Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Arsyilla Sakit


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, aktivitas keluarga kecil bahagia sejahtera itu berjalan dengan normal.Radit dan Khaira sama-sama terus mengisi tangki air cintanya hingga meluap dan mereka pun membaginya dengan mengisi tangki air cinta milik putrinya, Arsyilla. Hari-hari yang berjalan begitu indah, seolah matahari selalu tersenyum lebar untuk rumah tangga mereka.


Akan tetapi, kali ini Khaira cukup panik saat mendapati putrinya, Arsyilla yang terbiasa aktif dan sehat. Bahkan selama tiga tahun terakhir, bisa dikatakan bahwa Arsyilla sangat sehat, tidak pernah terserang penyakit tertentu.


Tengah malam, saat mereka tengah terlelap dalam tidurnya, Arsyilla bangun dari tidurnya. Gadis kecil itu menangis dan perlahan membuka pintu yang terkoneksi dengan kamar Mama dan Papanya. Dengan terisak, Arsyilla membangunkan Mamanya.


“Ma … Syilla mau bobok sama Mama.” ucapnya sembari menggoyang kaki Mamanya, caranya untuk membangunkan sang Mama.


Merasa dibangunkan, Khaira pun dengan cepat terbangun. Dia kaget melihat Arsyilla yang menangis dengan memegangi kakinya, “Kenapa Syilla Sayang? Syilla mimpi buruk?” Tanyanya sembari berusaha bangun dan mengulurkan tangannya kepada Arsyilla.


Perlahan Arsyilla berjalan mendekati Mamanya dan langsung berhambur dalam pelukan Mamanya, gadis kecil masih terisak dalam tangisannya.


Betapa kagetnya Khaira saat memeluk Arsyilla dan tubuh putrinya itu begitu panas. Rupanya Arsyilla terbangun karena badannya yang demam. Panik, Khaira pun langsung membangunkan suaminya perlahan.


“Pa … Papa, bangun dulu Pa …”


Merasa dibangunkan, perlahan Radit pun mengerjap. Dia mengucek matanya kemudian duduk dan menyalakan lampu kamarnya, “Ada apa Sayang?” tanyanya dengan berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Ini Syilla demam Pa … bisa minta tolong gendongkan Arsyilla dulu? Mama mau ambil kompres, obat demam, dan termometer dulu untuk cek suhu badannya Arsyilla.” ucapnya. Sebab Khaira sedang hamil, sehingga dia memang tidak bisa menggendong Arsyilla yang berat badannya semakin berat, menggendong Arsyilla bisa menekan perutnya yang di dalamnya sudah ada kehidupan baru.


Radit pun mengangguk, pria itu turun dari tempat tidur dan langsung menggendong Arsyilla. “Sini digendong Papa, Sayang … kamu demam banget badannya.” ucapnya sembari menaruh telapak tangannya ke kening Arsyilla.


“Ma, ini badannya Syilla panas banget. Mau ke Rumah Sakit langsung?” tawarnya kepada istrinya. Pria itu pun panik karena badan Arsyilla yang memang begitu panas.


“Sebentar Pa … kita cek suhu badannya dulu dan berikan penurun demam dulu.” ucap Khaira, berusaha tenang sekalipun dirinya pun cukup panik.


Dengan cepat, Khaira mengambil kotak P3K dan mengambil termometer untuk mengukur suhu badan Arsyilla.


“38 Celcius, Pa … kita minumkan obat pereda demam dulu saja Pa, semoga demamnya segera turun.” ucapnya sembari membuka botol obat pereda demam.

__ADS_1


Sirup berwarna ungu dengan rasa anggur itu pun Khaira tuang dalam tutup takaran dengan membaca petunjuk pemberian obat terlebih dahulu, kemudian dia memberikannya kepada Arsyilla. Membantu putrinya itu untuk meminum obatnya.


“Diminum dulu ya Sayang …” ucapnya sembari membantu Arsyilla meminum obat tersebut.


Tanpa penolakan Arsyilla pun meminumnya, kemudian menyerahkan kembali gelas takar itu kepada Mamanya.


“Mama pasang kompres ini di kening Syilla ya?” tawarkan sembari menunjukkan kompress untuk anak-anak saat demam dengan kemasan berwarna biru itu.


Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma …” jawabnya kepada sang Mama.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Khaira segera membuka kemasan kompress itu dan memasangkannya di kening Arsyilla. Perlahan tangisan Arsyilla pun reda.


“Syilla bobok di sini ya sama Mama dan Papa. Besok pagi kita tetap ke Dokter ya Sayang … biar Dokter tahu, Syilla sakit apa.” ucap Khaira yang tetap akan membawa Arsyilla ke Dokter.


Alhasil, malam ini Arsyilla tidur di antara Mama dan Papanya. Semalaman, Khaira hanya tidur ayam. Dia begitu mengkhawatirkan kondisi Arsyilla. Bahkan tangan Khaira tak beranjak dari kening Arsyilla, karena dia ingin memastikan bahwa putrinya itu tidak lagi demam. Jika dia menyadari, Arsyilla demam lagi, dia bisa cepat mengambil tindakan dan membangunkan suaminya. Sebab, demam pada anak-anak bisa berakibat terjadinya kejang fabrille bagi anak-anak.


Akan tetapi, saat usai mempersiapkan sarapan. Dia mengecek badan Arsyilla dan mendapati sejumlah ruam dan mulut, tangan, hingga kakinya. Ruam dan luka lepuh terlihat di sekitaran tangan hingga kaki Arsyilla. Seakan dirinya kembali khawatir, dengan cepat Khaira memberitahukan sejumlah ruam dan luka lepuh itu kepada suaminya.


“Mas, badannya Arsyilla ruam dan luka lepuh. Di mulut, tangan, dan kakinya. Aku curiganya, Arsyilla mungkin saja terkena virus.Kita bawa ke Dokter aja ya Mas, biar mendapat pengobatan yang sesuai.” ucapnya dengan wajah yang tampak panik.


Tidak dipungkiri sebagai orang tua, Khaira panik bukan main. Bahkan jika dia bisa meminta kepada Tuhan, dia lebih rela dirinya yang kesakitan sementara Arsyilla bisa sehat-sehat dan ceria. Melihat kepanikan istrinya, Radit berusaha menenangkan.


“Iya … kita bawa ke Dokter saja Sayang. Ke Rumah Sakit langsung saja ya, kan ada Dokter Spesialis Anak di sana. Biar Arsyilla diperiksa sama SPa,” ucapnya kepada sang istri.


Khaira pun dengan cepat mengangguk, “Iya … semoga saja Arsyilla tidak apa-apa dan bisa kembali sembuh. Aku takut Mas …” akunya jujur kepada suaminya bahwa dia benar-benar takut kali ini. Bahkan Khaira mulai berkaca-kaca matanya.


Tidak perlu ditanya lagi dengan cepat Radit segera memeluk istrinya itu, “jangan panik dulu. Jangan sampai terlalu panik justru tidak baik bagi si baby di dalam perut kamu. Sabar, nanti kita bawa ke Dokter ya. Biar Dokter yang periksa Arsyilla langsung.” ucapnya sembari berusaha menguatkan istrinya melalui pelukan hangat yang dia berikan.


Tidak lama kemudian, Arsyilla pun turun dari kamarnya, “Mama … Papa …” sapa gadis kecil itu kepada orang tuanya yang tengah berpelukan.

__ADS_1


Dengan cepat Khaira menghapus air matanya, tidak ingin membuat Arsyilla bertanya-tanya mengapa dia menangis sepagi itu.


“Sarapan dulu ya Sayang …” ucapnya sembari menyodorkan segelas susu rasa vanilla hangat kesukaan Arsyilla dan buat roti dengan selai stroberi.


Akan tetapi, mungkin karena baru sakit, Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Tidak Ma … Syilla tidak mau makan, di sini sakit.” ucapnya sembari memegangi lehernya. Arsyilla mengakui bagian lehernya mungkin lebih tepat tenggorokannya sakit.


Tanpa menunggu waktu lama, Khaira lantas mengambil handphone dari atas meja makan itu, menyalakan senter yang terdapat dalam handphonenya.


“Coba buku mulut kamu, Syilla … Mama cek dulu ya, mungkin saja ada sariawan.” ucapnya.


Arsyilla pun mengikuti instruksi dari Mamanya, dia dengan segera membuka mulutnya dan Khaira menyenteri rongga mulut Arsyilla. Betapa terkejutnya dia, saat melihat bagian mulut Arsyilla yang dipenuhi bercak-bercak putih.


“Ya ampun … mulut kamu Sayang. Pasti sakit ya?” tanyanya kepada Arsyilla.


Radit pun ikut melihat, “Ada apa Sayang?” tanyanya kepada istrinya itu.


“Itu rongga mulut Arsyilla ada bercak-bercak putihnya banyak banget. Belum di bibirnya itu ruam merah.” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.


“Diusahakan minum susu dan makan dulu ya Syilla Sayang … abis ini kita ke Dokter ya, biar Dokter yang memeriksa Arsyilla.” ucapnya lagi kepada Arsyilla.


Mendengar kata Dokter, nyali Arsyilla menjadi menciut. “Syilla takut Ma … Syilla takut ke Dokter.”


Khaira pun menghela napasnya dan memangku Arsyilla, “Syilla mau sembuh kan? Kita ke Dokter ya. Dokter itu baik kok Sayang …” ucapnya memberi pengertian kepada Arsyilla.


Mungkin ini hal yang lumrah bagi anak-anak, merasa ketakutan begitu mendengar kata Dokter. Semua itu terjadi karena saat anak-anak tidak patuh kepada orang tuanya, para orang tua akan selalu berkata, “nanti kalau nakal biar disuntik Dokter.” Sehingga lama-lama pandangan itu tertanam dalam diri anak bahwa ke Dokter itu menakutkan. Sama seperti Arsyilla yang tampak takut saat mendengar kata Dokter, padahal Khaira dan Radit tidak pernah menakut-nakuti Arsyilla.


“Dokter itu baik Sayang … Dia penolong, kan kalau ke Dokter itu bisa diperiksa, divaksin, dan diberi obat biar tubuhnya sehat dan kuat. Kita ke Dokter ya nanti.” bujuknya lagi kepada Arsyilla.


Setelah cukup lama dibujuk, akhirnya Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma … tetapi peluk dan temani Syilla ya Ma.” pintanya kepada sang Mama untuk bisa menemani dan memeluk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2