
Dari jarak beberapa meter, Tama masih saja melihat Radit dan Khaira. Sebenarnya sungguh tak elok rasanya merasakan hatinya panas dengan pemandangan yang ada di depannya. Namun apa yang dirasakan di dalam hati, tidak bisa diprediksi sebelumnya bukan. Jika beberapa hari yang lalu Tama sudah meminta maaf. Nyatanya sekarang dia tetap tersulut emosi saat melihat wanita yang dia cintai tengah bersama suaminya.
Hati Tama kian berkecamuk saat mengingat bagaimana beberapa tahun yang lalu dia berusaha menyatakan cintanya kepada Khaira. Sayangnya sekalipun perasaannya tak pernah terbalas. Khaira hanya melihatnya sebagai seorang teman tidak lebih.
"Berkali-kali aku berkata pada hatiku sendiri untuk melupakanmu. Nyatanya tak semudah itu, Khai ... Beberapa tahun berlalu dan hati ini masih menginginkanmu. Hati ini masih berharap suatu saat perasaan ini akan terbalas. Ini memang sebuah dosa, tetapi mengapa begitu sulit melupakanmu, Khai...."
Tama hanya duduk dengan terus mengamati kebersamaan Radit dan Khaira. Pria itu enggan mendatangi mereka berdua dan menyapa. Hatinya masih terasa sakit, mengingat bahwa Khaira tidak pernah melihatnya sebagai seorang pria. Bahkan hanya melihat pasangan bahagia itu saja hati Tama rasanya begitu sakit.
Sementara di sisi lain, Radit tengah mengambil makanan. Pria itu beberapa kali menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya.
"Mau makan apa lagi Sayang, aku ambilin?" Tawarnya sembari masih mengunyah makanannya.
Khaira pun terkekeh. "Kamu lucu banget sih Mas ... dikunyah dulu ... ditelan dulu, baru bicara. Pipi kamu sampai menggembung gitu." ucapnya sembari menunjuk pipi suaminya.
Sementara Radit justru masih asyik mengunyah makanannya. "Yang ini enak Sayang ... coba deh." ucapnya sembari menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut istrinya.
Khaira pun menggeleng. "Aku udah kenyang, Mas ... beneran. Penuh banget perut aku."
Radit pun mengalah. "Pokoknya jangan diet-diet Sayang ... inget, cintaku enggak berdasarkan pada jarum timbangan yang bergerak ke kanan. Cintaku padamu itu stabil, mau apapun dan gimanapun kamu, aku tetap mencintaimu." ucapnya sembari mengerakkan alis matanya.
Rasanya Khaira ingin memukul suaminya itu. Bisa-bisanya gombal di pesta resepsi pernikahan temannya. "Gombal ...." sungutnya sembari mengedikkan bahunya.
Radit justru tertawa. "Serius ... aku cinta banget sama kamu. Mau bukti?"
Dengan segera Khaira menggelengkan kepalanya. "No. Enggak ... ishhh, apaan sih Mas. Malu tahu ini tempat keramaian Mas."
Keduanya masih melanjutkan duduk dan sembari mengobrol, hingga akhirnya pesta resepsi itu pun selesai. Ketika acara penutupan Radit mengajak istrinya untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Metta dan Dimas, sekaligus mengucapkan selamat berbahagia bagi keduanya.
"Bro, sekali lagi selamat ya ... bahagia bersama Istri. Jangan menunda-nunda momongan, nanti kita bisa atur playdate sama Arsyila." Ucapnya sembari memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
Dimas pun tertawa. "Siap ... kami juga enggak menunda-nunda. Iya nanti kapan-kapan kami main ke rumah lagi ya. Kangen sama Arsyila." ucap Dimas dengan bahagia.
Pun demikian dengan Khaira, dia pun memeluk sahabatnya Metta. "Selamat ya My Bestie ... doaku kalian berdua Sakinah, Mawaddah, Warrahmah, seperti doamu dulu saat aku melepas masa lajangku. Bahagia selalu ya." ucap Khaira sembari memeluk sahabatnya itu.
Metta pun mengangguk. "Makasih ya Khai ... kapan-kapan kami mau ke rumah lo lagi ya. Kangen sama Arsyila. Baby gemoy banget." ucap Metta.
"Datang aja, penting kabar-kabar dulu ya ... takutnya kalau Arsyila pas main di rumah Nenek atau Eyangnya. Jadi kabarin dulu." ucap Khaira.
Setelahnya mereka berempat kembali berfoto bersama dan lantas keduanya berpamitan untuk pulang.
Keduanya masih saja bergandengan tangan, keluar dari tempat resepsi pernikahan menuju ke tempat parkir mobil mereka. Keduanya masih tidak mengetahui ada Tama yang masih setia mengamatinya.
Namun segera Tama berlalu pergi, saat telah keluar dari hotel itu. Pria itu masih setia mengendarai kuda besinya. Saat Tama tengah mengenakan helmnya, hatinya kembali panas mengingat kebersamaan Radit dan Khaira.
"Cinta bertepuk sebelah tangan kenapa sesakit ini? Gimana caraku untuk melupakanmu Khai?" gumamnya dalam hati.
Dengan emosi yang masih tersulut dan hati yang berkecamuk, Tama melajukan sepeda motornya secepat mungkin. Dia tidak menyadari ada penyebrang jalan yang tengah berjalan pelan, sementara dengan kecepatannya yang tinggi akan sangat susah untuk mengerem. Tidak disangka, sepeda motor itu melaju dan mengenai salah satu orang yang tengah menyeberangi jalan itu. Tabrakan pun tak terhindarkan lagi.
Terdengar jeritan saat sepeda motor berukuran cukup besar itu menghantam tubuh pria itu.
"Mas Radittt...."
Raditlah yang menjadi korban pada kecelakaan sore itu. Pria itu terhuyung jatuh. Kepalanya serasa tertimpa beban berat, matanya bahkan sempat menggelap, dan jaraknya dengan Khaira seolah semakin menjauhi. Satu tangannya yang berdarah terulur ke arah Khaira.
Dalam pandangannya yang samar-samar, Radit masih melihat bagaimana Khaira berjalan tertatih ke arahnya dengan air mata yang berlinang membasahi kedua matanya.
Mendengar jeritan yang terdengar, Tama yang mulai goyah pun juga turut terjatuh di tepian jalan. Kaca spion sepeda motor itu berserakan di sekitar badan jalan. Sementara Tama masih mendengar suara jeritan yang dia dengar.
Beberapa meter dari jatuhnya Tama, terlihat Khaira tengah menangis dan menumpukan kepala suaminya di pahanya.
__ADS_1
"Tolong ... tolong...." ucapnya dengan tangis isakan yang terdengar pilu di telinga.
Bersyukur tidak menunggu lama, sebuah mobil ambulance datang dan Radit segera dibawa ke Rumah Sakit. Pria itu masih sadar kendati tangan dan bagian wajahnya berdarah.
"Jangan menangis ... untung kamu selamat, Sayang." ucapnya lirih dalam sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit.
Sementara Khaira masih menggenggam erat tangan suaminya. Dia tidak tahu seserius apa luka yang dialami suaminya. Yang pasti tidak ada darah di area kepala, namun tangan dan wajahnya memang berdarah.
Dalam hatinya terasa begitu sesak melihat suaminya, orang yang paling dia cintai dalam sepersekian detik mengalami kecelakaan seperti ini. Harusnya dia lah yang mengalami kecelakaan ini, tetapi demi melindungi Khaira lah Radit melakukan semua ini.
Ya, saat Radit dan Khaira tengah menyeberang jalan untuk mengambil mobil mereka. Seolah Radit menyadari ada sepeda motor yang melaju dengan kencang. Dengan segera Radit mengubah posisi berjalan Khaira, pria itu bahkan sempat sedikit mendorong Khaira supaya tidak terkena hantaman kuda besi. Radit mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi wanita yang paling dicintainya.
Di sisi lain, Tama tidak menyangka. Sepeda motornya justru menghantam Radit. Rasa panas di hatinya berganti dengan penyesalan. Dia yang terlalu memikirkan Khaira hingga melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, hingga dia tidak menyadari di depannya ada orang yang tengah menyeberang jalan, dan orang itu adalah Radit dan juga Khaira.
"Maafkan aku, Khai ... maafkan aku." ucapnya lirih dengan penuh penyesalan karena dirinya lah yang tanpa sengaja tengah melukai Khaira.
***
Dear All,
Dukung karya aku yang berjudul Antara Cinta dan Corona ya. Kisah ini aku susun berdasarkan kisah nyata dengan latar masa pandemi 2,5 tahun terakhir.
Karya ini sedang ikutan lomba Yang Muda Yang Bercinta di Noveltoon.
Mau karya yang bagus, mengalir, nyata, realitis, dan penokohan yang kuat. Mampir ke Antara Cinta & Corona ya...
Aku tunggu😉🥰
__ADS_1
covernya ini ya...
Yuk, kita ramaikan bersama. 💜