
Usai menikmati senja berdua, Khaira dan Radit memilih memasuki kamar hotelnya. Demikian juga dengan Dimas dan juga Metta. Dua pasangan itu berjalan memasuki kamar hotel masing-masing.
Sekarang Radit dan Khaira telah memasuki kamar mereka. "Mandi dulu Sayang...." ucap Radit yang menyuruh istrinya untuk mandi terlebih dahulu.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku mandi duluan ya Mas? Lengket badanku, abis panas-panasan, bau matahari." ucapnya sembari gerakan hidungnya mencium badannya.
Radit pun tersenyum. "Iya sana ... buruan mandi gak usah lama-lama. Aku tungguin."
Wanita itu segera bergegas ke kamar mandi, guyuran air shower yang hangat benar-benar merelaksasi badannya sekarang ini. 20 menit berlalu, Khaira telah keluar dengan wajah dan badan yang segar. Setelah Khaira keluar dari kamar mandi, giliran Radit yang mandi. Seperti biasa pria itu selalu usil dengan mencuri ciuman di pipi istrinya terlebih dahulu barulah dia berlari ke kamar mandi.
Waktu yang dibutuhkan Radit untuk mandi pun tidak terlalu lama, kini pria itu telah keluar untuk badan yang segar. Begitu keluar dari kamar mandi, Radit mengedarkan pandangannya mencari-cari di mana keberadaan istrinya.
Netranya menyorot pada sosok wanita yang tengah berdiri di balkon kamar hotel itu. Tanpa banyak bicara, Radit segera berjalan perlahan dan menghampiri istrinya yang tengah berdiri di balkon. Pria itu berjalan tanpa menimbulkan suara sama sekali, kemudian tangannya merengkuh badan istrinya. Mendekapnya erat dari belakang.
Merasa sepasang tangan kekar yang mendekapnya erat, Khaira pun tersenyum dan menaruh kedua tangannya di atas tangan Radit. Wanita itu beringsut sembari menggerakkan kepalanya perlahan. "Ngagetin aja sih...." ucapnya.
Radit justru semakin mempererat dekapannya. "Kamu ngapain justru berdiri di sini. Angin laut malam-malam kenceng Sayang. Mau main lagi ke pantai?" tanyanya kepada istrinya itu.
Khaira dengan segera menggelengkan kepalanya. "Enggak ... kapan lagi aku lihat pantai malam-malam gini. Pertama kalinya menginap di Hotel deket pantai ini Mas." jawab Khaira.
Satu tangan Radit menyibak untaian rambut istrinya sehingga membuat wajahnya menempel dengan wajah istrinya itu. "Jadi kamu suka?"
Menganggukkan kepala dan tersenyum. "Tentu aku sangat suka, Mas...."
"Ada lagi yang pengen kamu lakukan mumpung kita di sini?" tanya Radit dengan semakin mempererat pelukannya.
Dengan segera Khaira menggelengkan kepalanya. "Dengan kamu di sini menemaniku udah lebih dari cukup."
__ADS_1
Khaira kemudian membalik badannya hingga kini dia bisa menatap wajah suaminya. "Kita ini di sini cuma berdua, malahan kayak orang honeymoon. Padahal kita sudah punya Arsyila. Ngomongin Arsyila, aku jadi kangen Mas..." Ucapnya yang sudah merindukan Arsyila.
Radit kemudian menatap wajah istrinya. "Mau videocall sama Arsyila?" tawarnya.
Dengan cepat Khaira pun menganggukkan kepalanya. Radit pun segera melakukan panggilan video kepada Bundanya.
Bunda Ranti
Calling
"Halo ... selamat malam Bunda." sapanya begitu panggilan video itu tersambung.
"Ya Dit, ada apa?" tanya Bunda Ranti melalui panggilan video itu.
"Arsyila sudah bobok belum Bunda?" tanya Radit kepada Bundanya.
"Syila Sayang... dicari Papa sama Mama nih."
Gadis kecil berusia satu tahun ini mengamati kamera handphone dan melambaikan tangannya.
"Pa apa pa...." Celoteh Arsyila.
Khaira yang melihat wajah putri kecilnya memenuhi layar handphonenya tak kuasa meneteskan air mata.
"Syila Sayang ... kamu baru kasih makan ikan sama Eyang Kakung ya? Syila yang manis ya ... jangan rewel ya Sayang. Besok Mama dan Papa akan segera pulang." ucap Khaira.
Bunda Ranti yang masih memegangi handphonenya, menggeser posisi kamera handphone menghadap wajahnya. "Jangan sedih, Khai ... kalian nikmati waktu berdua sama Radit. Arsyila enggak rewel kok. Lagian besok kalian juga sudah balik. Ya sudah, Bunda matikan ya. Hati-hati di sana."
__ADS_1
Usai panggilan video dimatikan, Radit lantas memeluk istrinya itu. "Sudah nangisnya, besok kita pulang duluan aja. Yang penting agenda utama, nemenin Metta ke Pantai udah terlaksana. Mau langsung tidur sekarang?" ucapnya sembari ibu jarinya sesekali menyeka air mata Khaira.
Dalam tangisnya, Khaira tersenyum. "Baru juga jam 7 Mas ... masak mau tidur aja. Biasanya jam segini bacain dongeng buat Arsyila." kenangnya mengingat rutinitasnya bersama Arsyila.
Selama menjadi seorang Mama, ini adalah untuk kedua kalinya Khaira tidak bermalam bersama putri kecilnya itu. Pertama, saat dia menginap di Rumah Sakit pasca suaminya kecelakaan dan sekarang adalah untuk kali kedua.
Radit pun menyeringai. "Kalau belum mau bobok, enaknya kita ngapain Sayang?" tanya Radit sembari mengerlingkan matanya kepada Khaira.
Enggan menjawab, Khaira justru melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. "Ngobrol aja Mas ... aku suka deh ngobrol sama kamu."
Radit pun tertawa dan mengusapkan dagunya ke puncak kepala istrinya. "Kamu lucu banget Sayang ... sini, mau ngobrol apa? Sambil bersandar di headboard aja ya?"
Menuruti apa yang sampaikan oleh suaminya, Khaira turut menyandarkan punggungnya ke headboard. "Selama menikah denganku apa yang membuatmu bosan, Mas?" tanya Khaira sembari menoleh guna menatap wajah suaminya.
Radit pun tertawa. "Enggak ada bosannya Sayang. Aku bahagia menikah denganmu. Kepadamu jugalah, aku bisa menunjukkan kelemahanku. Jadi, aku tidak pernah bosan." jawabnya dengan mata yang menerawang, mengingat kembali perjalanan rumah tangganya bersama Khaira.
Merasa tidak yakin dengan jawaban suaminya, Khaira pun kembali bertanya. "Sekalipun? Sehari pun tidak pernah bosan?" tanya Khaira menyelidik.
Radit kembali menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku bisa bosan, kalau Istriku tidak hanya baik, cantik, tulus. Paket lengkap gini. Jujur, aku enggak pernah bosen." kembali Radit menjawab dengan wajah yang sangat serius.
"Kamu pernah bosen sama aku, Sayang?" Giliran Radit yang bertanya kepada Khaira.
Seketika tawa muncul dari bibirnya. "Pernah sih. Jujur. Namun itu awal kita menikah dulu, setelah kita sama-sama pendekatan dan hidup bersama di Manchester, aku enggak pernah bosen sama kamu. Bagiku bisa dikatakan, kebersamaan kita di Manchester itu menjadi tonggak awal bagaimana aku memaafkan dan menerima kamu sebagai suamiku, belajar menjadi seorang Istri, merasakan kehidupan rumah tangga. Berharga banget dan tidak akan pernah terlupakan."
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Benar, saat itu aku benar-benar gila rasanya. Asam lambung ditambah depresi yang aku alami, juga Ayah dan Bunda yang waktu itu memintaku melepasmu. Aku berusaha keras untuk mendapatkanmu lagi, berjuang untukmu. Aku juga setuju, semua berubah sejak kita sama-sama berada di Manchester. Hmm, jadi kangen Manchester. Kapan ya bisa ajakin Arsyila ke sana? Ngasih tahu, kalau kota itu adalah kota bersejarah bagi Mama dan Papanya."
Khaira pun tertawa. "Aku berharap kelak saat Arsyila dewasa, dia akan menemukan pria yang baik. Pria yang akan melindunginya dan berjuang untuknya, pria yang mencintainya dengan tulus." ucap Khaira dengan berdoa di dalam hatinya.
__ADS_1
"Amin ... semoga Allah mendengar doa kita. Gak terasa ya Sayang, banyak juga yang kita lalui bersama. Aku seneng tiap kali bisa ngobrol sama kamu seperti ini. Keromantisan bisa dibangun lewat obrolan juga kan? Mengenang kembali perjalanan cinta kita romantis bukan?"