Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Merlion Park


__ADS_3

Usai menikmati wahana permainan Madagascar: A Crate Adventure, Arsyila masih menginginkan melihat patung singa yang merupakan ikon negara Singapura yang berada di Merlion Park.


Dari Pulau Sentosa, mereka menaiki Sentosa Express menuju Harbour Front dan menaiki MRT menuju Raffles Landing Site, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju Merlion Park.


Arsyila seakan tidak pernah merasa capek, gadis kecil itu memiliki daya penuh untuk berjalan dan melihat keindahan Negara Singapura yang begitu bersih dan rapi itu.


"Syila enggak capek?" tanya Khaira kepada putrinya yang terlihat masih saja bersemangat dan tidak keliatan capek sama sekali.


Dengan cepat Arsyila menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma... Syila senang." ucapnya dengan terus berjalan dan menggandeng tangan Mamanya.


Begitu sampai di Merlion Park, kemudian mereka mengambil foto dengan latar patung Merlion yang berada di Sungai Singapura, dan terlihat Marina Bay Sands dan juga Esplanade dari tempat ini.


Melihat patung singa membuat Arsyila begitu girang, dia ingin beberapa kali berlarian dan minta di foto dengan ikon negara Singapura itu.


Menjelang petang, barulah Arsyila mengeluh capek kepada Mama dan Papanya dan meminta untuk kembali ke hotel. Lantaran Arsyila yang sudah kecapean, perjalanan dari Merlion Park dilanjutkan dengan memesan sebuah taksi menuju ke hotel mereka.


Sesampainya di hotel, Khaira segera memandikan Arsyila dan tidak lama kemudian Arsyila telah tertidur. Giliran Khaira yang memanfaatkan waktu untuk mengobrol dengan suaminya.


Tanpa banyak bicara Khaira menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Radit pun tersenyum sembari mencium puncak kepala istrinya. "Kenapa? Hmm. Capek?" tanyanya sembari melirik pada istrinya.


Khaira pun enggan berbicara, kedua tangannya justru melingkari pinggang suaminya. "Capek sih, tetapi melihat Arsyila senang, aku jadi ikut senang." ucap Khaira.


Radit tersenyum dan mengelus rambut panjang istrinya. "Aku juga, Arsyila senang banget tadi. Bisa lihat Madagascar dan liat patung Merlion, dia begitu bahagia. Terkadang hanya melihat hal sederhana aja anak kecil udah bahagia banget ya Sayang." ucapnya yang merasa penuh syukur bisa membahagiakan Arsyila.


Sama halnya dengan Radit, Khaira pun juga bahagia bisa mengajak Arsyila jalan-jalan kali ini. "Sama Mas ... aku juga seneng banget hari ini. Walau kakiku capek banget." ucapnya.


Radit pun meringsut dan melihat kaki istrinya. "Sini aku pijitin, pasti kamu kecapean banget hari ini. Abis ngisi seminar langsung jalan-jalan sama Arsyila." ucapnya sembari mencoba memijit kaki Khaira.


Akan tetapi, tiba-tiba Radit mengernyitkan keningnya saat melihat tumit Khaira terdapat luka lecet di sana. Radit menghela napasnya sejenak, lalu memandang wajah istrinya. "Kenapa enggak bilang kalau kaki kamu lecet? Jangan selalu merasakan sakit sendiri, ada aku yang siap berbagi denganmu dan mengobati sakitmu. Lain kali kalau ada apa pun langsung bilang ke aku ya. Sakit kan?" tanyanya dengan sorot mata yang memandang Khaira.


"Ini pasti sakit banget. Perih ya pasti. Aku obati ya." ucapnya sembari berusaha berdiri untuk mencari obat merah dan plester.


Khaira menggelengkan kepalanya. "Gak usah Mas ... nanti juga sembuh kok. Kan cuma lecet kecil aja."

__ADS_1


Menghiraukan ucapan istrinya, Radit membubuhkan obat merah yang membuat Khaira mendesis lantaran menahan perih. "Sabar ... perihnya cuma sebentar. Lagipula sudah tahu tumitnya lecet justru enggak istirahat jalannya." ucapnya yang kemudian menempelkan plester berwarna cokelat di tumit istrinya.


"Makasih Mas ... perhatian banget sih." ucapnya sembari tersenyum menatap wajah suaminya.


"Kamu hobi banget sih buat aku khawatir. Lagipula, sudah pasti aku memperhatikanmu. Tahu enggak Sayang, sosokmu sudah masuk ke dalam mataku. Sudah pasti aku akan selalu memperhatikanmu." ucap Radit yang masih berjongkok usai menempelkan plester di tumit istrinya.


Khaira sedikit menunduk, lalu kedua tangannya menangkup wajah suaminya. Sembari tersenyum, Khaira mendaratkan kecupan di bibir suaminya.


Cup.


"Terima kasih karena selalu memperhatikanku."


Cup.


"Terima kasih sudah mengobati tumitku yang lecet."


Cup.


"I Love U My Hubby."


Radit sedikit memiringkan kepalanya guna memperdalam ciumannya, pria itu memejamkan matanya dan terus mencecap semua rasa yang begitu membuncah dalam dadanya.


Sekian menit berlalu, seakan keduanya tidak pernah berhenti untuk membuai dalam ciuman yang begitu dalam. Hingga akhirnya Radit melepaskan tautan bibirnya untuk mengisi kembali rongga paru-parunya dengan oksigen. Pria itu masih menatap wajah istrinya yang memerah dan jari telunjuknya mengusap bibir bawah istrinya yang sudah nampak bengkak karena ulahnya.


"Mau lanjut atau tidak?" tanyanya sembari tersenyum menatap wajah istrinya.


Seakan malu, Khaira justru menunduk dan tersenyum penuh arti. Senyuman yang tentunya yang diketahui oleh suaminya.


"Kalau capek, lain waktu aja. Kamu pasti kecapean kan?" tanya Radit yang mini sudah duduk di sisi istrinya.


Khaira kemudian menatap wajah suaminya. "Kalau capek sih pasti capek, Mas ... apalagi semalam kamu nya sampai nambah. Pagi tadi sampai dibangunin Arsyila karena badanku sakit semua." keluhnya kali ini kepada suaminya.


Radit kemudian merangkul bahu istrinya itu. "Maaf sudah membuatmu kecapean ... abis, kalau sama kamu selalu bikin aku candu, Sayang. Semua yang ada pada dirimu, membuatku tidak berdaya." ucap pria itu sembari terkekeh geli.

__ADS_1


"Kamu bisa saja sih Mas ... sejak kapan sih suamiku jadi kecanduan kayak gini?" tanyanya yang sesungguhnya hanya sekadar menggoda suaminya saja.


"Sejak pertama kali mencobanya Sayang ... kamu seperti magnet yang terus menarikku untuk mendekat padamu, menyatukan diri kita berdua." ucapnya spontan.


Khaira hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Modus ... euhm, tetapi makasih Mas... Selama ini kamu tidak pernah memaksaku. Terima kasih karena kamu tahu fase-fase di saat aku capek dan kelelahan." ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Radit menganggukkan kepalanya. "Sudah pasti Sayang. Jangan sampai berhubungan hanya sebatas memaksakan kehendak. Penyatuan kita itu sebagai bukti kita sama-sama saling mencintai, menerima satu sama lain. Menjaga keharmonisan suami istri. Bagiku, kamu gak harus memaksakan dirimu. Kita sama-sama melengkapi satu sama lain." ucapnya dengan serius.


Seakan ingin bermain-main, Khaira kembari mengecup mesra bibir suaminya. "Walaupun kamu suami paling modus, tetapi dalam hal cinta, kasih sayang, perhatian, dan lainnya kamu selalu juaranya. Makasih Mas Raditku Sayang...." ucapnya yang kemudian membuat wajahnya merona usai memanggil nama suaminya dengan panggilan sayang.


"Sudah pasti Sayang ... hubungan kita terlalu berharga jika hanya untuk sekadar menyalurkan nafsu saja. Aku bahagia bersamamu. Aku mau menjalani setiap momen dalam hidupku ini bersamamu." ungkapnya dengan sepenuh hati.


🍃🍃🍃


Dear My Bestie,


Aku membawa promosi untuk Novel terbaru karya temen aku ya.


Silakan intip dan membaca juga.


Judulnya Terjerat Cinta Berondong Kaya karya Liana Keizia.



Satu lagi yah... Judulnya Dendam Istri yang Tak Dianggap karya Syitahfadilah.



Dan, masih ada satu lagi... Judulnya Fake Love karya Mayya_zha. Silakan dukung yah... 💜💜



Terima kasih semuanya...

__ADS_1


Love U All... 🥰💜


__ADS_2