
“Di antara rasa sedih dan bahagia sekarang ini, lebih banyak mana yang kamu rasakan?” tanya Radit perlahan kepada istrinya itu.
Khaira semula diam, hingga akhirnya dia menengadahkan wajahnya guna melihat sejenak wajah suaminya di sana, “Banyak bahagianya. Arsyilla punya kita berdua yang akan selalu ada buatnya dan menenangkannya. Kesedihannya juga akan hilang, aku yakin itu. Namun, membayang terpisah sekian tahun dari orang tua itu sangat tidak enak. Aku saja yang dewasa, pergi untuk sekolah hampir 2 tahun di luar negeri saja aku sering nangis karena kangen Ayah dan Bunda, apalagi ini Aksara masih kecil. Enggak kebayang kalau Ayah dan Bundanya Aksara kehilangan masa kecilnya Aksara, tidak tahu setiap tahap tumbuh kembangnya Aksara, itu lebih menyedihkan buatku.” ceritanya.
Memang benarlah demikian masa kanak-kanak itu tidak akan terulang. Masa tumbuh kembang seorang anak begitu cepat, dan Khaira merasa bersedih karena orang tua Aksara harus melewati tahun-tahun emas perkembangan Aksara.
Mendengar cerita dari istrinya, Radit pun menganggukkan kepalanya, “Benar banget Sayang … aku juga mikirnya gitu kok. Makanya aku juga merasa lebih lega karena sekarang Aksara sudah bertemu dengan orang tuanya. Benar katamu Sayang, kalau kita kan sudah menjadi orang tua ya, bisa tahu setiap perkembangan anak itu udah bahagia banget. Aku pun begitu, liat Arsyilla tumbuh dengan baik dan mencapai setiap tahap perkembangannya rasanya seneng banget.” ucap Radit yang tak memungkiri bahwa dirinya sependapat dengan istrinya itu.
Keduanya lantas sama-sama heningnya, tetapi masih terlihat bagaimana sudut mata istrinya itu masih berderai air matanya. Perlahan Radit menggerakkan bahunya dan juga menatap wajah istrinya itu, “Sekarang sudah ya sedihnya … jangan terlalu sedih, enggak bagus kan buat Ibu Hamil.” ucapnya yang kali ini memperingatkan istrinya itu.
Khaira pun mengangguk dan menyeka air matanya, “Maaf ya Mas … aku terlalu mudah menangis ya. Cengeng yah.” ucapnya sembari tersenyum.
Radit pun menggelengkan kepalanya, “Justru kamu itu wanita yang baik Sayang … sangat baik. Sama Aksara pun, aku hanya melihatnya dan kamu tergerak untuk menolong dia. Entah, dulu apa yang diperbuat Ayah dan Bundaku di masa lalu, sampai anaknya itu dianugerahkan wanita sebaik dirimu.” ucap pria itu sembari menarik hidung istrinya.
Sehingga hidung yang semula sudah berwarna merah itu pun kian memerah. Khaira pun mengerucutkan bibirnya dengan tangan suaminya yang usil itu.
“Sakit loh Mas … hidungku sudah merah karena menangis, sekarang tambah merah deh.” ucapnya sembari mengusap hidungnya.
Radit pun tertawa, kemudian memeluk tubuh istrinya itu dengan kedua telapak tangan yang mengusap punggungnya dengan lembut, “Sekarang sudah ya … fokus sama kehamilan kamu dulu. Baby nya di sini juga pengen diperhatikan Mamanya. Menurutku, beberapa minggu ini fokusnya kamu abis sama Arsyilla yang sakit, kamu yang menjadi pembicara ke Bogor, dan sekarang Aksara. Tolong ya Sayang, fokus ke babynya juga. Aku gak mau kamu dan baby kita kenapa-napa. Kalian berdua juga prioritasku.” ucapnya yang kali ini sungguh-sungguh meminta kepada Khaira untuk juga tidak kecapean dan tidak berpikiran berat, karena semua itu tidak baik bagi ibu hamil.
__ADS_1
“Iya Mas … beberapa minggu ini memang banyak banget yang terjadi. Belum juga ada wanita ganjen yang berusaha merebut suamiku. Masyaallah, hamil kali ini cobaannya banyak banget. Terkadang aku merasa sedih, tetapi aku percaya kuncinya kan ada di kita. Sembari memohon pada Allah untuk menjaga hati kita masing-masing, menjauhkan kita dari cobaan itu.” ucapnya dengan lirih.
Radit pun mengurai pelukannya dengan kedua tangan yang memegangi kedua bahu istrinya itu, “Tenang Sayang … intinya aku enggak akan macam-macam. Janji. Aku akan buktikan semuanya. Sekarang udah ya, mau ada yang diceritakan lagi sama aku? Berbagi rasa ya Sayang.” ucap pria itu sembari menggerakkan alisnya dan tersenyum menatap wajah istrinya.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum, “Iya, berbagi rasa … aku seneng banget bisa curhat kayak gini sama kamu. Lega rasanya, setelah bisa cerita semuanya.” ucapnya.
“Sama … aku juga suka kok dengar ceritanya istriku ini. Sekarang janji ya, kamu akan fokus kepada kehamilan kamu dulu. Kasihan dia karena Mamanya banyak pikiran beberapa minggu ini.” ucap Radit sembari mengecup perut istrinya yang sudah keliatan menyembul itu.
“Iya Mas … sekarang bobok yuk Mas, aku capek Mas. Pinggang aku pegel rasanya.” keluhnya sembari memegangi pinggangnya.
“Yuk …”
Kemudian Radit segera berbaring, membuka satu tangannya, tangan yang biasanya menjadi penopang bagi kepala istrinya itu. Dia menyambut istrinya yang menyusul berbaring di sebelahnya, menaruh kepalanya di lengannya dan mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya dengan satu tangan yang melingkari pinggang suaminya. Posisi yang begitu nyaman untuk satu sama lain. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya pun sama-sama terlelap. Membiarkan sepanjang hari dengan ceritanya itu berlalu, dan mereka akan membuka mata di pagi hari dengan cerita yang sudah menanti mereka kembali.
Keesokan harinya, Khaira bangun terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya dan juga menyiapkan sarapan untuk suami dan juga Arsyilla.
Hari masih begitu pagi, tetapi wanita itu bangun dengan menyeduh teh terlebih dahulu. Aroma teh berpadu dengan aroma melati terasa begitu menenangkan untuk Khaira, karena itu pagi itu dia berniat untuk bisa meminum Teh Melati hangat di pagi hari. Lantaran semalam menangis, matanya pun cukup sembab, sehingga untuk merilekskan dirinya, secangkir teh di pagi hari rasanya begitu menenangkan.
Tidak berselang lama, Arsyilla sudah turun dengan membawa boneka Aurora itu dalam pelukannya, menyapa Mamanya yang sudah duduk di meja makan.
__ADS_1
“Pagi Ma …” sapanya sembari berdiri di sisi Mamanya.
Dengan cepat Khaira pun membantu mendudukkan Arsyilla di kursi kayu yang ada di sekitar meja makan.
“Pagi Sayang … semalam bisa tidur?” tanya Khaira kepada putrinya itu.
Arsyilla pun mengangguk dan tersenyum, “Bobok sama boneka Aurora ya Ma …” ucapnya sembari menaruh boneka itu di atas meja makan.
Khaira tersenyum melihat Arsyilla dan kelucuannya, membuat wanita itu tertawa dalam hati bahwa bagaimana kemarin Arsyilla menangis dan menolak hadiah dari Aksara, tetapi sekarang gadis itu justru turun dari kamarnya dengan mendekap boneka pemberian Aksara itu. Seorang anak kecil memang seperti itu, maka benarlah yang diceritakan kepada suaminya kemarin, “anak kecil akan lebih mudah melupakan kesedihannya dan otaknya akan dipenuhi dengan momen yang baru.” Rupanya sekarang itu benar-benar terjadi.
“Syilla suka sama bonekanya?” tanya Khaira perlahan.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma … ini akan menjadi boneka kesayangan Syilla mulai dari sekarang. Sampai Syilla besar nanti, boneka ini akan tetap Syilla simpan ya Ma.”
Khaira pun mengangguk dan tertawa, “Iya Syilla … kalau begitu dijaga baik-baik ya bonekanya. Sekarang Syilla sarapan dulu ya, ini roti bakar dengan selai stroberi kesukaan kamu dan susu vanilla hangat. Yuk, sarapan Sayang …”
Arsyilla pun menggeleng, “No Ma … tunggu Papa dulu ya Ma.”
Kebiasaan dari Arsyilla memang dia lebih suka menikmati sarapan saat Papanya sudah bergabung dengan mereka di meja makan. Tidak perlu menunggu waktu lama, yang ditunggu-tunggu pun tiba dan segera menyapa keduanya.
__ADS_1
“Pagi Mama .., pagi Syilla.” sapa pria itu dengan sudah mengenakan pakaian kerja berupa kemeja dan celana bahan berwarna hitam. Lantaran hari itu adalah awal minggu, sehingga Radit pun akan kembali bekerja di kantornya.
Setelah formasi keluarga kecil sudah lengkap, barulah ketiganya memulai sarapan dan mengawali hari baru dengan kebahagiaan. Mengawali hari pertama di minggu itu dengan cerita bersama.