
Di akhir pekan, sembari mengisi liburan musim dingin yang masih akan berjalan sekian minggu. Radit dan Khaira memutuskan untuk melihat Derby Manchester.
Bagi Manchunian (sebutan bagi orang-orang yang tinggal di kota Manchester), Derby Manchester adalah suguhan sepak bola yang tidak akan dilewatkan oleh mereka. Jika menilik dari konteks sepak bola, kota Manchester sendiri terbagi dua yang diwakili dengan dua warna. Warna Merah mewakili Manchester United dengan markasnya di Old Trafford Stadium, dan warna Biru mewakili Manchester City dengan markasnya di Etihad Stadium.
Derby Manchester menjadi salah satu pertandingan derby (Tim dalam satu kota) yang paling diminati di dunia. Pertandingan ini syarat akan gengsi dan penuh determinasi tinggi.
Lantaran sekarang keduanya tengah menghuni kota Manchester, maka Khaira dan Radit pun memanfaatkan momen untuk menyaksikan salah satu pertandingan Derby paling panas di dunia ini.
Dengan mengenakan Jersey berwarna merah, dipadukan dengan celana jeans dan sneakers. Keduanya memilih menaiki transportasi umum dari Oldfield Road.
"Akhirnya salah satu keinginan aku tercapai deh." ucap Radit yang membuat Khaira menoleh padanya seketika.
"Keinginan apa memangnya Mas?" tanyanya.
"Nonton Derby Manchester dong. Dulu cuma bisa nonton di depan TV, sekarang aku punya kesempatan untuk nonton secara langsung. Wah, seneng banget aku." mata pria itu nampak berbinar-binar.
"Aku juga Mas, sebagai fans berat Manchester United aku juga seneng banget bisa lihat pertandingan Derby ini. Salah satu mimpiku menjadi nyata."
Radit mengangguk setuju. "Dan, ini semua terwujud karena kamu mendapat beasiswa di sini Sayang. Kalau tidak, ya gak mungkin semua ini terjadi ya."
Khaira tersenyum bias, "Jadi intinya aku kuliah di luar negeri itu menguntungkan ya Mas?"
Sorot mata Radit berubah seketika. "Bukan gitu, aku ingat salah satu alasanmu ke sini kan untuk menjauhiku. Sesampainya di sini, kamu pun pasti perlu beradaptasi, homesick, dan sebagainya. Namun seperti orang berkata 'seperti pelangi sehabis hujan', seperti itu juga Allah membalikkan semuanya kan."
"Hmm, iya sih. Kadang kehidupan lucu, di saat aku sudah nyaris menyerah dan tak mengharap apa pun. Justru tak berselang lama semua waktu seolah dibalikkan Allah. Digantikan semua. Alhamdullilah banget." Khaira mengatakan perasaannya sungguh-sungguh dengan penuh syukur.
"Taruhan yuk Sayang mau enggak?" Secara tiba-tiba Radit menawarkan taruhan kepada Khaira.
"Taruhan apa Mas?"
__ADS_1
"Walau pun sama-sama pendukung Manchester United, tapi pertandingan kali ini menurutmu siapa yang menang? Nah, kita tebak. Yang menang boleh minta apa pun kepada yang kalah. Gimana?"
Khaira nampak mengerutkan keningnya, menimbang-nimbang terlebih dahulu. "Okay, siapa takut. Aku tetap pegang Manchester United ya. Gimana?"
"Okay, Aku pegang Manchester City ya. Deal?"
"Deal!"
"Yang menang boleh minta apa pun ke yang kalah ya." Pria itu menekankan lagi ketentuan dari taruhan keduanya.
Usai itu, keduanya telah sampai di Old Trafford Stadium. Mereka berdua berbaur bersama ribuan supporter yang lain. Warna merah dan biru langit mendominasi seisi stadion itu. Stadion Old Trafford bukan sekadar markas bagi Manchester United, stadion juga menjadi saksi dalam Perang Dunia II, karena saat ini stadion ini digunakan sebagai basis militer.
"Stadionnya lebih rame ya?" Radit begitu terpukau menikmati atmosfer stadion Old Trafford yang begitu panas dan rame, tentunya juga berisik karena ribuan orang berkumpul dan menyanyikan chants (lagu dukungan) secara bersahut-sahutan.
"Aku masuk ke Gelora Bung Karno aja belum loh Mas, padahal GBK Stadion Terbesar dan Terbaik di Indonesia. Eh, malahan aku sudah menginjakkan kakiku di sini." ucap Khaira sembari setengah berteriak karena begitu bisingnya situasi di stadion sore ini.
Khaira agak menggelengkan kepalanya. "Aku takut kalau tawuran itu loh Mas, kalau aku terkena lemparan botol gimana?" Sebenarnya Khaira hanya mengingat perihal pemberitaan sepak bola nasional yang acap kali rusuh dan tawuran, membuatnya takut untuk melihat pertandingan langsung di stadion saat di Jakarta dulu.
Radit justru tersenyum geli, bisa-bisanya Khaira justru memikirkan tentang tawuran dalam sepak bola nasional yang sering terjadi lempar botol air minum. "Tenang, kan ada Masmuw ini loh. Sudah tentu aku akan melindungi kamu. Sebelum botol itu mengenaimu, aku akan terlebih dahulu menangkisnya."
"Preettt... Ngapusi Mas-Mas. Gak percaya aku." Khaira berbicara sembari memutar malas bola matanya.
Kedua tangan Radit bersidekap di depan dada. "Gak percayaan terus deh, gitu kalau dicubit hidungnya bilangnya aku KDRT."
"Hmm, ya udah deh kapan-kapan ke GBK ya Mas, tapi jogging aja di sana," ucap Khaira.
"Boleh," balasnya sembari tersenyum. "Pertandingannya berapa lama lagi ya? Perasaan stadionnya udah penuh banget loh ini. Mana semua nyanyi chants beda-beda."
Khaira menunjuk pada jam digital yang terpampang di sudut stadion. "Tuh di analog itu 10 menit lagi Kick off."
__ADS_1
Radit mengikuti arah jari telunjuk Khaira. "Oh, iya... Pemain Manchester United paling kamu suka sapa Sayang?"
Khaira menaruh jari di dagunya. "Semuanya suka. Tetapi dulu paling suka Christiano Ronaldo."
"Kalau Christiano Ronaldo hampir disukai semua cewek. Dia kan cakep, pasti cewek-cewek sukanya sama CR7." Radit agaknya menggerutu saat Khaira menyebut nama Mega Bintang Lapangan Hijau yang identik dengan nomor 7 itu.
"Enggak lah. Aku suka karena skillnya dia bagus banget. Tendangan jarak jauhnya bisa dikonversi menjadi gol. Dia juga pemain yang memiliki jam latihan lebih banyak dibanding pemain lainnya saat era Sir Alex Ferguson." Khaira menceritakan panjang lebar.
"Kalau sama Ronaldo setahu itu, kalau sama suami sendiri enggak?" Ucapnya cemberut.
Khaira hanya tersenyum, "jadi ceritanya cemburu? Kan cuma idola aja, lagipula aku tahu semua tentang Manchester United. Aku bukan fans kardus ya," ucapnya sembari memincingkan matanya.
"Serius tahu semuanya?" Radit bertanya dengan penuh antusias.
"Iya."
"Tahu enggak tragedi paling menyedihkan bagi Manchester United?" tanya Radit kepada Khaira.
"Tahu dong. Munich Disaster, di mana hampir semua pemain Manchester United meninggal dunia. Mereka diabadikan sebagai Flower of Manchester."
Radit bertepuk tangan sendiri. "Mantep. Udah deh aku percaya kamu memang bukan fans kardus."
"Makasih loh ya. Kalau Mas Radit paling suka sama sapa di Manchester United?"
Pria itu nampak berpikir. "Hmm, aku suka Ruud van Nistelrooy. Pemilik nomor punggung 10." Radit sejenak menjeda ucapannya. "Tapi tahu enggak ada hal yang lain yang paling aku suka?"
Khaira menoleh melihat suaminya itu, "Siapa?" Tanyanya singkat.
"Kamu..."🥰
__ADS_1