Benar dia belum bisa melupakan perasaannya untuk Khaira, berkali-kali dia mencoba hasilnya sia-sia. Namun mendengar permintaan dari suaminya Khaira secara langsung membuat Tama begitu malu pada dirinya sendiri. Memang tidak semestinya dia menginginkan Khaira.
Akhirnya Tama pun menganggukkan kepalanya. "Baik ... gue akan melupakan Khaira. Gue akan berusaha membuang jauh-jauh perasaan ini. Akan tetapi, lo harus pastikan bahwa Khaira akan selalu bahagia. Jika suatu saat Khaira menangis lagi gara-gara lo, gue gak akan bisa tinggal diam." ucap Tama dengan tenang.
Radit pun setuju. "Tanpa lo minta pun, gue pasti akan membahagiakan dia."
Tama pun kemudian berdiri, dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Radit. "Makasih ya, sekarang gue ikhlas melepas Khaira. Gue akan berusaha untuk melepasnya. Sekali lagi gue minta maaf karena sudah membuat lo seperti ini."
Radit pun menjabat tangan Tama. "Iya, gue udah maafin."
Ya itulah yang akan Tama lakukan. Hari ini juga pria itu telah berketetapan hati untuk melupakan semua perasaannya kepada Khaira.
Radit kemudian berusaha berjalan dengan menggunakan kruk di tangannya, dia berusaha menghampiri Khaira. Perlahan dia mengayuhkan kruknya dan berusaha berjalan, hingga akhirnya kini dia berdiri tepat di belakang Khaira. Satu tangannya terulur untuk menyentuh pundak istrinya itu.
"Hei Sayang..." sapanya dengan wajah penuh senyuman.
Perlahan Khaira pun membalikkan badannya dan mendapati suaminya tersenyum kepadanya. "Sudah Mas?" tanyanya.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya sudah ... kamu mikiran apa? Hmm."
Khaira hanya mengedikkan bahunya. "Sudah pasti aku mikirin kamu, emang mau mikiran apa lagi coba." ucapnya sembari terkekeh geli.
__ADS_1
"Semua sudah selesai, kita pulang sekarang?" tanyanya.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Yakin sudah? Tadi ngomongin apa sih?" Rupanya Khaira tetap ingin tahu dengan apa yang diobrolkan suaminya dengan Tama.
Radit hanya mengerlingkan satu matanya. "Rahasia ... nanti aku cerita kalau di rumah."
"Sekarang aja." Pinta Khaira.
"Nanti malam aja di rumah. Nunggu Arsyila bobok." ucapnya yang sudah bisa ditawar lagi.
...πππ...
Pembaca setia Meminang Tanpa Cinta, tolong dukungannya untuk novelku berjudul Antara Cinta & Corona yang sedang mengikuti event Yang Muda Yang Bercinta.
Ingin tahu kisah cinta yang terjalin selama masa pandemi? Dibumbui dengan hubungan jarak jauh, kehilangan, dan bangkit di tengah kondisi yang tidak baik-baik saja. Semuanya tersaji dalam Antara Cinta dan Corona dengan visual sebagai berikut:
Surya Dana Putra - Pegawai Pajak di KPP Kota Makassar.
Bulan Maheswari, Guru Sekolah Dasar di Jogjakarta
Bintang Alan Pratama, Programmer di perusahaan rintisan.
Jangan lupa tap suka, like, dan berikan komentar untuk kisah yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini.
__ADS_1
Terima kasih,
Kiranaππ