Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Mempersiapkan Arsyilla Menjadi Kakak


__ADS_3

Menyambut kehamilan kedua, persiapannya bukan sekadar fisik dan mental seorang Ibu. Akan tetapi, bagi mereka yang sudah memiliki anak, persiapan juga termasuk mempersiapkan 'Si Kakak' sejak dini. Hal ini tentunya untuk menjalin tali kasih antara Kakak dengan Adiknya nanti. Sekaligus menghindari Sibling Rivalry yang sering terjadi di antara Kakak dan Adik.


Sibling Rivalry adalah kompetisi yang sering terjadi di antara saudara kandung, baik mereka yang berjenis kelamin sama maupun berbeda. Kompetisi ini biasanya dibarengi dengan sifat cemburu, iri, dan persaingan. Contohnya bersaing mendapatkan perhatian dari Mama atau Papanya, berebut mainan, atau bahkan bisa saja Si Kakak menangis saat Mama atau Papanya sedang menggendong adiknya.


Maka dari itu, Khaira dan Radit berusaha maksimal untuk mempersiapkan Arsyila menjadi seorang Kakak yang baik untuk meminimalisir terjadinya Sibling Rivalry di kemudian hari.


"Arsyila tadi sudah lihatkan ada baby di perut Mama?" tanya Khaira setelah mereka sama-sama pulang dari cek kehamilan.


Anak berusia 3 tahun ini nampak menganggukkan kepalanya. "Iya Ma ... tetapi Baby nya mana Ma? Kapan Syila bisa lihat babynya Ma?" tanyanya dengan mata bulatnya yang bertanya-tanya mencari keberadaan baby nya yang belum bisa dia lihat.


Khaira pun tersenyum, kemudian mengusap lembut puncak kepala Arsyila. "Tadi Dokter Indri bilang, baby nya baru sebesar biji apel. Masih kecil sekali Sayang ... nanti lama-lama perut Mama ini akan membuncit dan nanti setiap periksa lagi ke Dokter, Syila akan melihat baby nya di dalam sini tumbuh dan bergerak." ucap Khaira yang menjelaskan perihal si baby kepada Arsyila dengan penjelasan yang sederhana.


"Dulu Syila juga di dalam perut Mama?" tanya Arsyila yang begitu kritis kepada Mamanya.


Keduanya yang tengah bersama-sama di dalam kamar tidur Arsyila kemudian saling memandang. Begitu terlihat dengan jelas begitu Arsyila nampak menginginkan jawaban. Kemudian Khaira berdiri sejenak. "Sebentar ya Syila ... tunggu Mama."


Khaira berjalan menuju connecting door dari kamar Arsyila menuju kamarnya, kemudian dia mengambil sebuah map dari dalam lemari dan handphonenya. Setelah mengambil semuanya, Khaira kemudian duduk dengan bersandar di head board tempat tidur Arsyila.


"Ini Sayang ... ini foto-fotonya Arsyila dulu waktu masih berada di dalam perut Mama. Ini waktu Arsyila berusia 8 minggu, 12 minggu, 18 minggu, sampai Arsyila berusaha 39 minggu. Semuanya ada kan fotonya. Terlihat bagaimana Arsyila yang berukuran kecil terus bertumbuh." ceritanya menunjukkan setiap hasil USG pemeriksaan Arsyila. Khaira menyembut cetakan hasil USG itu sebagai foto, supaya Arsyila lebih mudah memahaminya.


Nampak Arsyila tertarik dengan setiap kertas foto berwarna hitam putih itu. Gadis kecil itu nampak melihat satu per satu hasil USG dirinya waktu kecil.

__ADS_1


"Ini fotonya Syila dulu ya Ma?" tanya Arsyila lagi kepada Mamanya.


Khaira pun menganggukkan kepala. "Benar Sayang ... ini foto Syila saat masih berada di perut Mama. Dulu kami saat bahagia setiap kali mau bertemu Dokter dan melihat perkembangan Syila di dalam perut Mama." Khaira menceritakan bagaimana dirinya begitu bahagia saat menjelang hari pemeriksaan karena dia bisa melihat perkembangan baby Arsyila dari berat badannya, lingkar kepalanya, air ketubannya, posisinya. Masa-masa kehamilan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Khaira.


Sementara Arsyila yang mendengarkan cerita dari Mamanya tiba-tiba tersenyum. "Baby nanti seperti ini juga ya Ma ... Syila mau jadi Kakak, Ma ... Punya baby." ucapnya yang seolah penuh harap benar-benar ingin menjadi Kakak.


"Coba nanti kalau baby nya sudah lahir, apa yang akan Syila lakukan sebagai Kakak?" tanya Khaira yang tentunya ingin menstimulasi Arsyila.


Sejenak Arsyila nampak berpikir, kemudian dia pun menjawab Mamanya. "Diajak bermain, bernyanyi, membaca buku ... kalau digendong boleh enggak Ma?"


Khaira menggelengkan kepalanya. "Jangan digendong yah, tulang baby itu masih rawan. Kalau Syila mau peluk dan cium Adik boleh." ucap Khaira memberi penjelasan.


"Di sun boleh kan Ma? Kayak Papa yang suka sun sayang Arsyila."


Setelah itu, Khaira memasukkan kembali foto-foto USG saat kehamilan Arsyila ke dalam semua map kecil. "Karena sekarang sudah malam, Syila bobok ya ... Mama peluk."


Gadis kecil itu pun menganggukkan kepala dan kemudian perlahan memejamkan matanya. Khaira masih memeluk Arsyila, membiarkan putrinya itu untuk terlelap. Setelah Arsyila benar-benar nyenyak barulah dia menyelimuti Arsyila dan kemudian memasuki kamarnya sendiri.


Di dalam kamar, nampak suaminya yang tengah duduk di sofa tengah memegangi handphonenya. Ketika Khaira datang, Radit langsung menaruh handphone itu di atas nakas, kemudian satu tangannya terulur berharap Istrinya pun akan meraih tangannya. Bak gayung bersambut, Khaira pun juga meraih tangan suaminya itu.


"Sudah bobok Syila nya?" tanya Radit kepada istrinya itu.

__ADS_1


Khaira menganggukkan kepalanya. "Udah ... Udah bobok kok. Kamu kalau bicara hati-hati deh Mas ... Tuh Arsyila aja sampai tahu istilah sun sama seperti kamu." ucapnya yang memperingatkan suaminya.


Radit justru tertawa. "Emang iya?" tanyanya.


"Iya ... katanya kalau punya adik bayi nanti mau di-sun seperti Papa. Sun sayang. Syila bilang begitu loh. Siapa yang ngajari coba? Pasti Papa nya kan?"


Enggan menjawab, Radit justru masih tertawa dan pria itu justru menciumi pipi istrinya.


"Isshhhs ... jangan cium-cium Mas. Geli tau, mana kamu belum bercukur. Iritasi kulitku nanti. Merah semua." ucap Khaira yang masih saja memperingatkan suaminya.


"Kulit kamu sensitif banget sih Sayang ... Cuma kena bakal kumis aja merah semua. Kalau aku berjambang gimana?" tanya pria itu kepada istrinya.


Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Jangan ... Jangan berjambang. Aku enggak suka pria berjambang." ucapnya dengan cepat.


"Sekali-kali aja ya punya jambang." tawarnya kepada istrinya.


"Jangan ... Bukan hanya aku yang minta. Babynya juga minta loh ini."


Jika Istrinya sudah mengatakan tentang baby, maka Radit tidak bisa menolak. Pria itu pun menghela napasnya. "Kalau sudah bawa-bawa baby, aku kalah deh. Ya sudah besok pagi ya aku cukur biar bersih. Tadi gimana sama Arsyila?"


"Tadi aku lihatin foto-foto USGnya Arsyila, memberitahu dia kalau dulu dia juga di dalam perut Mama. Kan itu juga stimulasi untuk mempersiapkan Arsyila menjadi Kakak. Sama tidak lalai kepada dia, sekalipun di dalam sini sedang ada baby." ucap Khaira sembari mengelus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"Benar banget Sayang ... Makasih ya, kamu sudah dan selalu menjadi Mama yang baik buat Arsyila. Kamu juga menjadi Istri yang sepadan buatku. Makasih Wifey." ucapnya sembari merangkul bahu istrinya itu dengan erat.


__ADS_2