
Usai menyelesaikan permasalahan yang cukup pelik di antaranya kedua dengan menyalur rasa cinta yang tidak akan pernah dalam dirinya mereka berdua, Khaira lantas memilih tiduran di pangkuan suaminya. Badannya terasa remuk redam, tetapi wanita nampak menatap wajah suaminya secara intens.
“Kenapa kamu kok lihatin aku terus sih?” Tanya suaminya itu kepadanya.
Khaira nampak menggelengkan wajahnya, dia lantas tersenyum dengan satu tangan yang berusaha membelai wajah suaminya itu, “Enggak papa sih, cuma rasanya kok kayaknya aku cinta banget sama kamu, Mas.” Khaira kali ini mengakui secara langsung bagaimana perasaannya kepada suaminya. Ada cinta di sana yang seolah menghubungkan dan menautkan keduanya satu sama lain.
Mendengar pengakuan tiba-tiba dari istrinya, Radit justru mengacak gemas puncak kepala istrinya yang kini tengah bersandar di pahanya itu, “kamu sekarang hobi banget bikin aku meleleh loh, Sayang ... pinter banget sih. Perasaan dulu, istriku ini sukanya diem, mau marah, sedih, senang, hanya diem. Sekarang kenapa bisa berbicara manis seperti ini sih?” Tanyanya sembari sesekali menundukkan badannya dan mengecupi kening istrinya itu.
“Enggak tau juga ya Mas ... apa karena aku sedang hamil, jadi bawaannya aneh begini. Atau memang aku sudah tidak tahan menahan perasaanku di dalam sini,” ucapnya sembari memegangi dadanya yang seolah berdetak tidak karuan rasanya.
Pria itu pun lantas tertawa, “apa pun itu, aku senang karena kamu bisa jujur mengungkapkan perasaanmu kepadaku. Jangan sungkan, Sayang.”
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “iya, aku tidak akan sungkan, Mas ... makasih ya Mas,” kali ini dia mengucapkan terima kasih kepada suaminya itu, “terima kasih karena selalu mencintaiku dan selalu membuktikan diri semakin baik setiap harinya.”
__ADS_1
Hanya mengucapkan rasa terima kasihnya saja, wanita itu nampak berkaca-kaca. Dengan segera Radit menggelengkan kepalanya, “tidak perlu menangis, Sayang ... lagian aku serius kepadamu. Kamu partner terbaikku. Pasangan yang paling bisa ngertiin aku, mengisi kekuranganku, dan kamu juga Mama yang sangat baik bagi Arsyilla,” ucapnya sembari membelai wajah istrinya itu.
Khaira terus dan merasakan belaian tangan suaminya di sisi wajahnya itu, “seharusnya semua orang tua adalah partner, Mas ... parents to be partner. Orang tua adalah pasangan, dan itu yang dilihat oleh anak-anak. Saling berpasangan menjalani peran sebagai suami dan istri, berpasangan menjadi Papa dan Mama, dan bahkan dalam menerapkan pola pengasuhan sebaiknya juga berpasangan. Dari orang tuanya lah, anak-anak belajar dari menjadi pasangan yang baik,” jelasnya kepada suaminya itu.
Radit pun mengangguk setuju, “bener banget Sayang ... aku setuju. Semoga kita berdua bisa menjadi figur pasangan yang baik bagi Arsyilla. Walaupun kita tidak sempurna, setidaknya kita selalu berusaha ya Sayang. Jangan sampai Arsyilla dan adik baby nanti justru melihat figur yang kurang tepat dari luar rumah.”
Sebuah pendapat yang sangat benar bahwa orang tua adalah partner yang terbaik dan dilihat oleh anak-anaknya setiap saat. Sebagaimana keinginan pasangan muda tersebut bahwa menjadi orang tua sekaligus menjadi partner yang terbaik bagi anak-anaknya.
Sorot mata Radit kemudian menatap wajah istrinya, “dari dahulu, sekarang, sampai selamanya, cuma kamu best partner buat aku, Sayang. Temani aku selalu, bersama-sama kita membesarkan Arsyilla dan adiknya nanti. Jangan bosan untuk selalu berada di sisiku. Temani aku hingga ujung usiaku,” ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.
Cup.
“Kamu juga, Mas ... kamu best partner buatku. Maaf juga, tadi aku sempat ngambek dan malahan nangis-nangis, tetapi aku jujur, aku enggak mau dan gak pengen mendengar seperti itu. Kalau nanti kehamilanku tertambah aku makin gemuk, pipiku jadi chubby, dan enggak menarik, jangan berubah ya Mas.” Wanita itu berkata dan meminta suaminya untuk tidak berubah sekalipun dirinya secara fisik dan penampilan akan berubah.
__ADS_1
Pria itu tertawa, dan merapikan rambut istrinya, “siapa juga yang mau berubah? Sejak kamu hamil Arsyilla, aku tidak berubah Sayang. Tidak usah memikirkan penampilan, sekarang yang penting kamu sehat, babynya sehat. Udah buatku sih itu aja. Cintaku padamu tidak berdasarkan pada timbangan berat badanmu, Sayang. Yang penting, kamu selalu sehat dan bahagia. Jangan terlalu banyak pikiran, itu saja. Biar babynya di sini juga bahagia,” ucapnya sembari membelai perut istrinya yang masih rata itu.
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “iya ... makasih ya Mas Raditku Sayang. Ya ampun, aku hamil ini rasanya kok bucin gini sih sama kamu. Kenapa tiap hamil justru jadi nempelan kayak gini sih.” Gadis itu tertawa sembari mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
Sama halnya dengan Radit, pria itu nampak tertawa saat melihat pengakuan dari istrinya. Dia bahkan tidak menyangka istrinya yang tengah hamil seperti ini bisa dengan santai duduk di atas pangkuannya, mengungkapkan perasaannya, dan memanggilnya dengan panggilan sayang. Wah, rasanya hormon kehamilan memang bisa membuat wanita yang semula tenang, diam, dan lebih banyak menyimpan sesuatu dalam hati menjadi bisa sedikit agresif. Akan tetapi, Radit justru bersyukur dengan semua pengakuan yang diucapkan istrinya. Mereka adalah partner, bukan sekadar partner yang konotasi negatif, tetapi waktu yang panjang telah menempa mereka untuk mengenali satu sama lain, bekerja sama sebagai orang tua untuk mendidik dan mengasuh Khaira, dan juga mengisi dan melengkapi satu sama lain sebagai seorang suami dan istri.
Radit kemudian mengikis wajahnya, mendekat pada wajah istrinya itu. Pria itu menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidung istrinya, kemudian menggerakkannya perlahan, “jadi Istriku ini bucin ya sekarang? Kasihan banget sih aku, padahal aku sudah bucin sejak dulu. Bucin gak papa kok Sayang, aku lebih senang malahan. Daripada istrinya histeris saat nonton sepak bola dan lihat Christiano Ronaldo, mending Istriku ini bucin aja sama aku dan nempelin aku kayak gini,” ucapnya sembari bersikap nakal dengan mengelus punggung istrinya dari balik kaos yang tengah dikenakan istrinya itu.
“Seneng sih seneng, Mas ... tapi, tangannya dikondisikan dong,” ucapnya sembari turun dari pangkuan suaminya dan memilih tidur dengan membelakangi suaminya, “aku tidur bentar boleh Mas?” Tanyanya yang sudah mengambil posisi miring dan berharap bisa tidur sebentar.
Radit justru turut mendekap istrinya itu dari belakang, pria itu bahkan dengan nakal menyibakkan untaian rambut milik istrinya dan mengecupi leher jenjang istrinya, “jangan tidur, mau lagi Sayang ... yuk, sekali lagi mumpung cuma berduaan di rumah,” godanya yang tentu saja hanya menggodai istrinya.
“Besok lagi aja Mas, tadi kan udah ... besok ya,” tawarnya kepada suaminya untuk melanjutkan besok lagi.
__ADS_1
“Ya sudah deh, besok ... dua yah? eh, enggak tiga ....” Pria itu melakukan negosiasi sembari menarik selimut dan menyelimuti istrinya itu.